KEKASIH BAYANGAN

KEKASIH BAYANGAN
bab 12 Putri bimbang


__ADS_3

Waktu adalah obat penyembuh untuk luka. Seberapa banyak yang kau butuhkan, ia akan setia menemanimu dan takkan mengkhianatimu.


Sudah hampir 4tahun setelah luka yang digoreskan oleh Aby, membuat Putri tak percaya akan cinta laki laki. Meski selama ini banyak pria yang datang silih berganti, namun ia tetap pada pendirian yang tak terpatahkan oleh apa pun. Namun saat ia melihat ketulusan di mata seorang Reza, hatinya pun luluh.


Perhatian Reza membuatnya tak habis pikir, bagaimana ia bisa tau semua tentang makanan favoritnya yang hanya nenek serta dia saja yang tahu selama ia tinggal di rumah neneknya,


Itupun hanya ada satu penjual yang selalu jadi langganannya.


"Apa yang harus aku lakukan, menerima atau menolak, lebih baik aku tanya pada Ibu saja." lirihnya lalu mengambil ponselnya.


Setelah menekan beberapa nomer, akhirnya sambungan pun terhubung. Dari seberang nampak terdengar suara bocil yang sangat dirindukan olehnya.


"Assalamualaikum Bunda,,,," jawab Zahra dari seberang.


"Waalaikum salam sayang,,, Zahra lagi ngapain sekarang,,, sudah makan belum,,,jangan nakal ya kasihan Emak." Wajah Putri nampak bahagia mendengar suara bocil tercintanya.


"Ahra sudah makan Bunda, ini mau tidur siang,,, Ahra nggak nakal kok,,, kapan Bunda pulang lagi,,, Ahra sudah kangen sama Bunda,,,?"


"Sabar ya sayang,,, minggu besok kalau Bunda nggak lembur pasti pulang,,, oh ya,,, Emak mana, Bunda pingin ngomong." Tetes airmata jatuh dari sudut matanya, mendengar penuturan buah hatinya.


"Emaaakkkk,,,, Bunda pingin ngomonggg,,," teriak Zahra dari seberang, membuat telinga Putri berdengung mendengarnya. Senyuman pun terbit di bibirnya yang merona kemerahan.


Tak butuh waktu lama, terdengar suara wanita yang telah melahirkannya.


"Assalamualaikum Nduk, ada apa kamu nelpon siang siang gini, tumben biasanya kamu nelpon kalau Zahra mau bobo malem saja."


"Ibu,,, aku sedang bingung sekarang,,, ada pria yang melamarku, tapi aku belum tahu seperti apa dia, sifatnya juga, aku takut ia akan seperti Mas Aby, aku harus kasih jawaban apa Bu, aku bingung sekarang."

__ADS_1


"Tanyakan pada hatimu, apakah ada keraguan disana? Ini adalah hidupmu sendiri Nak,,, kamu yang tahu pasti bahagiamu, tak semua pria seperti Aby, apa lagi kamu sudah sendiri melewati deritamu selama ini, mungkin Allah memilihkan pria yang tepat untukmu saat ini. Kenapa tak kau coba untuk membuka hatimu. Seiring waktu, kamu pasti tahu orang seperti apa yang mencintaimu saat ini. Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu, Nak."


Jawaban Bu Bathi dari seberang yang terdengar bahagia juga cemas. Dan itu bisa di mengerti oleh Putri.


"Aku mengerti maksud Ibu, terima kasih ya Bu, doakan Putri, semoga saja langkah yang Putri ambil ini terbaik untukku ke depannya, Zahra mana Bu, aku pingin pamit nanti di cari kalau nggak pamit."


"Zahra sudah tidur, kekenyangan mungkin, habis makan mie ayam tadi, anakmu itu tak jauh dari kamu, nggak mau nasi tapi sama mie, Masya Allah,,,, he,,, he,,he,,," kekeh Bu Bathi dari seberang.


"He,,, he,,, he,,, kan seperti Ibu juga, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ya sudah Bu, saya pamit dulu, assalamualaikum,,,"


"Kamu itu,,, ya sudah hati hati disana, jaga kesehatan kamu,, waalaikum salam,,,"


"Insya Allah,, Bu,,," Putri pun menutup sambungan tlp nya. Lalu mengambil cincin dari kotak kecil itu. Mengamatinya dengan seksama sambil membolak balikkan cincin bermata berlian warna putih itu.


