KEKASIH BAYANGAN

KEKASIH BAYANGAN
bab 11 ungkapan Reza


__ADS_3

Tatapan Pak Hasnan tidak dapat beralih dari Putri yang kini sedang merapikan rambutnya. Setelah tadi ia numpang mandi di kantor Pak Hasnan. Entah kenapa, tiba tiba saja ada perasaan lain yang ada di hatinya saat ini. Melihat kepolosan serta keluguan Putri. Sedangkan yang di pandangi dari ujung rambut sampai ujung kaki tetap cuek, tak memperhatikan atasannya yang kini sedang melihat tubuh indahnya. Meskipun tanpa make up, Putri terlihat cantik dengan baju kantor yang diberikan oleh Nyonya Hasnan tadi.


"Pak,,, saya permisi dulu, terima kasih untuk semuanya hari ini, saya berutang budi yang banyak sama Bapak, dan saya janji pasti akan membalas semua kebaikan Bapak juga Kak Risda." Tutur Putri sambil menganggukkan kepalanya sedikit, memberi hormat pada atasannya itu sebelum meninggalkan ruang kerja Pak Hasnan.


" Tunggu Put,,,!" Cegah Pak Hasnan yang membuat Putri menahan langkahnya, membalikkan badan kearah atasannya itu.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Ucapnya sopan.


"Berapa no ponselmu,,, mungkin istriku tadi lupa tidak meminta no ponselmu." Sambil membuka ponselnya, Pak Hasnan menunggu Putri memberikan apa yang dia minta.


"Sapa yang nggak akan lupa, dari tadi bentak bentak nggak jelas." Gumam Putri teringat saat Pak Hasan membentaknya tadi di mobil.


"Aku bisa mendengar ucapanmu,,, " kata Pak Hasnan yang memandang tajam ke arah Putri.


"Emmhhh,,, maaf Pak,,, itu,,, ehhgg,,, menjawab Bapak no ponsel saya 08579197XX,,," tutur Putri disela kegugupannya.


"Ya udah,,, kamu boleh pergi sekarang,,, dan jangan lupa kancingkan itu resleting baju kamu." Ucapnya dingin seakan tak perduli, padahal dari tadi ia sudah menikmati pemandangan indah di depan matanya . Belahan kedua gunung besar itu yang memanjakan mata Pak Hasnan.


"Astaghfirullah,,,, " pekik Putri sambil mendekap dadanya. Karena terburu buru dia lupa mengancingkan resleting kemejanya. Cepat cepat dia pun mengancingkan resletingnya.


Wajahnya pun merona memerah karena malu. Buru buru dia melangkah keluar dari kantor Pak Hasnan dengan menunduk, merutuki semua kebodohannya.


"Kenapa aku begitu ceroboh, bisa bisanya aku sebodoh itu, apa tadi Pak Hasnan melihatnya ya,,, Ya Allah,,, malunya,,," gumam Putri sambil berjalan dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Brruuukk,,,' tubuh Putri menabrak seseorang, ia pun memegangi keningnya yang menabrak dada bidang seseorang.


"Kalau jalan pake mata, jangan pake dengkul,, untung aku yang kau tabrak, kalau yang lain, hmmmm,,," bisik pria itu di telinga Putri saat jarak mereka begitu dekat. Hingga hangatnya hembusan nafas terasa di leher Putri.

__ADS_1


"Maaf Pak,,, saya tadi terburu buru takut terlambat, maaf,,, permisi,,," tanpa menunggu jawaban dari orang itu, Putri bergegas mempercepat langkahnya kearah mesin checklok. Ia pun mengambil nafas panjang lalu membuangnya kasar.


"Untung saja tidak terlambat,,," gumamnya lalu melangkah ke arah kantor Pak Reza.


"Selamat pagi Pak,,," sapanya pada atasan yang memandangnya dengan kagum, penampilan Putri yang sedikit berbeda membuat Pak Reza terpesona akan kecantikan alaminya.


"Ada yang salah dengan saya, Pak?" Putri merasa ada yang salah dari pandangan Reza terhadapnya, ia merasa kalau dirinya ada sesuatu yang menyebabkan atasannya itu tak berkedip menatap tajam ke arahnya.


"Tidak ada, kamu cantik,,," kata kata itu lolos dari bibir Pak Reza tanpa ia sadari, membuat Putri tersenyum malu padanya.


"Ah,,, Pak Reza bisa saja,,," ucapnya tersipu malu sambil duduk di kursi kerjanya.


Pak Reza terus saja memandangi Putri yang sudah sibuk dengan pekerjaannya. Ia nampak serius dengan pekerjaannya hingga tak menyadari jika dari tadi dia jadi objek penglihatan atasannya.


Tanpa disadari oleh Putri. Layar kamera sebuah ponsel sudah mengarah padanya, diam diam mengambil fotonya. Senyuman penuh kemenangan tersungging di bibir orang itu.


"Makan dulu,,, nanti kamu sakit,,, kasihan anakmu kalau kamu harus kehilangan pekerjaan karena sakit." tuturnya lembut sambil duduk di meja kerja Putri. Hingga mereka saling beradu pandang.


