Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara

Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara
38 milyar


__ADS_3

Setelah bercerita panjang lebar tentang Gultom, Eko kembali ke perkebunan, sementara Abdi dan Arini memilih kembali ke kediaman orangtuanya di Lembang, karena tidak ingin bertemu dengan orang-orang suruhan pria berdarah Batak itu selain Eko.


Tak banyak bicara, Arini hanya terdiam sepanjang perjalanan. Ada kegundahan dalam hatinya tentang cerita Abdi mengenai Samuel yang dihajar habis-habisan oleh Gultom beberapa waktu lalu selama berada di club' malam Jakarta.


Kembali Arini teringat akan cerita Abdi, tentang pria yang bersimbah darah itu bukan bule melainkan orang yang berada di peti kemas pelabuhan.


"Luke? Apakah dia Luke ...?" Arini tersentak, kemudian meminta Abdi untuk memutar balik kendaraan mereka menuju perkebunan curug, hanya untuk memastikan, "Sayang ... cepat putar balik! Aku ingin memastikan siapa yang  berada di gudang yang kamu lihat tadi. Aku yakin pria itu Luke! Orang kepercayaan ku di peti kemas! Aku baru mentransfer dana padanya sebesar 45 juta. Aku rasa, Gultom mengetahui tentang uang yang masuk ke account-nya!"


Tanpa aba-aba, Abdi menekan pedal rem, karena kaget mendengar ucapan sang istri.


Ban mobil itu mencicit, bahkan mengeluarkan asap putih, menandakan bahwa mobil itu melakukan pengereman mendadak.


Abdi menoleh kearah Arini, meminta penjelasan dari bibir gadis muda yang ternyata memang selalu menghamburkan uangnya, "Apa bisnis mu? Kenapa kamu mengeluarkan dana sebesar itu untuk mereka? Bahkan kamu tidak sungkan memberikan Eko handphone mahal yang bernilai fantastis!"


Lagi-lagi Abdi memperbaiki posisi duduknya, kemudian mendekatkan wajahnya kepada Arini, hanya untuk sekedar melihat kejujuran dari iris mata indah sang istri, "Katakan pada ku, apa bisnis mu selain sayuran organik yang hanya mendapatkan keuntungan kecil! Kamu mau bermain dengan ku, hmm!?"


Wajah Arini seketika berubah, ia tak menyangka bahwa Abdi akan bertanya kepadanya seperti seorang interpol. "A-a-aku biasa melakukan hal itu. Sebagai vendor yang memiliki rejeki banyak, kenapa tidak aku berbagi dengan mereka untuk kelancaran bisnis ku! Apakah itu salah?"


Mendengar penuturan dari Arini, Abdi mendecih, tangan kanannya menepuk-nepuk pipi sang istri, menyunggingkan senyuman lirih, karena tidak percaya, "Kamu bisa membohongi orang lain, tapi tidak dengan Abdi Atmaja!"


Tenggorokan Arini seakan sulit untuk menelan ludahnya. Kepalanya seakan pening, bahkan ingin sekali ia mencabut ucapannya, karena tidak ingin Abdi mengetahui banyak hal tentangnya.


Otak Arini kembali bekerja, kali ini ia tidak ingin berdebat ataupun meminta kembali ke perkebunan. Terserah, terserah apa yang ingin di lakukan Gultom pada orang-orangnya.


Karena Arini tahu, kali ini pria berhati iblis sengaja menabuh genderang perang, untuk mengeluarkannya dari persembunyian, dan menyeret wanita itu kembali ke rencana awalnya bersama Stevie, dengan menjadikan Arini sebagai budak nafsu mereka berdua.


Tangan lembut itu, kembali memijat pelipisnya, Arini tak mengacuhkan Abdi yang masih menatap lekat padanya. Ia hanya melirik sekali, kemudian mengalihkan pandangan dengan sikap yang sangat gugup.

