
Suasana pusat perbelanjaan di kota kembang cukup ramai. Dua insan yang tengah berbelanja setelah menghabiskan makan pertama kalinya untuk hubungan mereka berdua selayaknya pasangan romantis lainnya, Abdi justru tengah tertawa bahagia dalam hati walau ada sedikit kegetiran tentang perintah tembak mati dari Fredy Guarin.
Arini tengah mampir di salah satu toko underwear ternama, membuat langkah kaki Abdi enggan untuk ikut masuk kedalam, ia lebih memilih untuk berdiri didepan toko sambil bermain handphone.
Tak banyak yang Abdi inginkan saat ini. Ia hanya ingin membahagiakan Arini selayaknya istri sungguhan, walau sesungguhnya wanita kepala batu itu selalu menampik jika sudah membahas tentang perasaan mereka berdua.
Cukup lama Abdi berdiri sendiri di depan toko underwear tersebut, membuat dia mengalihkan pandangannya kearah lain, dan melihat satu kejadian yang akan menjadi sejarah bagi hidup juga keluarganya.
Bagaimana tidak, dari arah sebelah utara ada tiga wanita yang ia kenali tengah tertawa bahagia. Sementara dari arah barat Nancy dan Sindi tampak seperti akan bertabrakan dengan orang yang selama ini memiliki masalah dengan keluarganya.
"Agh ... sial! Ngapain Mama dan Mutia kesini? Mana bawa-bawa Sonya dan Tante Evi lagi! Bisa berabe ini! Bagaimana kalau aku bertemu dengan mereka tengah menerima ciuman Arini! Brengsek ...! Mutia kayak enggak ada kerjaan saja ...!" umpatnya dalam kekesalan.
Benar saja, Abdi masih menyaksikan mereka bertemu dan kini masih saling bertatapan. Entah apa yang dibicarakan Nancy, membuat ia menarik paksa tangan putrinya, Mutia.
Tampak raut wajah kesal dan marah yang Evi tunjukkan kepada Nancy, membuat sang mama tak mengacuhkan ucapan yang diutarakan Evi.
"Bukankah putramu juga mencintai putri ku, Sonya?" ucap Evi terngiang-ngiang ditelinga Abdi.
Abdi yang sangat mencintai Nancy sebagaimana layaknya seorang anak laki-laki, serta dia sangat menjunjung tinggi martabat keluarganya, berlari kencang mendekati Nancy dan Mutia yang masih belum berjarak dari Evi juga Sonya.
Dengan nafas tersengal, Abdi mendekati Nancy, sambil melirik kearah Evi juga Sonya yang memeluk sang mama sambil menangis tersedu-sedu. "Ada apa Ma? Mama ngapain kesini?"
Nancy memulai aksinya, menoleh kebelakang hanya untuk sekedar memastikan bahwa Evi masih berdiri tidak jauh dari mereka, sambil berkata dengan nada tegas, "Mama kesini menjemput adikmu! Agar tidak dimanfaatkan oleh mereka berdua," tunjuknya kearah Evi juga Sonya, kemudian melanjutkan ucapannya, "Mama tidak apa-apa. Oya, mana ISTRI kamu, Nak? Kalian sudah makan? Kita makan di restoran mewah dekat sini saja. Panggil Arini! Karena Mama ingin makan dengan anak dan menantu Mama!"
__ADS_1
Wajah Evi semakin merah padam, tangannya meremas kuat lengan Sonya dengan mata panas dan tatapan nyalang kearah Nancy. Sesekali matanya, melirik kearah Sonya yang tampak tenang, tapi tak kuasa membendung air mata, melihat Abdi yang tak bisa meyakinkan apapun kali ini.
Sesungguhnya Sonya ingin sekali bertemu dengan Arini, tapi Mutia tidak berhasil menghubungi sang kakak ipar, karena memang tidak mengetahui nomor telepon wanita cantik tersebut.
