KEKASIH BAYANGAN

KEKASIH BAYANGAN
bab 28 amanat terakhir


__ADS_3

Air mata Putri terus saja membanjiri pipinya. Ia merasa bersalah atas apa yang menimpa pada mantan suaminya. Meski ia sempat marah dan sakit hati atas perlakuan Aby selama ini, namun semua seakan menguap, pupus bersama hilangnya kesadaran Aby.


Diluar ruang operasi kini Putri berada, ditemani Ibu juga Bapaknya. Sedangkan Zahra ikut ke kantor bersama dengan Reza. Yang berencana akan menjemput mereka pulang nantinya setelah Reza menyelesaikan pekerjaannya.


"Sudahlah Nduk,,, jangan menangis terus, malu dilihat orang, apa kata suamimu nanti jika melihat matamu sembab. Pasti ia tidak akan suka kamu menangisi pria lain. Ingat,,, kamu sudah menikah sekarang. Dan diharamkan untukmu memikirkan pria lain selain suamimu, Nak. Ingat ridho Allah adalah ridho dari suamimu, syurgamu ada di keridhoan suamimu, Nak." Meski hatinya juga merasa iba pada Aby, namun Ibu Putri juga tidak ingin ada masalah dengan rumah tangga putrinya yang baru saja dibangun pondasinya.


Beliau terus mengingatkan Putri, dengan sifat Putri yang mudah tersentuh hatinya, bisa menjadi boomerang untuk dia nantinya.


"Aku kasihan pada Mas Aby Bu,,, karena menolongku, kini dia yang harus berada di dalam ruangan itu. Jika ia terlambat sedikit saja, maka aku,,, hikkss,,, hikkss,,," Putri semakin tersedu dengan tangisnya. Ia bisa membayangkan jika air itu mengenai wajahnya, pasti ia tak ingin bertemu dengan siapa pun lagi. Ia masih beruntung, Allah mengirim malaikat penolong untuknya. Meskipun itu melewati pria yang sudah menyakiti hatinya selama ini. Namun Putri bukanlah orang yang pendendam dan tidak tahu balas budi. Makanya ia terus menemani Aby saat dibawa ke rumah sakit. Karena setelah tersiram air raksa itu, Aby langsung pingsan. Karena tubuhnya juga sudah babak belur dihajar Fai ditambah satu pukulan dari Reza.


Sekilas ia mengingat kejadian kemarin. Saat Sasa mendorong tubuhnya ke tengah jalan raya, ia pun terjatuh tidak jauh dari tubuh Aby yang sudah tak berdaya. Putri bisa melihat, Aby berusaha berdiri dengan sisa tenaganya mengarah ke tempatnya, sedangkan Reza saat itu berada lumayan jauh dari mereka, masih memberi pelajaran pada Fai agar tidak mengusik hidup Putri lagi. Dan disaat yang bersamaan, Sasa mengambil air raksa dari dalam tasnya berniat menyiramkan ke wajah Putri, namun beruntung Aby tiba tepat waktu, ia mendorong tubuh Putri hingga dia yang terkena air raksa itu.


Putri pun menjerit saat mengetahui Aby pingsan. Ia hanya bisa berteriak minta tolong, dan akhirnya anak buah Reza yang membawa tubuh Aby ke rumah sakit, dan yang lainnya mengejar Sasa yang sudah melarikan diri, setelah ia gagal dengan rencananya, membuat hancur wajah Putri.


"Ibu mengerti perasaanmu, meskipun Aby dulu bukan suami yang baik, tapi sekarang ia sudah berubah. Semenjak tahu usianya sudah tidak lama lagi, ia terkena Aids, dan usianya hanya menghitung hari sekarang." Tutur Bu Bathi dengan mata yang sudah berkaca kaca.


"Apa Bu,,,???" Putri terlonjak kaget tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Ia menatap Ibunya dengan intens.


"Iya sayang,,, maafkan Ibu yang tidak menceritakan ini padamu dari awal, karena Aby yang memintanya, ia tidak ingin kamu tahu akan penyakitnya."

__ADS_1


Bu Bathi pun menceritakan semuanya pada Putri. Seminggu yang lalu ia tak sengaja bertemu dengan Aby di sebuah apotek saat ia mencari obat penurun panas, juga batuk dan flu, karena saat itu Zahra demam gejala flu, tanpa beliau sadari ternyata Aby juga sedang membeli obatnya. Saat beliau ingin meninggalkan tempat itu, Aby sudah menunggunya, dan langsung bersimpuh di kaki nya.


