KEKASIH BAYANGAN

KEKASIH BAYANGAN
bab20 penculikan Zahra


__ADS_3

"Hikkss,,, hikkss,, hikk,,, Bunda,,, Ahra takut,,," lirihnya sambil terus berderai air mata.


Sepanjang jalan Zahra terus menangis, ia benar benar takut melihat pria pria yang bermuka seram yang kini sedang menyanderanya.


"Hai bocah,,, bisa diam tidak???" Bentak Roy pimpinan dari penculik itu.


Yang menatap tajam kearah Zahra," telingaku sakit mendengar tangisanmu, kalau kamu tidak berhenti menangis, ku tutup mulutmu dengan ini,,," Roy menunjukkan pistolnya ke arah Zahra, yang membuat bocah itu pun menghentikan tangisnya karena ketakutan melihat senjata api itu.


Tubuhnya gemetaran di pojokan kursi mobil dengan memegangi kedua lututnya yang dinaikkan keatas kursi mobil. Sesekali terdengar sesenggukan dengan menyembunyikan wajahnya, dan lutut sebagai penopangnya.


"Kalian mencium bau pesing tidak?" Tiba tiba saja salah satu anak buah Roy bersuara.


"Eh,,, iya,,, aku juga menciumnya,,," balas yang lain.


"Hei bocah,,, kamu tidak ngompolkan?" Tanya salah satu anak buah Roy, karena bau itu menyebar mengisi seluruh ruangan dalam mobil itu.


Zahra yang memang ketakutan hingga gemetaran tubuhnya tak bisa menahan untuk tidak buang air kecil. Alhasil ia pun pipis di celananya. Mendengar pertanyaan orang yang berwajah seram sambil memelototinya membuat bocah itu semakin meringsek ke belakang sambil meringkuk ketakutan.


Air matanya terus jatuh meski tidak ada suaranya. Sedang para penculik itu menutup hidung mereka.


"Dasar bocah sialan,,, pake ngompol lagi,,, kalau mau kencing kenapa tidak ngomong,,, hah,,,???" Bentak Rio yang membuat Zahra semakin ketakutan. Dadanya terasa berdetak lebih kencang melihat tatapan membunuh dari Roy.


"Bunda,,,Bunda dimana,,, Ahra takut,,," gumamnya lirih sambil meremas lututnya dengan kedua tangannya.


Tak lama terdengar bunyi ponsel Roy. Segera ia mengambil ponselnya lalu menjawab sambungan tlp tersebut.


"Hallo sayang,,, semua berjalan lancar, kamu tenang saja, dendammu akan terbalas, sesuai rencana kita,,," jawabnya dengan senyum penuh kemenangan terukir di bibirnya.

__ADS_1


"Bagus,, tapi jangan sampai meninggalkan jejak, aku tak mau semua gagal." terdengar suara di seberang karena Roy meloudspiker ponselnya, hingga semua orang bisa mendengar percakapan mereka.


"Kasihan kau Nak,,, jika ada kesempatan akan kulepaskan kamu,,, semoga Yang Kuasa melindungi mu,,, Nak." Bisik dalam hati salah satu anak buah Roy yang duduk di sebelah Zahra.


"Tenang sayang,,, sekarang kami menuju luar kota, habis ini kami sampai di tol yang menuju Jakarta, dan kamu tahu apa itu artinya, kami akan menjualnya ke rumah bordir mommy di Jakarta. Wanita itu pasti akan membeli bocah ini dengan mahal, karena ku yakin, saat besar nanti ia akan jadi primadona di tempat mommy, kalaupun di jual di luar negeri pasti dapat uang berlimpah mommy, jadi kita dapat untung lagi kan,,, ha,,, ha,,, ha,,,," tawa Roy menggema di seluruh ruangan mobil.


"Bagus,,, dan semua jejak kita sudah kamu hapus kan?" Suara wanita itu yang terdengar begitu senang di seberang.


"Aku sudah mengambil mayat bocah di rumah sakit yang mirip dengan tubuh bocah ini. Dan semua sudah kupersiapkan, kamu tinggal liat berita esok pagi, seorang bocah mati mengenaskan terbakar di dalam mobil, dan bocah itu calon anak dari orang terpandang di kota Surabaya. Reza Wijaya, putra dari pemilik Wijaya Group,,, ha,,, ha,,, ha,,," tawanya kembali memecah keheningan malam kota Gresik.


"Ok,,, aku tunggu kabar itu,,," balas di seberang yang langsung menutup ponselnya.


"Selamat Bos,,, anda akan berhasil meraih hati Nona Besar, tapi jangan lupakan kami Bos,,," Ucap salah satu anak buah Roy.