Abdi justru tampak seperti linglung, ia menggeleng tapi kali ini kakinya seperti mengenakan rantai yang tertarik kuat menghentikan langkahnya untuk mendekat kepada Sonya. Membujuk selayaknya seorang kekasih, karena hanya dialah yang mampu melakukan hal itu tanpa sepengetahuan siapapun, selain Arini.
Ya, Arini sangat mengetahui bagaimana cara Abdi memperlakukan gadis kecil itu. Membujuknya, bahkan membuatnya dapat kembali tersenyum tipis, walau masih menangis.
Wajah Evi masih terdiam membisu, sejenak ia berfikir untuk membawa putri kesayangannya pergi meninggalkan pusat perbelanjaan, akan tetapi matanya tertuju pada sosok wanita cantik bak seorang model holywood yang membawa beberapa paper bag sebagai bukti bahwa wanita itu memiliki banyak uang dan berasal dari orang terhormat. Ditambah tangan Arini langsung merangkul lengan Abdi kemudian mengecup lembut pipi itu karena memiliki tinggi yang hampir sama.
Dada Sonya seakan-akan bergemuruh. Ingin rasanya dia berteriak kepada Abdi, bahwa mereka masih memiliki hubungan kekasih.
Akan tetapi Arini langsung menoleh kearah Sonya dan mengembangkan senyuman manisnya kemudian menyapa dengan santai tanpa perasaan bersalah, "Hai ... bertemu lagi. Hmm ... apakah kita akan makan bersama? Tidak ada salahnya kita mencoba untuk lebih akrab dan saling berbincang ringan. Boleh ya Ma?" tatapan matanya langsung tertuju pada Nancy juga Sonya dan Evi secara bergantian, tapi tak ada satu orangpun yang mampu untuk berkata 'tidak'.
Arini tersenyum sumringah, kembali berkata, "Jika tidak ada yang bicara, berarti kalian setuju! Ayo, kita cari tempat makan yang mewah juga romantis. Sekalian merayakan satu bulan kebersamaan kita! Ya kan, baby?"
Aneh, benar-benar aneh ... semuanya mengikuti langkah Arini yang terus berbincang dengan sangat santai, tanpa memedulikan perasaan Nancy, Abdi juga Sonya. Kali ini ia ingin memperkenalkan diri, bahwa dirinya sudah menikah dengan Abdi dan sudah mendapatkan tempat selayaknya pasangan suami istri pada umumnya.
Sesungguhnya ini hanyalah siasat Arini dalam melumpuhkan lawannya. Ia tidak ingin melihat, bahwa Sonya yang menangis tersedu, justru akan semakin hancur dan memiliki dendam kepada Abdi juga keluarga suaminya, yang sudah menjadi bagian penting hidup Arini saat ini.
Sindi benar-benar berdecak kagum pada Arini. Ia memesankan beberapa makanan untuk Abdi, Sonya, dan memberikan ruang kepada dua insan itu untuk duduk berdekatan, tapi tidak mampu untuk berbuat apapun dihadapan sang mama.
Sementara Arini, memilih duduk dihadapan dua insan wanita yang tampak tidak senang dengan menunjukkan wajah cemberut lagi dan lagi, dapat ia lebur dengan satu pertanyaan 'Eko'.
__ADS_1
Arini memotong-motong kecil steak yang ia pesan, kemudian memberikan ke mulut Abdi, sambil bertanya dengan sangat santai kepada Evi, "Oya Tante Evi, saya suka banget dengan putra kamu. Dia sangat gigih mencari uang, dan satu lagi saya sudah menjadi vendor untuk beliau. Makanya kemaren saya memberikan dua handphone iPhone buat dia, lho! Mudah-mudahan bermanfaat ya, Tante. Yang pasti kita bisa menjadi rekanan dalam berbisnis. Kalau boleh tahu apa usaha Tante Evi?"
Sejujurnya Sonya tidak mengetahui bahwa handphone mahal itu pemberian Arini, melainkan pemberian sang kakak, karena ia merengek sejak beberapa bulan lalu dan baru terwujud saat ini.
Sementara Mutia hanya bisa menelan ludahnya, ketika melihat sang kakak ipar sangat lugas dalam berbicara dan melakukan apapun yang ia suka.
