
Malam telah meninggalkan peraduannya, terdengar sayup sayup suara adzan subuh berkumandang. Putri pun mengerjabkan mata, menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku untuk meregangkan otot ototnya. Sejenak ia terpaku melihat sekelilingnya, sungguh jauh perbedaan kamar ini dengan kamarnya di kampung juga kosnya. Sejenak terselip keraguan di hati Putri. Apa bisa ia mengikuti gaya hidup Reza nantinya, apa bisa Reza mengikuti gaya hidup Putri juga jika mereka pulang ke kampung.
Namun semua pemikirannya seakan terbang entah kemana saat Reza memasuki kamarnya.
"Sudah bangun kan? Ayo kita sholat berjamaah!" Sambil duduk di tepi tempat tidur, Reza memandang Putri dengan penuh kasih.
"Pak Reza sudah mandi?" Putri buru buru bangkit dari tidurnya lalu bersandar di kepala tempat tidur. Menangkap gelagat yang kurang baik dari Reza, ia pun menyadari kalau ucapannya tadi salah. Buru buru ia mengulangi pertanyaan yang sama dengan panggilan yang berbeda.
"Sa,,,yang,,, sudah mandi?" Dengan sedikit gugup ia mengulangi perkataannya.
Dengan menahan senyumnya, Reza menjawab pertanyaan Putri dengan anggukan.
"Ya sudah,,, saya mandi dulu,,," Putri pun dengan cepat turun dari tempat tidur lari berlari ke kamar mandi.
"Kenapa kamu lari sayang,,,?" Reza yang tau alasan Putri makin menggodanya.
"Biar aman dari singa lapar, dari tadi sudah senyum senyum mau nerkam mangsanya." Balas Putri yang langsung mengunci kamar mandi.
"Jawaban bodoh macam apa sih Put,,,, hadeh,,,," makinya pada diri sendiri sambil menepuk jidatnya.
"Bagaimana kalau dia marah nanti, habislah aku." Kini dia makin cemas takut kalau Reza berbuat hal hal yang tak diinginkannya. Hingga ia mempercepat kegiatan mandinya setelah Reza memanggilnya untuk sholat berjamaah.
Seperempat jam kemudian Putri sudah keluar dari kamar mandi. Reza tersenyum melihat Putri yang masih memakai jubah handuk saat keluar.
"Pakailah baju ini, mana mungkin kamu ke kantor dengan penampilan seperti ini." Reza memberikan paper bag pada Putri. Tanpa menunggu lama, Putri segera mengambil paper bag itu dan pergi ke kamar mandi, Tak berselang lama, ia pun keluar dengan memakai dress warna peach yang nampak cantik di pakainya.
"Ayo kita sholat dulu keburu habis waktunya, pakai mukenamu." Ucap Reza sambil memberikan seperangkat alat sholat pada Putri.?
Mereka pun segera melaksanakan kewajiban seorang muslim. Selesai sholat, Reza mengulurkan tangannya pada Putri. Tanpa ragu, Putri pun mencium punggung tangan Reza. Setelah itu mereka berdoa bersama.
"Kamu mau kemana sayang?" Reza sudah menarik lembut tangan Putri saat ingin meninggalkan kamar itu setelah melipat dan menaruh mukena pada tempatnya.
__ADS_1
"Saya mau membuat sarapan untuk kita." Jawabnya dengan nada sedikit meragu.
"Cup,,," kecupan lembut mendarat di kening Putri.
"Pergilah, masak yang enak ya untukku." Bisiknya di telinga Putri hingga hembusan nafasnya pun menerpa leher jenjang Putri.
Dengan senyuman manis serta menganggukkan kepalanya, Putri segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar menuju ke dapur dan berkutat dengan pekerjaannya.
Sedangkan Reza mulai sibuk dengan laptopnya, memulai pekerjaannya. Hingga ada sambungan yang terhubung ke ponselnya dari seseorang. Ia pun mengangkat tlp itu setelah tau siapa yang menghubunginya.
"Semua sudah beres Tuan, tidak ada jejak yang tertinggal." Kata orang diseberang sana.
"Bagus, pastikan keselamatan mereka terjaga, kalau sampai terjadi apa apa sama mereka, maka kamu tahu akibatnya untuk kamu dan keluargamu." Balas Reza dengan tegasnya.
"Sa,,saya mengerti Tuan, akan saya taruhkan nyawa saya sendiri untuk menjaga mereka." Jawab orang diseberang yang terdengar ketakutan dengan ancaman Reza.
Tanpa basa basi lagi, Reza segera menutup sambungan tlp tersebut, lalu melanjutkan kerjaannya. Belum lama Reza melanjutkan pekerjaannya, terdengar bunyi pesan singkat dari ponsel Putri, dan itu tidak hanya sekali dua kali. Karena merasa terganggu, Reza pun mengambil ponsel Putri lalu membukanya, kebetulan sekali ponsel itu tidak terkunci. Mata Reza mulai memerah menahan marahnya saat membaca pesan yang berasal dari Aby.
