
"Reza,,, kenapa diam? Di mana wanita itu? Kau ingin Papa sendiri yang bertindak?" Nyonya Wijaya menatap tajam kearah putranya juga Vino yang masih terdiam dengan seribu bahasa.
Sedangkan Tuan Wijaya lebih senang mengobrol dengan Pak Hasnan dan istrinya tanpa memperdulikan istrinya yang marah marah pada putranya.
"Sudah malam Ma,,, lebih baik Mama beristirahat dulu, besok baru kita bicarakan masalah ini, Mama pasti sangat lelah sekarang, jaga kesehatan Mama kalau masih ingin menimang cucu nantinya." Bujuk Reza agar Mamanya itu bisa mengontrol emosinya saat ini, karena ia tak mau jika tekanan darah tingginya naik lagi. Dan mengimingi cucu yang sangat diinginkannya.
"Kamu itu,,, kamu pikir bisa membujukku dengan iming iming cucu, dengar ya, selamanya Mama tidak mau punya cucu dari wanita itu. Dan kamu,,,!!! Mama Reza sudah menunjuk muka Reza dengan telunjuknya, yang membuat Reza hanya bisa menahan marahnya dengan mengepalkan tangannya, mendapat perlakuan seperti itu dari Mamanya, yang seakan menjatuhkan harga dirinya dihadapan keluarga Hasnan.
"Jangan pernah bermimpi untuk bisa menikahi wanita itu. Kalau tidak,,," Mama Reza menggantung kata katanya saat menatap raut wajah putranya yang kini sudah berubah memerah menahan marahnya.
"Kalau tidak apa Ma,,,??? Ucap Reza dengan berat namun penuh dengan penekanan.
"Apa Mama akan mencoret namaku dari ahli waris keluarga Wijaya? Dan aku tidak perduli akan hal itu, dengan atau tanpa harta Wijaya, aku akan tetap menikahinya. Dan ini keputusanku. Tak ada siapa pun yang bisa mengubah keputusanku. Termasuk juga Mama dan Papa." Reza tanpa ragu mengutarakan semua yang ada di hatinya sekarang, meskipun ia tahu, orang tuanya pasti akan menentang keputusan itu.
"Dasar anak kurang ajar,,, demi wanita rendahan itu kamu berani melawan orang tuamu, yang sudah melahirkan dan membesarkan mu, memberimu segalanya tanpa kekurangan suatu apa pun, jika memang kamu bersikeras dengan keputusanmu, maka namamu akan kami coret dari daftar keluarga, dan pergi dari sini, jangan anggap kami orang tuamu lagi, kau sudah mati bagi kami." Nyonya Wijaya benar benar murka dengan perkataan Reza. Sebagai orang tua ia merasa kecewa dengan keputusan Reza. Apa yang bisa dibanggakan dari seorang Putri, yang ada hanya akan memberi aib di keluarganya.
Semua orang yang mulanya mengabaikan percakapan antara ibu dan anak itu kini semua menatap kearah mereka dengan pikiran mereka masing masing. Tuan Wijaya yang mulanya hanya diam kini melangkahkan kakinya kearah Reza juga Mamanya.
__ADS_1
"Cukup,,,!!!" Bentaknya dengan tangan yang sudah mengepal. Ditatapnya Reza dengan tajam, dan akhirnya,,,
"Plakkk,,," sebuah tamparan bersarang di pipi Reza, hingga darah mengalir dari sudut bibirnya.
"Apa ini yang kami ajarkan padamu selama ini? Apa kami membesarkan mu hanya untuk mempermalukan keluarga besar kita? Apa kami tak ada artinya di banding ****** itu? Sebegitu pentingkah posisi dia dibanding orang yang sudah membuatmu terlahir ke dunia ini? Jawab Reza Maula Wijaya,,,!!!" Bentak Tuan Wijaya dengan tatapan membunuhnya.
Reza yang membersihkan darah di bibir dengan jarinya, menatap ke dua orang tuanya dengan rasa bersalah, jauh di lubuk hatinya ia tak tega menyakiti hati kedua orang tuanya. Namun di sisi lain, ia juga tak bisa melepaskan Putri, karena rasa cinta itu sudah ada di hatinya saat pandangan pertamanya saat ia menaiki bis yang sama dengan Putri. Dan saat itu juga ia menyuruh anak buahnya mencari tahu siapa wanita itu. Dan kebetulan sekali ternyata Putri juga kerja di perusahaannya. Karena itu ia menempatkan Putri di devisinya sebagai asistennya.
