Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara

Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara
Orang terdekat


__ADS_3

Abdi melajukan kendaraannya menuju satu tempat yang agak ramai, dan mencari tempat makan yang terlihat sepi dari arah luar. Serta suasana nyaman agar bisa ngobrol serius setelah melihat sesuatu yang selama ini menjadi target operasi pihak kepolisian atas kasus pembunuhan yang ia dengar dari Papa-nya beberapa hari lalu.


Karena telah melibatkan seorang anak jenderal, yang seangkatan dengan Aditya. Akan tetapi, Abdi dan Joni hanya mendengar penjelasannya saja, tidak mencari tahu karena bukan ranah kewajiban mereka.


Kedua-nya turun dari mobil, mencari tempat duduk yang lebih privasi. Agar tidak terdengar oleh siapapun, yang akan dipertanyakan Abdi kepada Eko.


Setelah memilih duduk ditempat lesehan, yang terletak dekat saung gazebo sekaligus menikmati pemandangan indah sesuai permintaan Arini, Abdi mulai mengintrogasi Eko yang duduk dihadapannya.


Abdi mencondongkan badannya, menatap lekat mata Eko, agar tahu pria itu seorang pembohong atau tidak, "Eko, lahan itu punya siapa? Dan sudah berapa lama lo bekerja di sana?"


Mendengar pertanyaan Abdi, Arini juga ikut menatap lekat wajah Eko, yang tampak sedikit gugup, dan mulai gelisah.


Sekali lagi Abdi menegaskan, "Jawab gue! Berapa lama lo kerja di sana? Ingat ya, jika kasus pembunuhan anak jenderal ini terbongkar, lo akan terseret dalam kasus kelas satu ini. Dan lo, gue pastikan dalam masalah besar!" Jemarinya ikut bermain di meja, sebagai bentuk kekhawatiran pada pekerja polos seperti Eko.


Tampak raut kecemasan di mimik wajah Eko, ketika mendengar ucapan Abdi barusan. Ia menelan ludahnya, karena tidak mengetahui tentang pembunuhan yang dilakukan anak jenderal itu.


Eko mengalihkan pandangannya kearah lain, sebelum menjawab pertanyaan Abdi, agar tidak ada yang mendengarkan pembicaraan serius mereka. "Jujur saya enggak tahu. Maksud Anda pembunuhan anak jenderal itu, Bang Gultom yang melakukannya?"


Abdi menaikkan satu alisnya, kembali mendekatkan wajahnya, dan bertanya kepada Eko, "Gultom?" Ia menoleh kearah Arini, menatap lekat mata sang istri untuk menanyakan hal yang diingatnya, "Apakah yang menyerang di apartemen kamu, Rin? Dan anak siapa dia? Ini kasus berat! Kepemilikan ladang mariyuana, serta pembunuhan keji lima orang buruh perkebunan, dan penyerangan di club' malam dua hari yang lalu, sehingga melukai pemilik londry bernama Samuel!"


Mendengar penjelasan Abdi, jantung Arini semakin tidak karuan. Ternyata sudah lebih tiga minggu wanita itu berada di kota kembang, justru membawa petaka bagi club' malam yang selama ini di kunjungi nya. "Sial! Pasti mereka sengaja membuat onar, untuk memancing kemarahan ku! Aku akan menghubungi Samuel, tapi tidak sekarang ..."


Dilain sisi, Eko yang mendengar penjelasan Abdi sedikit gusar, karena tidak mengetahui kasus yang menimpa para buruh tempat ia bekerja. Kembali ia terkenang, akan sesuatu yang sangat menakutkan malam sebelum ia kembali ke rumah.


Gultom menghubungi Eko, ketika akan meninggalkan restoran tempat ia menghabiskan malam bersama Arini.

__ADS_1


Gultom : "Mana kunci gudang, Ko?"


Eko : "Ada sama orang di pabrik, Bang. Saya baru bertemu dengan klien langganan kita. Jadi tidak bisa kesana. Mungkin besok pagi saya akan ke kebun."


Gultom : "Ogh. Baiklah, aku tidak bisa lama-lama. Karena ada urusan. Kamu setor uangnya Rabu saja, atau bisa langsung transfer ke rekening saya. Ingat jangan pernah main-main sama saya, karena kamu orang kepercayaan saya!"


Eko : "Siap Bang. Saya sudah lebih dari empat tahun mengabdi sama Abang, mana mungkin saya mau curang. Saya transfer Senin saja, Bang."


Gultom : "Oke!"


Tidak begitu banyak yang Eko ketahui tentang Gultom di luar sana. Yang ia ketahui, pria berdarah Batak itu akan menyakiti lawan jika merasa tertipu atau terhianati oleh lawan bisnisnya.


