
"Bunda bangun,,,Ahra takut,,," suara tangisan Zahra jelas terdengar di kedua telinga Putri. Membuatnya mengerjabkan mata lalu perlahan melihat sekelilingnya. Tangannya terasa nyeri karena selang infus telah terpasang di tangan kirinya. Nampak Zahra sedang menangis di samping brankarnya. Dengan senyum di bibirnya, diraihnya tubuh putri kecilnya dibawa dalam pelukannya.
"Jangan menangis sayang,,, Bunda ada disini,,," dikecupnya kening Zahra sambil membelai rambut putrinya itu.
"Ahra takut,,, Bunda lama tidak bangun bangun, hikss,,, hikkss,,," tutur polos bocah kecil itu sambil memeluk erat Bundanya.
"Bunda tidak apa apa sayang,,,cuma lelah saja, sebentar lagi juga baikan. Zahra jangan menangis lagi ya,,,nanti Bunda sedih lo,,," Putri berusaha terus untuk menenangkan Zahra agar berhenti menangis. Mendengar perkataan Bundanya yang akan sedih jika ia menangis, Zahra pun menghentikan tangisnya. Karena ia tak mau jika Bundanya bersedih apa lagi menitikkan air mata karenanya. Terlalu sering dia melihat Bundanya menangis di tengah malam dengan menutup mulutnya agar tak di dengar oleh siapa pun. Namun Zahra dengan diam diam mencuri pandang pada Bundanya saat itu.
"Anak. pintar,,," Putri mengecup kening, kedua pipi lalu menautkan hidung mereka setelah Zahra berhenti menangis.
Tak berapa lama, masuklah seorang Dokter bersama dengan Nyonya Risda. Wanita itu tampak bahagia sekali melihat Putri sudah sadar. Sedari tadi ia kasihan pada Zahra yang terus menangis tak mau berhenti melihat Bundanya terbaring lemah diatas brankar dengan selang infus menancap di tangan kirinya.
"Alhamdulillah Put kamu sudah sadar, kasihan Zahra dari tadi menangis terus. Hingga aku manggil Dokter, takut dia kenapa napa." Nyonya Risda tersenyum sambil membelai rambut Zahra.
"Zahra sangat menyayangimu Put,,, dia berpikir lebih dewasa dari anak seusia dia. Sungguh kamu beruntung memilikinya." Tutur Nyonya Risda sambil mencubit lembut pipi Zahra, yang membuat anak itu pun cemberut.
Membuat orang orang di ruangan itu pun menahan tawa melihat kelucuan Zahra.
"Terima kasih Kak Risda,,,maaf aku sudah merepotkan kalian sekeluarga."
Dengan setulus hati Putri berterima kasih pada orang yang sudah berbaik hati mau menolongnya saat ini. Di dalam hati ia berjanji akan membalas semua kebaikan mereka suatu hari nanti.
"Sudah,,, jangan banyak bicara lagi, biar Dokter memeriksamu sekarang,,, silahkan Dok." Dengan senyum yang tersungging di bibirnya, Nyonya Risda mempersilahkan Dokter itu setelah ia menggeser tubuhnya sedikit menjauh, agar Dokter itu leluasa memeriksa Putri.
Setelah beberapa menit memeriksa, Dokter itu pun tersenyum.
__ADS_1
" Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semua baik baik saja, cuma Mbak Putri lebih banyak beristirahat saja, karena kandungan Mbak Putri terlalu lemah. Jadi harus beristirahat dan jangan banyak pikiran. Saya akan meresepkan vitamin, untuk kesehatan Mbak juga janin yang ada dalam rahim Mbak Putri sekarang." Tanpa ragu Dokter itu mengatakan semua hal yang membuat Putri juga Nyonya Risda menatapnya tak percaya. Bahkan mulut mereka sampai menganga dengan kedua bola mata yang membelalak sempurna. Berbeda dengan kedua wanita cantik yang berbeda generasi itu. Zahra justru sangat bahagia mendengar Bundanya hamil, hingga ia berjingkrak kegirangan.
"Yeayyy,,, Bunda hamil,,, berarti Ahra akan punya adik,,, yeayyy,,,," teriak bocil itu yang membuat Putri memberi isyarat dengan meletakkan telunjuknya di depan bibirnya, membuat Zahra pun terdiam.
"Dok,,, apa Dokter tidak salah, mana mungkin saya hamil, kalau saya tidak pernah berhubungan intim dengan lawan jenis." Bantah Putri pada analisa Dokter tadi yang jelas jelas salah di mata Putri.
Dengan senyum yang masih mengembang, Dokter itu kemudian menekan tombol yang ada di samping brankar Putri. Tak berapa lama kemudian, datanglah seorang perawat masuk dengan membawa peralatan medis Dokter tadi.
Setelah memberikan yang diminta Dokternya, perawat itupun pamit setelah sang Dokter mengizinkannya pergi.
"Mbak Putri bisa bangun dan berjalan ke kamar mandi, kan? Kalau bisa, coba Mbak melakukan tes kehamilan ini. Alat ini tidak akan bisa membohongi kita." Tutur Dokter sambil memberikan testpack pada Putri. Dan tanpa ragu Putri segera mengambilnya lalu melangkah ke kamar mandi dengan membawa infusnya.