"Ha,,, ha,,, ha,,, kalian tenang saja,,, jatah kalian akan kuberikan saat kita sudah menerima uang dari mommy, dan,,,," ucapan Roy terhenti sejenak, senyuman penuh kelicikan terbit disana.


"Dan setelah aku naik ranjang Nona Besarmu,,, ha,,, ha,,, ha,,," Roy sudah membayangkan wajah cantik dan tubuh mulus gadis yang telah dicintainya semenjak kecil itu. Hingga demi gadis itu ia rela melakukan apa saja demi mendapat perhatian dan cintanya.


Malam yang semakin larut membuat laju kendaraan mereka semakin cepat karena jalan raya telah sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang melintasi jalur tersebut.


"Bos,,, kita isi BBM dulu sebelum masuk jalur tol, takutnya persediaan BBM kita tak cukup sampai SPBU selanjutnya." Kata anak buah Roy yang tengah menyetir saat ini.


"Ok,, kita isi BBM dulu, sekalian aku juga mau ke toilet sebentar." Balas Roy sambil menyelipkan senjatanya di balik saku jaketnya.


Sepuluh menit berjalan, akhirnya mereka sampai di SPBU. Segera sopir mengantrikan mobilnya, meski hanya ada beberapa kendaraan aja di depannya.


"Kalian jaga anak itu baik baik, jangan sampai lepas, nyawa kalian taruhannya." Peringatan Roy pada anak buahnya. Lalu ia turun menuju toilet umum di SPBU tersebut.

__ADS_1


Hampir sepuluh menit Roy belum juga kembali, anak buahnya yang lain pun ikut turun karena ingin buang air kecil juga. Menyisakan sopir juga anak buah yang ingin melepaskan Zahra. Setelah ada sebuah mobil di belakang mereka, pria itu pun berbisik pada Zahra.


"Nak,,, keluarlah pelan pelan saat aku membuka pintu mobil nanti, mintalah tolong pada mobil di belakang itu, ya,,," busuknya lirih yang diangguki oleh Zahra.


"Bro,,, aku juga kebelet buang air kecil ini, tolong jaga anak ini ya,,, " kata pria itu yang langsung membuka pintu mobil tanpa menunggu jawaban dari temannya yang kini sedang membayar uang BBM pada petugas SPBU. Hingga ia tak menyadari jika Zahra keluar dari mobil dan mengetuk pintu mobil di belakangnya. Namun belum sempat bocah itu masuk ke dalam mobil, sudah ada tangan yang meraih tubuh mungilnya, lalu berlari menuju mobil mereka.


"Om,,, mana Bunda,,,?" Tanya bocah kecil itu dengan.gemetaran.


"Bunda di rumah sayang,,, sekarang kita pulang ya,,," kata pria itu yang diangguki oleh Zahra.


Namun belum sempat mereka masuk ke dalam mobil, sebuah tembakan terdengar dan pria itu pun tertembak di bahunya.


"Sayang,,, cepat masuk mobil,,,cepat bawa Zahra pergi, lindungi dengan taruhan nyawamu." Tutur pria itu sambil mengambil senjatanya di balik jas mereka.


Mobil itu segera meninggalkan tempat itu, dan terjadi baku tembak antara penculik dan anak buah Reza. Membuat semua orang di SPBU itu berlarian sembunyi, menyelamatkan diri mereka masing masing, takut terkena peluru nyasar. Karena jumlah yang tidak seimbang, akhirnya anak buah Reza yg terluka tadi bisa di lumpuhkan.


Roy dan anak buahnya segera menyusul mobil yang membawa Zahra pergi. Karena hanya satu jalur saja memudahkan mereka untuk melacaknya. Kejar kejaran pun terjadi. Beberapa kali Roy melepaskan tembakannya memperingatkan sopir yang membawa Zahra untuk berhenti. Namun tak dihiraukan oleh sopir itu. Hingga mobil Roy menyalip dan memotong mobil itu membuatnya berhenti mendadak.


Zahra sudah gemetaran ketakutan disamping sopir.


"Zahra tidak bole takut, pejamkan mata dan tutup telinga ya,,," belai lembut sopir itu di pucuk rambut Zahra yang menuruti kata katanya.


Segera sopir itu mengambil senjatanya, dan bersiap menembak ke arah Roy dan anak buahnya.


Roy yang sudah turun bersama ke lima anak buahnya segera berjalan menuju mobil yang ditumpangi oleh Zahra. Saat tangannya ingin membuka pintu mobil terdengar.


"Duuaaarrr,,," bunyi mobil yang meledak dan terbakar.

__ADS_1


bersambung,,,,,


__ADS_2