
"Maaf Pak,,, ada kepentingan apa Bapak kemari? Tumben jam makan siang Pak Hasnan ke kantor saya, ada yang bisa saya bantu?"
Reza mempersilahkan Pak Hasnan untuk duduk di kursi sofa ruang kerjanya dengan isyarat tangannya.
"Maafkan saya Pak Reza, datang disaat yang tidak tepat. Tapi saya ada perlu dengan Putri. Istri saya meminta Putri untuk menghubunginya sekarang. Karena ponsel saya tertinggal di kantor, makanya terpaksa saya kemari, karena tadi Putri tak ada di kantin, saya berpikir ia pasti ada di kantor Pak Reza."
Pak Hasnan menatap ke arah Putri yang berdiri tak jauh dari mereka saat ini.
Reza mengerutkan keningnya, dalam pikirannya sudah muncul berjuta pertanyaan tentang apa hubungannya Putri dengan istri Pak Hasnan. Sampai sampai orang yang terkenal dingin pada karyawan wanita itu mau menemui sendiri bawahannya. Pak Hasnan pun menyadari jika sekarang muncul pertanyaan di pikiran Reza.
"Pak Reza tidak perlu heran. Putri sekarang adalah teman bisnis istri saya. Tadi dia tidak sempat meminta no ponsel Putri. Dan ponsel yang saya gunakan untuk menyimpan no Putri adalah ponsel khusus untuk perusahaan, bukan ponsel pribadi saya. Dan kebetulan tadi tertinggal di kantor." Tutur Pak Hasnan menjelaskan pada Reza, karena ia tak mau ada salah faham diantara keduanya.
Meskipun Pak Hasnan sebenarnya juga merasakan hal yang aneh saat ia melihat Reza sedang memeluk Putri. Berdesir dalam hatinya rasa tak suka, namun ia mencoba menepis rasa itu, mencoba untuk berpikir positif aja.
"Oh,,, jadi sekarang Putri bekerja pada istri Pak Hasnan?" Tatap Reza pada Putri sambil bersandar di sofa.
"Iya tepatnya jadi sales istri saya, mulai dari tadi pagi. Istri saya percaya, Putri bisa diandalkan untuk memasarkan pakaiannya secara online. Jadi tidak mempengaruhi kerjaannya di perusahaan ini. Ya sudah Pak Reza, saya pamit sekarang, maaf kalau saya tadi mengganggu kalian." Tutur Pak Hasnan yang bangkit dari duduknya.
"Pak Hasnan tidak mengganggu kok, justru saya berterima kasih sama Bapak, saya tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya jika Bapak tidak muncul tadi. Karena saya tidak bisa mengendalikan rasa bahagia yang seakan dunia ini hanya milik saya." Tutur Reza sambil tersenyum.
Pak Hasnan hanya bisa tersenyum mendengar penuturan Reza. Sebagai sesama laki laki ia sudah paham maksud arah pembicaraan Reza. Sekarang ia pun yakin, jika seorang Reza benar benar mencintai Putri. Ia pun tersenyum ke arah Putri yang masih tertunduk malu dengan ucapan Reza tadi. Ia tak menyangka jika Reza akan mengucapkan kata kata itu.
"Put,,, ini kartu nama istriku, kamu hubungi no itu saja nanti." Pak Hasnan memberikan kartu nama istrinya pada Putri yang hanya di balas dengan anggukan oleh Putri.
"Beruntung kamu mendapatkan cinta Reza," bisik lirih Pak Hasnan saat ia melangkah meninggalkan ruang kerja Reza.
__ADS_1
Putri hanya terpaku mendengar perkataan Pak Hasnan. Hingga dia tersadar saat ada tangan yang merengkuh pundaknya lalu menduduk kannya di kursi kerjanya.
"Lagi ngelamunin apa kamu sayang,,, aku sudah ada di depanmu sekarang, bahkan menyentuhmu, jangan bilang kalau kamu sedang memikirkan pria lain sekarang, setelah kamu jadi milikku, jangan harap bisa memikirkan pria lain, hanya aku yang harus kamu pikirkan, ingat itu!" Bisik lirih Reza tepat di telinga Putri, hingga hangatnya hembusan nafas Reza bisa dirasakan olehnya. Memberikan sensasi yang membuat Putri bergidik hingga bulu bulu halusnya pun berdiri.
"Ehh,,, bukan begitu Pak, saya cuma,,, cuma,,," perkataan Putri terputus karena Reza sudah menutup bibirnya dengan telunjuk Reza.
"Selesaikan kerjaanmu, lepas itu kita pulang ke rumahku, ku kenalkan kamu dengan orang tuaku nanti." Reza merapikan rambut Putri yang menutupi sebagian wajahnya. Diambilnya tali rambut Putri lalu mengikat rambutnya.
