KEKASIH BAYANGAN

KEKASIH BAYANGAN
bab 24 cinta memang gila


__ADS_3

Perlahan Putri bangun dari simpuhnya. Kini hanya tinggal ia dan Reza di dalam ruangan itu. Ditatapnya tubuh yang kini terbaring lemah tak berdaya dengan beberapa alat medis terpasang di tubuhnya. Ia pun berjalan menghampiri Reza yang kini berada diatas brankar. Tubuh putri gemetaran, sedang air mata terus mengalir membasahi pipinya.


Perlahan ia duduk di kursi yang berada disamping tempat tidur Reza. Digenggamnya tan gan yang terasa dingin dan memucat itu. Di genggamnya erat lalu ditempelkan di pipinya. Hingga air mata Putri mengenai tangan Reza.


"Mas,,, bukalah matamu aku minta maaf,,,tolong jangan membuatku merasa bersalah seumur hidupku. Ku mohon,,, bukalah matamu Mas,,,aku tak mau kehilangan kamu. Apa lagi sekarang,,," Putri menjeda katanya dengan air mata yang terus mengalir membanjiri pipinya, hingga jatuh di tepian brankar Reza.


"Sekarang,,,kamu hutang penjelasan padaku. Apa kamu tega membiarkan aku menanggung sendiri aib yang tak pernah aku tahu kapan terjadinya. Apa kamu sudah tak perduli lagi sama aku Mas? Kenapa kau menghukum aku sekejam ini, hikks,,,hikkss,,," Putri meluapkan semua beban yang menghimpit hatinya dengan diiringi air matanya. Seolah olah Reza bisa mendengarkan semua yang ia katakan. Putri terus saja mengutarakan semua isi hatinya. Meski kini hati itu bagai teriris ribuan sembilu, menyaksikan Reza yang masih terbujur tak berdaya.


Sungguh ia menyesali semua keputusannya tadi malam yang bersikeras meninggalkan Reza. Andai waktu bisa diulang, ia akan tetap di samping Reza. Menemaninya berjuang untuk kebahagiaan mereka. Tidak malah meninggalkan saat Reza benar benar memerlukan dirinya. Namun ia lakukan itu karena tak mau melihat Reza menjadi anak yang durhaka pada kedua orang tuanya. Yang jelas terang terangan ingin memutuskan hubungan dengan keluarganya. Padahal salah satu sunnah Rosul jika ingin berumur panjang, adalah menjalin silaturahmi dan tidak memutuskannya.


"Aku memang bodoh ya Mas,,,andai aku mendengarkan perkataan mu semalam, pasti aku masih bisa melihat senyummu, merasakan kasih sayangmu, tapi aku malah memilih jalan yang menyakiti kita berdua. Maafkan aku,,,jangan hukum aku seberat ini,,, ku mohon,,,bangunlah demi aku,,, demi kita juga demi anak yang masih ada dalam rahimku. Meski aku tak tahu kapan kau melakukannya. Tapi aku yakin, ini adalah darah dagingmu. Buah kasih sayangmu,,, ku mohon,,,bangunlah,,,hikkss,,,hikkss,,," Putri terus saja berbicara berharap Reza segera sadar lalu membuka matanya.


Saat ia menceritakan kisah cinta mereka yang terbilang cukup singkat namun begitu berkesan di hati Putri. Tanpa ia sadari, lukanya terus saja mengalirkan darah. Membuat Putri merasa pusing lalu tiba tiba pingsan di samping Reza, dengan posisi kepalanya berada diatas tangan Reza dengan linangan air matanya.


Merasakan berat di tangannya, Reza pun membuka matanya. Melihat Putri dalam posisinya, membuat Reza tersenyum lalu membelai rambut wanita yang dikasihinya dengan lembut. Berharap Putri memandang ke arahnya. Namun setelah beberapa lama tak ada gerakan dari Putri, membuatnya cemas dan khawatir. Perlahan ia bangkit dari tidurnya, lalu turun memeriksa keadaan Putri. Dan ia terkejut mendapati Putri pingsan. Segera di bopongnya tubuh Putri ditidurkan diatas brankarnya. Setelah itu ia memencet tombol di samping brankarnya.


Tak berapa lama, masuklah seorang Dokter keluarga mereka. Yang terlihat begitu tampan namun dingin seperti balok es.


"Ada yang masih kurang Tuan Muda?" Tanyanya jengah pada sosok di depannya. Bagaimana tidak, ia dipaksa untuk melakukan semua rencana Reza yang benar benar gila. Memalsukan kehamilan Putri agar keluarganya menyetujui hubungan mereka. Juga untuk mengikat wanita itu agar tak meninggalkannya. Dan memalsukan hasil pemeriksaannya yang berusaha untuk bunuh diri.

