
Kicauan burung terdengar saling bersahutan. Para buruh perkebunan telah melakukan tugasnya seperti biasa. Nancy masih enggan beranjak dari ranjang peraduannya, tetapi Aditya telah berlalu meninggalkan kediamannya sejak pagi karena ada kegiatan pukul enam pagi di kesatuan.
Dengan langkah malas, Nancy melangkah menuju kamar mandi untuk melakukan ritualnya seperti biasa. Namun, ketika ia akan melepaskan pakaian terdengar suara deringan gawai yang tak asing ditelinganya. Ia menoleh kearah meja rias yang berada di sudut kamar mewahnya kemudian menaikkan satu alisnya. "Kenapa Mas Adit enggak bawa handphone, apakah dia lupa? Tumben banget ..." tuturnya mendekati meja rias dan melihat nomor yang tertulis nama 'Neng' di sana.
Lagi-lagi darah Nancy mendesir, 'Neng' yang biasa disapa oleh Aditya padanya, ternyata masih ada sebutan untuk wanita lain, dalam hatinya bergumam sendiri.
Suara serak basah, itu menyambut baik panggilan telepon dari seberang sana dengan hati Nancy yang penuh tanda tanya.
[Ya halo.]
[Maaf, bisa bicara dengan Mas Adit?]
Darah Nancy mendesir, ia sangat hapal suara jallang diseberang sana seraya berdecak penuh curiga, "Evi?" Lagi-lagi ia menelisik lebih tajam layar gawai milik Aditya. "Ngapain wanita itu masih menghubungi Mas Adit? Apakah mereka masih berkomunikasi secara diam-diam?" Sesalnya menahan sebak di dada.
Dengan hati yang bercampur aduk, Nancy kembali menjawab pertanyaan Evi diseberang sana.
[Maaf, Mas Adit sudah berangkat ke kantor. Apa ada yang bisa aku bantu?]
[Nan-cy?]
Kembali terdengar pertanyaan Evi diseberang sana, membuat ibu dua orang anak itu tertawa sinis.
[Masih beraninya kamu menghubungi Mas Adit, Evi? Apakah kamu masih punya dendam sama aku, hmm, atau jangan-jangan mau meminta putri haram mu itu menggoda Abdi!? Jangan bermimpi kamu, karena Abdi sudah aku nikahkan sedari kecil dengan anak Aa Aldo. Jadi kamu jangan berharap lagi, karena kami tidak menginginkan kamu menjadi besan!]
__ADS_1
Mendengar penjelasan dari Nancy yang penuh ketegasan. Evi justru tertawa kecil membuat darah Nancy kembali menggelegak panas.
[Sejak dulu aku katakan padamu, Nancy. Jika bukan Sonya yang maju untuk menghancurkan keluarga mu, maka aku yang melakukannya demi merebut hati kolonel ku!]
Istri mana yang tidak semakin berang jika ada seseorang dari masa lalu yang berniat untuk merebut kembali hati sang suami. Hati seorang Aditya yang telah terkunci dari bayang-bayang Evi, kini tampak seperti membuka perlahan pintu itu akan perseteruannya dengan sang suami hanya karena putra kesayangan mereka.
Nancy mengusap lembut wajahnya, ia berusaha tegar meyakinkan kegundahan hati yang sedikit gusar.
[Ogh ... kita lihat saja. Apakah kamu berhasil merebut hati Mas Adit kembali? Atau justru kamu justru akan kembali menjadi sampah diluar sana. Silahkan Evi, jika nyali mu memang kuat berhadapan dengan ku, juga keluarga besar kami!]
Nancy mengakhiri teleponnya dengan Evi. Ia tidak ingin paginya menjadi lebih buruk karena telah berbincang dengan wanita yang selama ini dianggap perusak sejak dulu.
Gegas Nancy melakukan ritualnya, hanya untuk menenangkan perasaan yang tengah gundah.
Ditempat yang berbeda, Abdi justru tengah diintrogasi oleh Aldo, karena membawa putri semata wayangnya dalam keadaan lebam di bagian wajahnya. Orang tua mana yang tidak akan cemas ketika melihat putri kesayangan mereka yang manja jika sakit.
"Kalian ini dari mana, kenapa Arini bisa terluka seperti itu, Abdi?" Sergah Aldo ketika melihat Arini yang masih mendapatkan perawatan dari tangan sang istri.
