KEKASIH BAYANGAN

KEKASIH BAYANGAN
bab 19 makan malam


__ADS_3

Rembulan bersinar dengan indahnya. Cahayanya yang redup, menyinari malam yang terasa dingin dengan hembusan sang bayu yang menerpa tubuh mereka.


Kilauan pantulan cahaya sang pemilik malam, begitu indah membias di atas kolam renang.


Kini mereka sedang berada di taman sebuah hotel yang ternama di kota Surabaya.


Sedang menikmati makan malam mereka. Nampak Zahra yang terlihat lucu dengan tingkah lakunya yang mengundang tawa semua orang.


Kadang putra dan putri Pak Hasnan menjahilinya, namun bukan Zahra kalau tidak membuat kehebohan. Itulah yang membuat putra putri Pak Hasnan sangat akrab dengannya. Di sela sela makan malam mereka, nampak Zahra yang tidak berkedip memandang kearah putra Pak Hasnan yang bernama Zayn, yang menurutnya sangat tampan mirip artis Korea idolanya.


"Zahra kenapa mandangi Kak Zayn seperti itu, ada yang salah ya dengan muka Kakak?" Tanya Zayn sambil tersenyum kearah Zahra.


"Kak Zayn makan apa sih kenapa ganteng banget, mirip artis Korea idola Ahra." Dengan polosnya Zahra melontarkan kata yang membuat semua orang pun tersenyum mendengarnya. Sedang Zayn yang diberi pertanyaan seperti itu menjadi salah tingkah.


"Nih bocil ada ada saja yang ditanyakan, kan aku jadi malu sama Om dan Tante Putri." Bisik dalam hati Zayn.


Raut wajahnya jadi memerah karena malu pada orang tuanya, Putri juga Reza.


"Zahra sayang,,,memang Kak Zayn tampan ya?" Dengan menahan tawanya, putri Pak Hasnan yang bernama Lifia, semakin mengusili Zahra juga adiknya.


Karena ia tahu Zayn saat ini sedang malu. Tanpa mengubah pandangannya yang kagum terhadap ciptaan Yang Kuasa, Zahra menjawab pertanyaan Lifia dengan kedua tangannya menopang dagunya diatas meja.


"Iya,,, Kak Zayn sangat tampan,,," dengan senyum malu malunya Zahra menjawab Lifia.


"Kalau Zahra besar nanti, mau tidak jadi kekasih Kak Zayn?" Imbuh Lifia yang masih menahan tawanya.


"Kalau Kak Zayn mau,,, aku juga mau Kak Fia,,," dengan lugu dan polosnya Zahra menjawab pertanyaan itu yang membuat semua orang tertawa kecuali Zayn. Ia menatap tak percaya, bagaimana bisa bocah sekecil itu sudah mengerti arti kekasih.

__ADS_1


"Memang Zahra tau apa itu kekasih?" Lanjut Fia.


"Tau Kak,,, seperti Bunda dengan Om Reza, Tante Risda dengan Om Hasnan, gitu kan?" celetuknya sambil memandang kearah Putri dan Reza lalu beralih kearah Pak Hasnan dengan Nyonya Risda, yang juga sedang memandang kearahnya.


"Sayang,,, ternyata putrimu lebih pintar dari pada kamu,,," bisik Reza di telinga Putri yang membuatnya mencubit perut Reza dengan keras hingga membuat empunya perut meringis kesakitan.


"Om kenapa? Sakit perut,,,?" Zahra dengan lugunya melontarkan pertanyaan itu saat melihat reaksi Reza.


"Om baik baik saja kok sayang,,, cuma ini tadi ada semut yang menggigit perut Om,,," jawab Reza asal yang membuat Putri semakin menatapnya dengan tak percaya.


Bisa bisanya ia disamakan dengan semut, ingin sekali ia mencubit perut Reza lagi, namun tangannya sudah terhenti dengan genggaman yang kuat dari tangan Reza.


Semua orang hanya bisa menahan tawanya.


"Kakak itu suka sekali ngusili Zahra, mana ia ngerti apa yang Kak Lifia tanyakan, dasar usil,,," timpal Zayn yang meminum jus nya dengan wajah yang memerah.


"Liat Ma,,, Pa,,,wajah Zayn memerah, pasti ia juga suka di jodohin sama Zahra,,, ha,,,ha,,,ha,,,," Lifia tertawa lebar, sungguh ia puas sudah mengerjai adiknya juga Zahra.


"Sudah,,, sudah,,, bercandanya, Mama ada yang mau dibicarakan dengan Tante Putri, kalian ajak main Zahra dulu ya,,," kini Nyonya Risda sudah memasang wajah yang serius.


