
Suasana kota besar semakin terik, cuaca panas yang semakin terasa ketika dua insan anak manusia itu tengah beristirahat disalah satu rest area jalan tol Cipularang menuju kota kembang.
Tidak banyak bicara, Arini hanya memperhatikan sekelilingnya, sambil memeriksa semua dokumen yang ia terima dari Eko.
Eko memesan beberapa makanan untuk menemani waktu rehat mereka dengan kopi hitam telah terletak diatas meja restoran.
Beberapa kali, Arini memperhatikan Eko yang tampak tenang walau sedikit khawatir, karena kali ini dirinya tengah berada dalam pengawasan pihak kepolisian. Selayaknya tawanan seorang mafia wanita cantik yang ternyata sangat kejam dan tidak memiliki perasaan.
Kembali terdengar suara Eko mulai memberanikan diri untuk bertanya, "Ma-ma-maaf Teh. Apakah benar Teteh yang membunuh Bang Gultom?"
Kedua alis Arini langsung tertarik dengan sendirinya, sambil menyunggingkan satu senyuman yang sangat mematikan, "Kalau lagi berdua gini tidak usah memanggil aku, Teteh. Karena aku bukan orang Sunda. Papa dan Mama hanya pendatang. Sebenarnya kami merantau saja di kota kembang itu, kebetulan Opa dinas disana. Panggil saja aku, Arin atau apalah yang kamu suka! Yang penting jangan Teteh."
Eko mengangguk karena perasaan sungkan. Pertanyaan yang diajukannya tak kunjung mendapatkan jawaban dari komanya Gultom.
Arini mengangkat tinggi kedua tangannya, menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan, hanya untuk merenggangkan otot-otot yang terasa sangat melelahkan. "Apakah kamu percaya jika aku yang melakukannya? Jika memang aku yang melakukan mungkin Gultom akan dinyatakan mati, dan mungkin dua angkatan itu akan datang ke pemakaman rekan kerjanya, apalagi anak komandan. Bukan begitu?"
Mendengar pernyataan yang keluar dari bibir Arini, membuat Eko kembali bertanya karena rasa penasaran, "Ta-ta-tapi kenapa mereka mengatakan bahwa kamu yang melakukannya? Ta-ta-tadi polisi yang mengenakan pakaian bebas itu menanyakan pada ku. Aku hanya menjawab tidak tahu, karena aku hanya partner bisnis mu!"
Tampak Arini mengembangkan senyuman manisnya, mengusap lembut wajah cantik itu, sedikit mencondongkan tubuhnya agar bisa menjelaskan tanpa ada yang mendengar pembicaraan kedua-nya, "Aku akan membunuh, jika aku ingin. Sama halnya dengan laki-laki keparat yang telah merampas hak orang-orang ku. Kamu mau lihat berapa anak ayam Gultom mengambil serbuk putih padaku? Hmm? Aku bukan wanita yang suka dengan kekerasan, tapi aku akan melakukannya jika mereka telah merugikan aku, Aa Eko!"
__ADS_1
Kali ini Eko benar-benar terdiam. Ia dapat melihat dari iris mata Arini berwarna kecoklatan, tanpa ada sedikitpun kebohongan disana.
"Apakah ini sabotase? Atau hanya akal-akalan mereka sebagai alasan untuk menjatuhkan hukuman pada kamu agar lebih berat?"
Arini mengacungkan jempolnya, dengan tawa yang tak kalah dinginnya. "Resiko pekerjaan adalah sebuah fitnah. Kenapa aku menghabisi nyawa orang-orang yang bermain di belakang ku? Itu karena mereka menggunakan jasa wanita malam di club' dengan gratis, bahkan lebih sadis. Apa kamu tidak merasakan jika seorang wanita telah lelah melayani hasrat liar seorang pria, akan tetapi tidak mau membayarnya? Nikmat itulah yang tidak dihargai oleh para pria hidung belang, termasuk pria yang berprofesi sebagai dokter itu!" umpatnya semakin sadis.
Mulut Eko ternganga lebar mendengar semua cerita Arini.
Kembali Arini menegaskan pada Eko, "Sekali lagi, aku bukan wanita yang melakukan sesuatu hal tanpa memikirkan dampak baik dan buruknya sebuah kejadian. Jadi jika mau bermain-main dengan ku, siapkan nyawa lebih dari satu!" seringainya, mengembang lebar sambil melahap makanan yang ada dihadapannya.
Eko terdiam, wajahnya seketika berubah memerah. Kembali ia terkenang pada sang mama, yang tidak menyangka akan diberi peluang oleh Arini dan kini berjuang keras untuk menjadi seorang wirausaha di usia yang tidak muda. Akan tetapi, ada sedikit keraguan didalam benak pria itu, karena mendengar pembicaraan dua wanita yang sangat ia cintai dalam hidupnya. Tentang 'Sonya harus merebut Abdi kembali apapun caranya'.
