Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara

Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara
Mengetahui identitas


__ADS_3

Dua insan yang masih saling berpelukan mesra dikamar hotel mewah, untuk menghabiskan malam bersama. Akan tetapi, kedua-nya diganggu dengan deringan telepon milik Abdi yang memekakkan gendang telinga sang istri.


Kening Arini mengkerut, mengalihkan pandangannya kearah nakas, sambil melepaskan dekapannya di tubuh Abdi yang sudah membuka penghalang mereka untuk melabuhkan cintanya.


Dengan demikian, Abdi langsung menjawab telepon seluler miliknya, karena tertera nama 'Joni' di sana.


Abdi : "Apaan?"


Joni : "Papa suruh pulang. Lo besok pagi sudah berangkat ke Jakarta. Kemungkinan akan langsung menuju Libanon! Cepat pulang, karena kondisi keluarga lo tidak kondusif!"


Dengan wajah bingung, Abdi melihat Arini yang berada dihadapannya, kemudian mengalihkan pandangannya kelayar handphone yang masih menyala.


Abdi : "Oke!"


Tanpa pikir panjang, bergegas Abdi mengenakan lagi pakaiannya, tanpa banyak bicara dengan Arini. Membuat wanita cantik itu tampak kebingungan, karena baru kali ini diperlakukan seperti saat ini oleh Abdi.


"Ki-ki-kita mau kemana? Kok buru-buru? Bu-bu-bukankah kita biasa menginap di hotel dan menghabiskan malam bersama?"


Pertanyaan Arini menghentikan langkah Abdi, ia kembali menoleh kearah sang istri hanya untuk memandang wajah cantik wanita-nya.


"Jika kita berpisah dalam waktu dekat, aku harap kamu akan selalu menjaga keselamatan juga kehormatan mu sebagai seorang istri abdi negara, aku mencintaimu Arini."


Bulu kuduk Arini meremang, dadanya terasa sangat sesak, sedikit sulit untuk mengehela nafas karena terasa sangat berat. Langkah kakinya hanya mengikuti Abdi, yang lebih dulu berjalan setelah mengatakan perasaan cintanya.


Tidak butuh waktu lama, mobil milik Nancy melaju dengan sangat kencang menuju kediaman keluarga suaminya.


Jujur, saat ini Arini benar-benar kalut. Jantungnya berpacu semakin kencang, ketika melihat pagar rumah mewah itu terbuka lebar, sesuai arahan remote control yang ada dalam genggaman Abdi.


Waktu menunjukkan pukul 02.35 dini hari kota kembang. Suasana sunyi, tapi terasa sangat mencekam. Kilauan lampu hanya menerangi teras serta terlihat lampu ruangan bagian dalam tampak masih menyala.


Tersirat dalam benak Arini tentang semua pekerjaannya. "Kenapa perasaan ku jadi gelisah seperti ini? Apakah akan terjadi sesuatu ...?"

__ADS_1


Tanpa menunggu, Arini melangkah keluar dari mobil setelah Abdi membuka pintunya dengan sangat lebar.


Senyuman kekhawatiran tersirat dari wajah kedua-nya ketika bersitatap, kemudian berjalan menuju pintu masuk dari arah samping. Abdi menekan password kediamannya, yang dapat Arini ketahui sejak awal tinggal di sana.


Sedikit bernafas lega, karena melihat suasana rumah yang langsung dihadapkan dengan ruang makan dan akan menuju kamar Abdi, seketika ...


"Hentikan langkah kalian, Abdi."


Terdengar suara bariton Aditya dari arah kiri kedua-nya. Membuat Abdi langsung menggenggam tangan Arini dengan sangat erat.


Abdi menoleh kearah Aditya, disusul dengan Arini yang melihat Nancy duduk disamping suaminya.


Dengan membungkukkan tubuhnya, Arini langsung menyapa mertua dengan rasa hormat.


Akan tetapi, Aditya langsung berdiri mendekati mereka berdua kemudian langsung menarik tangan Abdi dengan sangat keras, dan berkata dengan nada tegas, "Tinggalkan kediaman ku, Zea Alexa. Karena kami sudah mengetahui semua tentang identitas mu!"


Mendengar nama Zea Alexa diucapkan oleh Aditya membuat Arini tersentak. Dia tidak menyangka bahwa secepat ini akan menghadapi situasi sulit yang sangat menyesakan dada.


Berkali-kali Arini mencoba untuk menenangkan diri, mencuri nafas dalam, agar tidak terlihat oleh Aditya bahwa ia tengah menarik nafas singkat, dengan senyuman mengembang lebar ia berusaha menjawab ucapan Aditya, "Siapa Zea, Pa?" wajah itu kembali tiba-tiba polos, bak wanita lugu yang tidak mengetahui tentang apapun.


Abdi yang tidak terima dengan perlakuan Aditya, sambil mengalihkan pandangannya menatap lekat wajah sang mama, bertanya sedikit terbata karena kaget, "A-a-a-apa maksud Papa?"