"Kita ke kolam renang yuk Put,,, biar lebih santai bahas semua nantinya." Ajak Nyonya Risda yang diangguki oleh Putri.


"Sayang,,, jangan nakal ya, Bunda kesana dulu, Zahra main sama Kak Zayn juga Kak Fia,,," Putri pun mencium kening Zahra, dan membelai pipi bakpao bocah kecil itu.


"Iya Bunda,,," jawab Zahra sambil menganggukkan kepalanya serta tersenyum manis kearah Bundanya.


"Mas,,, tolong jaga Zahra ya,,," pinta Putri pada Reza yang diangguki olehnya.

__ADS_1


"Tenang aja sayang,,, selesaikan kerjaanmu dengan cepat, setelah itu kita pulang, sudah terlalu malam tuk Zahra di luar rumah." Reza menggenggam tangan Putri erat sambil tersenyum.


"Iya Mas,,,"perlahan Putri melepas genggaman Reza, lalu melangkah kearah kolam renang yang terdapat bangku disana.


Sepeninggal Putri dan istrinya, Pak Hasnan yang sedari tadi hanya terdiam dengan melihat interaksi antara Reza juga Putri kini mulai pembicaraan dengan Reza. Sementara Zahra yang ditemani oleh Zayn juga Lifia berjalan jalan mengitari taman hotel tersebut.


"Apa keputusan Pak Reza sudah bulat mau menjadikan Putri sebagai pendamping hidup, apa Pak Wijaya sudah tau semua, bagaimana kalau mereka tidak merestui hubungan ini?"


Meski dengan wajah datar dan dinginnya, Pak Hasnan ingin memastikan kesungguhan pria yang ada di depannya sekarang. Entah kenapa ada perasaan tak rela melihat Putri begitu mesra dengan Reza. Tapi untuk alasan rasa itu, ia juga tidak tahu kenapa, mungkin karena tahu Putri orang tua tunggal yang harus menghidupi keluarganya sendiri, timbul simpati di hatinya atau apa, ia juga belum tahu pasti alasannya.


Dengan senyum yang menghiasi bibirnya, Reza menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil bersedekah dada memandang kearah Putri berada dengan sendu.


"Aku tidak pernah seyakin ini Pak Hasnan, meski nantinya ada halangan dalam hubungan kami, bukankah itu cobaan untuk menguji cinta kami nantinya. Aku sudah mengambil keputusan, bukan hanya karena aku mencintainya, tapi memang pantas dia untuk kulindungi dari siapa pun nantinya." Reza mengalihkan pandangannya dari Putri kearah Pak Hasnan. Sebagai sesama laki laki, ia bisa mengetahui jika Pak Hasnan mulai bersimpati pada Putri. Dan itu ia bisa tangkap dari cara pandang pria itu pada kekasih hatinya.


"Syukurlah kalau begitu, semoga hubungan kalian langgeng sampai maut memisahkan,,," lanjut Pak Hasnan sambil meminum kopinya.


"Terima kasih tuk doanya Pak,,, dan saya harap kami bisa jadi keluarga di dunia juga di akhirat nantinya. Boleh saya minta tolong sama Pak Hasnan, tolong jangan bilang siapa saya sebenarnya pada Putri, biar saya sendiri yang akan memberi tahunya nanti saat waktu yang tepat." Pinta Reza pada Pak Hasnan, yang membuat pria itu mengerutkan keningnya tak percaya, seakan memikirkan sesuatu.


"Kenapa Pak Reza tidak jujur saja dari sekarang, biar kalian tenang menjalani hubungan ini, ia berhak tau siapa Anda sebenarnya."


"Saya masih belum yakin dengan hatinya Pak,,, jika dia tahu siapa saya yang sebenarnya, saya takut dia akan menjauhi saya, karena dia memiliki trauma dari masa lalu yang sangat saya jaga itu."


Saat mereka sedang asyik ngobrol nampak Zayn juga Livia sedang berlari lari mendekati mereka, dengan nafas yang masih ngos ngosan mereka bilng,


"Zahra diculik Om,,, Pa,,,"


Sontak Reza segera bangun dari duduknya lari berlari ke luar hotel sambil menelpon seseorang, ia lupa pada Putri yang juga mendengar kata Zayn. Tubuhnya pun hilang kesadaran dan pingsan membuat Nyonya Hasnan cemas dan berteriak minta tolong.

__ADS_1


Pak Hasnan yang tadinya mau menyusul Reza, mengurungkan niatnya karena mendengar suara istrinya.


bersambung,,,,


__ADS_2