
Malam semakin larut, Arini yang sudah dua jam lalu berada didalam kamar milik Abdi masih berdiri di balkon kamar mewah yang langsung memberikan pemandangan perkebunan teh milik keluarga sang suami. Lahan terhampar luas diterangi oleh cahaya lampu otomatis jika malam, dan akan mati jika matahari menunjukkan sinar terangnya.
Sejujurnya perasaan Arini pada Abdi, tidaklah seperti pasangan kekasih atau orang yang tengah menikmati romantis rumah tangga seperti pada umumnya. Semua terjadi begitu cepat, karena ia merasakan terlalu banyak tekanan dalam kehidupan pribadinya sebagai seorang wanita biasa yang selalu diperebutkan oleh Stevie juga Gultom sejak ia menetap di Jakarta.
Sama sekali tidak terpikirkan oleh Arini akan menekan pil laknat itu sebanyak dua butir, sehingga dengan mudahnya ia memberikan mahkota terindahnya kepada Abdi, pria yang baru ia kenal melalui pernikahan kawin gantung antar keluarga.
"Pantas saja Abdi menganggap aku terlalu murahan, karena dengan mudahnya aku memberikan kehormatan ku padanya. Agh ... walaupun dia suami ku, tapi aku masih belum mencintainya sepenuh hati. Apakah aku harus kembali ke Jakarta? Aku hanya ingin tenang menjalani kehidupan dengan wajar. Agar Abdi bisa mengambil keputusan untuk hidup dan masa depannya. Aku rasa gadis itu sangat baik, karena Mutia sangat mengenalnya ..."
Arini menghempaskan tubuhnya di sofa, meraih bungkus rokok yang ia letakkan di meja kaca itu, kemudian mengambil satu batang dan mematiknya dengan gaya santai. Sehingga tak menyadari bahwa sang suami telah masuk kedalam kamar sejak beberapa menit yang lalu.
Tidak banyak yang Arini pikirkan saat ini. Dia hanya ingin terbebas dari semua permasalahan yang melibatkan perasaannya. Sehingga melupakan tujuan utama ketika memilih pindah ke Jakarta.
"Hufh ... kenapa dadaku terasa sangat sesak? Apakah ini tanda-tanda aku cemburu dan menginginkan Abdi menjadi satu-satunya pria dalam hidup ku? Tidak, aku tidak boleh terlihat memohon. Walau aku sudah menyerahkan kehormatan ku, bukan berarti dia yang akan menjadi pria setia untuk menjadi pendamping ku ..."
"Ehem ..."
Terdengar suara mendehem seorang pria dari arah belakang Arini, membuat ia bergegas melempar puntung rokok yang masih tersisa setengah dihalaman balkon.
Arini menoleh kebelakang, melihat sosok Abdi semakin mendekat kearahnya, yang langsung bertanya, "Sejak kapan aku membebaskan mu merokok di sini? Bagaimana jika besok pagi para pelayan menemukan puntung rokok itu, dan bertanya padaku hmm!? Bukankah keluargaku menganggap tidak ada yang merokok di sini?"
Tak menghiraukan ucapan Abdi, Arini hanya tertawa kecil mendengar penuturan sang suami dengan jawaban sedikit menohok, "Gue enggak peduli! Ini hanya masalah rokok, bukan berarti kita sudah ditakdirkan menikah gue harus mengikuti semua aturan dalam keluarga lo! Gue memiliki privasi sendiri. Jadi tidak harus banyak larangan dalam hubungan kita yang tidak jelas ini!"
Abdi menautkan kedua alisnya, melirik kearah Arini yang masih tidak beranjak dari duduknya. "Kenapa kamu jadi berubah, Rin? Bukankah tadi siang kita masih baik-baik saja? Bahkan kita sudah menghabiskan malam yang sangat indah. Tapi dengan mudahnya kamu berubah manjadi Arini yang pertama aku kenal. Jutek, bahkan keras kepala, sangking kerasnya aku seperti tengah berjuang untuk memecahkan sebuah karang didasar laut seorang diri!"
Mendengar ucapan Abdi seperti seorang pujangga, Arini tertawa mengejek. Kemudian kembali terdiam dengan raut wajah yang sendu. Ingin rasanya ia menangis memeluk tubuh pria yang sangat hangat itu. Akan tetapi, ia harus mempertahankan harga dirinya agar tidak terlihat lemah. Karena ini kali pertama dirinya dihadapkan dengan masalah yang melibatkan perasaan.
__ADS_1
Tak ingin mendekat dengan Abdi yang memilih duduk disampingnya. Arini berdiri dari duduknya, dan akan beranjak menuju ranjang yang ada dikamar itu.
Akan demikian, Abdi langsung menahan tangan Arini. "Tunggu! Aku ingin bicara tentang kita!"