__ADS_1


"Jalanlah!" Arini berkata dengan nada pelan, melihat kearah luar yang memanjang sebuah plang bertuliskan, 'Lahan ini dijual. Luas 38 hektar, dengan tiga surat sertifikat hak milik yang bernomor 984534. Silahkan hubungi nomor dibawah ini, tanpa peranta'.


Tampak senyuman Arini menyeringai kecil, plang yang menuliskan kejelasan sebagai lahan itu ingin dijual cepat, dengan posisi lebih dekat dengan jalan raya dan tampak buah-buahan serta wartel yang tertanam tanpa perawatan, dengan rumput liar semakin banyak juga dikelilingi serta hama yang berterbangan. Membuatnya langsung merogoh tas yang ada disamping, untuk mengambil handphone miliknya.


"Kita keluar dulu yuk?" Ajak Arini pada Abdi, yang tampak masih kesal karena semakin tak diacuhkan oleh wanita cantik itu.


Mendengar ajakan Arini, Abdi mengusap kepalanya kasar, kemudian menuruti semua keinginan istrinya, agar tidak berlarut-larut dalam menanyakan sesuatu hal yang membuatnya berdecak kesal.


Bayangan Abdi sangat jauh. Dia merasa Arini terlalu berani, berperang dengan Gultom, tanpa memikirkan keselamatannya. Tentu ini akan menjadi momok yang sangat menakutkan baginya sebagai orang terdekat Arini.


Melihat Arini sudah keluar dari mobil, dan tengah berbincang dengan orang yang mengakui sebagai pemilik lahan melalui panggilan telepon. Abdi mengawasi Arini bak bodyguard yang tampan.


Bagaimana tidak tampan, Abdi masih mengenakan kacamata hitam dior, dengan outfit sangat santai. Cukup baju kaos, dipadukan celana jeans buatan Prancis yang Arini ketahui dari butik sang mama.


Dari penampilan Abdi yang sangat tampan, pasti tidak mengira bahwa pria gagah itu merupakan seorang militer angkatan darat dari pasukan elite walau masih berpangkat rendah.


Kini Abdi harus berhadapan dengan kakap sesungguhnya. Arini yang kini sudah menjadi istri, walau wanita itu masih menyangkal, tapi Abdi meyakini bahwa penyelundupan mariyuana serta pil laknat menuju Switzerland untuk pria bule yang mereka sebut Boul beberapa waktu lalu, sangat persis dengan semua data yang ia tangani saat ini.


Status Nona Zea yang menjadi target operasi mereka, membuat Abdi benar-benar menelan ludahnya sendiri, 'Tuhan ... kenapa aku dihadapkan dengan wanita ini?'


Abdi masih melihat-lihat area perkebunan yang menjadi incaran Arini. Lagi-lagi ia menyesiasati sekelilingnya, dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang tampak sangat asri dan berbeda dengan lahan milik Gultom.


Ada kekaguman luar biasa dihati Abdi ketika melihat saung yang telah lama tak di tempati, dan orang-orangan sawah yang masih dihinggapi burung tengah mencari makan. Kembali ia membayangkan bagaimana jika dirinya dan Arini tua bersama, kemudian membangun sebuah rumah sederhana di tengah-tengah perkebunan dan tinggal di sana bersama anak-anak lucu mereka.


"Agh ... kenapa otak ku justru berpikir yang indah-indah. Sementara wanita itu masih belum bisa menerima aku, walau sesungguhya aku telah memiliki dia utuh ..." Abdi mengusap lembut wajahnya, menikmati hembusan angin yang menerpa kulit wajahnya yang tampan.


"Aa Abdi! Aa! Aa! Aa Abdi!"

__ADS_1


Terdengar dari kejauhan, suara lengkingan Arini memanggilnya, seperti suara kuntilanak yang sangat memekakkan telinga Abdi.