"Tapi Pak,,, apa itu tidak terlalu cepat, saya belum siap Pak, say,,,," lagi lagi ucapan Putri terpotong karena ulah Reza yang menutup bibirnya dengan telunjuk Reza.
"Sudah ku bilang, tak ada penolakan, sayang,,, jadilah penurut,,," Reza mengangkat dagu Putri hingga jarak wajah mereka hanya beberapa inci saja.
Reza mendekatkan wajahnya seakan dia ingin menciumnya. Membuat darah Putri berdesir, tubuhnya terasa gemetaran, tangan dan kakinya sudah terasa dingin. Ia pun menutup matanya. Meski bukan pertama kali baginya, namun ia juga merasa malu serta takut. Perasaan itu bercampur aduk hingga tubuhnya pun memberikan reaksi yang berlebihan.
"Lanjutkan pekerjaanmu, aku tidak akan merusakmu dengan hal manis yang menyesatkan, sebelum kita sah secara hukum dan agama. Kamu bisa pegang kataku." Bisik Reza lalu bangkit dari duduknya dari meja kerja Putri melangkah ke arah meja kerjanya lalu duduk di kursi kebesarannya sambil menahan senyum. Sungguh dia puas telah mengerjai Putri.
Waktu pun terus bergulir, hingga tanpa terasa jam kerja pun usai. Sebagai anak baru, Putri masih menyesuaikan dirinya dengan kerjaan barunya. Makanya dia sedikit terlambat untuk pulang. Reza tetap setia menunggui Putri menyelesaikan pekerjaannya. Ia sengaja tidak membantu karena dia ingin tau kemampuan kinerja kekasih hatinya itu.
Putri masih sibuk dengan kerjaannya, hingga bunyi ponselnya menyadarkannya. Perlahan di ambilnya ponsel itu lalu menggeser layar, tertera nama Mbak Dewi. Putri pun segera menerima tlp itu.
"Assalamualaikum Mbak,," jawabnya.
"Waalaikum salam,,, Put,,, kamu masih kerja kah, apa sudah pulang, jangan lupa ya nanti jam 7 datang ke rumah, ada yang ingin aku sampaikan padamu, ini penting, sekalian bantu Mbak ya,,, tolong,,, bibi sedang pulang kampung, Mbak nggak ada yang bantu,,, ya Put,,, Mbak mohon,,," terdengar ucapan di seberang yang terdengar cukup sibuk dengan kerjaannya, karena terdengar bunyi blender.
"Iya Mbak,,, nanti Put bantu, ini,,,aku pulang sekarang,,, tenang saja ya,,," balas Putri sambil membereskan pekerjaannya.
__ADS_1
"Ok Put,,, Mbak tunggu ya,,, assalamualaikum,,," tutup Mbak Dewi tanpa menunggu balasan Putri.
"Waalaikum salam,,," jawab Putri meski di seberang telah menutup panggilannya.
Putri pun bergegas bangkit dari duduknya setelah di pastikan semua kerjaannya beres. Saat ia membalikkan badan, berniat melangkah keluar ruangan, matanya menangkap Reza yang memandangnya dengan tajam. Ia pun mendekati Reza yang duduk di sofa, lalu duduk di samping pria yang sudah menyematkan cincin di jarinya.
"Pak maaf,,, saya tidak bisa ikut ke rumah Pak Reza, Mbak saya minta bantuan, ia ada arisan keluarga, menyuruh saya membantunya, karena ART nya pulang kampung, boleh kan Pak,,, kita ke rumah Pak Reza besok atau lain kali jika ada waktu dan kesempatan. Ya Pak,,, please,,," tutur Putri memelas.
"Boleh,, asal aku ikut denganmu, gimana?"
Karena tak ada pilihan dan waktu yang sempit, akhirnya Putri menyetujuinya. Mereka berdua pun datang ke rumah Mbak Dewi berdua.
Sesampainya di rumah Mbak Dewi, nampak anggota keluarga Mbak Dewi sudah berdatangan. Melihat Putri datang bersama seorang pria, Mbak Dewi pun terkejut.
"Put,,, siapa dia,,,?" Tanyanya penuh selidik ke arah Reza.
"Kenalin Mbak,,, ini atasan Putri di kantor, namanya Pak Reza." Balas Putri sedikit canggung.
Dengan mengulurkan tangannya pada Mbak Dewi, Reza memperkenalkan dirinya. Yang dibalas uluran tangan oleh Mbak Dewi.
"Perkenalkan saya Reza, tunangan dari Putri." Tuturnya sopan.
"Pranngg,,," bunyi benda jatuh dari dalam.
Semua orang pun menatap ke arah itu. Nampak seorang pria tampan menatap tak percaya ke arah Putri.
__ADS_1
"Fai,,,, " lirih Putri yang tubuhnya sudah terhuyung ke belakang karena terkejut melihat pria itu.
bersambung๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น