Dengan cepat Arini melepaskan genggaman tangan Abdi dengan satu hentakan, sambil berkata dengan nada tegas, "Jagan anggap karena kita telah melakukannya, lo seenaknya saja memperlakukan gue! Gue tidak pernah menyukai cara, lo. Di sini gue terlihat seperti wanita yang tengah dipermalukan oleh pria yang telah berstatuskan sebagai suami. Tapi tenang saja, gue tidak pernah menuntut lo untuk bertanggung jawab lagi dalam hidup gue. Gue sudah biasa hidup sendiri Abdi Atmaja."
"Enggak Rin! Aku nyaman sama kamu. Tidak mungkin aku akan membiarkan kamu sendiri menghadapi tantangan di luar sana. Saat ini Gultom masih dalam perawatan. Bisa saja akan ada Gultom-Gultom yang lain untuk menyakiti kamu. Aku suami kamu, harus bisa melindungi kamu. Aku sayang sama kamu, Rin!"
Arini tertawa terbahak-bahak mendengar rayuan maut sang pria yang seakan muncul tiba-tiba menawarkan diri ibarat Rama untuk memperjuangkan Sinta di cerita Mahabarata yang sangat di cintai kaum hawa.
Arini berkata dengan tegas, "Gue rasa, gue bukan Sinta! Jadi jangan mencoba merayu. Simpan saja rayuan gombal lo untuk Sonya. Selamat malam!"
"Rin, Arini!" Panggil Abdi seraya memohon, "Aku akan menyelesaikan semua urusan dengan Sonya. Please ... kasih aku waktu!"
"Telat!"
Langkah kaki Arini seakan terhenti. Kali ini ia benar-benar terjebak. Satu sisi dirinya harus melepaskan Abdi, disisi lain ia juga harus memikirkan kelanjutan bisnisnya bersama Boul juga Eko. "Agh sial! Aku harus memiliki lahan itu, untuk merebut Eko dari tangan Gultom dan harus membantu pria itu meneruskan hidup dalam menafkahi keluarga. Tidak, tidak, tidak Rin. Kamu tidak boleh untuk melanjutkan permintaan konyol pria ini. Walau dia merupakan suami mu. Besok kamu harus menemui Papa. Aku yakin Papa mau membantu ku ..."
Tampak jelas senyuman kemenangan menghiasi sudut bibir Arini yang kembali mengembang, dengan cepat ia menjawab, "Maaf ... aku sudah punya jalan sendiri. Aku lebih baik berjuang sendiri daripada harus menjadi budak nafsu mu!"
Abdi menggeleng, dengan cepat ia beranjak dari duduknya mengejar Arini, "What? Are you kidding me? Siapa yang akan membantu mu, Rin? Kita sudah sepakat bahkan aku akan memperjuangkan hubungan kita."
Arini mengerlingkan bola matanya, "Aku tidak pernah bermimpi untuk menjadi nomor satu dihati seseorang. Karena akan ada pihak kedua dan ketiga yang tengah berjuang untuk mendapatkan posisi itu. Dan aku menyatakan tidak akan pernah memperebutkan yang bukan menjadi hak, ku!"
Abdi berusaha meraih tangan Arini, namun dengan sigap wanita itu langsung menangkap tangannya, kemudian membalikkan tubuhnya dan membanting tubuh suaminya ke lantai kamar, kemudian mengunci tangan Abdi menggunakan lututnya.
__ADS_1
Tak ...
Tak ...
BRAK ...
Dengan cepat pula, Abdi melepaskan hentakan lutut Arini yang menekan tenggorokannya, karena terpancing emosi dengan perlakuan sang istri yang menyerangnya secara mendadak.
Tak ...
Tak ...
BHUG ...
Dengan nafas tersengal-sengal, Abdi berusaha membalikkan tubuh wanita itu, menatap lekat iris mata yang menatapnya tajam.
"Apa maksud mu? Aku sudah berusaha untuk jujur pada mu, tapi sama sekali tidak kamu hargai!"
Perlahan tangan Arini melemah, karena merasa tidak nyaman dengan genggaman Abdi yang membuat merah pergelangan tangannya, "Lepaskan aku!" suaranya terdengar berat dan bergetar. Entah mengapa, kini ia tengah menyembunyikan rasa sedih dihatinya, membuat Abdi langsung memeluk tubuh ramping itu.
"Maafkan aku, Rin!"
PLAK ...!
Tangan Arini kembali melayang tepat diwajah sang suami, membuat Abdi kembali meringis kesakitan.
__ADS_1
"Agh sakit, Rin!"
Kembali Arini mendecih, dan berkata dengan lantang, "Lo lebih pantas mendapatkan perlakuan seperti itu!"