
Sementara Reza bersama Putri sedang menikmati indahnya syurga dunia, di sebuah kamar yang tidak kalah mewah dari kamar Reza juga Putri nampak seorang pria sedang memandang ke arah sebuah villa yang berseberangan dengannya. Dadanya bergemuruh menahan rasa cemburunya. Terlintas dalam pikirannya bagaimana kekasih hati sedang memuaskan pasangannya. Hatinya hancur tak bersisa. Menyesali semua kebodohan yang telah di ambilnya. Andai saja ia tidak menuruti perintah ayahnya, andai saja ia tetap memperjuangkan cinta mereka, mungkin sekarang, ia lah yang sedang di manjakan oleh Putri.
Ia pun menepuk dadanya sendiri yang terasa sakit ingin meledak. Mengutuki nasib yang telah begitu kejam kepadanya. Diusapnya kasar wajah dengan kedua tangannya, mengumpat dan memaki diri sendiri yang terlalu bodoh dengan melepaskan cintanya. Berharap akan bisa melupakan dan menghilangkan rasa itu dari hatinya. Namun fakta berkata lain, rasa itu semakin tumbuh subur dari hari ke hari, membuatnya semakin tersiksa hingga benar benar hancur di dalamnya. Sampai kapanpun, sosok yang telah mencuri hatinya tidak akan pernah hilang meski terkikis waktu. Menghela nafas dengan berat, memandang ke langit malam di mana bintang bintang bertebaran. Menghiasi indahnya langit malam. Tergambar jelas raut wajah sang kekasih yang tersenyum padanya. Mengingatkan semua kenangan yang pernah terjadi. Ia pun tersenyum dalam kepedihan hatinya.
"Masih ingatkah kamu hari ini adalah anniversary kita yang ke 5. Andai aku tidak melepasmu dan menuruti perkataan orang tuaku. Mungkin kita sudah bahagia bersama dengan anak anak kita. Putri,,, sayang,,," tetesan bening itu pun luruh dari pelupuk mata Fa'i. Meskipun ia sosok yang ditakuti oleh lawan bisnisnya, namun disaat seperti ini, ia hanya bisa menangis meluapkan segala rasa yang menghancurkan hati.
Teringat malam itu dimana mereka sedang memadu kasih diatas motor kesayangan nya. Berdua menikmati indahnya danau buatan di lap. Sier, tempat mereka bekerja dulu.
Disanalah saksi bisu kisah cinta mereka, selama empat tahun bersama dengan menjalin hubungan secara backstreet, dan akhirnya harus terpisah karena restu orang tua. Indahnya pantulan purnama yang membias di permukaan danau, dengan udara yang terasa dingin menusuk persendian, angin yang berhembus sepoi sepoi menambah hangatnya suasana hati mereka yang berbunga bunga saat satu kata terucap.
__ADS_1
"Maukah kau menjadi kekasihku Lia?" ucapan lembut itu menggoyahkan pertahanan Putri. Tidak ada seorang pun yang memanggilnya dengan nama Lia, selain pria yang ada di hadapannya sekarang.
Setelah beberapa bulan bersahabat dengan Fa'i, getaran rasa yang ada di hati Putri semakin dalam untuk pria itu. Namun berusaha untuk ditekannya, karena ia sadar perbedaan di antara mereka cukup besar. Tidak mungkin baginya untuk melewati tembok penghalang itu. Karena ia hanya seorang wanita biasa sedang Fai adalah putra dari salah satu orang terpandang di kotanya, membuatnya mengingkari akan rasa yang tumbuh. Namun setelah mendengar perkataan Fa'i barusan, membuat Putri dilema, antara menerima atau tetap mempertahankan status persahabatan mereka.
"Lia,,, aku mencintaimu, ingin menua bersamamu, aku tahu kamu juga punya rasa yang sama denganku, jadi ku harap kau bisa mempertimbangkan hal itu. Jangan dustai hati sendiri, karena itu akan menyakitkan, biarkan semua berjalan apa adanya, seperti air yang terus mengalir sampai tujuannya."
Fai menggenggam kedua tangan Putri yang terasa dingin, merasakan gugup dengan detak jantung yang begitu keras karena bahagianya akan ungkapan rasa Fa'i padanya. Ternyata angannya bukan semu, pria itu juga memiliki rasa yang sama dengannya. Andai waktu bisa berhenti, ia ingin menghentikan nya saat ini juga.
Degup jantung keduanya terdengar begitu keras, hingga keduanya bisa mendengar debaran itu.
__ADS_1
"I,, aku tak tahu harus bagaimana, aku juga sayang sama kamu, tapi aku takut semua ini akan berakhir dengan kisah sedih kita, dan persahabatan kita pun hancur nantinya. Aku sadar aku siapa." Ucap Putri dengan bibir bergetar meluapkan segala kecemasan dan kegundahan hatinya. Ia pun menundukkan wajahnya, tidak berani menatap wajah pria yang pasti terluka oleh kata katanya.
Fai pun menakupkan kedua tangannya ke wajah Putri, mengangkatkan perlahan hingga kornea mata mereka saling beradu." kita hadapi semua bersama, jadilah nafasku, karena tanpamu aku hanya raga tak bernyawa. Jangan pendam lagi rasa kita, biar dunia tahu tentang cinta kita, karena aku tak mau tersiksa cemburu saat pria lain mencoba meraih cintamu. Aku bisa gila Lia." Kini kedua kening mereka saling beradu. Hembusan nafas mereka bisa dirasakan satu sama lain.
"Aku mencintaimu, dan akan terus mencintaimu, meski waktu akan mengambil raga kita." Lirih Fa'i yang kini telah mempertemukan kedua bibir mereka. Ciuman yang begitu lembut penuh dengan cinta kasih tanpa ada nafsu disana. Mengalirkan sengatan listrik tuk keduanya. Karena inilah ciuman pertama bagi keduanya.
Teringat bibir lembut yang manis itu, teringat harum tubuh Lia nya, membuat Fa'i frustasi hingga ia melempar vas bunga yang ada di balkon kamar itu.
"Aarrrghhhh,,,, Lia,,,," teriaknya memecah keheningan malam dengan mengacak rambutnya. Serasa angin menyampaikan teriakan itu, Putri pun terbangun dari tidurnya karena mendengar ada yang memanggil namanya.
__ADS_1
"Fai ,,," lirihnya, namun segera menutup mulutnya saat sepasang mata sudah menatapnya dengan tajam.
bersambung,🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