Nancy justru hanya mengusap lembut wajahnya, melirik kearah Sindi juga, Abdi yang hanya menatap handphone baru yang ada ditangan Sonya.
Sangat berbeda dengan Evi, ia langsung menjawab pertanyaan Arini dengan penuh semangat tanpa perasaan sungkan dihadapan Nancy juga Sindi, "Catering, untuk orang kantor."
Arini berdecak kagum, "Ough great! Bagaimana kalau besok saya kasih tau sama perusahaan teman saya, Tante bisa datang menemuinya kapan saja. Wait!" Ia merogoh dompet kartu nama dari dalam tas kecilnya, kemudian memberikan kepada Evi. "Hmm, bilang saja diminta putri Aldo Anggoro. Dia akan memberikan semua fasilitas buat Tante. Karena teman saya ini merupakan pabrik perkebunan yang sangat membutuhkan makanan sehat. Karyawannya lebih kurang 1000 orang, dan mereka selalu sulit dalam mendapatkan makan siang. Jadi berapapun harga yang Tante tawarkan, dia pasti menyanggupinya."
Mendengar penuturan Arini, sebagai seorang wanita biasa yang berstatuskan janda, menjadi antusias. Ibarat mendapatkan amunisi baru, karena melihat Arini berbicara penuh semangat juga meyakinkan. Kemudian menjawab dengan nada lembut, "Terimakasih ya, Neng. Kamu memberikan satu peluang buat Tante. Karena dari kemaren Tante pengen banget masuk pabrik, tapi tidak punya link. Beruntung sekali rasanya bertemu dengan kamu."
Arini melirik kearah Nancy juga Sindi, menyandarkan tubuhnya di sofa restoran, sambil mengusap lembut punggung Abdi yang duduk disampingnya, berkata santai, "Biasa saja atuh Tante. Saya beginilah, karena yang kita butuhkan itu pondasi yang kuat dalam berbisnis. Saat ini saya memberikan peluang kepada Tante. Next, mungkin saya yang akan meminta pertolongan pada Tante. Hidup ini ibarat rollercoaster, berputar-putar, terkadang diatas, terkadang dibawah, terkadang terhempas, dan terkadang kita terjatuh. Saya harap, Tante bisa semangat setelah mendapatkan peluang ini!"
Sumpah demi apapun, ingin sekali Nancy menjambak rambut menantunya, karena memiliki pemikiran yang sangat dewasa juga luar biasa hebatnya.
Akan tetapi, tatapan mata Arini dapat terbaca oleh Nancy, "Kamu bisa bersandiwara dengan mereka. Tapi kamu tidak bisa menutupi rasa sakit mu ketika melihat suamimu duduk bersebelahan dengan kekasihnya ..."
Cukup lama mereka berbincang ringan, menghabiskan makanan yang cukup banyak terhidang diatas meja restoran, sehingga Arini lagi-lagi membuat kejutan luar biasa untuk Evi.
"Tante, berhubung kami mau pulang. Mungkin tidak bisa mengantarkan kalian berdua, karena Mutia bersama Mama Nancy, jadi Tante Evi pulang bareng Om Bian saja ya. Dia sudah berada di loby. Kalau ada apa-apa Sonya bisa menghubungi saya lewat Mutia. Terimakasih sudah mau menerima ajakan makan siang dari saya. Salam buat Eko, katakan saya menunggu dia dirumah Mama Nancy."
__ADS_1
Mendengar penuturan dari Arini, lagi-lagi tenggorokan Evi semakin mengering, walau ia masih menyesap jus yang sangat lezat, tapi kegundahan tampak dari raut wajahnya ketika Bian akan mengantarkannya pulang membawa Sonya bersama mereka.
Evi bergumam dalam hati, "Agh ... apakah ini sesuatu kebetulan? Bagaimana jika Bian menanyakan tenang Sonya? Kenapa semua ucapan wanita ini membuat aku tidak dapat bicara. Aku seperti terhipnotis oleh kepiawaiannya ..."