
"Apa apaan ini,,,?* Tiba tiba Tuan Wijaya beserta istrinya memasuki ruangan di mana Reza sedang mentransfusikan darahnya pada Putri.
Sontak membuat Dokter Rasya juga Reza memandang ke arah keduanya. Dokter Rasya menatap kearah Reza. Seakan minta pertolongan agar terbebas dari pertanyaan kedua orang tua Reza. Namun Reza nampak cuek. Seakan ia ingin mengerjai Dokter tampan itu.
"Rasya,,, jelaskan semuanya!!!" Tatapan tajam terhunus kearah Rasya yang kini tengah bingung mencari alasan yang bisa diterima oleh orang tua Reza.
"Kenapa kau diam,,,ayo bilang,,, apa kalian sedang mempermainkan kami. Ingat jika kamu berbohong maka kau tahu apa akibatnya dari semua kebohonganmu!" Ancam Nyonya Wijaya sambil menunjuk muka Rasya.
Tenggorokan Rasya terasa tercekat, hingga untuk menelan salivanya saja terasa sulit. "Mampuslah aku,,, dasar Reza,,, kenapa diam saja,,,alasan apa yang bisa ku berikan." Gumam Rasya dalam hatinya, sambil memandang Reza serta orang tuanya secara bergantian.
"Awas kalau kau sampai membongkar rahasiaku." Reza sudah menatap horor ke arah Rasya. Membuatnya serba salah harus mengambil keputusan.
"Rasya,,,!!!" Bentak Nyonya Wijaya yang membuat Rasya mendongakkan kepalanya menatap kearah Mama Reza.
"Eeemm,,, itu Tante,, Reza baru saja tersadar dari komanya setelah Putri mengatakan mau jadi istri Reza. Sungguh ini keajaiban cinta. Hingga bisa membawa Reza kembali sadar dari komanya. Apa lagi saat membuka matanya ia melihat Putri pingsan. Kekuatan cinta yang membuatnya bangun dan seperti yang Tante lihat sekarang,,, ia baik baik saja." Tutur Rasya sambil tersenyum kikuk, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal untuk menghilangkan kecemasannya. Ia berharap penjelasannya bisa diterima oleh kedua orang tua Reza.
__ADS_1
"Kamu pikir kami ini bodoh ya Rasya,,, atau kamu yang terlalu pintar,,,?" Tuan Wijaya menatap tajam kearah Rasya juga Reza bergantian. Hawa dingin pun menyeruak di ruangan itu.
"Bukan begitu Om,,, sungguh saya mengatakan yang sebenarnya. Jika Om tidak percaya boleh melihat cctv yang ada di ruangan ini."
Untuk menyelamatkan dirinya hanya ini satu satunya cara agar terbebas dari hukuman Tuan Wijaya. Meski nantinya ia harus mendapatkan pembalasan dari Reza Wijaya. Namun ia lebih hormat dan patuh pada kedua orang tua Reza, karena ia sudah menganggap mereka seperti orang tuanya sendiri, semenjak kedua orang tuanya meninggalkan dirinya dalam sebuah kecelakaan pesawat, saat pulang dari berlibur di Paris.
"Kamu cari mati ya,,"gumam hati Reza, tatapan tajam sudah mengarah pada Rasya.
"Maaf Bro,,, aku takut dikutuk jadi anak durhaka nantinya. Hutang budiku pada mereka cukup banyak. Tak cukup mesti mengabdi pada mereka seumur hidup." Tatapan memelas Rasya ke arah Reza, berharap ia bisa mengerti ketidak berdayaannya. Reza pun mengerti akan maksud Rasya. Ia hanya bisa membuang nafasnya kasar.
"Ma,,, Pa,,, jangan salahkan Rasya, ini semua Reza yang minta. Mulanya dia tidak mau tapi karena aku paksa, akhirnya dia menuruti semua kemauan Reza. Jadi salahkan Reza, kalau mau menghukum seseorang, hukum saja Reza, tapi nanti setelah aku selesai mentransfusi darah. Aku tak mau terjadi apa apa dengan Putri karena ia sedang mengandung anak ku." Dengan rasa yang bersalah, Reza memasang wajah sedih dan menghiba pada kedua orang tuanya.
"Apa kamu bilang? Jadi wanita tak tahu diri itu sedang hamil? Jadi benar prasangka kami kalau ia hanya seorang j*l*ng yang melemparkan tubuhnya ke ranjang mu untuk mencapai inginnya. Reza,,, Reza,,, otakmu itu sudah rusak atau apa, banyak wanita baik baik dan terpandang yang selevel dengan kita malah kamu tolak. Sedang wanita ahhh,,," Nyonya Wijaya jatuh terduduk di sofa di ruang kamar itu sambil memijit keningnya yang terasa pusing mikirin putra semata wayangnya itu.
Sebenarnya ia senang jika akan memiliki cucu, penerus keluarga Wijaya nantinya. Namun bukan dari wanita seperti Putri.
__ADS_1
Tuan Wijaya yang melihat istrinya sedang kacau pun memilih untuk menenangkannya. Ia tak mau darah tinggi nya nanti akan kambuh lagi.
"Ma,,, kita tidak bisa memisahkan mereka sekarang, apa lagi ada keturunan kita di rahim wanita itu. Jika nanti setelah melahirkan, dan ia masih tidak memenuhi syarat menantu idaman kamu, kita bisa menyuruh mereka untuk berpisah, atau menyuruh Reza menikah dengan wanita pilihan kita nantinya. Coba pikirkan itu. Untuk sekarang, biar mereka menikah secara agama saja. Bagaimana,,?"
Bisik Tuan Wijaya yang membuat Nyonya Wijaya menatapnya tak percaya.
"Papa tidak sedang sakit, kan? Atau sedang ngigau sekarang?" Nyonya Reza menempelkan punggung tangannya ke kening suaminya. Yang langsung ditepis oleh Tuan Wijaya.
"Aku sehat Ma,,, bagaimana aku ngigau kalau tidak tidur? Kamu ini ada ada aja. Itu bisa kita jadikan senjata nantinya untuk membuat Reza mengikuti mau kita, sekarang kita mengalah dulu, setelah anak mereka lahir, kita cari jalan untuk memisahkan mereka lagi." Senyum licik terbit di bibir Tuan Wijaya yang disambut dengan senyum penuh kemenangan oleh Nyonya Wijaya.
"Ok Pa,,, Mama setuju, lagian aku juga tak sanggup melihat Reza meregang nyawa hanya karena wanita itu. Biar dia bermain main sebentar dengannya, setelah kita ambil anaknya, baru kita buang dia." Bisiknya lirih yang hanya bisa di dengar oleh mereka berdua. Itulah yang mereka pikir, apa yang mereka bicarakan tak di dengar oleh siapa pun.
Namun mereka telah salah besar, karena Putri tanpa mereka sadari sedari tadi telah sadar dari pingsannya. Dan dia sengaja tidak membuka matanya, karena mendengar ribut ribut. Ia tak mau memperburuk suasana nantinya dengan kesadarannya. Tanpa terasa air mata mengalir dari sudut matanya mendengar rencana orang tua Reza.
"Selama aku hidup, aku tak akan pernah memberikan anakku pada orang picik seperti kalian. Akan kutunjukkan, kalau aku pantas bersanding dengan putramu, Tuan Wijaya yang terhormat, dan aku pastikan, ia akan bertekuk lutut di tanganku." Jerit hati Putri yang terluka untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
bersambung ,,,,