Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara

Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara
Tawanan abdi negara


__ADS_3

Abdi mengambil baju kaos miliknya didalam lemari, memberikan kepada Arini agar tidak menjadi bulan-bulanan bagi kedua orang tua mereka ketika akan menikmati sarapan bersama.


Dengan mata melotot Abdi melihat Arini yang langsung membuka baju tali satu itu dihadapannya tanpa perasaan malu. Lagi-lagi ia bertanya kepada sang istri, karena menyaksikan Arini tidak mengenakan penyangga.


"Ka-ka-kamu enggak pakai bra? A-a-a-apa enggak malu sama Mama? Lihat tuh kelihatan putik mungilnya!" tunjuknya pada dada Arini yang benar-benar sangat pas ditelapak tangannya.


Tanpa sungkan Arini menangkup dadanya dihadapan Abdi, tersenyum sumringah sambil menjawab dengan wajah polos, "Kan biasanya juga enggak pakai, kemaren juga enggak pakai!"


Sumpah demi apapun, Abdi menepuk jidatnya membayangkan bagaimana Eko tak berkedip ketika bertemu dengan Arini, bahkan ia hanya mengenakan kemeja dengan kancing dua atas yang sengaja dibuka.


Dengan langkah berat, Abdi langsung menuju pakaian dalam yang telah ditata oleh pekerja dikediaman keluarganya, hanya untuk mencari letak bra sang istri. Tanpa pikir panjang ia memberikan satu bra, yang cukup membuatnya semakin tertarik dengan Arini.


"Kamu pakai beginian?" Keningnya mengkerut mengembangkan bra yang bertali banyak dihadapan Arini, sehingga memikirkan sendiri bagaimana cara pemakaiannya.


Tanpa sungkan Arini yang masih berdiri didepan meja rias, berjalan mendekati Abdi, membuka baju kaos yang dikenakannya, langsung menempelkan cup itu didada yang masih terlihat padat tersebut. Kemudian mengarahkan tali-talinya kepada Abdi yang berdiri dibelakangnya untuk membantu dalam mengikat tali itu satu persatu.


Susah payah Abdi menelan ludahnya sendiri. Karena baru menyadari bahwa sesulit inikah seorang wanita mengenakan sebuah bra. Hanya itu yang ada dalam benak pria polos seperti Abdi, tapi ia berusaha mengikatnya dengan sangat baik tanpa banyak bertanya.


Tenggorokannya benar-benar mengering bahkan terasa sangat sulit untuk berpikir jernih, ketika melihat punggung berwarna itu sangat lembut dan berbulu halus tanpa noda, kecuali tatto inisial 'A'. "Kenapa kamu tidak mengatakan bahwa sesulit ini mengenakannya, Rin?"


Terasa nafas Abdi yang semakin tak beraturan. Membuat Arini merasa nyaman dengan cara lembut Abdi memperlakukannya. "Sudah tahukan kenapa aku malas pakai ini? Karena aku tidak menyukai pakai yang biasa. Ini namanya bikini, biasa dipakai buat berenang atau berjemur di pantai. Kalau aku pakai di kolam renang rumah kamu bisa enggak kerja mamang-mamang perkebunan, karena melihat aku berenang. Bisa-bisa aku diusir mertua agar meninggalkan kediamannya."


Mendengar penuturan Arini, membuat Abdi ingin sekali tertawa terbahak-bahak, dan memiting kepala wanita ini di ketiaknya, karena selalu asal jika berbicara dihadapannya.


Perlahan Abdi tersenyum, kemudian berkata pelan, "Sudah."

__ADS_1


Arini mengambil baju kaos pemberian Abdi tadi, langsung mengenakannya dengan memperlihatkan beberapa tali yang terlilit dileher istrinya.


Begitu banyak kejutan kecil diberikan Arini kepada pria yang sudah berstatus sebagai suami itu, membuat Abdi semakin yakin bahwa Arini memang wanita berbeda. Tidak banyak orang yang memiliki sifat keras bahkan lugas dalam bersikap seperti hari ini.


Arini tidak banyak bicara, akan tetapi dia mampu melakukan apapun diluar dugaan orang-orang sekelilingnya. Kemampuannya dalam menyetir, serta bela diri, sangat diacungi jempol dan tidak diragukan lagi.


Abdi mengecup lembut kening Arini, ketika wanita itu menghadap langsung kearahnya, berkata lembut, sambil mengusap wajah cantik itu, "I love you, Rin."


Sejujurnya Arini sangat senang mendengar ucapan itu, akan tetapi ia memilih menjawab singkat, "Jangan gombal! Lapar!" rengeknya meringkuk di lengan Abdi sambil menjawab ucapan itu didalam hati, "I love you more, baby ..."


Kedua-nya melangkah keluar kamar, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 waktu kota kembang.


Wajah kedua orang tua mereka tampak tersenyum sumringah, melihat anak menantunya sangat mesra, walau kemaren menghadap masalah yang sangat menjengkelkan.


Tanpa perasaan sungkan Arini langsung melepaskan tangannya dari lengan Abdi, berhambur memeluk Aldo, mengecup kedua pipi sang papa dengan penuh perasaan sayang. Kemudian duduk dipangkuan pria gagah itu sambil mendekap erat cinta pertamanya dihadapan mertua juga suaminya.


"Manjanya persis kayak Mutia sama kamu, Mas!" bisik Nancy menggoda sang suami yang duduk disampingnya.


