
Langkah kaki Arini sangat bersemangat dan bahagia setelah pertemuannya dengan Eko. Pria hangat yang sangat menyenangkan, polos serta tidak banyak tipu daya. Gadis seperti Arini, hanya membutuhkan sedikit perhatian kecil yang tidak ia dapatkan dari Aldo, atau Abdi saat ini.
Kaki jenjangnya terhenti dihadapan Abdi yang masih menerima panggilan telepon dari Mutia adik kesayangannya.
Bergegas Abdi mengakhiri panggilan teleponnya, kemudian menatap wajah Arini yang semakin lama semakin tampak menggemaskan. Ia bertanya dengan nada lembut, "Lo dari mana? Kok enggak jadi ke club'? Mama dan Papa sudah berada di sana, Mutia yang memberi kabar sama aku. Kita mau ke sana enggak?"
Dengan cepat Arini menggelengkan kepalanya, sebagai tanda tidak setuju, langsung menarik tangan Abdi, dan membawanya menuju kamar yang telah ia pesan tiga jam lalu.
"Kita dikamar saja, gue ngantuk! Betewe, besok kita ke curug ya? Gue mau cek perkebunan sayuran, kalau lo mau sih. Kalau enggak, gue bisa pergi bareng partner bisnis saja berdua!" jelasnya, sambil terus melangkah menuju kamar mereka yang berada di lantai lima.
Mendengar penjelasan dari Arini yang akan ke curug, membuat hati Abdi sedikit gelisah, langsung bertanya untuk meyakinkan pendengarannya, "Kamu pergi berdua, sama cowok?"
Arini menoleh sambil menempelkan card ke pintu kamar, kemudian membuka pintu itu dengan lebar dan menempelkan card yang ada ditangannya ke tempat yang sudah tersedia, "Iya. Kenapa?"
Abdi langsung menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan bahwa ia tidak setuju, dan berkata dengan nada tegas, "Kamu enggak boleh pergi sama cowok! Karena aku enggak kasih izin!"
Tentu saja Arini bergidik, tak menyangka bahwa Abdi akan melarangnya, "Maksudnya? Gue harus pergi sendiri dan enggak boleh pergi sama cowok lain selain lo, gitu?"
Abdi menjawab singkat, "Iya!"
Kembali Arini mendengus dingin, "Egois banget sih lo? Gue pergi urusan kerjaan. Bukan kayak lo, ngurusin cewek abege labil yang tidak sopan itu! Ini kerjaan gue, bisnis gue, lo enggak ada hak ikut campur. Lo izinin atau tidak, gue bakal pergi!" tuturnya seraya menghempaskan tubuhnya diranjang kingsize kamar yang ia pesan.
Abdi yang tidak suka dengan sikap Arini, kembali mengingatkan tentang status pernikahan mereka, "Ingat Rin! Status kamu itu istri aku! Istri Abdi Atmaja, dan tidak bisa kamu sangkal! Kita sudah menikah, dan kamu boleh pergi jika aku mengizinkannya!"
__ADS_1
Mendengar pernyataan Abdi, membuat Arini semakin berontak, "Kita ini nikah bohongan! Bukan suami istri kayak Mama dan Papa. Lo lama-lama egoisnya kelihatan, ya! Lo boleh pergi sama Sonya. Terus gue harus nunggu lo kayak kambing congek, gitu? Mimpi Abdi, gue ini lebih kaya dari lo, bahkan dunia kita sangat berbeda! Kalau lo enggak bisa nerima, simple kok, tinggal gugat cerai di pengadilan agama! Ngerti!"
Wajah Abdi langsung memerah, kepalanya kembali berdenyut, bahkan jantungnya berdegup kencang, tak menyangka bahwa Arini akan berkata seperti itu padanya. Lagi-lagi dia menegaskan bahwasanya, "Ingat yah, Rin ... aku enggak akan pernah menceraikan kamu! Camkan baik-baik ucapan aku!"
Bergegas Abdi beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, kemudian membanting keras pintu kamar mandi membuat Arini terlonjak seketika.
Dada Arini bergemuruh, dia tidak menyangka bahwa Abdi akan memberikan aturan yang sangat menyebalkan untuknya kali ini, "Agh! Sial! Abdi, lo egois banget sih! Lo bisa punya cewek diluar sana. Sementara gue, enggak boleh menjalankan bisnis sama laki-laki lain! Ini bisinis Abdi! Bisinis!" teriaknya, semakin tidak menyukai pria yang egois itu.
