KEKASIH BAYANGAN

KEKASIH BAYANGAN
bab 36.


__ADS_3

Setelah menyiapkan makan malam diatas meja makan, Putri pun melangkahkan kaki menuju kamarnya, di mana kini Reza sedang istirahat setelah pulang dari kantor tadi. Setelah ada drama yang ditunjukkan oleh mertua juga calon mantu idamannya. Saat mengingat semuanya, Putri hanya menarik nafasnya dalam dalam, berusaha menenangkan hatinya.


Perlahan di bukanya pintu kamar lalu melangkah masuk, dilihatnya sang suami sedang terbaring di ranjang mereka dengan lengan yang menutupi kedua matanya. Rona kelelahan nampak jelas di raut wajah yang terlihat lesu.


Perlahan Putri duduk disamping tubuh suaminya. Disentuhnya lembut lengan yang menutupi kedua mata Reza.


"Mas,,, kita makan malam dulu yuk,,,udah kusiapkan semuanya. Mama Mas juga Kayla sudah menunggu di bawah."


Reza pun membuka matanya, merasakan adanya sentuhan di tangannya. Ia pun memandang teduh pada wajah cantik yang ada di depannya sekarang. Perlahan ia tarik jemari yang menyentuh tangannya hingga Putri terjatuh ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku,,, untuk semua yang telah terjadi, maafkan sudah membuatmu sakit hati dan menangis tadi." Reza menciumi pucuk kepala istrinya.


"Berjanjilah sayang,,, kamu akan terus diduduki meski cobaan akan terus menerpa kita nantinya." Lanjut Reza sambil membelai rambut Putri.


Putri pun mengangkat tubuhnya dari dada bidang suaminya. Menatap penuh kasih sambil menganggukkan kepalanya. "Kita hadapi semua bersama, aku tidak akan meninggalkan Mas, kecuali Mas sendiri yang menyuruhku pergi." Dengan menahan kegetiran di hatinya, Putri berusaha tersenyum pada suami yang sudah merubah hidupnya saat ini. Ia sadar, status sosial yang berbeda pasti jadi masalah jika salah satu pihak tidak terima dengan kekurangan pasangannya. Makanya ia sudah bertekad untuk memantaskan diri mendampingi seorang Reza Wijaya.


"Mas,,, bole aku meminta sesuatu pada Mas,,,"

__ADS_1


Reza pun bangun dari tidurnya, bersandar pada kepala ranjang, menatap sendu kearah istrinya yang telah disakitinya hari ini. Sejuta perasaan bersalah ada di hati Reza saat ini. Namun ia tidak bisa menolak keputusan Mamanya jika tetap ingin bersama dengan Putri menghabiskan sisa usia mereka berdua, dalam ikatan yang suci berdasarkan cinta yang indah tuk keduanya. Namun tidak untuk orang tua Reza.


"Kamu mau minta apa sayang,,,?" Jemari Reza sudah membelai lembut pipi istrinya. Menarik tubuh itu ke dalam dekapannya. Lalu menciumi kening istrinya.


"Mas,,, aku ingin bekerja lagi bersama dengan Kak Risda, boleh ya,,," Rengek Putri seperti anak kecil dengan memainkan jemarinya di kaos yang dipakai oleh Reza. Membuat aliran darah Reza terasa panas karena ulah istrinya itu. Namun sebisa mungkin ia menahannya.


"Kenapa harus dengan Nyonya Risda? Kamu bisa kembali ke perusahaan lagi." Kini tangan Reza sudah mulai bergerilya menyentuh tubuh istrinya.


"Mas,,, hentikan,,, aku sedang serius ini,,," tutur Putri cemberut , merasa kesal dengan ulah suaminya sekarang. Reza hanya menahan senyum melihat wajah imut istrinya saat sedang kesal seperti ini. Rasanya ingin sekali dia melahap bibir mengerucut yang merona itu.


"Baiklah,,, beri aku alasannya, jika masuk dalam logikaku, maka akan aku ijinkan, namun jika tidak, anggap kita tidak pernah membicarakan ini."


Reza pun mengerutkan keningnya seakan sedang berpikir."Apa kamu yakin sayang dengan keputusanmu?"


"Iya Mas,,,aku ingin sukses dengan jerih payahku sendiri."


"Baiklah,,, jika itu yang kamu mau, asal kamu bahagia aku akan selalu mendukungmu. Raihlah suksesmu, tapi ingat,,, jangan sampai keinginanmu itu akan menelantarkan suami juga anakmu nantinya, aku tidak mau itu."

__ADS_1


Reza mencubit hidung Putri dengan gemas.


"Aku janji Mas,,, tidak akan menelantarkan suami juga anak anakku nantinya saat sukses." Mata Putri berbinar dengan senyum terus mengembang di bibirnya saat membayangkan apa yang di impikannya menjadi kenyataan. Hingga tanpa disadarinya, tangan Reza sudah mulai bergerilya ke tempat favoritnya, membuat Putri membelalakkan matanya dan berusaha menahan ******* yang akan keluar dari mulutnya karena ulah Reza.


"Mas,,, kita makan dulu,, apa kamu tidak lapar?" Tangan Putri berusaha menepis tangan Reza yang sedang memegangi puncak kenikmatannya.


"Aku memang laper dan ingin makan, tapi bukan makanan melainkan kamu, kita bikin anak sebanyak mungkin ya sayang, biar rumah kita ramai akan canda tawa anak anak kita." Bisik Reza yang sudah mengungkung istrinya dalam kendalinya.


Bukan tanpa alasan Reza menginginkan anak yang banyak. Mungkin karena ia merasa kesepian sejak kecil, membuatnya mendambakan kehangatan keluarga. Ia yang hanya semata wayang, hidup tanpa sentuhan kasih sayang kedua orang tuanya yang lebih mementingkan pekerjaan juga bisnis mereka. Membuat Reza tumbuh menjadi anak yang dingin tanpa tersentuh. Dan Putri bisa memahaminya.


"Aku akan melahirkan sebanyak yang aku bisa, asal kita semua bahagia."


Mendengar jawaban Putri nampak kebahagiaan jelas terlihat di wajah tampan itu. Ia kemudian menempelkan kedua kening mereka lalu hidung dan terakhir ciuman lembut mendarat di bibir Putri.


"Mas,,,," desah Putri yang sudah terbakar oleh permainan Reza membuatnya semakin ingin menguasai tubuh istrinya. Saat ia ingin melakukan penyatuan, tiba tiba saja pintu kamar terbuka dengan lebar.


"Reza,,,," teriak wanita itu

__ADS_1


bersambung,,,,,


__ADS_2