Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara

Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara
Istri bohongan abdi negara


__ADS_3

Di sisi kota kembang, Eko tengah berdiri diparkiran hotel tempat dimana Arini menginap dengan suaminya. Ia sengaja menunggu gadis itu di parkiran, karena enggan masuk kedalam hotel dikarenakan penampilannya yang kurang rapi.


Tak selang berapa lama, tampak dari kejauhan Arini keluar dari pintu utama hotel berbintang itu, bersama Abdi yang masih merangkul mesra pinggul sang istri. Sontak pemandangan itu, membuat Eko semakin tidak percaya, bahwa dunia yang ia anggap luas, ternyata hanya selebar daun kelor benar adanya.


Bergegas Eko keluar dari mobil, membawa paper bag yang berisikan dua handphone iPhone seri terbaru dihadapan Arini.


Wajah Arini tampak tersenyum sumringah, ketika melihat Eko yang sangat sederhana berjalan menghampirinya. Perlahan ia meminta Abdi untuk membawa travel bag mereka lebih dulu dan mendekati sosok pria kalem yang jujur ia kagumi.


Sangat berbeda dengan Eko, pria itu justru menepis tangan Arini, karena tidak ingin bersentuhan dengan wanita yang bukan muhrimnya.


Arini tampak kebingungan, karena mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari Eko, mengalihkan pandangannya kearah Abdi agar tidak mendekatinya sambil berkata dengan nada lembut, "Hai ... ke-ke-kenapa kesini? Bukankah kita bertemu di supermarket, dekat Setiabudi? Kok?"


Sejujurnya Eko tampak gugup berhadapan langsung dengan wanita yang ia ketahui pemilik club' juga restoran tempat dirinya mengantarkan sayuran selama ini. Dengan mata berkaca-kaca, ia memberikan paper bag itu kepada Arini, "Saya tidak suka di hina begini! Bukankah saya sudah menolak pemberian kamu tadi malam Nona Arini, atau Teteh Zea? Tapi kenapa kamu justru meminta orang suruhan Om Aldo untuk datang ke rumah ku! Maaf Teh, aku tidak bisa menerimanya. Sejujurnya aku sangat kecewa sama Teteh, yang tidak mengatakan siapa kamu sebenarnya!"


Mendengar penjelasan dari Eko, Arini tampak salah tingkah. Baru kali ini ia bertemu dengan pria yang sangat baik, dan justru semakin menarik perhatiannya sebagai wanita kaya.


Dengan demikian, Arini langsung menepis anggapan Eko, karena dia sangat senang memberikan hadiah-hadiah kecil kepada orang yang dikaguminya sejak dulu, "A-a-a-apa gue salah? Gue cuma mau memberikan give, dan rasanya kita nyambung, bahkan pertemuan kita tadi malam sangat berkesan. Please, jangan berpikiran yang tidak-tidak. Sejujurnya, gue benar-benar mengagumi lo."


Akan tetapi, Eko langsung menepis kejujuran Arini padanya, "Kan sudah saya kasih tahu sama kamu. Saya tidak menyukai berhubungan dengan wanita kaya. Apalagi sampai memberikan handphone mahal seperti ini, Teh. Saya tidak bisa menerima ini, karena saya tidak mau dianggap sebagai perusak rumah tangga orang lain. Teteh sudah menikah, dengan pria itu!" tunjuknya mengarah kepada Abdi yang masih melihat perdebatan mereka berdua.


Arini mengerlingkan bola matanya, menghela nafas berat, sesekali mengusap lembut bahunya sendiri, "Gini yah. Gue memang status istri pria itu. Tapi gue sukanya sama lo. Dan tidak ada hubungan bisnis kita sama handphone ini. Kenapa gue kasih dua? Anggap saja gue ini vendor yang sangat puas dengan kinerja lo. Kita bisa jadi teman bisnis, bahkan gue berencana untuk menjadi donatur, agar bisa membeli lahan lebih kurang 10 hektar, dan kita bisa kelola sama-sama. Gue tahu diri kok! Status gue sudah menikah, dan wajar dong gue suka sama lo. Salah? Coba sebutkan dimana salahnya? Gue sama suami gue enggak cinta. Biasa kan?"


