KEKASIH BAYANGAN

KEKASIH BAYANGAN
bab 26 janji cinta


__ADS_3

Tak terasa sudah seminggu semenjak kejadian di rumah sakit kemarin. Membuat Reza semakin posesif pada Putri. Ia tak mengizinkan Putri tinggal di kosan lagi. Melainkan tinggal di rumahnya bersama dengan orang tua Putri juga Zahra. Yaitu rumah yang sengaja disiapkannya untuk keluarga Putri agar aman dari jangkauan orang orang yang ingin menyakiti mereka. Kemana mana Putri harus bersama dengan dirinya.


Dan kini, mereka berdua tengah duduk di depan penghulu. Meski hanya keluarga dekat saja yang menghadiri acara sakral mereka, namun itu cukup membahagiakan bagi kedua mempelai juga orang tua Putri dan Zahra. Meski dengan make up yang tipis, Putri terlihat cantik dengan kebaya modern berwarna putih yang di pakainya. Membuat semua mata terkagum melihatnya. Dan itu membuat seorang Reza menahan marahnya, karena kecantikan Putri bisa dinikmati oleh orang banyak. Rasanya ingin sekali ia menarik Putri ke kamarnya lalu mengurungnya.


"Andai ini bukan hari bersejarah tuk kita, aku pasti sudah mengurungmu di kamar, berani sekali mereka menatap wajah cantikmu." Bisik Reza yang hanya ditanggapi dengan senyum oleh Putri.


"Bersabarlah,,," bujuk Putri sambil tersenyum menundukkan wajahnya, sedikit melirik ke arah Reza. Membuat pria itu semakin gemas pada calon istrinya itu. Karena Putri nampak semakin menggoda dengan lirikannya.


Berbeda dengan orang tua Reza yang bermuka masam sedari tadi. Sebelum acara ijab qobul di mulai hingga acara itu mau dilaksanakan oleh putra mereka. Hanya tatapan dingin yang mereka tunjukkan.


"Saya terima nikah dan kawinnya Liana Putri binti Madi dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai." Dalam sekali tarikan nafas Reza mengucapkannya dengan lantang dan jelas.


"Sah,,," kata para saksi yang menjadi saksi menyatunya dua insan yang berbeda dalam segala hal tersebut.


Setelah mencium punggung tangan Reza sebagai bakti seorang istri. Putri pun meminta restu pada kedua orang tuanya setelah Reza mencium keningnya.


Perlahan Putri mencium punggung tangan kedua orang tuanya diikuti oleh Reza. Tangis bahagia tak dapat di sembunyikan oleh Ibu Putri, yang melihat anaknya telah menemukan kebahagiaannya. Itulah yang ada di pikiran mereka. Tanpa tahu apa yang dirasakan oleh Putri yang sebenarnya. Beban berat telah ada di pundaknya sekarang. Ia harus bisa membuktikan pada orang tua Reza, kalau ia pantas mendampingi Reza menempuh sisa umur mereka. Ia berjanji pada dirinya sendiri juga demi orang orang yang menyayanginya. Karena itu, ia akan bekerja keras mulai dari sekarang. Meskipun Reza mau menerima dia apa adanya.


Setelah melepas pelukan Ibunya. Putri pun memeluk Zahra dan menciumi seluruh wajah bocilnya berulang kali. Membuat anak itu tertawa karena kegelian.


"Bunda sudah,,, Ahra geli,,," tuturnya samb terus tertawa karena Putri tak hanya menciuminya tapi juga menggelitikinya. Karena ia pasti akan merindukan tawa serta senyum itu saat jauh dari Zahra nantinya. Reza telah memutuskan akan mengajaknya berbulan madu setelah acara pernikahan mereka selesai. Itu karena Reza harus segera membuat Putri hamil agar kebohongannya tak terungkap oleh orang tuanya juga Putri.


Mereka akan berbulan madu ke pulau miliknya karena tak ingin ada yang mengganggu nantinya. Mulanya Putri menginginkan ke Bali, namun Reza menolaknya. Karena Putri pasti akan mengajak jalan jalan nantinya. Dan itu bisa mengganggu rencananya yang hanya ingin menghabiskan hari hari mereka di kamar saja. Meski pernikahan ini terkesan sederhana dan di tutupi dari publik, namun sungguh berkesan bagi keduanya.

__ADS_1


Putri pun melepas pelukannya dari Zahra. " Ingat ya,,, Zahra tidak boleh nakal selama Bunda tidak ada. Jangan membuat Emak juga Bapak bersedih, anak Bunda kan pintar,,," gemas Putri sambil menoel hidung Zahra.


