
Tubuh Putri terasa remuk redam habis pertempuran semalam. Dengan sedikit tenaga yang tersisa, ia pun bangkit dari tidurnya lalu melangkahkan ke arah kamar mandi. Kurang lebih setengah jam ia berendam dalam bathup dengan aroma terapi yang menenangkan pikirnya hingga tubuhnya pun terlihat segar kembali. Setelah membasuhkan dirinya dibawah guyuran shower, ia pun keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di antara dua gundukan besarnya. Sesekali ia bersenandung sambil membuka lemari pakaiannya. Setelah mengambil daster favorit, seperti para ibu ibu kebanyakan saat berada di rumah, ia pun memakainya, setelah itu memakai hand body juga pelembab wajahnya, mengolesi wajahnya dengan bedak tipis lalu mengeringkan rambutnya. Setelah semua selesai ia pun melangkah keluar kamar menuju ke arah dapur.
"Mbak Putri sudah bangun ya,,," sapa seorang asisten rumah tangga yang biasanya di pekerjakan oleh Reza untuk membersihkan rumahnya juga menyiapkan makan malam. Namun ia tidak tinggal di rumah Reza, melainkan pulang kembali ke rumah kontrakannya, untuk mengurusi keluarganya.
"Iya Bi,,, baru terbangun, mas Reza tidak membangunkan aku tadi saat mau berangkat ke kantor, bikin aku merasa bersalah aja tidak mengantarnya saat berangkat kerja." Terlihat ekspresi kecewa juga penyesalan di wajah cantiknya. Ia pun duduk di kursi ruang makan dengan malasnya.
BI Surti yang melihat wajah majikannya lesu tidak bersemangat pun tersenyum. Wanita paruh baya itu mengerti, kenapa Reza tidak membangunkan istrinya. Dari yang dia lihat, banyak sekali tanda kepemilikan yang tertinggal di leher juga dada Putri. Sebagai seorang wanita yang juga sudah bersuami, ia juga tahu apa yang terjadi. Ia hanya bisa menahan tawanya sendiri melihat Putri yang seakan tidak menyadari adanya tanda tersebut di tubuhnya. Karena ia memakai daster yang kerahnya jika dibuat menunduk akan longgar dan memperlihatkan sembulan dari kedua gundukannya, yang kini penuh dengan tanda kepemilikan itu.
"Mungkin Mas Reza kasihan melihat Mbak Putri yang kelelahan, jadi tidak tega untuk membangunkan Mbak Putri."
Putri yang mulanya tertunduk males kini menatap kearah Bi Surti yang terlihat mengulum senyumnya. Dengan wajah yang merona Putri akhirnya menyadari jika wanita di depannya ini sedang menggodanya.
"BI,,, jangan gitu aku kan jadi malu,,,"
"Mbak,, Mbak,,, kenapa harus malu,,, itu sudah biasa bagi pengantin baru seperti Mbak dan Mas Reza. Justru saya ikut bahagia melihat kebahagiaan Mbak dan Mas Reza, semoga samawa sampai dunia akhirat ." Doa tulus itupun terlontar dari bibir Bi Surti yang sudah menganggap kedua majikannya ini sebagai anaknya sendiri.
__ADS_1
"Aamiinn,,, makasih ya Bi, untuk doanya, juga semua yang sudah Bibi lakukan untuk kami." Putri pun berdiri dari duduknya lalu memeluk Bi Surti. Dari wanita ini, ia bisa merasakan kasih sayang tulus seorang ibu ke anaknya. Membuat Putri merasa nyaman saat tidak ada Reza di rumah.
"Sama sama Mbak Putri,,," Bi Surti pun melepas pelukan Putri, meski ia menyayangi majikannya, namun ia tetap tau batasan meski Putri juga Reza sudah memintanya untuk memanggil nama mereka saja.
"Bi,,, aku pingin masak buat makan siang Mas Reza, hari ini Bibi tidak perlu memasak buat makan malam kami ya,,, karena saya sudah berencana makan di luar sama Mas Reza, Bibi nanti habis bersih bersih boleh pulang, kasihan suami Bibi sedang sakit juga."
"Apa ada yang bisa saya bantu Mbak,,?"
Tawar Bi Surti dengan riangnya karena hari ini hanya bekerja sampai siang saja, yang artinya ia bisa merawat suaminya lebih lama dari hari hari biasanya.
"Nggak ada Bi,,, makasih,, biar aku sendiri yang masak, kata orang makanan kalo dibuat dengan cinta akan terasa nikmat, juga sampai rasa cinta itu sendiri,,, aku ingin memanjakan lidah suamiku biar dia tidak melirik wanita lain,,, he,, he,, he,," kekeh Putri yang diikuti oleh BI Surti. Akhirnya mereka menyelesaikan tugas masing masing.
Selama setengah jam, ia sudah keluar dari kamar, ia terlihat cantik dengan dress warna peach yang membalut tubuhnya, rambutnya pun tergerai indah. Setelah sampai di ruang makan, ia segera mengambil kotak makanan yang sudah disiapkannya. Lalu pamit pada Bi Surti, karena ia tidak mau terlambat memberikan makan siang suaminya, karena jalanan yang selalu macet saat jam istirahat kantor.
"BI,,, saya berangkat dulu ya,,, oh ya,, masih ada makanan di kulkas,, nanti Bibi bawa ya,,," teriak Putri karena Bi Surti sekarang berada di rooftop sedang membersihkan rooftop tersebut.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban Bi Surti yang masih sibuk dengan pekerjaannya, Putri pun melangkah keluar rumah lalu memesan taxi online, karena ia belum memiliki sopir pribadi juga belum bisa menyetir mobil sendiri.
Setelah taxi datang, segera ia meluncur ke kantor suaminya."Semoga kamu suka dengan masakan ini Mas,,," senyum Putri mengembang membayangkan suaminya akan lahap menyantap masakannya.
Setelah satu jam perjalanan, akhirnya taxi memasuki halaman perkantoran tersebut. Putri segera turun setelah membayar uang taxi. Meskipun ia sekarang sudah menjadi istri Bos, namun ia tetap menggunakan uang cash sebagai transaksinya. Hanya saat bersama suami saja, ia tidak memerlukan uang cash tersebut.
Dengan senyum yang menghiasi bibirnya, ia melangkah masuk ke dalam kantor suaminya, meski ada banyak mata yang melihat ke arahnya saat melewati ruang ruang devisi yang lain, namun ia tetap tersenyum ramah pada semuanya.
Putri pun menghela nafas sebentar sebelum membuka gagang pintu ruang kerja Reza. Sekilas ia teringat semua kenangan dirinya juga Reza diruangan tersebut, membuatnya tersenyum meski kini wajahnya sudah memerah karena malu.
Perlahan pintu ruang kerja Reza terbuka, kini justru Putri yang mematung tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tubuhnya lemas seakan tak ada penyangga, kakinya terasa dingin dengan lidah yang kelu sulit untuk berkata kata, hanya air mata yang turun dari pelupuk matanya.
"Teganya kamu Mas,,, " bisiknya dalam hati, masih mematung melihat adegan di depan matanya.
Reza yang melihat kedatangan Putri segera bangkit dari kursinya sambil mendorong wanita yang ada di atas pangkuannya.
__ADS_1
"Sayang,,," lirih Reza sambil berjalan kearah Putri. Namun Putri terlebih dulu berlari keluar dari ruangan tersebut, ia tidak memperdulikan teriakan Reza, kepalanya terasa berat, dan detik itu juga ia jatuh pingsan dalam dekapan seseorang.
bersambung,,,