Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara

Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara
Lakukan semua tugasmu


__ADS_3

Dada Arini bergemuruh. Ia mengambil sarung tangan kulit miliknya, meraih senjata api kecil yang ia miliki, kemudian berkata dengan tegas kepada Eko yang masih melirik kearah wanita yang duduk disampingnya tersebut ...


"Jangan melihat apapun, silahkan fokus pada stir kemudi, karena aku yang akan menghabisi dua orang pria binatang itu!" Arini menekan tombol otomatis power sunroof yang akan terbuka, kembali memberikan perintah kepada Eko, "Bawa ke jalanan yang sepi! Jangan daerah kota!"


"Baik Teh!"


Dengan menekan tombol otomatis kembali mobil Arini berlalu dengan cepat, meninggalkan mobil yang mengejar mereka dari belakang.


Arini tertawa kecil, melihat plat nomor kendaraan dinas yang ternyata Abdi suaminya sendiri. "Maafkan aku, Aa ..."


Kembali Arini mendengus dingin, menghempaskan tubuhnya disandaran jok penumpang, menekan tombol otomatis sunroof agar tertutup kembali, setelah melihat dengan mata kepalanya bahwa Abdi akan menembus kulitnya hanya untuk sebuah nama baik juga jenjang karir yang dijanjikan.


"Hmm ... ini alasannya kenapa aku tidak pernah mau menjalin hubungan dengan pria yang merupakan angkatan. Sangat sulit, untuk membedakan antara perasaan juga pekerjaan, Abdi Atmaja ...!"


Arini meletakkan senjata api yang ia miliki kedalam dashboard mobil, kembali menoleh kearah Eko sambil membuka wig serta menyibak rambut panjangnya, kemudian melepaskan sepatu kulitnya.


"Bawa aku ke restoran yang tidak jauh dari jalanan ini. Tiba-tiba perutku lapar gara-gara angkatan keparat itu!" umpatnya, semakin kasar dengan tatapan mata melebar kearah kaca.


Entah keberanian dari mana, Eko yang telah mendengar kabar dari Sonya tentang Arini yang telah diusir oleh Aditya dua minggu lalu, memberanikan diri menyentuh tangan wanita itu hanya untuk mengalihkan pikiran Arini.


"Terimakasih ya, Teh! Berkat Teteh, Mama saya sudah mendapatkan langganan tetap dalam jangka waktu dua minggu. Alhamdulillah nya, pihak pabrik mereka yang menjemput ke rumah setiap siang juga sore. Saat ini, Mama sudah tidak memiliki waktu untuk ghibah, dan menghabiskan waktu bersama orang-orang yang tidak penting," jelasnya dengan mata terus menatap badan jalan.


Arini tertawa kecil, mendengar penuturan Eko, "Syukurlah. Semoga berkah, dan penuh semangat dalam masak memasak. Bagaimana setelah pekerjaan kamu selesai? Kita ke Bandung? Kamu yang bawa kendaraan ini. Kita bisa pakai patwal. Kamu sama sopir dua tadi, kan? Aku pengen ketemu sama Mama ku, juga makan masakan Mama kamu. Tapi kita bereskan dulu pekerjaan ini, sekalian aku mau bicara dengan Teh Sindi. Tentang permintaan Boul dua minggu lagi. Aku akan memberikan keuntungan luar biasa jika mereka berani melakukannya!" tuturnya tanpa perasaan berdosa.


Bagaimana tidak, permintaan Boul karena pasar sangat membutuhkan teh hijau yang bercampur dengan daun haram itu, akan dikemas dalam bentuk teh hijau terbaik di dunia.


Akan tetapi, tidak semudah itu untuk meyakinkan Sindi, karena akan berdampak pada suami masing-masing yang masih melawan kehadiran Arini selaku Zea wanita liar yang memiliki image buruk saat ini.


Bagaimana mungkin akan percaya, saat ini semua pihak saat ini menuduh Arini atas percobaan pembunuhan pada Gultom yang telah siuman dan kembali koma.

__ADS_1


Kini mobil merah menyala itu, telah terparkir di salah satu restoran pilihan Arini, yang tidak jauh dari area pelabuhan. Tidak banyak yang berubah, dihadapan Eko saat ini, wanita itu tampak ceria walau tidak mau menceritakan tentang masalah pribadi yang tengah ia alami.


Dengan sangat hati-hati, Eko bertanya kepada Arini, "Oya Teh ... handphone krmaren aku kasih sama adik perempuan ku, Sonya. Dia sangat senang, apalagi setelah tahu bahwa Abdi menikah dengan Teteh."


