Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara

Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara
Ini jebakan


__ADS_3

Hati suami mana yang tidak gelisah, ketika melihat istrinya pergi seorang diri, tanpa menghiraukannya lagi setelah menurunkan Abdi di depan pintu pagar yang terbuka.


Seketika, Abdi di kejutkan dengan tepukan tangan di pundak kokohnya.


"Papa?" Abdi menoleh kebelakang, kemudian tersenyum tipis lalu kembali menatap mobil sang mama hilang dari pandangannya.


Aditya hanya tersenyum tipis, kembali bertanya, "Siapa yang membawa mobil Mama?"


Dengan nafas berat Abdi menjawab singkat, "Arini, Pa!"


Kening Aditya mengerenyit, menatap kedua bola mata putra kesayangannya, kemudian kembali bertanya, "Apakah kamu menyembunyikan sesuatu dari Papa?"


Abdi menggerakkan kepalanya, menjawab gugup dan semakin gelisah, "Eng-enggak Pa. Arini hanya meminta izin mau bertemu dengan Mama Emi di butik. Ada hal yang mau mereka bicarakan. Ini masalah wanita, enggak mungkin Abdi ikut, kan?"


Dengan langkah cepat Abdi berjalan untuk memasuki kediaman orangtuanya, lagi-lagi Aditya berbicara dengan suara tegasnya, "Apakah kamu mengetahui tentang Zea yang ternyata Arini! Kamu bisa berbohong dengan para komandan. Tapi kamu tidak bisa berbohong dengan Papa-mu, Abdi!"


Langkah kaki Abdi terhenti, ingin rasanya dirinya melepaskan semua paper bag yang ada didalam pelukannya, sehingga mengeluarkan seluruh isi pakaian mesum sang istri. Tapi ia harus menutupi semua identitas tentang sang istri dengan alasan untuk melindungi wanita kepala batu tersebut.


"Hmm ... Papa bicara apa sih! Aku bawa masuk paper bag ini dulu. Aku pinjam mobil Papa, ya? Aku ingin bertemu dengan Joni! Karena aku dengar Juno juga sudah kembali dari Netherland. Jadi mungkin kami akan menghabiskan malam di club' Paman Aldo," tuturnya mengalihkan pembicaraan.


Aditya hanya bisa membaca gerak putra kesayangannya yang tampak gugup, tapi berusaha untuk tetap tenang, "Kamu pakai saja. Malam ini Papa juga mau bertemu dengan Aldo. Tapi mungkin kami menghabiskan waktu di rumah, karena ada hal yang ingin aku bicarakan dengan dia mengenai menantu ku!"


Darah Abdi kembali bergejolak. Ada kekhawatiran didalam hatinya, jika sang papa mengetahui siapa Arini. Tapi tidak mungkin Aldo akan menceritakan siapa putri kesayangan mereka, karena apapun yang terjadi seorang ayah akan melindungi anak kesayangannya dari semua tuduhan yang melibatkan darah daging mereka.


Abdi hanya mengangguk, kemudian melangkah masuk kedalam rumah, dan mencicit menuju kamar pribadinya.


Setelah mengganti pakaiannya, Abdi mencari keberadaan senjata api yang selalu Arini simpan dinakas. Selama ini ia lupa untuk melakukan pengecekan, jenis senjata api yang dimiliki sang istri.


Namun, semua terlambat karena Abdi tidak menemukan senjata api juga pisau kecil milik Arini.

__ADS_1


"Sial ... apakah didalam tas Arini ada senjata api? Agh ... kenapa aku teledor sekali. Dari mana dia mendapatkan senjata api mahal itu. Bahkan sangat mematikan jika mengenai satu peluru saja. Damn it! Shiit! Agh!" Geram Abdi melayangkan pukulannya di udara berkali-kali, karena terlalu lengah dalam mengawasi wanita licik tersebut.


Tanpa pikir panjang, Abdi bergegas keluar dari kamarnya, mengambil kunci mobil milik sang papa, kemudian mencicit meninggalkan rumah mewah itu, tanpa berpamitan terlebih dahulu.