"Asiiaapp Mom,,," tuturnya polos sambil tersenyum memberi hormat dengan tangannya. Membuat Putri tersenyum begitu juga dengan yang lain, melihat tingkah lucu dari Zahra. Mereka sungguh gemas dengan kecerewetan dari bocil itu.


"Siapa yang mengajari Zahra manggil gitu,,," tanpa menjawab Zahra hanya menunjukkan tangannya ke arah Livia yang tersenyum canggung pada Putri.


"Oh,,, Kak Livia,,," senyumnya pun mengembang kearah gadis itu. Lalu mencubit pelan hidung Zahra hingga memerah karena gemasnya. Yang dibalas Zahra dengan wajah yang masam dan bibir yang cemberut.


"Sayang,,, kita minta restu pada Mama dan Papa." Bisik Reza yang dibalas anggukan oleh Putri.


Reza pun meminta restu pada Mama dan Papanya yang diikuti oleh Putri. Namun bisa ditebak, mereka memalingkan wajahnya saat Putri mencium punggung tangan mereka. Setelah Putri melepaskan tangannya, mereka segera bangkit dari duduknya, lalu melangkah kearah tempat mencuci tangan dan membasuh tangan mereka dengan sabun berulang kali, seakan ada kuman yang menempel tak mau hilang dari tangan mereka.


Orang tua Putri hanya bisa mengelus dada mereka. Melihat perlakuan orang tua Reza pada putrinya, namun mereka tak bisa berbuat apa apa hanya bisa terdiam dengan sayatan luka di hati mereka. Karena Putri sudah memperingatkan semuanya.


"Kuatkan hatimu Put,,, ini awal dari peperangan mu, kamu harus tegar, kokoh seperti karang yang tak akan goyah meski dahsyatnya gelombang ombak yang menghantam." Hibur Putri pada dirinya sendiri.


Meski ia tahu, karang itu tak berhati juga tak bisa merasakan sakit. Berbeda dengan dirinya, hatinya terlalu halus, tak tegaan, itulah yang dimanfaatkan oleh orang lain. Hingga membuat masalah sendiri untuk dirinya.


"Selamat ya Put,,," kata Nyonya Risda yang membuyarkan lamunan Putri. Karena wanita itu sudah memeluknya serta memberi ucapan selamat.


"Terima kasih ya Kak Risda untuk semuanya, kalau tanpa bantuan Kak Risda mungkin aku tidak ada di sini sekarang." Tuturnya lirih dengan senyum kesedihan terbit di bibirnya.


"Tak perlu sungkan,,, kapan pun kamu butuh bantuanku, aku selalu siap, kamu sudah aku anggap adik sendiri Put,,," dengan penuh kasih Nyonya Risda membelai rambut Putri.

__ADS_1


Kerinduannya pada sosok adik yang telah meninggal dapat ia obati dengan hadirnya Putri, karena wajah mereka begitu mirip. Itulah kenapa Nyonya Risda menyayangi Putri dan menganggap dia adik sendiri dan Zahra seperti ponakannya sendiri.


" Selamat ya Pak Reza,,," Pak Hasnan mengulurkan tangannya pada Reza yang juga disambut Reza dengan senyum.


Saat mereka sedang asyik bercakap cakap, terdengar kegaduhan dari luar. Reza pun melihat ke luar karena ia tahu siapa yang membuat keonaran, diikuti oleh yang lain.


Nampak Sasa berusaha masuk ke dalam namun di tahan oleh anak buah Reza.


"Lepaskan,,, biarkan dia masuk,,," perintah Reza yang diangguki oleh anak buahnya.


Sasa yang terlepas dari cengkraman anak buah Reza pun berjalan setengah berlari ke arah Reza lalu mencium bibir Reza. Membuat semua orang terkejut dengan ulahnya, termasuk Putri. Untung Zahra berada di dalam beserta Livia dan Zayn. Semua orang terperangah saat melihat Sasa lebih mengeratkan pelukannya. Reza yang sesaat terkejut dengan ulah Sasa segera melepas pelukan Sasa dan mendorongnya hingga jatuh.


"Dasar wanita gila,,, pergi atau aku akan berbuat kasar padamu." Dengan wajah yang memerah karena marah dan malunya pada semua orang. Namun Sasa tak bergeming justru malah tertawa lebar.


"Ha,,, ha,, ha,,, kau mengusirku sayang,,, setelah yang terjadi pada kita malam itu." Senyum licik terbit di bibir Sasa.


Ia pun mengambil ponselnya, lalu menunjukkan sebuah video yang membuat semua orang tertegun tak percaya. Air mata Putri pun mengalir dengan sendirinya. Tanpa kata ia pun berlari keluar dari rumah itu dan,,,


"Braakkk,,," suara tabrakan pun terdengar.


"Putri,,,," teriak semua orang.


bersambung,,,,,

__ADS_1


__ADS_2