"Maafkan Reza Pa,,, Ma,,, bagi Reza kalian orang tua terbaik di dunia, selama hidupku tidak akan mampu membalas semua kasih sayang yang kalian beri. Namun,,,, " Reza menjeda kata katanya sejenak dengan menatap kedua orang tuanya dengan penyesalan dan rasa bersalah yang teramat dalam. Ia pun menjatuhkan dirinya dan berlutut di kaki kedua orang tuanya.
"Putri adalah hidup Reza sekarang, jika dia pergi sama saja dengan nyawa Reza terbang dari raga Reza. Selama ini aku tidak pernah merasakan menyayangi orang sedalam ini Ma,,, Pa,,, meskipun ia banyak kekurangan, namun aku bisa menerimanya. Jika menikah dengan dia akan mempermalukan keluarga, maka aku rela meninggalkan keluarga ini, selamanya akan tetap menganggap Mama serta Papa adalah orang tuaku, meski bagi kalian aku sudah mati nantinya." Reza mencium punggung tangan Mama dan Papa nya dengan bergantian.
Tanpa mereka sadari, Putri yang terbangun karena mendengar keributan di bawah pun turun dari ranjang, setelah mencium kening Zahra, ia sangat bahagia bisa melihat putrinya baik baik saja. Karena rasa penasarannya, ia pun keluar dari kamar Reza ingin melangkahkan kakinya menuju sumber kegaduhan. Dan langkahnya terhenti saat mendengar percakapan antara ibu dan anak itu.
Hatinya terasa sakit, luka yang dulu digoreskan oleh orang tua Fai, kini terulang kembali.
Ia pun menggendong tubuh Zahra lalu keluar dari kamar Reza, kini ia sudah berdiri di depan Reza juga kedua orang tuanya. Setelah mengangguk hormat pada kedua orang tua Reza, ia pun tersenyum pada Reza.
__ADS_1
"Terimakasih untuk semua yang Pak Reza beri, selamanya saya tidak akan melupakan budi ini, jika ada kesempatan, saya akan membalas hutang budi saya. Maaf Pak,,, saya dan Zahra pamit, maafkan saya tidak bisa menepati janji saya,,," Putri pun melepas cincin yang diberikan oleh Reza, sebagai pengikat janji diantara keduanya.
Ia pun memberikan cincin itu pada Reza namun tidak diterima oleh Reza. Membuat Putri melangkah ke arah meja ruang utama lalu meletakkan cincin itu disana. Semua orang yang melihatnya merasa kasihan pada Putri. Namun tidak dengan orang tua Reza yang tersenyum penuh kemenangan.
"Pak Hasnan, Kak Risda, Zayn, Livia,,, terima kasih untuk semua bantuannya, insya Allah jika diberi kesempatan saya akan membalas budi ini. Saya pamit dulu,,, assalamualaikum,,," ucapnya dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
"Waalaikum salam,,," jawab semua orang terkecuali Reza juga orang tuanya.
Meski merasakan sakit yang teramat dalam, namun Putri berusaha terlihat baik baik saja, ia pun terus melangkah menuju pintu utama rumah itu, meski Reza terus memanggilnya, namun tak menghentikan langkah Putri keluar dari rumah itu.
"Maafkan aku Mas,,, inilah akhir kisah kita, semoga kau bahagia nanti bersama dengan wanita pilihanmu, dan biarkan aku bahagia dengan jalan hidup yang kupilih." gumamnya lirih sambil berderai air mata.
"Berhenti,,, kalau kau ingin melihatku tetap hidup, kalau tidak teruslah melangkah tanpa menoleh ke belakang lagi,,," teriak Reza yang tidak dihiraukan oleh Putri. Karena ia tahu, sekali ia menoleh ke belakang, maka ia tak bisa mundur lagi. Dengan hati yang kalut dan hancur, ia terus melangkah hingga,,,
"Dooorrr,,,," suara tembakan terdengar dan pekikan suara yang membuat Putri lemas lalu pingsan dengan menggendong Zahra.
"Rezaaaaa,,,,"
__ADS_1
bersambung,,,,,,,,