Cukup lama Putri belum juga keluar dari kamar mandi membuat Nyonya Risda khawatir, begitu juga dengan Zahra. Namun bocah kecil itu tetep asyik bermain dengan ponsel Bundanya. Sedang Nyonya Risda yang mulai takut terjadi apa apa dengan Putri pun mengetuk pintu kamar mandi.
"Tokk,,, tokk,,, tokk,,,Put,,, kamu tidak apa apa kan? Jawab aku kalau kamu baik baik saja!" Suara Nyonya Risda terdengar begitu khawatir dan bergetar.
"Put,,, kalau kamu tidak menjawab lagi, maka akan aku dobrak pintu ini. Put,,, jawab aku!!" Suara Nyonya Risda agak meninggi berharap Putri bisa mendengar suaranya.
"Dok,,, kita dobrak aja pintu ini, saya khawatir dia pingsan lagi di dalam."
"Baik Nyonya,,, minggirlah,,, biar saya saja yang mendobraknya."
Saat Dokter itu bersiap ingin mendobrak pintu, perlahan pintu kamar mandi terbuka. Menampilkan sosok Putri yang nampak lesu dengan tatapan yang kosong.
"Put,,, kamu tidak apa apa,kan?" Nyonya Risda segera memapah tubuh Putri sampai ke brankar. Ia bisa merasakan tubuh Putri yang gemetaran.
__ADS_1
Putri masih tetap diam seribu bahasa, seakan dia tenggelam dalam dunianya sendiri.
"Mbak Putri bisa lihat hasilnya sendiri, kan? Dan Mbak pasti tahu alat ini akurat tak mungkin salah." Tutur Dokter itu yang tersenyum penuh misteri.
"Tapi itu tidak mungkin Dok,,, " bantah Putri sekali lagi dengan air mata yang mulai lolos dari pelupuk matanya. Hatinya berkecamuk dan sangat kacau sekarang, dengan kenyataan yang diterimanya, tak mungkin Reza mengambil keuntungan saat ia terlelap. Karena ia pasti tahu, tapi kenapa sekarang ia bisa hamil tanpa berhubungan intim. Hati dan pikiran Putri sekarang saling berperang satu sama lain.
"Boleh aku lihat test itu Put?" Suara Nyonya Risda membuyarkan lamunan Putri. Meski dengan malu yang terlihat di wajahnya, ia memberikan test itu pada Nyonya Risda.
"Ini,,, kamu hamil Putri? Karena terkejut dengan apa yang dilihatnya, maka kata kata itu terlontar begitu saja, ingin memastikan apa yang baru dilihatnya.
"Aku juga bingung Kak Risda, aku tidak pernah berhubungan intim dengan siapa pun, kenapa aku bisa hamil." Dengan derai airmata yang mengiringi tiap kata katanya. Sungguh ia tak percaya dengan apa yang menimpanya.
Tiba tiba pintu ruangan itu terbuka lebar, menampilkan sosok paruh baya yang kini memasuki ruangan itu dengan wajah yang penuh amarah. Tatapan membunuh ia tujukan untuk Putri.
"Berdiri kamu!! Kamu puas kan telah menghancurkan putraku, kamu puas kan telah menghancurkan keluarga Wijaya, hebat sekali ****** seperti kamu bisa melakukannya." Nyonya Wijaya dengan kasar mencabut infus Putri yang membuatnya meringis kesakitan dan darah mengucur dari luka infusnya.
"Oma jahat,,, sudah melukai Bunda,,, Ahra benci sama Oma,,, hikksss,, hikkss,,, Bunda,,,!" Zahra sudah memeluk Putri setelah memukul mukul tangan Nyonya Wijaya. Namun wanita itu tak menghiraukan Zahra.
"Ikut aku sekarang,,,!!! Liat apa yang sudah kamu lakukan pada putraku,,,!!" Nyonya Wijaya menyeret tubuh Putri dengan kasar, hingga pelukan Zahra pun terlepas, dan mau tak mau ia pun mengikuti langkah Nyonya Wijaya yang menyeretnya dengan paksa. Dokter dan Nyonya Risda tak dapat berbuat apa apa dengan ancaman lewat tatapan mata Nyonya Wijaya.
Meski banyak pasang mata yang menyaksikan kejadian tersebut, namun mereka tidak berani menolong, karena takut berurusan dengan keluarga Wijaya, mereka juga sayang pada nyawa juga keluarga mereka sendiri. Hanya tatapan kasihan yang bisa mereka berikan pada Putri yang meringis kesakitan karena tangannya yang terluka dan darah terus mengalir dari sana.
Sedang Nyonya Risda hanya bisa membuntuti dari belakang sambil menggendong Zahra, karena adanya bodyguard yang mengawal Nyonya Wijaya, membuat Nyonya Risda hanya bisa mengikutinya dari jauh.
"Masuk,,,!!!" Tubuh Putri terhempas ke dalam ruang ICU di mana kini Reza berada.
__ADS_1
bersambung,,,,,,