Membuat beliau mau tidak mau menuruti perkataan Aby yang ingin mengajaknya ke salah satu resto tak jauh dari apotek tersebut. Disana ia menceritakan semuanya, dengan sesekali air mata menitik dari sudut matanya. Bu Bathi bisa mengetahui jika pria di depannya sekarang benar benar sudah berubah. Dan Aby meminta tolong agar rahasia itu jangan sampai Putri tahu. Bu Bathi pun menyetujuinya.


"Selama seminggu ini ia sering tlp Zahra, Ibu tak tega melihatnya, dan Ibu selalu memberi ijin dia untuk berbicara dengan Zahra. Karena bagaimanapun ia berhak atas putrinya, dan Zahra juga berhak mengetahui ayah kandungnya. Biarlah di mata Zahra, ia menjadi sosok Ayah yang bisa dibanggakan nantinya. Dan itu terbukti sekarang Nak. Dengan menyelamatkanmu, mengorbankan dirinya sendiri, Put,,," Bu Bathi tidak melanjutkan kata katanya karena melihat Putri semakin tersedu dalam tangisnya.


"Maafkan dia sayang,,, biarkan ia menghabiskan sisa umurnya dengan tenang."


Bu Bathi memeluk Putri sambil mengelus elus rambut panjang Putri sampai punggungnya.


"Saya sudah memaafkan Mas Aby Bu,,, sudah sejak lama, tapi kenapa takdirnya harus gini,,," ucapnya lirih dalam dekapan Ibunya.


Bersamaan dengan itu pintu ruang operasi terbuka, seorang Dokter menghampiri mereka.


Melihat itu, Putri segera menghapus air matanya, lalu berdiri menghampiri Dokter itu.


"Gimana operasinya Dok,,," suaranya sedikit tercekat karena kebanyakan menangis.


"Anda Mbak Liana Putri?" Tanya balik Dokter itu.

__ADS_1


"Iya Dok,,, saya,,," balas Putri sambil menatap penuh tanya kearah Dokter itu.


"Ikut saya Mbak,,, ada yang ingin saya sampaikan." Dokter itu pun mengajak Putri masuk ke dalam ruang operasi.


Bu Bathi juga suaminya yang baru saja datang habis membelikan mereka makanan pun mengangguk saat Putri menatap kearah kedua orang tuanya itu.


Dengan rasa yang berkecamuk dalam hatinya , Putri pun mengikuti Dokter tadi. Kini mereka sudah berada dalam ruang operasi. Perlahan Putri menghampiri tubuh Aby. Air matanya pun luluh lagi menyaksikan kondisi Aby.


' Maafkan kami Mbak,,, tidak bisa menolong pasien, karena kondisinya sudah kritis saat ia dibawa kemari, itu juga karena penyakitnya yang sudah merusak semua organ tubuhnya. Tapi sebelum dia pergi, dia sempat menitipkan ini pada Mbak." Dokter itu pun menyerahkan secarik kertas yang sudah ditulis Aby saat ia tersadar dari pingsannya, dan ia tak mau menjalani operasi wajahnya. Karena ia merasa tak kuat lagi dengan penyakitnya.


Dengan tangan yang bergetar dan menahan tangisnya, Putri pun menerima kertas itu. Perlahan dibuka lalu dibaca kata tiap kata yang tersemat disana dengan derai air matanya. Perlahan tubuhnya pun luluh ke lantai. Namun belum sempat tubuh itu menyentuh lantai. Reza sudah menangkapnya.


"Sayang,,, kuatkan hatimu,,, ada Zahra di luar." Bisik Reza yang tahu betapa lemahnya hati Putri saat ini. Ia pun membawa istrinya menangis dalam dekapannya.


"Terima kasih sudah menyelamatkan istriku." Tuturnya lirih sambil memandang jasad Aby yang tertutup kain warna putih.


"Mas Aby,,, aku sudah memaafkanmu,,, pergilah dengan tenang, akan kujaga amanatmu, aku ikhlas semuanya,,,terima kasih untuk semuanya, juga telah memberiku putri yang cantik juga pinta,, hikksss,, hikksss,,," lirih hati Putri disela sela Isak tangisnya.


bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2