__ADS_1


Reza tak menghiraukan tatapan males Dokter yang merupakan sahabat baiknya sedari kecil itu. Ia fokus pada Putri yang kini terbaring lemah.


"Jangan banyak tanya, cepat periksa kondisinya, kalau sampai terjadi apa apa sama dia, mampus kamu ,,," ancam Reza dengan mata elangnya.


"ckck,,,kau ini, semua karena ulahmu, Tante sampai menyeret dia tanpa ampun dari kamarnya sampai kesini, lukanya terus mengalir hingga pucat wajahnya, dia kehabisan banyak darah, butuh transfusi darah segera, kalau tidak,,," Dokter itu menggantung kata katanya. Menatap lekat kearah Reza.


"Cepat kau kasih transfusi darah. Kenapa kau malah menatapku, dasar bodoh, kau ingin mampus kalo terjadi sesuatu pada wanitaku?" Tatapan horor sudah mendarat kearah Dokter itu.


"Sayangnya golongan darah dia sudah habis persediaannya di Rumah Sakit ini Tuan Muda, dan sulit mencari pendonor darahnya." Ucap Dokter itu dengan kecemasannya.


"Memang golongan darah dia apa?" Tanya Reza yang sudah habis kesabarannya melihat sahabatnya itu masih bertele tele.


"Mampus kamu,,, kapan lagi aku mengerjai kamu Reza, kau takut akan suntikan kan, sekarang apa demi wanitaku kau akan menerima suntikan itu untuk mendonorkan darahmu, he,,he,, he,," Dokter itu tertawa dalam hatinya bisa mengerjai seorang Reza. Sedang Reza mulai dilema, dia phobia pada jarum suntik, tapi sekarang nyawa Putri ada di tangannya, terlambat ia mengambil keputusan, sungguh ia benar benar dilema. Padahal alat" medis yg tadi terpasang di tubuhnya itu juga hasil rekayasa dari mereka berdua. Semua Dokter juga perawat sudah di beri instruksi oleh Dokter kepala mereka. Selain itu siapa yang berani membantah kata Reza Maula Wijaya pemilik dari Rumah Sakit ini.


"Ambil darahku sekarang,,," tuturnya lemah namun sangat tegas.


"Kau yakin Rez,,,kalau kamu pingsan sebelum mendonorkan darah gimana?" Goda Dokter itu sambil menahan tawa di hatinya.


"Cepat lakukan,,, apa kamu lebih senang kalau nyawamu yang melayang di tangan si Mickey ,,," senyum tipis namun dengan tatapan membunuh membuat Dokter itu bergidik ngeri. Ia tak bisa membayangkan nasibnya di tangan si Mickey, segera dia berlari keluar menyiapkan semua keperluan untuk transfusi darah mereka.

__ADS_1


Senyum kemenangan tersungging di bibir Reza. "Kamu pikir aku tidak tahu akal bulusmu, tapi demi keselamatan Putri, aku tak mau ambil resiko sekecil apa pun. Ia sudah terluka hati dan jiwanya semua karena aku. Maka aku harus menjaganya dengan baik." bisiknya lirih sambil membelai rambut Putri.


Tak berselang lama, Dokter sudah kembali bersama beberapa perawat pria yang bertubuh kekar mirip bodyguard keluarga Wijaya. Beserta alat alat yang di butuhkan.


"Kenapa kau membawa mereka,,?" Reza mengerutkan alisnya.


"Cuma buat antisipasi jika nanti ada yang pingsan setelah melihat jarum suntik." Tutur Dokter itu dengan entengnya. Lalu ia memberi isyarat pada perawatnya agar memegangi Reza.


"Lepaskan,,," Reza menepis tangan semuanya.


"Kalian mau mati? Lakukan saja?" Dengan memandang penuh amarah Reza menatap ke empat perawat tadi. Yang kini mundur menjauh dari Reza.


"Maafkan kami Tuan Muda." Ucap mereka berbarengan sambil menundukkan wajah masing masing.


"Ok, bersiap ya, tutup matamu dan gigit bibirmu jangan berteriak." Dokter itu sudah siap dengan suntikan ditangannya. Awalnya Reza sudah merasakan lemas ditubuhnya, namun saat ia melihat wajah Putri yang memucat, ia pun tersenyum dan terus memandanginya. Hingga tak merasakan jarum suntik sudah menembus kulitnya.


"Cinta memang gila,,," lirih Dokter itu yang gagal mengerjai Reza.


bersambung,,,,

__ADS_1


__ADS_2