"Makasih ya Pak,,, tapi Bapak tidak perlu repot repot seperti ini, biar saya saja yang pergi ke kantin." Balas Putri dengan segan, karena ia tak menyangka jika atasannya sendiri yang membawakannya makanan.


"Kamu tak perlu sungkan,,, aku hanya tak ingin anak buahku nanti kinerja nya turun, tidak fokus pada pekerjaan karena cacing di perutnya pada demo, bahkan suara mereka bisa aku dengar." Dengan menahan tawanya Pak Reza memberikan makanan itu pada Putri.


"Bapak bisa aja,,, tapi makasih ya Pak sudah perhatian sama saya. Harusnya saya yang melayani Bapak, bukan sebaliknya." Dengan tersenyum manis, Putri mengambil makanan itu dari tangan atasannya,


"Terima kasihmu ku terima, dengan syarat,,," ucapan Pak Reza terhenti, menatap penuh kasih kearah Putri.


Putri yang mendapat tatapan seperti itu hanya menundukkan pandangannya, menghindari tatapan yang membuatnya jadi salah tingkah.

__ADS_1


Setelah menghela nafas sedang, ia pun menatap kearah Pak Reza.


"Syarat apa Pak?" Tuturnya dengan pandangan yang penuh tanya ke arah Reza.


"Dengan syarat,,, kamu mau menjadi kekasih juga ibu dari anak anak ku nantinya serta menua bersamaku, melewati sisa usia bersama, gimana,,? Apa kamu mau?"


Pertanyaan Reza serta pernyataan akan isi hatinya membuat Putri terkejut tiada terkira, ia sampai memundurkan kursinya, namun tertahan oleh tangan Reza. Hingga wajah mereka saling berdekatan. Wanita mana yang tidak akan mau ataupun menolak jika di lamar secara tidak langsung oleh seorang Reza Maula. Namun tidak dengan Putri. Tubuhnya gemetaran, rasa nyaman yang tadinya ia rasakan berubah menjadi ketakutan. Tiba tiba saja tubuhnya menggigil kedinginan. Dan itu bisa di tangkap oleh Reza.


""Put, kamu sakit?" Tanyanya cemas sambil berusaha memegang kening Putri. Namun Putri menghindarinya.


"Sa,,, saya tidak apa apa Pak,,,boleh saya ke klinik perusahaan sebentar. Saya ingin mengambil obat yang biasanya saya minum." Dengan suara bergetar, Putri bangkit dari duduknya berniat meninggalkan tempat itu. Namun langkahnya terhenti karena Reza sudah membuka jasnya dan menyelumuti tubuh Putri.


"Tak perlu ke klinik perusahaan, kamu akan sembuh jika aku pergi dari sini, duduklah,,, makan makananmu,,, aku akan ke kantin,,," ucap Reza yang langsung memberikan kecupan di kening Putri. Membuat Putri terkejut namun tak bisa menghindarinya.


"Jangan lari lagi dari kenyataan, aku sudah tahu banyak tentang kamu, bahkan warna dan model baju dalemanmu saja aku tahu. Makanya tak perlu heran jika aku tahu reaksimu saat seorang pria menyatakan suka padamu. Terima kasih untuk jawabanmmu, meski bibir tak berucap namun reaksi tubuhmu telah menjawabnya. Makasih sayang ,,,"


"Duuuuaaaarrrrr" bagai boom yang meledak Putri mendengar semua perkataan Reza. Ia hanya bisa tertegun menatap ke arah pria yang berjalan menjauhinya setelah memberikan senyum serta kecupan yang penuh kehangatan. Putri pun tersenyum manis, tubuhnya tiba tiba saja menghangat tak merasakan dingin lagi. Kebahagiaan menjalar keseluruh sendi sendi tubuhnya.


"Dari mana kau tahu tentang semua itu, bahkan aku saja baru menyadarinya, kenapa kau begitu mengenalku, padahal aku sendiri tak bisa mengerti diriku sendiri,,, Pak Reza,,,?" Gumam Putri lalu membuka kotak makan siangnya. Matanya terbelalak sempurna melihat isi kotak itu.


Nasi gandul, yang merupakan makanan favoritnya selama mengandung Zahra, dan hanya ada di kedai langganannya saja. Air mata menetes dari kedua mata Putri. Ia merasa tersanjung dengan perlakuan Reza padanya. Dibukanya kertas kecil yang terselip di kotak itu. Senyumnya mengembang di sela sela air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.


" Aku mencintaimu,,, ingin jadikanmu halal untukku,,, jika kau mau menerimaku pakailah cincin itu, jika tidak,,, aku yang akan memakaikannya,,,jangan senyum,, karena senyummu hanya boleh untukku saja,,,"


"Dasar bodoh,,, kenapa bisa jatuh cinta sama aku,,," tutur Putri yang mengambil sebuah kotak merah kecil di antara makanan itu. Dibukanya dan,,,,,,


bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2