Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara

Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara
Cucu


__ADS_3

Ketika perut terasa cukup setelah diisi dengan hidangan yang menyehatkan, seperti biasa keluarga besar itu melakukan aktivitas dipagi yang cerah tersebut. Membuat Arini yang belum bisa jauh dari Abdi hanya bisa memeluk pria itu ketika berada di carport, sebelum suaminya memasuki mobil sang mama.


Abdi menopang tubuh Arini yang tiba-tiba langsung melilitkan kaki jenjangnya di pinggang kokohnya, sambil menciumi bibir sang suami dengan tatapan sendu.


Arini menempelkan hidung mancung mereka berdua, berkata lembut, "Jangan pulang terlalu lama, karena aku pasti sangat merindukan mu."


"Hmm ..."


Abdi benar-benar tak kuasa melihat keberanian Arini memperlakukannya seperti saat ini didepan keluarga, membuat beberapa pasang mata yang melihat kejadian pagi itu hanya bisa menelan ludah serta tersenyum sendiri.


Mutia tampak ternganga karena baru terjaga dari tidurnya, sementara Aditya hanya mengusap lembut wajah putri kesayangannya.


"Jangan dilihat adegan itu, mereka sudah menikah. Jadi mulai sekarang kita harus terbiasa melihat kemesuman kakak dan ipar kamu!" tegasnya mengingatkan.


Senyuman Mutia mengembang lebar, langsung mengambil adegan kedua insan itu untuk ia kirim kepada Sonya, sebagai bukti bahwa Abdi telah bahagia dengan pernikahannya, kemudian memutuskan hubungan cinta monyet itu.


Dengan cepat Mutia mencari nomor Sonya, kemudian mengirimkan video serta dua gambar yang baru ia ambil itu sambil menuliskan pesan ...


[Sepertinya lo harus putus dengan pria yang sudah beristri ini, sob. Karena dia semakin mesra sama istrinya. Jam 09.30, gue jemput ya ... biar enggak galau, kita makan-makan di mall, oke ...]


Jahat, mungkin itu yang ada dipikiran orang-orang tentang sifat Mutia. Akan tetapi, alasan gadis cantik itu melakukan semuanya hanya karena tidak ingin Sonya terlalu banyak berharap dengan pria yang sudah menjadi suami. Melihat hubungan Abdi juga Arini semakin dekat, tidak mungkin lagi mengundang pihak ketiga menghancurkan kebahagiaan keluarga yang merupakan kakak-nya sendiri. Hanya itu yang ada didalam benak Mutia, agar semua berjalan lebih baik lagi.


Sontak saja, adegan Abdi tengah berciuman mesra di teras rumah mereka, sambil menggendong tubuh indah Arini dengan sorotan mata penuh cinta dan gairah, membuat Sonya hanya bisa meremas kuat handphone baru pemberian sang kakak padanya tadi malam.


Wajah Sonya menegang, bahkan kecemburuan menyelimuti sukmanya. Ingin sekali ia berlari menuju rumah sahabatnya itu, hanya untuk memastikan apa yang akan dikatakan oleh Abdi padanya.


"Ini yang katanya tidak cinta? Tapi dia bermesraan seperti mereka sudah melakukannya. Kenapa kamu tega banget sama aku, Aa? Mentang-mentang aku yang suka lebih dulu, terus kamu seenaknya mempermainkan perasaan aku. Kamu jahat, Aa. Kamu jahat banget ..." Kenangnya meremas kuat rambutnya di meja belajar ketika ia baru selesai melakukan ritualnya membersihkan diri.


Air mata Sonya menetes begitu saja. Pengkhianatan yang Abdi lakukan sangat menyakitkan. "Aku harus ketemu sama perempuan bule itu! Aku yakin dia hanya main-main sama, Aa Abdi. Dan aku yakin dia menyerahkan tubuhnya karena sudah tidak perawan lagi. Mana ada cewek yang masih perawan akan seberani itu pada pria yang baru dikenalnya ..."