Aditya yang tengah berjalan keluar dari kamar, menautkan kedua alisnya bertanya kepada Unik. "Kemana Abdi, Nik?"


Unik yang kaget mendengar suara bariton Aditya hanya menggelengkan kepalanya, sambil menjawab pelan, "Ti-ti-tidak tau Mas. Karena Abdi enggak ngomong sama Unik. Mungkin dia mau menjemput Arini. Oya, Mas Adit ... kamar Abdi dan Arini mau dipindahin, kapan ke paviliun? Karena tadi saat membersihkan Unik menemukan beberapa hmm eee ... puntung rokok dan alat kontrasepsi gitu dimeja rias. Apakah Abdi merokok setelah menikah, Mas? Ta-ta-tadi mau bertanya sama Abdi lupa. Makanya Unik bertanya sama Mas Adit, saja." 


Entah mengapa, Aditya langsung terduduk di kursi yang berada diruang keluarganya. Membayangkan ada yang tidak beres pada dua insan yang tinggal satu atap ini.


Aditya mengurut dadanya perlahan, "Kenapa setelah menikah Abdi jadi perokok? Apakah Arini merokok? Agh ... ternyata anak-anak ini pintar sekali menyimpan rahasia. Kenapa mereka menggunakan pengaman segala? Apakah Arini sudah tidak perawan ketika menikah Abdi? Atau jangan-jangan Arini memang memiliki hubungan dengan Stevie? Sial! Aku harus bertemu dengan Aldo saat ini juga, sebelum kepala ku pecah sendiri memikirkan kedua pasangan aneh ini. Mesum tidak lihat tempat, ditambah dengan merokok! Sejak kapan aku membiarkan Abdi merokok! Aku saja tidak merokok ...!" umpatnya semakin menjadi-jadi, ketika berlalu menuju teras rumah untuk memanggil Asep sang ajudan.


"Sep, siapkan mobil! Antar saya ke rumah Aldo!"


Asep yang tengah menikmati waktu istirahat sorenya sambil menyesap teh hijau buatan Unik sang istri, langsung berdiri tegap sambil menjawab, "Siap Ndan!"


Ketika mereka akan pergi menuju kediaman Aldo, sesaat kemudian terlihat Nancy kembali bersama Mutia.


Aditya menjawab pertanyaan sang istri dengan penuh kelembutan, "Mas ke tempat Aldo dulu. Ada hal yang mau Mas bicarakan dengan beliau. Kamu makan malam saja deluan. Karena anak menantu kita juga masih di luar."


Tanpa banyak bertanya lagi, Nancy hanya melambaikan tangannya, kemudian menutup kaca jendela menunggu putri kesayangannya memarkirkan kendaraan.


Lagi-lagi Nancy mengancam putri kesayangannya, "Sekali lagi Mama lihat kamu bersama mereka, Mama benar-benar akan mengirim kamu ke Swiss. Biar kamu tinggal sama Eyang disana!"


Mutia tak bisa menjawab apapun juga saat ini. Ia hanya bisa merutuki kebodohannya, karena tidak mengetahui bahwa sang mama dengan mudah untuk mencari dimana keberadaannya. "Biarin deh dikirim ke Swiss. Kali aja ketemu sama bule di sana. Hmm ... mana tahu jodoh ku bule Italia, atau bahkan seorang mafia yang sangat terkenal. Kan asyik bisa berada di kemewahan tanpa harus bekerja seperti Mama dan Teh Arini," tawanya hanya untuk menghibur diri sendiri.


"Sepertinya aku harus pintar-pintar kalau mau bertemu dengan Sonya. Padahal aku lagi mau pendekatan dengan Kak Eko. Tapi selalu Teh Arini yang menjadi pemenangnya. Ngapain coba dia pakai kasih-kasih handphone mahal sama kakak kesayangan dedek. Pasti naksir! Alasan jadi vendor. Awas saja kalau dia mau merebut Kak Eko dari tangan aku. Aku sabet pakai pedang Kak Abdi, biar mati keenakan ...!" celotehan semakin menjadi-jadi.


