
"Jangan,,, aku mohon,,,," dengan derai air mata Putri menghiba pada Reza yang mencium lehernya saat ini dengan meninggalkan bekas kissmark disana. Mendengar tangisan Putri seakan menyadarkan Reza dari perbuatannya yang hampir menodai ketulusan cintanya. Ia pun bangkit dari tubuh Putri.
"Maafkan kekhilafanku, sungguh aku benar benar cemburu melihatmu mengirimi kata yang puitis tuk mereka. Padahal denganku saja kau masih canggung memanggilku sayang."Reza mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangannya. Lalu bangkit dari duduknya meninggalkan Putri yang masih terisak dengan tertegun memandang kearah perginya Reza.
Setelah puas menumpahkan air matanya, Putri pun melangkah ke kamar mandi membersihkan dirinya. Ia bisa melihat dengan jelas adanya bekas kissmark di lehernya dari kaca yang ada di kamar mandi. Ia berusaha menggosok untuk menghilangkan bekas kissmark tersebut, namun semua sia sia. Justru kulitnya nampak memerah. Akhirnya ia menyerah dan keluar dari kamar mandi.
Nampak Reza sudah duduk di kursi ruang kerjanya, yang berada di satu ruangan dengan kamarnya. Namun Putri masih enggan untuk mendekatinya. Ia memilih duduk di sofa sambil membuka ponselnya.
Reza hanya melirik ke arah Putri. Lalu melanjutkan pekerjaannya.
Cukup lama mereka saling membisu, larut dalam suasana hati mereka masing masing hingga ponsel Putri bergetar.
"Buatkan aku kopi hitam." Pesan dari Reza.
"Dasar, bagaimana aku bisa buat kopi kalau keluar kamar saja tidak bisa." gerutu Putri yang terdengar oleh Reza. Ia pun mengangkat kepalanya memandang ke arah Putri.
"Kemarilah,,, " perintahnya sambil melambaikan tangannya ke arah Putri biar mendekat.
Dengan langkah gontai Putri mendekati Reza. Berhenti tepat di depan meja kerjanya.
"Liatlah,,," tunjuk Reza ke samping kanan ruangannya yang hanya tersekat oleh kaca.
Putri pun mengikuti arahan Reza. Nampak mini bar kecil ada disana. Dan ia pun mengerti apa yang harus di lakukannya. Tak banyak bicara, ia segera melangkahkan kakinya ke mini bar tersebut. Mencari yang dia perlukan untuk membuat kopi hitam.
Setelah selesai, ia segera melangkah ke ruang kerja Reza dan meletakkan kopi itu di meja kerja Reza. Saat ia akan melangkah menjauh, ponselnya bergetar, segera ia menerima panggilan itu yang berasal dari putri semata wayangnya, siapa lagi kalau bukan Zahra. Yang kini sedang melakukan video call dengannya.
'Assalamualaikum sayang,,," sapanya pada putri kesayangannya itu.
"Waalaikum salam Bunda,,, kapan Bunda pulang, Ahra sudah kangen sama Bunda." Nampak di sana Zahra sedang cemberut menatap kearah ponselnya.
__ADS_1
"Bunda juga kangen sama Zahra,,, nanti kalau Bunda libur pasti pulang, ya sayang,,, Zahra nggak boleh nakal, harus nurut kata Emak sama Bapak." Dengan senyum penuh kasihnya Putri berusaha menenangkan hati Zahra sekarang.
Sebagai seorang Ibu, ia juga bisa merasakan apa yang kini putrinya rasakan. Matanya sudah berkaca kaca melihat putri semata wayangnya yang kini sedang merajuk padanya. Sungguh rasa bersalah itu menggelayuti hatinya saat ini, saat tak bisa memenuhi keinginan putrinya.
Hingga ia menyadari jika tempat yang di buat Zahra untuk melakukan VC bukanlah rumah mereka.
Ia mulai panik, berjuta pemikiran buruk kini ada dalam otaknya. Ia takut jika Aby benar benar melakukan ancamannya. Nada kecemasan yang penuh kekhawatiran bisa di tangkap Reza saat Putri bertanya pada Zahra.
"Zahra sayang,,, mana Emak sama Bapak,,, kalian sedang berada di rumah siapa?"
"Ahra di rumah Om Bunda,,, Emak sedang masak, Bapak keluar tadi ntah ke mana, Ahra bosan jadi tlp Bunda." Tuturnya polos dengan gaya kelakuannya yang lucu.
"Bisa kasihkan ponselnya sebentar ke Emak sayang,,, Bunda pingin ngomong sebentar."
"Iya Bunda,,," Nampak Zahra berlari kecil menuju dapur, dan Putri tahu jika rumah itu cukup mewah untuk keluarga kecilnya.
"Emak,,, Bunda pingin ngomong,,," teriak Zahra sambil berlari dan memberikan ponsel itu pada Bu Bathi.