Abdi melangkah mendekati Arini, ketika sudah berjarak lima belas meter langsung membalas teriakan wanita itu dengan nada tegas, "Bisa enggak kalau manggil itu samperin kesana, jangan teriak-teriak gitu! Suaramu itu jelek banget! Budek ni kuping aku!"


Wajah Arini yang sejak tadi tampak kusut, hanya mengangguk patuh, kemudian berkata, "Kita jalan yuk? Orangnya enggak jual kayaknya! Enggak mau di nego!" Ia menghadap ke plang yang masih berdiri kokoh, langsung mengumpat kesal dan menendang plang yang tak bersalah tersebut sambil mengeluarkan kata-kata umpatan, "Siapa yang mau beli harga segitu! Mana enggak mau kurang! Eeh penjual sialan, kalau enggak bisa di tawar, jangan pasang plang. Siapa suruh anak mamak lo tiga belas. Jadi banyak kan bagi-baginya! Agh! Kesel! Kesel! Kesel!" teriaknya terus meloncat-loncat, membuat Abdi melongo melihat kebodohan sang istri.


Abdi geleng-geleng kepala, melihat tingkah Arini, yang bolak-balik menendang plang itu agar roboh, membuat dia hanya tertawa sambil berpangku tangan sambil bertanya, "Emang dia jual berapa?"


"Satu milyar per hektar! Jadi total 38 milyar. Gue tawar 500 juta per hektar, dia enggak mau! Dia bilang lahannya bagus, tanah mengandung mineral dan sangat subur. Mending gue robohin ni plang, biar tahu diri dia!"


Mendengar harga yang disebutkan istrinya, Abdi langsung ternganga, ikut mengeluarkan kata-kata umpatan, "Apa!? 38 milyar. Lahan kayak gini 38 milyar. Mending beli kebun teh! Robohin saja plangnya, biar enggak ada yang menghubungi. Dasar orang aneh. Apa salahnya pasang harga satu juta per hektar. Jadi kita bisa patungan!"


Arini bergidik, tak menyangka bahwa suaminya akan mengeluarkan kata-kata itu disela-sela kekesalannya. Tanpa pikir panjang, dia langsung berhamburan memeluk Abdi kemudian mengalungkan kedua kakinya dipinggang sang suami, merangkul leher itu dengan sangat kuat.


Abdi yang berada lebih dekat dengan mobil mereka, langsung tersandar di body kendaraan sambil menatap kaget kedua bola mata itu dengan penuh tanda tanya. "Ka-ka-kamu kenapa?"


Arini tersenyum sumringah, tanpa perasaan malu ia langsung meletakkan kepalanya di pundak Abdi, "Pujukin Mama Nancy dong, beliin lahan ini buat aku. Nanti hasilnya kita bagi dua delapan puluh banding dua puluh. Buat masa depan kita, Aa. Kita bisa tinggal di sini nanti kalau kamu sudah pensiun. Dan kita berkebun kayak Mama dan Papa kamu. Kalau minta sama Mama aku, pasti dia bilang 'kita baru buka club' di Bali, habis tuh Jogja, habis tu Jakarta, habis tu uang Papa enggak ada'. Tapi beli apa-apa langsung cash. Orangtuaku pelit, jadi kamu bujukin mama ya? Nanti malam aku kasih enak!"


Susah payah Abdi mengalihkan perhatiannya, begitu juga dalam mengatur nafas yang sejak tadi tidak beraturan, karena melihat sekelilingnya yang ternyata sangat sepi, membuat kedua tangannya berhasil meremas bokong bulat milik Arini sambil berkata dengan senyuman licik kaum pria, "Kasih enak dulu, baru aku bantuin ngomong sama Mama!"


PLAK ...!


BHUG ...!


"Agh, sakit Neng! Apa salah Aa!?


"Neng, Neng ... kita pulang! Laki-laki mesum!"

__ADS_1


__ADS_2