Aditya mengerutkan keningnya, "Namanya anak cewek itu harus dekat sama ayahnya. Agar dia tidak pernah percaya sama rayuan gombal pria lain dan bisa lebih awas mengendalikan perasaannya!" geramnya, dengan mata mengarah kepada Abdi yang langsung menundukkan wajahnya.


Lagi-lagi Aditya menggoda puncak hidung Nancy, "Kayak kamu enggak manja saja sama Bapak! Dikit-dikit ngadu sama Bapak, dikit-dikit ngadu, sampai-sampai Mas yang dimusuhi sama Bapak!"


Mendengar sungutan Aditya, kedua bola mata Nancy membulat sempurna, hanya untuk mengatakan, "Hush ... cicing!"


Abdi hanya bisa menahan telinga, mendengar sindiran kedua orangtuanya, yang tidak pernah berubah padanya, sambil melirik kearah Arini yang merengek dipangkuan Aldo.

__ADS_1


Arini justru tengah merengek di pundak Aldo sambil berkata, "Arin, pulang ya. Enggak mau di sini. Arin rindu Mama. Kemaren mau pulang Papa enggak ada, kata Om Bian 'papa sibuk Rin, jadi langsung ke butik aja'. Ngapain coba Arin ke butik, paling disuruh bantuin Mama pasang payet kebaya."  


Aldo tertawa geli mendengar celotehan sang putri. Sesungguhnya jika ia sudah mendengar rengekan sang putri sudah begini, tak mampu berkata-kata. Memang diakui, Aldo sangat keras mendidik Arini sejak kecil, tapi semua itu dilakukannya karena dirinyalah yang selalu menemani putri kesayangannya itu pergi dan pulang sekolah ketika masih di taman kanak-kanak.


Aldo hanya mengusap lembut punggung Arini, berkata pelan, "Kata Mama Nancy kamu mau beli lahan perkebunan organik. Jadi kamu disini saja, lahan yang dekat dengan jurang itu milik teman Mama Nancy, Om Pramudya yang kerja di rumah sakit dekat rumah kita. Kalau kamu pulang, suami kamu bagaimana? Kan, kasihan sama Abdi."


Mendengar ucapan sang papa, Arini langsung meletakkan dagunya di bahu Aldo, "Beneran? Enggak bohong? Papa yang beliin lahan itu buat Arin?"


Aldo tersenyum lebar, kembali mengusap rambut panjang putrinya, kemudian menjelaskan perlahan, "Yang beliin lahan itu mama mertua kamu. Dengan catatan harus tinggal di paviliun yang ada di ujung situ." Tunjuknya mengarah pada paviliun luar yang tampak mewah juga asri, "Biar tidak menggangu ketenangan Mutia, kalau dia menerobos masuk ke kamar kakaknya. Lagian kalau lagi mesra-mesra itu kamu harus kunci pintu. Untung tadi yang masuk Mama Nancy. Kalau Mutia bagaimana? Bisa-bisa minta nikah dia hari ini juga!"


Arini menguatkan tangannya dipelukkan sang ayah, karena merasa malu dinasehati dihadapan mertuanya. Kembali terdengar rengekan manjanya, agar Aldo tidak membahas tentang kejadian tadi pagi, karena sungguh sangat memalukan dalam benak Arini.


Bukan maksud Aldo untuk mempermalukan putrinya dihadapan Nancy juga Aditya. Tapi menasehati kedua anak menantunya itu agar tidak ceroboh jika melakukan perjalanan kemanapun mereka pergi, sehingga sangat membahayakan jika sampai tidak mengunci pintu kamar.


"Iya Papa yang bawel. Tapi Arin enggak ada pegang uang cash, kasih! Buat belanja hari ini, karena Aa Abdi mau pergi kerja. Arin mau shoping aja ke mall sekalian mau ketemu teman," sungutnya dengan bibir mungilnya maju satu meter, sengaja mengalihkan topik pembicaraan.


Tanpa sungkan Aldo langsung mengambil dompet tangan yang ia letakkan di atas meja makan berbahan marmer itu, memperlihatkan ketebalan pecahan merah, membuat mata putrinya berbinar-binar penuh bahagia. Aldo tanpa sungkan memberikan uang pecahan seratus itu ketangan sang putri, tanpa menghitungnya.


Beberapa kali Arini memberikan kecupan-kecupan manis diwajah Aldo, akan tetapi merengek kembali, "Gantiin mobil! Enggak mau pakai yang ini. Kayaknya minta diservice. Jadi nanti minta Om Bian anterin ke sini, Arin mau pergi jam 11.00. Oke Papa baby?"


Beberapa kali Aldo hanya mengangguk setuju, merasakan bahwa tidak ada yang berubah dari sang putri, "Hmm ... sudah nikah masih saja manja banget!" usapnya pada kepala Arini, ketika putrinya beranjak untuk duduk di kursi lain bersebelahan dengan Abdi sang suami.


Sedikit risih karena ulah manja Arini yang terlalu, Abdi membisikkan sesuatu ketelinga sang istri hanya untuk memastikan perjanjian mereka berdua, "Jangan sok main sinetron, karena kamu sudah menjadi tawanan seorang abdi negara, Nona Zea!"


Arini menatap sendu wajah sang suami, hanya tersenyum membalas ucapan Abdi dengan penuh penekanan, "Jangan sok mengancam Tuan Abdi. Karena sesungguhnya kamu tidak tahu siapa yang kamu tawan!" seringainya membuat Abdi langsung mencuri bibir itu sekilas.

__ADS_1


"Ka-kamu ..."


__ADS_2