Dengan cepat Sonya membalas pesan Mutia, mengirimkan satu pesan yang sangat mengejutkan ...


[Lo soib gue kan, Mut? Bantu gue kali ini, karena gue mau ketemu sama ipar lo ...]


Tidak menunggu lama, Mutia langsung membalas ...


[Oke]

__ADS_1


.


.


Sementara Arini masih berdiri di teras rumah, sambil melambaikan tangannya kepada Abdi yang masih belum beranjak dari parkiran.


"Kamu hati-hati ya. Jangan lupa pakai bra-nya. Nanti aku susul ke mall!"


Dengan senyuman manis, Arini menganggukkan kepala, sambil menjawab dengan manja, "Kamu juga hati-hati. Just call me later, oke baby!"


"Oke. I love you, Rin!"


"Me too!"


Arini membalikkan badannya, melihat satu pemandangan yang tak biasa, karena berhasil membuat kedua bola mata mertua berbinar-binar juga Mutia yang tampak berkedip-kedip karena merasakan atmosfer cinta diantara dua insan pasangan romantis sejagad raya tersebut.


Dengan wajah kaku, Arini mengerlingkan kedua bola mata indahnya, berusaha melebarkan bibir walau sesungguhnya ia masih belum mampu untuk menyapa Nancy dan Aditya karena perasaan malu. Ia kembali menutup wajah itu dengan telapak tangan kemudian berlalu meninggalkan ruang keluarga tersebut.


Nancy menggeleng, sambil tersenyum bahagia, "Ternyata mereka lebih romantis ya, Mas."


Aditya mengangguk membenarkan, "Tinggal kita saja menjadi mertua yang baik. Jangan galak-galak, karena anak-anak punya masalah sendiri. Biar mereka menyelesaikan semua tanggung jawab mereka, jika mentok pasti akan bicara pada kita. Seperti saat ini. Arini butuh dana, jadi kamu harus membantu semampu mu. Sudah kabari Pramudya, Neng?"


"Boleh juga. Lebih baik kamu bicara dulu sama menantu kita, Neng. Takutnya dia punya rencana lain. Jadi Aldo tidak usah meminta Bian mengantarkan mobil Arini. Mas mau ke kantor dulu. Ada rapat besar mengenai identitas Zea. Mudah-mudahan bisa di temui, dan tahu dimana keberadaan mafia kelas internasional itu." Jelasnya langsung menghubungi Asep, setelah mendapatkan anggukan dari Nancy yang sudah berjalan menuju kamar Abdi.


Perlahan Nancy mengetuk pintu kamar putra kesayangannya, kemudian membuka perlahan setelah mendapatkan jawaban dari Arini.


Nancy melongokkan wajahnya dibibir pintu, hanya untuk melihat sang menantu yang tengah mengenakan dress. Lagi-lagi ibu cantik itu mengetuk pelan, agar Arini mengetahui bahwa ia akan masuk sambil bertanya dengan nada lembut, "Bisa Mama masuk, Rin?"


Arini yang masih disibukkan mengatur tali-tali penyangga ditubuhnya terlihat sangat menyibukkan, hanya menjawab singkat, "Masuk saja, Ma. Arin lagi susah masang pengait dress ini."


Dengan cepat Nancy membantu menantunya itu, melihat keindahan tubuh sang keponakan dari jarak dekat.


Tangan lembut itu membantu menguatkan tali itu satu persatu, "Siapa yang masangin tali ini, Rin?"


"Aa Abdi, Ma. Jelek ya?"


Nancy tersenyum geli mendengar jawaban Arini yang spontan, tapi ia menyukai gaya menantunya tersebut.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak menggunakan bra yang biasa saja. Mama bisa beliin yang lebih simpel dari ini. Ukuran kamu nomor berapa?"