"Waalaikum salam Bu,,, iya tadi Zahra yang menelpon saya, Ibu,,, sekarang berada di rumah siapa?" Putri pun terduduk di kursi depan meja kerja Reza. Tanpa ia sadari, tatapan Reza terus tertuju padanya.
"Ibu ada dirumah Nak Reza, katanya biar aman dari Aby sama orang orang yang ingin berbuat jahat pada keluarga kita. Nak Reza sudah menjelaskan semuanya pada Ibu dan Bapak. Kamu baik baik saja disana ya, jaga kesehatan kamu, satu lagi, kami merestui hubunganmu dengan Nak Reza. Dia pria yang baik Nak, jangan sia siakan, mungkin dia jawaban dari doa kita selama ini. Zahra pun kelihatannya suka pada dia. Bahkan mereka sudah seperti Ayah dan anak saat tlp VC."
Bu Bathi pun menceritakan semuanya. Tak ada satu pun yang terlewat, dari anak buah Sasa juga Aby yang berusaha menyakiti dan mengambil Zahra dengan paksa. Hingga anak buah Reza yang menyelamatkan mereka dan membawa mereka ke tempat yang aman. Air mata Putri pun menetes mendengar semua cerita ibunya.
"Maafkan Putri Bu,,,semua ini salah Putri, menempatkan keluarga dalam bahaya. Andai Putri dulu tak mengenal mereka, pasti Ibu dan Bapak akan damai sekarang tanpa dikejar kejar rasa takut, maafkan Putri Bu." Dengan air mata yang terus mengalir, membuat Bu Bathi juga menitikkan air matanya.
"Sudah Nduk,,, yang penting kita baik baik saja, jangan sesali semua, karena takdir Ilahi kita tidak ada yang tahu Nak. Syukuri apa yang ada sekarang, bukankah kamu punya Zahra?"
Tiba tiba saja ponsel Zahra mati. Membuat Putri kalang kabut karena cemasnya. Ia takut terjadi apa apa dengan keluarganya. Berulang kali ia mencoba menghubungi no putrinya itu namun tak ada jawaban, hanya terdengar jawaban dari operator yang berkata di luar servis area.
__ADS_1
Tubuh Putri melunglai, pikirannya kacau balau sekarang. Reza yang melihat kacaunya Putri saat ini segera menghubungi anak buahnya.
Dari sana ia tahu kalau batre ponsel Zahra habis. Putri yang turut mendengar percakapan mereka merasa lega, tak hentinya ia mengucap syukur.
Tak berselang lama, ponsel Putri pun terdengar notif masuk berulang kali, ia membuka ponselnya, senyumnya mengembang membaca pesan pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
"Alhamdulilah,,, rejeki anak sholehah,,, banyak yang pesan baju kemarin mas,,," tutur Putri berbinar, tanpa ia sadari telah memeluk Reza dengan eratnya karena kegembiraannya. Kebetulan Reza juga ikut melihat ponsel Putri.
"Kita pulang sekarang, memintamu pada orang tuamu." Bisik Reza yang menyadarkan Putri akan ulahnya.
"Maaf,,, saya terlalu senang tadi,,," perlahan Putri melepas pelukannya dan tertunduk malu. Namun Reza menarik lembut tubuhnya hingga mereka tak berjarak lagi.
"Mas,,,, aku suka panggilan itu,,," bisiknya lirih, yang membuat Putri semakin malu dengan wajahnya yang memerah merona.
"Ayo kita pulng,,," Reza menggandeng tangan Putri ke luar dari kamarnya.
Namun saat mereka akan memasuki mobil, ponsel Putri bergetar, nampak tertera disana nama Pak Hasnan. Putri pun mengangkat panggilan tersebut.
"Assalamualaikum Pak,,, ada yang bisa saya bantu?" Jawabnya setelah terdengar suara di seberang.
"Waalaikum salam,,, kenapa tidak masuk kantor, istriku sudah menunggu kamu di rumah, selamat hari pertama kamu bekerja sudah mendapat customer cukup banyak, ia menantikanmu promosiin gaun gaunnya yang lain. Sekalian ngajak dinner kamu nanti malam. Dan tak ada penolakan." Sebelum Putri menjawab, Pak Hasnan telah menutup tlpnya.
"Yah,,, ditutup,,, aku harus gimana?" Ucapnya sedih sambil menatap ke arah Reza yang sudah berada dalam mobil.
"Masuk,,, kita pulang,, nanti malam kita bawa Zahra bersama kita, menerima tawaran Pak Hasnan." Tutur Reza sambil membuka pintu mobilnya dari dalam.
Mendengar perkataan Reza, dengan semangat 45, Putri pun masuk ke dalam mobil, bayangan bisa memeluk buah hatinya sudah membayang di pelupuk matanya.
"Tunggu Bunda sayang,,,," gumamnya dalam hati sambil tersenyum penuh arti.
__ADS_1
bersambung🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