Dapat dibayangkan, jika seseorang mengancam kebahagiaan seorang Arini yang kini duduk dengan santainya dihadapan Eko. Ia akan melihat satu kehancuran bahkan kematian jika berurusan dengan wanita kejam ini, sehingga membuat keluarganya kembali berantakan seperti beberapa tahun lalu.
Lagi-lagi Eko menelan ludahnya, tak mampu membayangkan kekejaman Arini yang akan menimpa keluarganya, jika Sonya benar-benar merebut Abdi dari tangan seorang Arini.
.
.
__ADS_1
"Bisnis! Ini hanya sebuah bisnis, Neng. Jadi tidak ada hubungannya dengan melawan hukum negara. Aa tahu kok, bagaimana harus mengambil keputusan untuk menjaga nama baik keluarga kita. Aditya saja yang terlalu mendramatisir keadaan, sehingga mengatakan bahwa Aa memiliki dendam padanya. Lagian kamu juga setuju kita mengumumkan pernikahan mereka, kan? Karena Abdi menjalin relationship dengan anaknya, Evi! Apa kamu lupa?" Jelas Aldo di restorannya, ketika bertemu dengan Nancy juga Sindi.
Nancy mengalihkan pandangannya kearah lain, seketika wajah cantik itu mendengus dingin, karena membayangkan keras hati sang suami dan pengusiran Arini dini hari itu.
"Terus sekarang dimana Arini, Aa? Abdi lagi enggak teguran sama Mas Adit. Membuat Neng jadi kasihan sama anak-anak. Hanya karena Unik mengatakan bahwa Arini merokok dan menemukan pengaman dikamar Abdi, jadi menganggap bahwa Arini sudah salah dalam pergaulan," sungutnya dengan bibir mengerucut.
Perlahan Aldo memijat pelipisnya, karena ia sudah berkali-kali melarang putrinya untuk tidak merokok lagi, "Kalau masalah pengaman itu hal biasa. Tapi Aa tahu jiwa Arini, Neng. Dia putri kesayangan kami, dan masih bisa menjaga kehormatannya. Jika Aditya mempermasalahkan tentang rokok, bukankah di club' malam kita juga sering menjadi perokok pasif? Agh ... inilah yang membuat pikiran Aditya terlalu negatif dalam menghadapi satu masalah. Dia sangat menginginkan wanita lugu dan polos seperti kamu. Tapi apa kamu lupa, Adit juga pernah menyakiti kamu dengan menanyakan tentang darah pada malam pertama? Apa kamu lupa?"
Mendengar pertanyaan Aldo, Sindi selaku sahabatnya langsung mencondongkan badannya agar lebih dekat pada kedua orang sahabat juga adik angkatnya.
Sindi bertanya lagi pada Nancy, "Apa benar begitu, Neng? Berarti dia juga meragukan bahwa Abdi darah dagingnya? Dasar laki-laki tidak punya perasaan. Pantes saja anaknya jadi melawan, karena ini karma buat dia. Abdi jadi melawan, bahkan menentang habis-habisan semua keputusan Aditya!"
Hanya helaan nafas dalam yang dapat Nancy tunjukkan kepada kedua insan yang pernah menjalin kasih itu. "Entahlah. Kita tidak usah membahas masa lalu. Karena saat ini yang Neng pikirkan anak-anak. Bukan masa lalu Mas Adit ataupun kalian berdua!" sesalnya menggeram, melirik kearah Sindi.
Mendengar pernyataan Nancy, kedua bola mata Sindi membulat besar, "Kok gue? Emangnya gue ngapain sama Aa tampan yang menjadi besan lo? Udah agh ... kita ke bandara sekarang! Anak gue udah berangkat dari Bali. Nanti telat kita menjemputnya, ngomel lagi si Juno. Dia sama kayak Luqman, harus on time. Bukan on di lantai dansa ya, Aa!"
Aldo hanya tertawa mengejek melihat kedua wanita yang ada dihadapannya. Kembali menoleh kearah besan yang merupakan sepupunya dengan wajah datar.
Lagi-lagi Nancy menatap lekat wajah Aldo, "Please Aa ... ngomong sama Mas Adit. Kasih pengertian. Mudah-mudahan Arini hamil anak Abdi, jadi bisa memperkuat pondasi rumah tangga mereka apapun keadaannya tanpa pengecualian. Neng tidak mau anak-anak kita berpisah, TITIK!"
__ADS_1
Aldo tidak menjawab sama sekali. Baginya, saat ini dia harus menemukan jalan keluar jika bertemu dengan besan yang memiliki pemikiran sendiri tentang dirinya sebagai seorang pengusaha club' malam.
"Gue harus mencari alibi. Bagaimanapun, Aditya tidak boleh bertemu dengan Bapak! Bisa bahaya kalau Arini dan Abdi berpisah ..."