Lagi-lagi Eko tersentak dari lamunannya, ketika pelayan restoran menghidangkan makanan yang mereka pesan tiba diatas meja.


Bergegas Abdi memberi perintah kepada Eko, "Kita makan dulu! Sebelum aku akan bertanya lebih banyak padamu!"


Karena merasakan perutnya juga sudah keroncongan, Eko mengangguk setuju, menikmati hidangan yang tak kalah lezatnya dari masakan sang mama.


Arini yang tampak semangat menikmati makan siangnya, memberikan perhatian kecil kepada Abdi dihadapan Eko, membuat pria yang berada dihadapan dua pasangan suami-istri itu berdecak kagum.


"Katanya enggak cinta, tapi perhatian mereka seperti pasangan yang paling bahagia diatas dunia. Tapi apakah Abdi ini tidak tahu siapa istrinya? Kenapa suaminya memanggil nama Teh Zea, Arini. Kenapa bukan Zea seperti yang diketahui keluarganya? Atau jangan-jangan ..."


Tanpa Arini sadari, ia meletakkan ikan yang ada di hadapannya itu ke piring Abdi, agar pria itu tidak tercekat tulang sesuai permintaannya sebelum memesan ikan.


Wajar saja, ikan gurami yang sangat lezat itu memiliki ranjau cukup banyak, dan pernah menusuk tenggorokannya, sehingga merasa tidak nyaman selama beberapa hari.

__ADS_1


Begitu juga Abdi, dia menyuapkan Arini sayur asem yang ada didekatnya, agar wanitanya mencicipi apa yang ia makan. Sangat romantis, karena tak mengacuhkan keberadaan Eko yang tampak seperti tidak peduli dengan ketika dianggap sebagai obat nyamuk bagi pasangan aneh dihadapannya.


Setelah hidangan dinyatakan habis tak bersisa. Arini memesan beberapa buah segar juga puding, sambil mematik rokok di jemari kirinya, membuat Abdi langsung menoleh dan memberikan isyarat bahwa jangan merokok didekatnya.


Akan tetapi, Arini tak menghiraukannya dengan alasan, berbisik pelan ketelinga Abdi dengan kalimat sedikit menggoda, "Satu saja baby. Nanti malam aku merokok punya kamu, ya!"


Tak ada pilihan, Abdi hanya menganggukkan kepalanya, mengusap lembut paha istrinya yang masih terbungkus celana jeans. Jika tidak ada Eko, mungkin dia akan membalas menggoda Arini, karena telah berani memancing gairahnya.


Sejujurnya, kali ini Abdi dan Arini menikmati peran mereka sebagai sepasang suami-istri, tanpa menghiraukan perasaan karena menghargai kedua orang tua yang banyak berharap atas pernikahan itu.


Suka atau tidak suka, kedua insan itu hanya menikmati masa indah halal mereka, dan akan membicarakan perasaan jika rasa itu timbul seiring dengan waktu berjalan.


Perlahan Abdi kembali berbincang serius menatap Eko dengan sangat lekat, "Jadi kamu serius tidak tahu ada mayat yang tergantung di dalam ruangan itu?"


Sontak pertanyaan Abdi membuat Eko membulatkan kedua bola matanya, karena kaget mendengar penuturannya.


Eko menelan ludahnya sendiri, wajahnya tampak pucat, dan menyeka keringat dingin yang mulai terasa di keningnya, "Se-se-serius!?" Lagi-lagi tangannya mengusap kepalanya, "Sumpah saya tidak tahu. Karena yang memegang kunci ruangan itu adalah orang pabrik. Ini akan mengancam keselamatan dan juga mata pencaharian saya! Agh!" umpatnya menyandarkan tubuh yang terasa letih itu di dinding kayu gazebo tempat lesehan mereka.


Abdi menoleh kearah Arini, karena melihat istrinya langsung mematikan rokok yang masih tersisa banyak, karena shock mendengar cerita sang suami.


Arini menyentuh lengan Abdi, "Kamu serius? Tapi aku yakin, apa yang kamu lihat barusan, sesaat lagi tidak akan melihat apapun kejadian disana. Karena aku sangat mengetahui bagaimana Gultom bekerja!"


Abdi terkesiap mendengar penuturan Arini, dia menyangkal ucapan istrinya, "Tidak mungkin secepat itu, sayang. Karena ada tiga jenazah disana. Dan aku yakin, itu merupakan orang terdekat kamu!"


"What? Apakah kamu serius dengan ucapan mu?"

__ADS_1


__ADS_2