
"Reza,,,,!" Teriak Mamanya setelah memasuki ruang utama rumah putranya. Nyonya Wijaya terus saja melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Reza. Karena ia tahu jam jam segini pasti putranya itu sedang menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerjanya.
'Ceklek,,," pintu terbuka memperlihatkan seorang wanita paruh baya yang masih terlihat anggun di usianya yang hampir setengah abad.
Reza yang mengetahui kehadiran Mamanya hanya bisa bangkit dari duduknya, melangkah lesu mencium punggung tangan Mamanya.
"Apa Mama tidak ada pekerjaan, kenapa repot repot kemari lagi, kan aku bisa mendatangi Mama di rumah utama kalau Mama merindukanku." Dengan malasnya Reza menjatuhkan dirinya di atas sofa ruang kerjanya, yang diikuti oleh Nyonya Wijaya.
"Kamu keberatan Mama kesini,,,?" Dengan sorot mata yang tajam beliau memandang Reza.
"Ayolah Ma,,, aku sudah lelah dengan omelan Mama selama ini, aku tidak akan menuruti keinginan Mama, selamanya aku nggak akan menduakan Putri, terlepas dia hamil atau tidak."
"Kamu,,," Nyonya Wijaya memelototkan matanya kearah putra semata wayangnya itu.
"Pokoknya Mama tidak mau tahu, jika dalam sebulan ini wanita itu belum hamil maka ceraikan, karena Mama sudah punya calon yang lebih segalanya dari dia buat kamu, lambat laun kamu pasti juga akan menerima pilihan Mama." Tanpa menunggu jawaban Reza, beliau segera bangkit dari duduknya lalu melangkah keluar, tepat di depan pintu ia berpapasan dengan Putri yang membawakan kopi untuk Reza.
"Ma,,," sapa Putri sambil mengulum senyumnya, namun tidak dihiraukan oleh Nyonya Wijaya, beliau justru membuang muka, seakan jijik melihat menantu yang tak diinginkannya ini.
Tanpa basa basi lagi, Nyonya Wijaya meninggalkan rumah putranya dengan perasaan jengkel, karena Reza tetap saja bersikukuh pada pendiriannya, membuat Nyonya Wijaya semakin benci pada Putri.
"Mas,,, apa Mama masih ingin perceraian kita?"
Putri menatap Reza iba melihat suaminya harus bertengkar terus dengan Mamanya karena masalah yang sama.
"Kemarilah sayang,,," Reza membuka tangannya agar Putri datang ke pelukannya.
Putri pun duduk di pangkuan suaminya, menyentuh wajah lelahnya, dengan senyum termanisnya.
__ADS_1
"Minum dulu kopinya,,, setelah itu kita bicara dari hati ke hati."
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan saat ini selain,,,"Reza menyelipkan rambut Putri yang menutupi sebagian wajahnya ke telinganya. Lalu mengusap lembut pipi istrinya dengan tatapan yang mendamba.
"Apa kau sudah bersih sayang,,," bisiknya lirih di telinga Putri hingga hembusan nafasnya pun menerpa leher Putri.
Putri hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Reza. Melihat itu, nampak wajah yang tadinya lesu kini berbinar, bagai mendapat angin segar, Reza pun tersenyum penuh arti.
Seminggu lamanya ia menahan hasrat yang terpendam karena istrinya yang berhalangan. Membuat Reza stress karena hasrat tak tersalurkan juga desakan orang tuanya yang menginginkan perceraiannya. Rencana yang disusun dengan apik harus gagal saat Putri kehadiran tamu yang sangat tidak ia harapkan.
"Mas kenapa senyum senyum kek gitu, bikin orang curiga saja." Tutur Putri dengan polosnya. Ia tidak menyadari jika singa yang selama ini tertidur sudah terbangun karena ucapannya tadi. Ia belum menyadari jika suaminya sudah mulai melancarkan aksinya.
Dengan lembut menuntut Reza mencium bibirnya, memperdalam ciuman mereka hingga sama sama kehabisan nafas. Lalu melepas ciuman mereka.
"Mas,,,, " lirih Putri saat menyadari tangan Reza sudah mengangkatnya kearah kamar mereka.
Berulang kali Reza mengecup kening Putri yang masih dalam gendongannya. Mata mereka saling beradu, Putri hanya bisa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Ia sadar, tugas dan kewajiban seorang istri harus ia kerjakan. Bukankah ini juga merupakan penyempurnaan untuk agamanya. Ia sudah bertekad menjadi istri yang sholehah bagi suaminya.
