
"Masuk,,,!" Perintah Reza pada Putri yang masih enggan untuk memasuki rumah di kawasan elit Ciputra.
Ia tak menyangka, jika Reza orang yang cukup kaya, terbukti ia memiliki rumah di kawasan elit ini yang tak tanggung tanggung harganya mencapai triliyunan. Untuk sesaat Putri bimbang untuk melangkahkan kakinya . Pengalaman hidup telah mengajarkannya agar tak silau akan harta. Hanya akan berujung pada penghinaan. Ia masih teringat bagaimana dulu orang tua Fai yang menghinanya karena ketidak punyaannya. Semua itu menyebabkan trauma bagi Putri.
Hingga ia mengambil kesimpulan, tidak akan mencintai orang kaya. Yang hanya akan menyakitinya saja. Apa lagi sekarang status dia juga sudah berbeda. Seorang janda anak satu, pasti semua orang tua akan melarang putranya untuk dekat dengan dia. Bayangan orang tua Reza yang akan memarahinya pun terlintas di pikiran Putri saat ini.
"Pak,,, tolong,,, antar saya pulang,,, saya tidak mau memasuki rumah ini. Dan soal tadi siang, anggap tidak pernah terjadi. Maaf,,, saya menolak tawaran Pak Reza." Tuturnya lirih dengan menundukkan pandangannya ke lantai sambil meremas kedua jari tangannya menghilangkan rasa takutnya.
Reza pun mendekatkan tubuhnya kearah Putri. Membuatnya melangkah mundur untuk menjauhi Reza, hingga tubuhnya terkunci oleh Reza di dinding rumah. Putri semakin gemetaran, ia sangat takut jika Reza akan memaksanya seperti di novel novel yang ia baca. Air matanya pun mulai menetes, ia berusaha untuk lepas dari kungkungan Reza.
"Pak saya mohon, biarkan saya pergi, masih banyak gadis diluar sana yang sederajat dan pantas untuk jadi pendamping hidup Pak Reza, tolong lepaskan saya." Dengan gemetaran Putri mencoba berbicara dengan mengiba, agar bisa meluluhkan hati Reza, dan mau melepaskannya.
Namun Reza bukannya menjauh malah semakin mendekatkan wajahnya ke arah Putri. Membuat Putri memejamkan matanya takut melihat kearah Reza yang nampak menahan kesal serta amarahnya.
"Baik, aku akan melepasmu setelah kita bersenang senang malam ini." Dengan geramnya Reza berbisik di telinga Putri. Hingga hangatnya hembusan nafas itu menerpa leher jenjang Putri.
Sebagai seorang wanita yang pernah bersuami, Putri tahu maksud dari kata kata Reza. Dan ia semakin menciut nyalinya. Karena di dorong rasa takutnya yang membayangkan hal hal yang tak pantas, Ia pun menggigit tangan Reza yang mengukungnya di tembok hingga berdarah. Namun usahanya sia sia, Reza bukannya melepas tangannya, malah tersenyum dengan kelakuan Putri. Membuatnya semakin ketakutan, dan rasanya nyawa telah terbang dari raganya saat Reza menggendong tubuhnya memasuki rumah besar itu.
"Pak lepaskan saya,,, lepaskan,,, biar saya pulang Pak,, tolong lepaskan,,,!" Teriak Putri sambil meronta ronta dan memukul punggung Reza agar melepaskannya.
Namun semua usahanya sia sia, karena Reza seakan tak terpengaruh dengan semua pukulan dan teriakan Putri. Setelah naik ke atas menggunakan lift khusus, akhirnya mereka sampai pada sebuah kamar yang sanga besar. Nampak ranjang ukuran big size sedang memanggil mereka untuk melepas penat. Reza segera melempar tubuh Putri ke tempat tidur.
Putri semakin takut, dia berusaha memundurkan tubuhnya agar tak terjangkau oleh Reza. Namun semua usahanya sia sia. Tangan kekar itu sudah meraih tangannya dan menariknya kasar, membuat tubuhnya mau tak mau mendekati pria yang kini sudah mengukungnya itu.
"Pak saya mohon, lepaskan saya, jangan lakukan itu, dosa besar, kita bukan muhrim, Pak tolong,,, saya tak pantas untuk Pak Reza, jadi saya mohon, lepaskan saya, hikkss,,, hikkss,,," dengan derai airmata Putri menghiba dengan mengatupkan kedua tangannya di dada.
Reza yang sedari tadi menahan semua amarahnya, karena melihat Putri di peluk oleh Fai juga dengan penolakan Putri padanya, membuatnya semakin tertantang untuk memiliki wanita ini seutuhnya. Sebagai pria normal, ia pasti tak bisa menahan hasrat kelelakiannya saat melihat baju Putri yang sudah terbuka tak beraturan karena ulahnya. Namun ia mencoba untuk menepisnya.