Setelah menimbang cukup lama, akhirnya Putri memasukkannya lagi ke kotaknya. Tanpa disadarinya, dari arah belakang ada tangan yang menyambar kotak itu. Putri pun berbalik, melihat siapa yang telah merampas kotak cincinnya. Matanya membelalak sempurna melihat Sasa sudah berdiri dengan arogannya.


"Pleeekkk,,," Putri pun memegangi pipinya yang memerah karena tamparan Sasa.


"Maaf kalau saya sudah menyakiti hatimu, tapi semua tuduhanmu itu tidak benar, aku tidak pernah mengambil apa pun dari orang lain, termasuk kekasih hatimu itu. Jadi tolong jaga ucapanmu." Ucap Putri meninggi karena emosinya yang tak terkontrol sekarang.


"Dasar ******,,, aku akan menghancurkan mu beserta dengan keluarga miskin mu itu, juga anak haram mu,,," ancam Sasa yang ingin menampar Putri sekali lagi.


"Akkhhh,,," pekik Sasa yang merasakan sakit di tangannya.


Reza yang mencengkram tangan Sasa pun menghempaskan tangan itu hingga tubuh Sasa membentur meja kerja Reza. Sasa meringis kesakitan. Hatinya terasa sakit melihat orang yang dicintainya lebih membela janda gatel itu.


"Kamu tidak apa apa, Put?" Reza nampak cemas melihat Putri yang memegangi pipinya.

__ADS_1


"Sini ku lihat,,," tanpa persetujuan Putri ia mengangkat tangan Putri yang memegangi pipinya. Wajahnya memerah menahan marahnya. Matanya menatap tajam ke arah Sasa.


"Sudah aku peringatkan padamu, jangan sentuh orang yang ku cintai, apa lagi melukainya. Kamu sudah tahu aku seperti apa. Jadi pergilah sebelum aku bertindak lebih kasar lagi padamu." Ancam Reza yang menekankan setiap ucapannya.


Sasa yang melihat amarah di mata Reza pun menciut nyalinya. Karena ia tahu bagaimana Reza yang sebenarnya. Ia akan melakukan apa saja untuk melindungi orang yang dicintainya, termasuk bisa menghilangkan nyawa juga memberi nyawa untuk orang itu.


"Pergi,,,!!!" Bentak Reza yang membuat Sasa juga Putri tersentak dari tempat mereka berdiri.


"Ini ambil,,," teriak Sasa pada Putri yang melemparkan kotak cincin itu ke sembarang arah. Lalu pergi dari tempat itu dengan menyimpan dendam yang dalam terhadap Putri.


Dari tatapan Sasa padanya, Putri tahu jika wanita itu menyimpan amarah yang sangat terhadapnya. Namun ia mencoba menyembunyikan kegalauan hatinya dari Reza, ia tak mau jadi beban Reza nantinya. Yang menjadi kecemasannya sekarang adalah keluarganya. Apalagi sang buah hati. Ia takut Sasa akan menyakiti mereka seperti apa yang dia bilang tadi. Menghancurkan orang orang yang disayanginya. Tubuhnya melemas, membayangkan jika hal itu akan terjadi nantinya. Ia tak akan sanggup menghadapi semuanya.


"Kamu tenang saja, semua akan baik baik saja, aku janji padamu,,," tutur Reza yang sudah menyematkan cincin di jari manis Putri tanpa ia sadari.


" Mulai hari ini kamu adalah tanggung jawabku, Liana Putri,,, dan aku tak menerima penolakan.'


Bisiknya lembut di telinga Putri. Yang menyadarkan Putri dari lamunannya.


"Tapi Pak,,, saya,,," ucapan Putri terhenti karena Reza sudah menutup bibirnya dengan telunjuk Reza.


"Sudah ku bilang,,, aku tidak menerima penolakan. Jika ingin keluargamu selamat dari Sasa, jangan pernah menolakku sayang,,"


Rengkuh Reza yang membawa Putri dalam pelukannya.


"Maaf,, aku datang di waktu yang kurang tepat kayaknya." Tutur seseorang yang membuat Reza melepas pelukannya.


bersambung🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2