
Di kota yang sama, dengan suasana yang berbeda, Arini justru tengah tertawa bahagia bersama Nancy dan Sindi. Ada raut kebahagiaan yang didapatkan oleh wanita cantik itu, ketika duduk bersama mertua serta wanita tangguh yang sangat berjasa bagi Keluarga Anggoro serta Sugondo.
Arini masih penasaran dengan cerita cinta masa lalu Sindi, yang ternyata pernah menjalin kasih dengan sang papa pangeran hatinya. Ia bertanya dengan wajah lugu, "Ja-ja-jadi Tante Sindi dulu pacaran sama Papa?"
Sindi menggelengkan kepalanya, "Sudah lama banget. Jangan dibahas lagi. Karena enggak enak sama Mama kamu."
Arini mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil tertawa geli membayangkan bagaimana jika sang mama dilanda cemburu. "Nanti isengin mama, agh!" tawanya menggoda kedua wanita berhijab itu.
"Jangan. Tidak baik. Kami berpisah baik-baik kok. Sangat berbeda dengan mama mertua kamu, tuh!" usapnya pada paha Arini yang mengenakan celana jeans panjang.
Seketika Arini terkenang dengan Eko, yang merupakan anak dari wanita bernama Evi. Ia hanya melihat mimik wajah Nancy menyiratkan ketidaksukaan, kemudian menundukkan wajahnya, karena tidak ingin membahas kejadian semalam.
"Ganti topik saja, Tan. Arini enggak mau bahas masalah orang dewasa, ribet!" tawanya kembali menghangatkan suasana.
Jemari Sindi mengacung pada Arini, menandakan ia setuju dengan cara wanita muda yang sangat pintar menurutnya.
Nancy hanya tersenyum tipis, mendengar celotehan kedua wanita yang sangat ceria sambil menikmati segelas minuman hangat yang ia pesan di restoran, sambil menunggu kehadiran Pramudya sesuai janji mereka.
Sindi terus menggoda Arini, hanya untuk mengajarkan sang keponakan untuk menjadi seorang istri yang penuh kehangatan. "Kamu harus lebih agresif, karena kalau sama angkatan ini kita harus power full!"
Tawa Arini langsung terdengar keras membayangkan wajah Abdi yang senantiasa hangat jika menghabiskan waktu dengannya. "Agh, Tante! Buat aku jadi kangen saja sama Aa."
Nancy tertawa kecil, mencubit kecil paha Sindi agar menghentikan pembicaraan mereka karena mengetahui bahwa Arini sangat lugas dalam berbicara. Karena sangat mengerti bagaimana jiwa muda jika sudah menikah, mereka mengalihkan topik pembicaraan tentang bisnis Arini.
Dengan penuh semangat Arini menceritakan semua tentang bisnis sayuran organiknya yang sudah ia tekuni selama dua tahun.
Nancy bertanya penuh selidik, "Jadi selama kamu pulang ke Indo, kamu stay di Jakarta?"
Arini mengangguk membenarkan, "Waktu itu sempat ke Itali, Ma. Sama temen. Tapi Papa suruh pulang, karena dipikirnya aku penganut gaya hidup bule gitu. Sejujurnya sih iya, karena aku memang banyak berteman dengan cowok. Tapi aku juga bisa jaga diri kok, buktinya aku bisa memberikan yang terbaik untuk Aa," senyumannya mengembang lebar dengan wajah sedikit merah merona karena malu.
Seketika Nancy semakin tertarik untuk mendengarkan cerita Arini, karena ia merupakan importir teh hijau dengan keuntungan yang tidak sebesar menantunya, sedikit menaruh curiga karena mendengar nama pria bule Stevie disebut wanita muda yang duduk disisi kanannya.
__ADS_1
Perlahan Nancy menautkan kedua alisnya, menyandarkan tubuhnya sandaran kursi restoran untuk bertanya lagi, "Beneran kamu tidak memiliki hubungan dengan Stevie? Bukankah Papa Aldo membentak keras ketika malam ulang tahun kamu dan menyebut pria bernama Stevie."
Wajah Arini hanya tersenyum tipis, mendengar pertanyaan sang mama mertua yang menaruh curiga padanya, "Of course. Kami hanya berteman biasa. Saat ini dia sedang berada di Valencia, karena ada yang harus diselesaikannya. Dia partner bisnis kok, Ma. Nothing special!"
"Bukan itu maksud Mama. Maaf jika Mama sedikit penasaran, karena perjanjian keluarga ketika kalian menikah waktu kecil, kami akan mempertemukan kamu dan Abdi di usia 25 tahun. Tapi Papa Aldo justru meminta pertemuan kalian, dilakukan lebih cepat ketika ulang tahun kamu 24 tahun. Makanya Mama sedikit aneh sama Papa Aldo. Bagaimanapun kamu sudah menjadi keluarga kami," jelas Nancy agar menantunya tidak salah paham.
Arini hanya tersenyum kecil, kembali mengalihkan pandangannya, kemudian matanya tertuju pada sosok seorang pria yang mendekat kearah mereka dengan darah kembali mendesir sedikit panas, bergumam dalam hati, "Om ini yang punya lahan ..."
Pramudya, pria yang memiliki lahan 38 hektar di daerah curug itu menghampiri mereka dengan langkah sedikit tergesa. "Hay Nancy. Sorry aku sedikit terlambat. Karena ada tindakan. Kita langsung saja, karena jam tiga aku ada tindakan operasi pasien kecelakaan kemaren," sapanya menarik salah satu kursi yang masih kosong duduk disamping Sindi.
Mendengar penjelasan Pramudya yang langsung mengatakan pasien kecelakaan Arini lebih memilih berpangku tangan, mendengar pembicaraan ketiga orang dewasa tersebut. Alisnya turun naik, karena mendengarkan cerita dokter yang masih terlihat gagah tersebut, dengan perasaan merinding.