__ADS_1
"Beri aku alasan, kenapa kau menolakku, jika alasan itu masuk akal, aku akan melepasmu."
Bisiknya sambil memainkan rambut Putri.
"Karena anda kaya, dan saya tak mau kemiskinan saya terhina lagi. Sungguh sakit rasanya, apa lagi itu dari orang tua pria yang saya cintai. Harusnya orang tua bisa memberi contoh yang baik tuk anaknya, tapi justru mendorong kami untuk tidak menghormatinya karena semua kata katanya yang menyakitkan."
jawab Putri dengan sedikit gugup karena wajah mereka begitu dekat hanya tinggal beberapa inci saja. Tubuh Reza juga sudah berada di atas Putri saat ini.
"Oh,,, jadi kau samakan orang tuaku dengan orang tua Fai, mantan kekasihmu itu?" Tangan Reza mulai meraba tangan Putri. Membuat Puti semakin ketakutan.
"Bukan begitu maksud saya Pak,,, mana berani saya menyamakan orang tua anda dengan orang tua Fai, jelas jelas mereka berbeda,,,Pak,,,"Putri berusaha melepas tangan Reza yang sudah mencengkram kedua tangannya.
"Kau sudah tau mereka berbeda, kenapa menarik kesimpulan seperti itu, jadi alasanmu tak beralasan,,," Reza sudah mulai menciumi leher Putri. Membuatnya menggigit bibir bawahnya agar tak terdengar ******* keluar dari bibirnya, yang bisa memancing Reza untuk melakukan yang lebih.
"Ayo Putri berpikir, cepat berpikir, jangan sampai ia melakukan yang lebih,,," perintah hati kecil Putri saat ini.
"Oh,,, jadi kamu tak memerlukan belai seorang pria?" Tutur Reza yang membuka resleting baju putri, lalu mencium pundak Putri.
Darah Putri seakan berdesir menerima sentuhan Reza. Entah kenapa, meski hati dan pikirannya menolak, namun reaksi tubuhnya seakan berbicara terbalik. Hampir ******* itu keluar dari bibirnya.
Reza yang mengetahui itu hanya menahan senyumnya.
"Beri aku alasan yang tepat, jika semua alasanmu tak bisa kuterima, maka jangan salahkan aku, menikmati tubuhmu malam ini."
Kata Reza yang tak berhenti mencium pundak Putri dan semakin mengarah ke bawah.
Putri semakin ketakutan," karena saya,, karena saya seorang janda,,,tak pantas bersanding bersama anda,,,"
__ADS_1
"Oh,,, karena kamu seorang janda,,,?" Tutur Reza sambil mengangkat wajahnya menatap Putri yang kini menganggukkan kepalanya, membenarkan semua ucapannya.
" Baiklah,,," kata Reza seakan pasrah dengan jawaban Putri, membuat Putri merasa lega karena Reza sudah menjauhkan wajahnya darinya.
"Huffff,,, untung saja kamu pintar Putri,,," bangganya pada diri sendiri.
" Karena kamu seorang janda, aku akan menyamakan statusku denganmu, setelah malam ini aku juga bukan perjaka lagi. Kita impas kan?" Kata Reza yang sudah membuka bajunya dan melempar ke lantai.
"Pak apa yang anda lakukan,,," Putri yang terkejut dengan ulah Reza semakin ketakutan.
"Untuk membuat status kita sama, yaitu sudah tidak perawan dan perjaka lagi, gampang kan." Tutur Reza dengan entengnya, dan mulai menghimpit Putri lagi.
"Pak,,, itu,,, itu,,, karena saya,,, saya,,,, mencintai bapak,,," Tutur Putri sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
'Ya Allah,,, jawaban apa itu,,, bikin malu saja,,, Putri ,,, kamu memang bodoh,, bodoh,,," teriaknya dalam hati merutuki kata yang baru saja keluar dari bibirnya.
"Katakan sekali lagi, karena saya kurang jelas mendengarnya tadi!" Reza tersenyum sambil membelai pipi Putri.
Dengan malu malu dan menekan rasa takutnya, Putri pun mengulangi katanya,,," karena saya mencintai Pak Reza."
"Bisa tidak jangan memanggil formal saat kita dirumah, ini bukan kantor, ulangi lagi!"
"Karena saya mencintaimu,," tutur Putri dengan menahan jengkelnya.
'Aku juga mencintaimu sayang,,," balas Reza sambil mencium bibir Putri.
""Akkhhh,,," teriak Putri.
__ADS_1
bersambung๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น