Pandangan Eko terasa sangat berkunang-kunang, seketika kepalanya menjadi pening. Karena mendengar penuturan gadis cantik itu dihadapannya. Sejujurnya, dia tidak ingin berada di situasi sulit ini, karena tidak ingin dipersalahkan kemudian hari.

__ADS_1


Eko enggan untuk berdebat, lagi-lagi matanya hanya mengarah pada paper bag yang masih berada dalam genggamannya, tersenyum tipis mencoba untuk berdamai dengan keadaan, walau sesungguhnya hatinya sangat menolak. "Tapi ini profesional kerja ya, Teh?"


Arini tersenyum, menganggukkan kepalanya, "Gue butuh teman yang baik kayak lo. Kalau suatu hari nanti kita ada perasaan, gue harap itu hanya sekedar partner saja. Jujur gue nyaman saat ini jika dekat dengan lo. Tapi gue juga enggak munafik, kalau gue mulai suka sama lo. Tolong pahami kondisi gue, Aa Eko. Terima pemberian gue, karena itu hanya sebuah barang yang lo butuhkan."


Eko mengangkat paper bag itu dihadapan Arini, sambil menaikkan kedua alisnya, "Isinya dua?"


Terdengar suara tawa Arini, "Kasih saja buat Mama kamu, Aa. Atau adik perempuan kamu. Sekali lagi, terimakasih sudah mau menjadi teman baik, aku."


Lagi-lagi Eko mengerenyitkan keningnya, ketika mendengar panggilan Arini berubah padanya. Sejujurnya ia merasa sungkan dan tidak nyaman saat ini, karena masih diperhatikan oleh Abdi yang masih menunggu mereka dengan sangat sabar, sambil terus melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kanannya.


Namun Arini langsung menarik lengan Eko untuk berkenalan dengan sang suami. "Kenalan sama suami ku, ya. Biar tidak ada kecurigaan."


Sejujurnya Eko sangat enggan untuk berkenalan dengan Abdi, dia tampak masih belum nyaman karena harus dipertemukan dengan cara aneh seperti ini. Akan tetapi, mau tidak mau ia harus bersikap gentle agar tidak terjadi salah paham suatu saat nanti.


Ketika melihat Arini mendekatinya, Abdi tampak memperbaiki posisi berdirinya, kemudian mengulurkan tangannya untuk berkenalan, "Abdi. Suami Arini."


Arini dengan bangganya memperkenalkan Abdi sebagai anak dari pemilik perkebunan teh, "Suami ku ini anak dari Nancy Sugondo, Aa. Dan dia juga punya adik, namanya Mutia. Kamu pasti pernah dengarkan keluarga mereka? Tapi sayang aku juga baru kenal sama keluarga ini, sekarang!" tawanya menggoda puncak hidung Abdi dihadapan Eko.


Pernyataan Arini, membuat dada Eko semakin terasa sangat berat dan sesak. Bagaimana mungkin, dia harus bertemu dengan abang dari sahabat baik adiknya, Sonya. Yang ia ketahui orang terkaya, karena sang mama pernah bekerja di perkebunan milik Keluarga Sugondo tersebut.


Eko benar-benar dibuat pusing mendadak, bergumam dalam hati, "Pantas saja. Tuhan, kenapa aku dipertemukan dengan orang-orang yang selalu diceritakan mama tentang kesombongannya tapi sesungguhnya mereka sangat baik dan hangat. Sangat berbeda dengan Mutia yang selalu baik kepada Sonya, tapi tidak pernah memberikan uang, melainkan hanya memfasilitasi adik tiri ku itu. Apakah pria ini tahu bahwa aku memiliki adik perempuan ...?"