Bagaimana tidak, pria yang diceritakan Pramudya merupakan Gultom musuh bebuyutannya, yang ternyata mengalami pendarahan di otak bagian belakang.
Pramudya merupakan dokter spesialis anak, sekaligus ahli syaraf, karena merupakan dokter unggulan di rumah sakit swasta tersebut.
Senyuman Arini mengembang lebar, kemudian bergumam dalam hati, "Aku akan menarik nafas mu, Gultom keparat ...!"
Lagi-lagi Pramudya bertanya kepada Nancy, "Jadi berapa harga penawaran kalian untuk lahan ku, Neng Nancy?"
Nancy dan Sindi saling menatap, menoleh kearah Arini dan Pramudya secara bergantian.
Pramudya menggelengkan kepalanya, sebagai isyarat tidak setuju, "Saya tidak bisa jual segitu. Masih jauh! Karena kami memiliki keluarga besar. Nancy sangat mengetahui bagaimana keluarga saya," jelasnya.
Arini menganggukkan kepalanya, "Saya memikirkan resiko yang akan terjadi. Karena lebih dekat dengan jurang, Om. Kalau rata seperti lahan kebun teh Mama Nancy, mungkin saya akan memikirkannya. Kalau harga segitu saya tidak tertarik."
Kembali Nancy menautkan kedua alisnya, dengan keputusan Arini. Setidaknya ia berdecak kagum dengan kepiawaian sang menantu yang tak ingin terlalu banyak basa-basi.
Terlihat Pramudya memijat pelipisnya, karena ia mengangguk membenarkan ucapan Arini, yang sudah melihat lokasi lahan yang akan ia ambil. "Baik, berikan saya waktu satu minggu untuk membicarakan dengan keluarga!"
Dengan cepat Arini menggeleng, "Maaf Om, jika Om mau saya tunggu kabarnya dua hari lagi. Katanya Om sibuk, kami juga banyak kegiatan. Jadi kita deluan, ya?"
__ADS_1
Sontak saja mendengar penegasan dari Arini, membuat Nancy dan Sindi kelabakan karena wanita itu langsung memanggil waiters dan mengeluarkan uang miliknya.
Arini meletakkan uang pecahan seratus ribuan diatas meja, menarik tangan mertua juga tantenya, "Kami permisi Om!"
Nancy hanya bisa tersenyum, berpamitan kepada Pramudya mengikuti langkah kaki Arini yang dengan cepat meninggalkannya.
Tanpa pikir panjang, Nancy hanya bisa berkata lembut, "Maaf yah Pak dokter, menantu ku memang begitu. Jadi aku tunggu kabarnya dua hari lagi!"
Pramudya mengangguk mengerti, tapi masih tampak kebingungan karena melihat wanita muda yang sangat unik dihadapannya. "Gila, seumur-umur belum pernah ada yang nego lahan kayak beli kacang goreng. Benar sih, kata wanita muda itu, lahan keluarga ku dekat jurang. Sejauh ini penawaran tertinggi baru menantu Nancy. Yang kemaren menghubungi hanya sanggup 10 milyar. Hmm ... coba aku bicara dengan semua saudara ku. Kali aja mereka mau. Lumayan buat kawin lagi ..."
.
.
Sementara di dalam mobil, Nancy dan Sindi asyik menasehati menantunya itu, "Kamu tidak boleh begitu, Rin! Sama orang dewasa. Bagaimanapun kita harus sopan!"
Terdengar suara tawa Arini yang sangat mengagetkan pendengaran Nancy juga Sindi, hanya menjawab dengan enteng, "Terkadang ada yang harus kita hargai, ada juga yang tidak Mama dan Tante ku, sayang. Cepetan anterin Arin ke mall, pengen ketemu sama Aa Abdi," rengeknya mengalihkan perhatian Sindi yang tengah mengendarai kendaraannya.
Sindi langsung menjawab permintaan wanita yang ia anggap sebagai keponakan aneh tersebut, "Iya bawel! Ini juga jalan mau ke mall!"
Senyuman Arini mengembang lebar, sambil mengumpat dalam hati, "Maaf Ma, Tante. Jika gue tahu pemilik lahan Om itu, gue tidak akan pernah mau berurusan sama dia. Penjahat kelamin, pakai pelayan gue di club' mau yang enak, tapi pelit! Makan tuh lahan, dasar dokter mesum ..."
.
Setelah menurunkan Arini di salah satu pusat perbelanjaan di kota kembang, Sindi menoleh kearah Nancy.
"Menantu lo hebat Neng, jangan pernah buat dia kecewa oleh Abdi! Dia jujur dan enggak banyak bicara. Tapi gue heran, kok bisa dia kepikiran bisnis sayuran. Coba tarik ke pabrik, buat jadi bodyguard, cocok tuh!" titah Sindi, diangguki setuju oleh Nancy.
"Iya, tapi kayaknya dia punya banyak rahasia, hidupnya masih muda sudah berkelana. Kayak teteh dulu waktu masih muda, banyak rahasia." Tawa kedua-nya pecah.
Sindi terdiam, "Kemana lagi nih? Butik atau salon?"
__ADS_1
Akan tetapi kedua bola mata Nancy membulat besar, ketika melihat Mutia berjalan beriringan, tertawa bersama Evi juga Sonya. Membuat dadanya seperti akan meledak karena putri kesayangan tidak mengindahkan ucapannya semalam.
Tangan Nancy menepuk-nepuk lengan Sindi, "Teh, teh, teh, kita ke valet parking cepetan. Itu ada Mutia juga Evi. Ngapain anak Neng bawa-bawa wanita jallang itu!"