Sementara itu, Abdi tertawa kecil karena berhasil melarang Arini, agar gadis itu mau mendengarkannya sebagai seorang pria yang berstatuskan suami. "Kamu bilang kamu kaya daripada aku? Makanya aku mau, kamu tunduk sama aku, biar kamu tidak seenaknya menginjak-injak harga diri seorang laki-laki ..."
Setelah melakukan ritualnya, Abdi keluar dari kamar mandi, melihat wajah cemberut Arini, yang berdiri sendiri menghadap jendela kamar, yang langsung memberi pemandangan kota dengan kerlipan lampu sangat indah, sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara.
Perlahan Abdi melangkah mendekati Arini, hanya untuk memastikan bahwa ia tidak ingin wanita itu merokok lagi.
Entah mengapa, Arini seperti terbius oleh pesona Abdi. Bibirnya bicara tidak mencintai, akan tetapi sikap dan body language sebagai seorang wanita normal setelah merasakan indahnya bercinta, hanya bisa menikmati sentuhan jemari sang suami yang perlahan menyentuh bagian-bagian sensitif tubuhnya.
Perlahan Abdi membalikkan tubuh Arini, agar mau berhadapan dengannya, "Aku tidak ingin kamu dimiliki orang lain, Rin. Aku selalu merindukan mu selama berada di Jakarta."
Tatapan mata Arini semakin sendu, entah mengapa dia juga merasakan kerinduan yang sama ketika jemari Abdi semakin menjalar menyentuh bibir bawahnya.
"Ahh ..." Arini terlena, tanpa diminta langsung mellumat bibir Abdi yang ada dihadapannya.
Tentu saja, Abdi sangat menyukai keagresifan Arini jika sudah menyerah seperti ini. Dengan penuh kelembutan yang telah di selimuti hasrat malam itu, langsung membuka baju tipis yang dikenakan wanitanya.
__ADS_1
Kini kedua-nya benar-benar terlena, saling menatap satu dan lainnya. Ketika Abdi mengeksplorasi bagian tubuh yang kini sudah menjadi candunya.
Begitu juga sebaliknya, Arini sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Dia lebih menyukai sentuhan-sentuhan yang diberikan Abdi pada tubuhnya.
Tangan kanan Abdi kini terus berusaha untuk membuka penghalang diantara mereka, dibantu tangan Arini yang tampak tidak sabar ingin segera menikmati indahnya sentuhan tangan kekar pria itu.
Kepala Arini serasa sangat pening, ketika Abdi merapatkan tubuh wanita-nya di dinding kamar, kemudian menyelusup ke pangkal paha, sambil memberikan sentuhan pada dua punuk kenyal yang terlihat sangat indah dihadapannya.
Bibir Arini bergetar, matanya terpejam, merasakan sesuatu yang sangat dahsyat membuat tubuhnya meminta lebih pada Abdi, dalam menyentuh titik terdalamnya.
"Ahh ..." Nafas Arini tersengal, dadanya seketika turun naik, dessahan yang tak tertahankan lagi ketika merasakan sesuatu itu datang lebih cepat. Membuat tubuhnya benar-benar menegang karena merasakan sesuatu yang sangat ia rindukan.
Perlahan Abdi tersenyum lebar, mendongakkan kepalanya menatap lekat wajah sang istri, sambil memposisikan tubuhnya, agar bisa memasuki lembah surga yang terasa semakin basaah.
Abdi mengarahkan miliknya, kemudian memasuki lembah Arini yang telah siap untuk menyambut kedatangannya.
Tangan Arini memeluk kuat leher kekar Abdi, ikut menciumi tubuh pria itu, ketika mereka saling bercerita dengan cara yang berbeda untuk mengejar keindahan dunia ketika kedua-nya telah bertemu.
Tidak butuh waktu lama, Abdi benar-benar bisa membuat Arini menggeliat kembali, kemudian menghentakkan lebih kencang untuk menyelesaikan semua perasaan yang selama ini terpendam.
"Ahh ... I love you, Rin!" Bisik Abdi ketika bersitatap dengan iris mata indah istrinya benar-benar menikmati sentuhannya.
Senyuman penuh makna, menguar dari bibir mungil Arini, kemudian menjawab dengan lembut, "Me too ..."
__ADS_1
Abdi menggendong tubuh Arini menuju ranjang peraduan mereka, tanpa melepaskan penyatuan yang semakin terasa sangat hangat dan mencengkram kuat, kemudian memberikan isyarat, bahwa sesuatu dibawah sana belum selesai ...