
Pagi menerpa kulit halus Arini. Terasa angin sepoi-sepoi masuk dari balik jendela yang sengaja terbuka sejak semalam, dengan gorden kamar itu berseliweran menyentuh kulit dua insan yang masih tidur terlelap saling berpeluk.
Ya, malam yang penuh emosi bahkan tidak akan pernah mengalah, akhirnya luluh lantah tak berdaya ketika Abdi memberikan kecupan-kecupan kecil pada wajah Arini.
Sejujurnya Arini menolak, akan tetapi tubuhnya selalu merasakan glenyar baru ketika pria gagah itu berusaha membahagiakannya menjadi wanita paling sempurna karena sudah berstatus sebagai istri.
Tak menampik, perasaan yang dimiliki Arini kini mengalahkan logikanya. Ia justru menjadi budak nafsu yang tengah dipermainkan oleh perasaannya sendiri.
Terdengar suara alarm yang berbunyi memekakkan gendang telinga kedua insan itu, membuat Arini langsung menutup kepalanya mengenakan bantal dan langsung semakin meraba tubuh hangat yang ada disampingnya.
Lagi-lagi Abdi tersenyum, menggeser tubuhnya sedikit, agar Arini tetap nyaman dalam memeluk tubuh sispack-nya sambil mengentikan alarm yang berbunyi.
BHUG ...!
"Agh!"
Abdi kembali di kejutkan dengan pukulan Arini yang langsung terlonjak, ketika menyentuh milik sang suami yang terjaga kemudian mengagetkannya.
"Astaga, apa itu? Kok bergerak?"
Abdi beringsut kebelakang, membenarkan posisi duduknya dengan menyandarkan tubuhnya di tepian ranjang, hanya untuk melihat wanita muda yang masih setengah sadar dengan tubuh telanjang, duduk cemberut dengan kali berbentuk huruf 'M' membuat Abdi tertawa geli melihat mulut Arini yang ternganga kembali tertidur.
Dengan senyuman tipis, Abdi langsung membantu Arini untuk kembali ke posisi semula, karena dia tidak ingin melihat wanita cantik itu tertidur sambil duduk.
Abdi melihat miliknya masih berdiri hormat, selayaknya pagi kaum Adam jika baru terjaga.
Dengan iseng, Abdi memeluk tubuh Arini yang tidur menelungkup, berusaha bermain-main sambil menggoda sang istri agar terjaga.
"Ahh ... Aa, aku masih ngantuk. Jangan genit agh ..." rengeknya terdengar lembut dan khas suara berat baru setengah sadar.
Abdi tak menghiraukan, ia hanya membisikkan kata-kata, "38 milyar di depan mata, sayang. Aku yakin Mama pasti mau membantu kamu, karena kamu menantu kesayangannya ..."
Tanpa basa-basi Arini langsung melebarkan kaki jenjangnya, agar Abdi leluasa memasukinya tanpa ada perlawanan yang berarti.
__ADS_1
"Kok tengkurep, sayang. Coba kamu angkat sedikit pinggulnya, biar lebih mudah. Ini masih susah, nanti kamu sakit lho!" Racaunya mencari keberadaan milik Arini dengan wajah semakin tak bernafsu, karena tidak mendapatkan perlawanan.
Abdi masih duduk di tengah-tengah kedua kaki Arini yang sudah terbuka lebar, sambil mengusap-usap miliknya untuk menerobos goa yang masih terasa sangat sempit di bawah sana.
"Sayang, ini gimana? Kok enggak basah-basah?" sungutnya masih mengusap-usap lembut barang kebanggaannya.
Akan tetapi, tidak disangka-sangka, ketika Abdi akan meletakkan wajahnya di bagian inti milik Arini yang masih menelungkup, wanita itu melepaskan angin paginya.
Bret ...
Abdi terdiam, wajah tampannya mengerucut masam, kening mengkerut, bahkan senjata yang awalnya hormat tegap siap tempur, langsung layu sebelum berperang.
Ogh Tuhan, mimpi apa Abdi tadi malam, sehingga pagi ini mendapatkan hembusan angin surga dari tempat pembuangan sang istri.
Dengan geram Abdi meremas kuat bokong sang istri karena perasaan kesal, membuat Arini kembali terlonjak kaget.
"Apaan sih! Pagi-pagi sudah mesum!"
"Apaan yang mesum! Lo kentutiin muka gue, hidung gue! Bahkan lo dengan tega memaksa tidur punya gue yang belum masuk ke sarangnya!"
Arini berusaha untuk menutupi hati bahagianya, karena berhasil membalaskan rasa kesal kepada Abdi yang masih terus menggodanya dengan berbagai cara.
Dengan wajah tanpa dosa, Arini langsung merubah posisi duduknya dengan mencepol rambutnya tinggi, "Siapa suruh tarok muka di bokong gue! Gue kentutiin lah! Lagian pagi-pagi enggak ada kerjaan! Malah mesum aja otaknya!"