Arini mengerlingkan bola matanya, dia berusaha menghindari perdebatan dengan orang yang dianggapnya sebagai orang dewasa, tanpa pikir panjang, dia hanya tersenyum tipis kemudian berkata singkat, "Baik ... jika kehadiran Arini sudah tidak diperlukan lagi, detik ini juga akan pergi."


Bergegas Arini merogoh handphone miliknya dari dalam tas, dengan nada bergetar hebat tapi mencoba untuk tenang, menghubungi seseorang diseberang sana.


Bian, dini hari itu Arini langsung menghubungi Om-nya, karena tidak ingin berada dikediaman Keluarga Abdi dalam situasi genting seperti itu.


Abdi berlari mendekati Arini yang akan memasuki kamar mereka, "Sayang, please jangan tinggalkan aku!"


Dengan sangat hati-hati Arini hanya tersenyum melirik kearah Abdi yang sudah berdiri disampingnya, "Maafkan aku. Mungkin kawin gantung seperti inilah yang diharapkan oleh keluarga kita! Aku juga mencintaimu, Aa!"

__ADS_1


Aditya yang tidak ingin putra kesayangannya terlalu banyak mengikuti langkah kaki Arini, langsung menarik lengan Abdi sebelum menyusul sang istri kedalam kamarnya.


Dengan nafas berat Aditya menghardik Abdi, "Tinggalkan Arini, karena dia merupakan sindikat mafia yang sedang kita tangani! Papa sudah tahu semua tentang Arini yang ternyata Zea Alexa, Abdi! Kita harus cuci tangan, karena ini menyangkut kepentingan negara juga nama baik dan keluarga kita!"


Abdi menggeram, ia menghentakkan tangannya agar terlepas dari genggaman sang papa. "Aku mencintai Arini. Dia istri ku, apapun yang terjadi pada hidupnya sudah menjadi tanggung jawab ku, Pa!"


Plak ...


Aditya yang tidak suka dengan penolakan langsung menampar wajah sang putra yang berani melawannya.


"Cinta kamu bilang! Kita sudah di tipu oleh keluarga Mama mu saat ini. Jika dia tidak menyelesaikan semua urusannya, maka kalian tidak bisa bersatu lagi! Hingga proses hukum berjalan sebagaimana mestinya! Ingat Abdi, nama baik dan sumpah kita kepada negara ini harus di jaga! Besok, kamu akan Papa kirim ke Libanon, agar bisa melupakan wanita itu!"


Nancy yang sejak tadi berusaha untuk tetap tenang, menghardik Aditya agar tidak mengambil keputusan dalam kondisi seperti saat ini, "Mas ... Arini ini menantu kita! Dia cucu Pak Anggoro. Tidak mungkin kita harus membiarkan dia begitu saja. Dia wanita Mas!"


Aditya mendecih dengan wajah berang, "Aku tidak peduli! Kali ini nama baik dan karir putraku lebih utama dibandingkan dengan memikirkan bagaimana perasaan keluarga besar, Neng!"


Nancy yang tidak suka dengan cara Aditya, langsung menerobos masuk kedalam kamar putra kesayangannya, akan tetapi Arini sudah tidak ada didalam kamar tersebut.


"Arini! Arin! Arini! Kamu dimana? Ini Mama, sayang!" Mata Nancy tertuju pada jendela kamar yang terbuka lebar, memberikan isyarat bahwa Arini telah pergi meninggalkan kediaman mertuanya.


Nancy berteriak keras, "Abdi! Abdi! Arin, Nak! Arini pergi! Dia sudah pergi!" tunjuknya dengan isak tangis kembali terdengar, setelah mendengar semua penjelasan dari Aditya tentang Zea Alexa.


Abdi langsung berhambur mencari keberadaan istrinya, kali ini dia lengah, karena tidak menemani sang istri masuk kedalam kamarnya, hanya karena di cekal oleh Aditya.


Dadanya terasa sangat sesak, karena telah membuat Arini kecewa, bahkan tidak mampu membela sang istri dihadapan orangtuanya.


Lagi-lagi darah Abdi mendidih seketika, saat bersitatap dengan kedua bola mata Aditya, "Begini cara mengatasi masalah, Pa? Kita memang abdi negara, tapi kita harus bisa menjaga seorang tawanan mafia untuk masuk ke lingkaran mereka. Aku tidak akan berangkat kemanapun, sebelum menemukan dimana istri ku!"


"Sialan kamu! Berani sekali kamu menjawab perintah ku!" hardik Aditya, tapi dapat ditepis oleh Abdi dengan cepat.


"Diluar Papa komandan ku, dirumah Papa orang tuaku. Jadi tolong jangan campur tangan dalam rumah tangga ku! Permisi!"

__ADS_1


Nancy berteriak memanggil nama putra kesayangannya, "Abdi, jangan pergi! Jangan pergi, Nak!"


"Biarkan dia pergi!"


__ADS_2