Sesampainya tiba di kamar, Reza pun membaringkan tubuh istrinya, dengan lembut ia mulai melancarkan aksinya membawa Putri terbang ke nirwana dengan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Meski ini baru pertama kali bagi Reza, namun ia mampu dan sukses membuat Putri terus menggila dengan ulah Reza yang membawa mereka ke puncak kenikmatan, mereguk indahnya syurga dunia hingga mereka lupa akan segalanya.
Entah untuk berapa lama mereka bermain, hingga sampailah pada puncaknya, Reza dan Putri sempat berdoa dalam hati mereka sebelum benih itu tertanam di rahim Putri, dan mereka mencapai klimaksnya bersama. ( Karena bulan puasa nggak usah terlalu hot ya, wkwk).
Reza pun menjatuhkan tubuhnya disamping Putri setelah kegiatan panas mereka.
__ADS_1
Namun Putri segera bangkit dari baring nya, melangkah ke kamar mandi dengan selimut menutupi tubuh polosnya. Ia pun membersihkan dirinya, lalu kembali ke tempat tidurnya, disusul Reza yang juga masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya lalu mengambil air wudhu. Setelah itu ia kembali ke tempat tidurnya.
Dilihatnya Putri yang masih belum tertidur, senyumnya pun mengembang, Ia pun mengukung tubuh istrinya lagi, Putri hanya bisa pasrah saat Reza mengulangi aksinya tadi. Seakan tak ada puasnya ia terus menggempur pertahanan istrinya hingga mereka mencapai klimaksnya entah untuk yang kesekian kali.
Hingga malam telah berlalu dari peraduannya, berganti dengan fajar yang nampak di ufuk timur. Reza terus saja melancarkan aksinya meski Putri sudah sangat kelelahan. Mereka hanya beristirahat sebentar untuk melanjutkan ronde ronde berikutnya.
Tubuh Putri terasa remuk karena ulah suaminya. Ia tak ada tenaga lagi untuk sekedar bersuara, membuat Reza kasihan melihatnya, namun bagaimana lagi, hasratnya tidak bisa berhenti untuk tidak menyentuh Putri setelah ia tahu betapa nikmatnya bercinta dengan istrinya. Meskipun ia janda namun masih rasa perawan karena Putri pandai merawatnya.
Membuat seorang Reza ketagihan untuk terus dan terus menggaulinya. Apa lagi ini adalah malam pertama mereka yang tertunda. Reza ingin membuat momen tak terlupa saat malam pertama mereka.
"Mas,,, aku sudah tidak kuat lagi,,, aku mau pingsan rasanya." Lirih Putri yang tergolek lemas di tempat tidur. Membuat Reza tersenyum bahagia, sudah berhasil menaklukkan kucing liarnya. Karena Putri tidak hanya diam saja selama permainan mereka, ia juga bagai kuda betina yang begitu lincah dan gesit membuat Reza semakin bernafsu di buatnya. Itulah kenapa mereka bisa menghabiskan sisa malam dengan olah raga yang menguras energi mereka, namun memberikan kenikmatan yang tiada tara untuk keduanya.
"Baiklah,,, istirahatlah kucing liarku,,," Reza mengecup kening Putri.
Mendengar panggilan Reza, Putri pun mengerutkan alisnya." Kok kucing liar?" Protesnya tak terima di panggil kucing liar.
"Lihat apa yang kau tinggalkan di tubuhku?" Reza pun menunjukkan bekas cakaran kuku Putri yang membuat punggung juga bahunya berdarah. Tidak hanya itu saja, bekas gigitan Putri di tangan Reza sampai berdarah saat pertama kali Reza memasukinya dengan sedikit kasar, karena pikir Reza ia sudah tidak virgin lagi, pasti tidak sulit untuk memasukinya. Namun semua salah, karena Putri masih terlalu sempit seperti seorang perawan.
Melihat itu Putri hanya terdiam sambil tersipu malu pada suaminya. Karena ulahnya mungkin Reza akan merasakan sakit di tubuhnya saat mandi nanti.
"Maaf,,, Mas sendiri yang bikin aku harus melakukannya." Tuturnya membela diri.
"Iya sayang,,, maafkan aku juga,,, tapi untuk luka ini, kamu juga harus dihukum,,, "
Putri bergidik ngeri melihat Reza sudah mendekatkan tubuhnya kearah Putri hingga hanya berjarak beberapa inci saja.
"Mass,,,,"
__ADS_1
bersambung,,,,,,