Ketika Eko menyebutkan nama Abdi, bibir Arini seketika mengerucut karena tidak ingin membahas tentang pria manapun. "Hmm ... bilang sama Sonya, ambil saja Abdi. Kalau orang tua mereka mereka nggak setuju kawin lari saja, biar tidak menderita kayak saya!" tawanya, tampak terpaksa karena terus berusaha untuk menutupi semua masalahnya.


Eko terdiam, ia merebahkan tubuhnya disandaran kursi restoran sambil tersenyum tipis menatap Arini. "Tidak semudah itu, Teh. Karena kami tidak mengetahui siapa Papa-nya Sonya."


Arini tertawa kecil, mendengar celotehan Eko, "Apa hubungannya cinta sama orang tua? Kalau Sonya mencintai Abdi, ini waktu yang tepat untuk adikmu mengambil langkah. Jangan kayak saya, yang tidak mau berjuang lagi untuk sebuah perasaan," titahnya mengusap bibir gelas yang ada dihadapannya.


Mendengar jawaban Arini, Eko menelisik dengan tatapan penuh selidik, "Bagaimana jika Teteh hamil anak pria itu?"


Tampak raut wajah cantik itu semakin sendu. Dengan nafas berat ia menjawab pertanyaan Eko, "Entahlah!!"


Kedua-nya hanya terdiam. Cukup lama mereka dengan pikiran masing-masing, tanpa mau melanjutkan pembicaraan mengenai hal-hal pribadi.


Bagi Arini ada hal yang harus dibicarakan dengan orang lain, ada juga yang harus di tutupi, walau sesungguhnya Eko sudah mengetahui identitas wanita yang duduk dihadapannya itu sejak beberapa waktu lalu.


"Senang sekali bertemu dengan mu, Nona Zea!" ucap pria yang sangat dikenal oleh Arini dari suara beratnya.


Tanpa perasaan takut, Arini hanya tersenyum tipis, seraya berkata, "Lakukan saja tugas mu! Karena aku tidak ingin berdebat!"


BRAK ...


Tangan pria itu meremas kuat rambut Arini hingga menyentak kekulit kepala dengan cengkraman yang sangat menyakitkan, kemudian menghempaskan wajah cantik itu dimeja restoran, membuat wanita itu tampak semakin pasrah ...


"Lakukan semua tugas mu, sesuai perintah komandan mu, laki-laki keparat!"


Eko yang menyaksikan kekejaman itu, berusaha mencekal tangan Abdi yang dengan kuat meremas rambut sang istri hanya karena perasaan bercampur aduk.

__ADS_1


Kembali Eko menghardik Abdi yang masih berdiri dibelakang Arini, "Lepaskan wanita ini! Bagaimanapun kalian tidak ada hak untuk melakukan tindakan kekerasan pada seorang wanita!"


Joni yang sudah berada di dekat Eko, langsung menghujamkan satu pukulan keras di perut bagian kiri.


BHUG ...


BHUG ...


"Agh! Apa salah ku!" teriak Eko, karena merasakan sakit teramat sangat di tulang rusuknya.


Dengan cepat Joni tertawa kecil, seraya berbisik mendekatkan wajahnya ditelinga Eko, "Jika kau mau bermain-main dengan seorang wanita lebih baik, kau lihat siapa wanita itu!"


PLAK ...


Kembali Joni melayangkan satu tamparan di kepala Eko, membuat tubuh itu terhuyung karena merasa pening.


Arini yang sudah tidak bisa menahan amarahnya, menarik paksa tangan Abdi dari arah berlawanan, mencengkram kuat kemudian berdiri dengan cepat, hanya untuk membalikkan tubuh pria yang berstatuskan sebagai suaminya itu.


BHUG ...


BRAK ...


Prak ...


Entah kekuatan dari mana, meja restoran yang terbuat dari kayu mahoni itu, patah seketika karena menerima tubuh Abdi yang melayang dengan sangat cepat terjerembab dimeja yang hancur. Dengan satu kaki Arini mengarah pada batang leher Joni yang berdiri tidak jauh dari mereka untuk meloloskan Eko dari serangan dua pria abdi negara tersebut.


Arini menghentakkan kaki kanannya hanya untuk mengunci posisi tubuh Joni agar tidak bergerak didinding restoran, dengan tangannya masih memelintir tubuh Abdi yang meringis kesakitan yang semakin bercampur aduk dengan darah mengalir di pelipisnya.


"Cepat masuk kedalam mobil Aa! aku akan membereskan dua pria keparat ini!" perintahnya tanpa mau mendengar rintihan dari bibir Abdi yang memohon agar dilepaskan.

__ADS_1


Setelah Arini melihat Eko berlalu meninggalkan restoran yang tampak sepi, ia langsung melepaskan kakinya dari leher Joni, kemudian berbisik ketelinga Abdi, "Lakukan tugas mu dengan benar, sayang!"


__ADS_2