KEKASIH BAYANGAN

KEKASIH BAYANGAN
bab 38


__ADS_3

"Putri,,," seorang wanita nampak terkejut melihat Putri ada di depannya sekarang. Wajah yang dulu pernah menemani hari harinya saat mereka masih berada di kota asal nenek Putri berada yaitu Pati, Jawa Tengah.


"Amanda,,," panggil Putri tak kalah terkejutnya melihat sahabat baiknya kini berada tepat di depan matanya.


"Apa kabarmu, bagaimana kabar Zahra juga Ibu dan Bapak." Tanya Amanda di saat mereka saling berpelukan, melepaskan rindu pada sahabat yang sudah lama tidak pernah berjumpa lagi setelah Putri memutuskan kembali ke Surabaya, mencari pekerjaan guna menghidupi keluarga kecilnya.


"Alhamdulillah,,, Ibu, Bapak juga Zahra sehat semua,, gimana kabar kamu Manda, aku kangen banget sama kamu, hampir dua tahun kita tidak ketemu." Putri menggenggam erat tangan sahabatnya itu. Ia merasa banyak berutang budi pada sahabatnya, di mana saat ia terpuruk, Manda selalu ada di sampingnya dan membantu semua masalah ekonomi Putri saat ia masih hamil Zahra, meski saat itu Putri juga bekerja di salah satu toko roti milik Amanda.


"Seperti yang kamu lihat sekarang Put,,, aku baik baik saja dan dalam keadaan sehat wal' afiat tanpa kekurangan suatu apa pun ,,,,"


Putri hanya terkekeh mendengar jawaban dari Manda, karena ia tau betul, jika sahabatnya itu kalau sudah kumat cerewetnya, rel kereta api pun masih kurang panjang dari ucapannya.


"Kamu itu ya,, tidak berubah sama sekali,,," kekeh Putri yang tanpa sadar sudah melupakan suaminya karena terlalu gembira bertemu dengan Manda.


"Ekhemm,,," deheman itu pun menyadarkan Putri jika mereka tidak hanya berdua saja. Ia pun menoleh ke arah suaminya lalu tersenyum kecut.


"Maaf,,," lirihnya lalu mengulurkan tangannya ke arah Reza yang di sambut oleh lelaki itu.


"Sapa Put,,," tanya Manda tanpa berkedip melihat sosok pria tampan di depannya sekarang.


"Oh ya Tuhan,,, ia ganteng sekali,,, kenapa hatiku jadi berdetak tak karuan begini." bisik hati Manda yang merasa kagum akan ciptaan sempurna yang Kuasa.

__ADS_1


"Manda,,, kenalkan ini suamiku,,,"


"Apa?"" Manda sungguh terkejut dengan penuturan Putri. Ia tak menyangka jika pria yang mampu menggetarkan hatinya adalah suami dari sahabatnya sendiri.


Dengan sedikit malu malu, Manda mengulurkan tangannya pada Reza. Namun Reza tidak membalas uluran tangan Manda. Membuat Manda menarik lagi tangannya dengan rasa kecewa.


"Mas,,," lirih Putri sambil menarik sedikit kaos yang di pake Reza. Ia merasa tidak enak dengan Manda atas sikap Reza yang terkesan sombong itu.


"Hmmm,,, " Sorot mata Reza tajam ke arah Putri, membuatnya sedikit takut karena tahu jika suaminya sekarang sedang marah. Dan ia tahu itu semua karena salahnya yang sudah mengacuhkan suaminya tadi.


"Mau tetap berdiri disini atau masuk,,, atau kita pulang saja, hmm,,,?"


"Maaf,,, kita masuk sekarang,,, ayo Manda,,," ajak Putri pada sahabatnya itu.


"Tentu saja tidak,,, aku malah senang sekali bisa mentraktirmu malam ini, anggap saja sebagai ucapan selamat datang di kota ini dari ku. Udah ayoo,,,, jangan banyak berpikir."


Putri pun menarik tangan Manda agar mengikutinya. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bernostalgia dengan sahabatnya itu. Meski ia tahu suaminya sedang marah sekarang. Tapi ia tahu bagaimana nanti caranya mendinginkan amarah dari seorang Reza Maula.


Keduanya pun melangkah masuk menuju meja yang sudah di pesan oleh Reza barusan.


Kini ketiganya sudah duduk saling berhadapan. Reza tidak menghiraukan keberadaan Manda, meski ia tahu jika wanita itu sering mencuri pandang padanya saat berbicara dengan Putri.

__ADS_1


"Oh ya,,, kamu ke Surabaya ada urusan apa Manda kalau aku boleh tau."


"Aku mau buka cabang lagi di sini, rencananya di daerah sini Put. Tadi aku sudah meninjau lokasinya dan nurut aku sangat strategis. Tinggal nunggu teman yang mau bekerja sama dengan aku, kita janjian di resto ini, nggak tau nya ketemu sama kamu."


Seorang pelayan resto datang dengan membawa pesanan mereka. Lalu menata rapi di meja mereka.


"Terima kasih ya Mbak,,," ucap Putri tulus diiringi senyumnya tertuju pada pelayan resto tersebut.


"Sama sama Mbak,,, silahkan menikmati hidangan kami, semoga semuanya suka, saya pamit dulu, permisi,,," tutur pelayan itu dengan ramah.


"Ayo Manda,,, jangan sungkan sungkan,,, anggap hari keberuntungan mu karena aku yang traktir, bukan kamu yang traktir aku,,, hi,, hi,, hi,,," kikik Putri yang di sambut oleh tawa Manda.


Mereka pun mengingat saat saat mereka di Pati, Manda yang selalu mentraktir Putri makan nasi gandul tiap harinya, karena kalau tidak, maka debay akan menolak semua makanan yang di makan Putri. Dengan membuat Putri memuntahkan semua makanan itu kembali.


"Aku jadi kangen sekali sama Zahra, apa dia masih ingat aku ya Put,,, sekarang ia pasti cerewet sekali." Tutur Manda di sela sela makan mereka.


Putri semakin asyik mengobrol dengan Manda, menceritakan semua tentang Zahra pada sahabatnya itu, di selingi canda tawa saat mereka membahas bocah cantik tersebut. Membuat Reza semakin jengah mendengarnya. Ia benar benar merasa di abaikan oleh istrinya karena kehadiran wanita yang dia tahu siapa itu sebenarnya Manda.


"Bisa tidak kalian diam saat makan." tutur Reza dengan penekanan di setiap katanya. Membuat kedua sahabat itu pun terdiam dan hanya fokus pada makanan mereka.


"Dasar kulkas,,, tapi mengapa aku semakin tertarik dengannya." Manda mengumpat dalam hatinya.

__ADS_1


bersambung,,,,,


__ADS_2