Abdi beranjak dari ranjang peraduan mereka, karena merasa kesal, kesal, dan benar-benar kesal. Bukannya mendapatkan sarapan yang indah di pagi hari, justru mendapatkan serangan bom bardir yang sangat menyesakkan penciumannya.
"Untung aja paru-paru gue masih bagus! Jadi enggak rusak karena kentut lo!" umpatnya mengambil air putih dan memberikan kepada Arini.
Arini yang mendapatkan perhatian khusus seperti itu dari Abdi, langsung tersipu-sipu malu mendengar racauan sang suami yang benar-benar tampak kecewa.
Arini menjawab sungutan Abdi dengan senyuman lebar, "Maaf ... lain kali kasih aba-aba kalau mau melakukan penyerangan. Tadi kelepasan. Untung kamu enggak pingsan. Kalau pingsan bagaimana? Masak aku harus ngasih nafas buatan dengan aroma mulut bau kentut!"
Tak bisa berkata-kata lagi Abdi langsung membalaskan dendamnya kepada Arini, setelah melihat wanita itu telah selesai menghabiskan satu botol air mineral.
__ADS_1
Bergegas Abdi menggendong tubuh Arini, membawanya masuk kedalam kamar mandi.
Sontak Arini langsung meloncat, karena tidak mengenakkan apapun, dan kemudian menantang Abdi untuk sparing di atas ranjang. "Kita adu kekuatan dulu! Siapa yang kalah harus mengikuti semua perintahnya! Bagaimana?" Gayanya dengan kedua tangan mengepal bak petinju Mike Tyson, sesekali mengusap puncak hidungnya sebagai tanda bahwa ia siap melumpuhkan lawan.
Lagi-lagi Abdi dibuat kesal oleh ulah gila seorang Arini. Disaat gairah kelaki-lakian tengah bekerja, justru dikentutin, kini diajak adu jotos dengan taruhan yang sangat menggiurkan karena tubuh keduanya tidak mengenakan sehelai benangpun.
Abdi masih berdiri dipinggir ranjang, yang melihat tubuh Arini meloncat untuk merenggangkan otot-otot kaki dan tangan diatas ranjang kingsize miliknya. Mempertontonkan lekuk tubuh yang ikut melompat-lompat, bak balon yang berisikan air.
Dengan angkuh Abdi langsung menerima tantangan Arini, "Oke! Siapa yang kalah harus manut selama tiga hari. Jika melawan kita sparing lagi, udah lama juga ni enggak berantem! Apalagi lawannya wanita lemah kayak kamu!"
Arini justru semakin bersemangat untuk menantang Abdi yang masih menyesiasati titik lemah seorang Arini, seketika dalam hitungan detik ...
Dengan cepat tangan Abdi menarik satu kaki Arini yang masih meloncat diatas ranjang, membuat tubuh itu langsung terpental diatas peraduan mereka. Dengan sekuat tenaga kelaki-lakiannya Abdi langsung mengungkung tubuh Arini dengan posisi yang sangat aneh.
Bagaimana mungkin Abdi kini tengah berada diatas tubuh Arini, dengan kepala kembali menatap bagian inti itu. Begitu pula Arini langsung dihadapkan dengan benda yang setengah sadar, sehingga tatapan matanya melotot ketika melihat bentuk aneh yang sangat mengagetkan pandangannya.
Cukup lama mereka terdiam. Jantung kedua-nya sama-sama tak beraturan. Hanya terasa hembusan nafas yang hangat menerpa dibagian inti masing-masing.
"Apa ini? Kenapa jadi begini ...?" Dalam benak Arini yang langsung membayangkan film biru yang pernah ia tonton semasa sekolah menengah atas ketika berada di Swiss.
Sementara dalam benak Abdi, "Rencana mau berantem, tapi kok langsung posisi begini. Kayaknya emang disuruh berantem dengan cara enam sembilan ..."
Naluri kedua-nya sama-sama tidak mengelak, Abdi langsung melakukan aksinya, dibalas dengan Arini yang mencoba untuk menerima apa yang ada dihadapannya kini.
"Semoga saja dia bisa melupakan Sonya, jika aku melakukannya ..."
____
Hai hai hai ...
Author hanya ingin menyapa. Jangan lupa untuk terus like and komentar ya. Kasih give spesial dong. Buat semangat update tiga chapter sehari ... setidaknya kita saling memberi dan menerima karena akan ada give dari author buat para reader tersayang.
Ingat yah, tidak author umumkan melainkan langsung chat bagi lima yang mendapatkan hadiah dari author Tya Calysta.
__ADS_1
Hayo ... mumpung lagi baik, jadi kita sama-sama saling mensuport untuk semua karya Tya Calysta.
Terimakasih, sehat untuk kita semua.