Abdi tampak gusar, ia sulit untuk menjelaskan kepada papa mertuanya, karena tidak ingin memperkeruh suasana yang belum kondusif atas perseturuan keluarga besar mereka. "Hmm ... Stevie yang enggak sengaja Pa." Kembali ia menundukkan pandangannya.
Akan tetapi, Aldo yang mendengar nama Stevie seketika murka. Ia tidak menyangka bahwa Arini masih menjalin komunikasi dengan bule yang tak pernah dianggap baik selama dekat dengan putri kesayangannya. "Apa, Stevie!? Masih berani bule gila itu menginjakkan kakinya di kota ini, hah?" Ia menghardik Abdi dihadapan Emi juga Arini.
Mendengar suara sang papa yang menggelegar didekatnya, Arini bergidik dan kembali meringis karena tangan Emi semakin menekan wajahnya dengan handuk kecil yang ada ditangannya. "Aduh, duh ... ini sakit banget, Ma!"
__ADS_1
Abdi menelan ludahnya sendiri, tampak jakunnya seperti turun naik ketika melihat kedua bola mata Arini yang berkedip-kedip sebagai isyarat agar tidak terlalu banyak bercerita dengan Aldo yang masih menatap garang anak menantunya itu.
Tak ingin melihat Arini meringis kesakitan, Aldo yang masih merasa kesal berlalu meninggalkan kamar putri kesayangannya. "Ma, Papa ke rumah Aditya dulu! Dia harus tahu, bahwa Stevie itu yang harus di amankan, bukan Arini. Itu saja tidak peka!" Ia mengumpat tanpa harus menunggu jawaban dari Emi.
Sebagai seorang istri dari pria yang memiliki usaha club' malam, Emi hanya menggeleng seraya tersenyum kecil sambil berkata kepada Abdi, "Kamu urusin Arini dulu, Nak? Mama mau bicara sama Papa kamu," tuturnya memberikan mangkuk kecil serta handuk yang ada digenggaman sejak tadi.
Abdi dan Arini saling menatap, keduanya tampak kebingungan juga serba salah melihat tingkah orang tua mereka. "Apakah keluarga kita lagi dalam masalah besar ...?" Keduanya memiliki pemikiran yang sama.
Ditempat yang berbeda, Emi justru menghalangi langkah Aldo yang akan meninggalkannya. Ia tidak ingin suaminya itu mengatakan kepada besan mereka tentang keberadaan anak-anak saat ini. "Aa, tolong jangan bicarakan tentang kondisi Arini sama Mas Adit!" Ia berusaha untuk mengingatkan.
Cepat Aldo menepis ucapan sang istri yang sudah berdiri dihadapannya, "Tapi ... Aditya harus mengetahui siapa Stevie, Sayang! Mereka itu sindikat internasional yang melibatkan Arini anak kita. Coba saja, kalau Arini masih bergaul dengan bule gila itu! Walau dia DJ di club', tapi tetap saja dia yang membawa anak kita dalam lingkaran ini. Kita harus cepat membawa Arini dan Abdi pergi dari kota ini, tidak bisa menunggu lagi!"
Akan demikian, ketika Emi mengangguk setuju, terdengar deringan gawai milik Aldo berdering dengan sangat keras. Kening papa mapan itu mengerenyit, kemudian berkata dihadapan sang istri, "Sebentar ... Nancy menghubungi Aa!"
Emi hanya mengangguk sambil berpangku tangan, memberi ruang pada sang suami untuk menjawab panggilan telepon dari Nancy.
[Apa!?Aditya masih menjalin komunikasi sama Evi? Kamu serius Neng?]
[Serius Aa, dia justru mengancam akan merebut kembali hati Mas Adit. Aa bisa tolong temuin Mas Adit, alasan wae nganter handphonenya. Karena Neng mau menemui Evi kerumahnya sama Teh Sindy. Neng sudah tidak bisa tinggal diam lagi, dasar janda tidak tahu diri!]
Mendengar umpatan yang dilontarkan Nancy diseberang sana, membuat Aldo hanya menghela nafas berat.
[Wait Neng geulis, tidak usah temuin wanita itu kerumahnya. Tapi ikuti dimana mereka akan bertemu! Dasar Aditya, masih saja labil hanya karena permasalahan sepele! Aa, punya ide lain ...]
__ADS_1
Keduanya mengakhiri percakapan mereka dan langsung berdecak kesal karena kebodohan Aditya Atmaja. "Dari zaman Bapak masih disini, masalah mereka selalu merebut hati, dari merebut hati mayor, hingga merebut hati kolonel! Dasar wanita tidak tahu malu ...!"