"Jangan harap aku akan melepasmu meski kamu bersama dengan Reza, Bosmu itu, akan aku ambil anak kita!" Itulah ancaman yang diberikan oleh Aby pada Putri.
Reza segera bangkit dari duduknya, lalu melangkah keluar kamar menuju dapur setelah menuruni anak tangga. Di lihatnya Putri yang sedang menyiapkan sarapan mereka di meja makan. Reza tertegun melihat kecantikan alami Putri, dengan celemek yang ada di badannya dan rambut yang dikuncir diatas, menyisakan anak anak rambut yang menambah pesona kecantikannya.
"Pantas saja mereka semua menggilaimu, meski kau janda, tapi masih tampak seperti seorang gadis, bahkan aku pun tak bisa melepasmu sekarang." Gumam Reza sambil melangkah mendekati Putri, lalu memeluknya dari belakang. Membuat Putri terkejut hingha hampir menjatuhkan gelas jus nya. Jika tak ditangkap oleh Reza.
"Huffff,,, Pak Reza mengagetkanku saja, tolong lepaskan Pak,,, saya tidak bisa bergerak." Pinta Putri lirih sambil berusaha melepas pelukan Reza.
"Hmmmm,,, Pak,,,?" Bisik Reza yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Ehhh,, maksudku sayang,,, maaf lupa,,," Putri sudah menaruh kedua tangannya menyilang memegangi telinganya dengan wajah yang memelas.
"Kenapa kamu imut banget kalau begini, baiklah aku lepaskan untuk salahmu yang ini. Tapi bagaimana dengan yang ini." Reza menunjukkan ponsel Putri.
__ADS_1
Segera Putri mengambil ponsel itu lalu membuka dan membaca pesan dari Aby juga Fai. Ia pun mengambil nafas dalam dalam lalu menghembuskannya perlahan.
Ia pun duduk di kursi lalu mengetik kata kata yang ditujukan pada Aby.
..."Kala semua rasa telah ternoda, takkan ada rasa percaya, mungkin semua kan sirna, dihempas kedustaan yang melanda....
...Indahnya kasih sayang yang ada, takkan mampu menghapus luka, hingga saat itu tiba, dimana secercah cahaya kan menjelma....
...Terimakasih tuk luka yang kau beri, buatku jadi insan yang lebih mengerti, tiada yang abadi di dunia ini, selain kasih Illahi yang hakiki."...
Setelah mengirimkan curahan hatinya pada Aby, kini Putri menjawab pesan dari Fai.
..."Lepaskan aku wahai yang punya hati, karena hadirmu hanya membawa perih, biar kuraih bahagiaku kini, meski tanpa hadirmu lagi....
...Goresan luka yang membiru, tiada kan lekang terkikis waktu, jadi kenangan yang membisu, bersama sirnanya kehadiranmu."...
Setelah selesai mengirim balasan pada Fai, Putri pun mengambilkan sarapan untuk Reza yang sudah menunggunya sedari tadi. Suasana terasa sunyi, karena tak ada percakapan diantara keduanya.
Setelah selesai sarapan, Putri pun bergegas membersihkan sisa sisa sarapan dan mencuci semua piring juga gelas yang kotor. Setelah itu ia mencuci bersih tangannya dan melangkahkan kakinya ke kamar Reza, berniat mengambil tas kerjanya. Namun saat ia berada dalam kamar, nampak Reza yang sedang mengunci pintu kamarnya.
"Kenapa harus dikunci sayang, kan kita mau berangkat kerja?" Tanpa perasaan bersalah, Putri mengambil bedak juga lipstik serta sisir dari dalam tasnya.
"Hari ini kita bekerja di kamar ini, tak ada pertanyaan lagi." Jawab Reza tegas sambil melangkah mendekati Putri yang duduk di sofa kamar.
"Apa maksud ucapan kata katanya,,," tanya Putri dalam hati yang sudah ciut nyalinya melihat senyum misteri dari Reza.
"Sayang,,, ka,, kamu bercanda kan?" tanyanya sedikit gugup dengan meremas dressnya.
"Kapan aku bercanda soal kerjaan, hari ini kita bekerja di kamar ini, mengerti,,,!" Kata Reza yang sudah membopong tubuh Putri ke arah tempat tidur.
"Sayang,,, ini,, ini,,, akhhh" teriak Putri yang terlempar tubuhnya diatas tempat tidur, yang sudah terhimpit oleh Reza.
__ADS_1
"Jangan,,, aku mohon,,," pinta Putri dengan derai air matanya.
bersambung๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น