Sementara Abdi tengah berpikir dimana dia pernah bertemu dengan Eko. Karena melihat wajah yang sangat familiar, tapi sedikit melupakan dimana mereka pernah bertemu.

__ADS_1


Abdi menoleh kearah Arini, karena tidak ingin terlalu lama berada diparkiran, sambil bertanya, "Kita jalan sekarang, Rin?"


Arini menganggukkan kepalanya. Tersenyum kearah Eko, sambil menunjuk mobil miliknya, "Aa mau bareng sama aku? Atau bawa mobil sendiri?"


Tanpa mengurangi rasa hormatnya, Eko langsung menunjuk kearah mobil butut miliknya, "Saya bawa mobil sendiri saja. Sekali lagi, terimakasih. Nanti saat makan siang saya yang traktir kamu. Biar impas!"


Arini tertawa kecil, "Oke whatever! Yang penting outfit ku, sudah cocokkan?" tunjuknya pada busana yang ia kenakan.


Eko menganggukkan kepalanya. Dia berlalu meninggalkan Arini yang lebih dulu masuk kedalam mobil mewahnya.


Begitu Arini menutup pintu mobil, Abdi langsung memposisikan tubuhnya, untuk bisa melihat sang istri dengan seksama, "Kamu suka sama laki-laki itu? Kok pandangan kamu sangat berbeda dengan melihat aku?" sesalnya, tanpa sadar ternyata tengah dilanda perasaan cemburu.


Dengan enteng Arini menjawab, "Gue suka sama laki-laki yang sopan dan jujur. Dia sangat berbeda sama suami, gue. Kenapa Tuhan itu tidak pernah adil, ya? Menciptakan sosok pria gigih seperti itu, tapi justru dipertemukan dengan istri bohongan abdi negara!"


Tampak Abdi merungut kesal, "Dasar perempuan aneh. Gue tampan begini di sia-siakan. Giliran kayak begitu di elu-elukan. Wanita jaman sekarang rada gelo!"


Perlahan Arini tersadar, menatap sinis kearah Abdi, kemudian menghardiknya dengan nada jutek, "Eh ... mata lo tuh yang kutilan! Melihat istri sendiri ogah-ogahan, tapi giliran ngeliat cewek abege labil kayak Sonya, langsung klepek-klepek! Setidaknya, gue membalas hubungan lo dengan Sonya. Jadi kita sama-sama sakit hati, dan jangan komplain! Lo yang enggak tahu siapa sebenarnya istri lo, Abdi!"


Abdi hanya mengusap dadanya perlahan, "Tapi sekarang perasaan gue udah mulai berubah sama kamu, Rin!"


Satu alis Arini langsung naik sebelah, langsung menarik lengan Abdi, "Lo merubah perasaan itu karena pengen sesuatu. Bukan karena tulus mencintai gue, Aa Abdi! Ingat, jam terbang gue untuk mengendalikan perasaan sudah tinggi. Jadi yang kita lakukan tadi malam itu hanya sebuah kebutuhan! Bukan cinta!"


Abdi tampak mengalihkan perhatiannya, karena enggan untuk berdebat lebih lama, "Terserah deh! Lawan cewek sama saja! Enggak pernah menang. Jalan enggak, ni?"

__ADS_1


Arini mengusap lembut lengan Abdi, menggoda puncak hidung sang suami, "Cepat baby. Kita jalan menuju curug. Nanti kita cari kebun, dan langsung beli lahan di sana. Nah, itu merupakan harta gono-gini kita. Jadi jika lo macam-macam tinggal pergi dari sisi gue!"


"Cewek aneh!" sungutnya, melajukan kendaraan, ketika mendengar suara klakson dari mobil Eko yang jalan lebih dulu.


__ADS_2