"36B, Ma!"


"Woowh ... pantas saja!" Nancy tertawa malu, mendengar kejujuran putri kesayangan Aldo tersebut.


Setelah membantu Arini menguatkan tali bikini itu, Nancy kembali bertanya, "Kamu mau kemana hari ini, ada rencana lain?"


Arini memandangi tubuhnya didepan cermin, sambil menjawab pertanyaan Nancy, "Hmm ... palingan Arin mau ketemu partner bisnis sebentar. Habis itu ke mall untuk makan siang. Karena ada hal yang mau Arin bereskan dengan seseorang. Tapi belum tahu bisa ketemu jam berapa. Emang Mama ada rencana lain buat kita?"


"Ya, katanya kamu mau ambil lahan yang punya teman Mama itu. Jadi?"


Dengan cepat Arini membalikkan badannya, menoleh kearah Nancy, "Mama serius? Enggak bohong kan? Terus, bagaimana perjanjian kita? Apa yang harus Arini siapkan untuk mengembalikan uang Mama. Jujur Arin hanya punya tabungan sedikit. Karena minggu depan baru akan ada dana masuk lagi, setelah sayuran tiba di Switzerland. Jadi mungkin Arin akan mengangsur uang Mama sedikit-sedikit," jelasnya dengan mata berbinar-binar menatap penuh harap.


Dengan demikian, Nancy hanya tertawa kecil, menjawab pertanyaan Arini dengan satu kalimat yang sangat menusuk jantungnya, "Berikan Mama cucu yang banyak. Agar kita semakin berkembang dan menjadi keluarga besar, itu syaratnya!"


Deg ...


Seketika wajah Arini berubah, senyuman yang awalnya mengembang lebar, kini berubah menjadi senyuman manis penuh paksaan, dengan ujung bibir berucap pelan dan bergetar, "Cucu? A-a-a-apa dengan seorang cucu bisa membuat bisnis menjadi berkembang dengan pesat?"


Nancy mengangguk meng'iya'kan, dengan bibir yang tersenyum sumringah, "Of course! Anak itu sebuah kekuatan yang bersumber menjadi rezeki untuk menguatkan hati seorang wanita yang akan menjadi ibu, Rin!"


Arini menggeleng, "Ta-ta-tapi Arin belum siap, Ma!"


"Why!?"


"Ada beberapa yang harus Arini persiapkan, termasuk meyakinkan perasaan--," wajah cantiknya kembali menunduk hormat.


"Apakah ini ada hubungannya dengan Sonya?"


Arini memberanikan diri mengangkat wajahnya, kemudian mengalihkan pandangan kearah lain hanya untuk menutupi semua perasaannya, "Tidak Ma. Tidak ada hubungannya dengan orang lain. Arin hanya ingin menikmati masa-masa indah ini dulu. Keadaan bisa berubah kapan saja, termasuk pandangan Mama dan Papa terhadap Arin, jika ... agh sudahlah. Yang pasti kalau itu syaratnya, Arin akan memikirkan lebih jauh lagi. Maaf ya, Ma?"


Nancy menghargai semua keputusan Arini, tapi dapat membaca mimik wajah menantunya itu, "Bersiaplah. Nanti Mama yang anterin kamu ke mall. Kita ketemu Tante Sindi dulu di pabrik!"


Arini menganggukkan kepalanya, melihat Nancy berlalu meninggalkan kamarnya.


Entah mengapa, senyuman yang awalnya mengembang lebar, kini berubah menjadi sendu menyiratkan satu kesakitan sebuah perasaan membuat mata indah itu berkaca-kaca dengan sendirinya.

__ADS_1


"Kenapa perasaan ku jadi seperti ini? Apa aku harus mengatakan pada Mama, kalau Aa Abdi juga masih bimbang dalam hatinya. Tuhan, apa yang harus aku lakukan dengan perasaan ku ..."


__ADS_2