.

__ADS_1


.


Ditempat yang berbeda, disalah satu markas kediaman rumah dinas mewah seorang abdi negara, Arini tengah menikmati hidangan yang tak pernah berhenti menyajikan makanan lezat kesukaannya ...


"Jadi bagaimana Om? Sudah bisa kita jalankan semua misi sesuai rencana? Kebetulan aku sudah sangat lelah harus bersandiwara begini. Kalau tahu menjalani pernikahan ini sangat sulit, aku memilih untuk tetap stay di Valencia. Lagian Om kenapa ngelapor sama Papa sih?"


Bian tertawa kecil, mendengar celotehan Arini, "Zea ... Zea! Kamu seperti tidak tahu bagaimana Papa mu, saja. Dia takut kalau anak perawannya kembali dalam keadaan tidak baik. Justru dia akan malu pada keluarga sahabat lama juga sepupunya! Makanya ... pernikahan kalian diumumkan secepat kilat. Apalagi, Papa kamu sangat antusias untuk mendapatkan julukan club' nomor satu untuk yah ... you know that!"


Arini mengerlingkan kedua bola matanya, menyambut kedatangan Sudirman yang baru kembali dari luar negeri dalam mengikuti salah satu rapat kenegaraan ...


Sudirman menyapa Arini dengan penuh kasih sayang selayaknya seorang anak angkat, karena dirinya tidak memiliki anak dari pernikahannya, "Hai cantik! Apa kabar? Bagaimana setelah satu bulan menyandang status sebagai seorang istri abdi negara hmm?"


Arini hanya menggembungkan pipinya, "Enggak enak. Aku harus berperang terus melawan perasaan ku!" sesalnya kembali duduk di kursi meja makan.


Sudirman memberikan tas bawaannya kepada sang istri yang sangat baik dan lembut, kemudian memilih duduk dengan dua orang terdekatnya tersebut.


"Kamu harus bisa menjaga nama Zea Alexa. Jangan sampai Abdi mengetahui tentang identitas kamu. Saya sudah mengurus semua identitas baru untuk kamu, dan kamu bisa menggunakan nomor baru. Saat ini semua sedang memperebutkan untuk melumpuhkan kamu. Kamu bisa memancing Stevie untuk kembali kesini, dengan satu catatan ... kamu harus pura-pura menjadi kekasihnya!"


Kedua bola mata Arini membulat besar tak percaya, "What? I won't, because I love hmm ..."


Sudirman meletakkan handphone mewah diatas meja berwarna keemasan, kembali melanjutkan ucapannya tanpa mengindahkan perkataan Arini, "Data Stevie, dan Samuel ada disini. Samuel saat ini berada di rumah sakit yang sama dengan Gultom, setelah saya kirim beberapa waktu dari Jakarta dengan wajah tertutup. Malam ini kita harus bertindak cepat, untuk melepaskan semua selang yang ada ditubuh anak sialan itu. Ingat, rumah sakit tengah diawasi pihak berwajib atas perintah Sean! Jadi kamu harus berhati-hati! Apakah kamu butuh pengawalan?"


Arini menggelengkan kepalanya, "Kalau hanya melepaskan selang anak berengsek itu, aku bisa melakukannya sendiri, Om!"


"Good! Kamu memang orang yang bisa diandalkan. Tidak sia-sia Opa kamu mendidik kamu menjadi wanita yang cepat tanggap. Tapi ingat, jangan sampai lengah, karena Fredy Guarin telah mengeluarkan surat perintah kepada dua prajurit untuk menembak mati kamu!"


Kening Arini mengkerut masam, ini kali kedua dia mendengar ancaman itu, "Siapa yang diberi perintah, Om?"


"Suami kamu Abdi dan Joni!"

__ADS_1


Deg ...


Darah Arini mendesir hebat, ketika mendapatkan berita dari sang jenderal yang selalu melindunginya, "Sial ... apakah aku harus benar-benar melawan suami dan keluarga ku sendiri, yang merupakan abdi negara. Ogh tidak, ini jebakan ...!?"


__ADS_2