
"Duuaaarrr" bunyi mobil yang meledak dan terbakar.
Sontak membuat Roy beserta anak buahnya terkejut. Bersamaan mereka memandangi mobil yang kini terbakar.
"Brengsekk,,, " umpat Roy sambil mengepalkan tangannya. Sedangkan kelima anak buahnya hanya bisa terdiam terpaku. Untung saja mereka semua keluar dari mobil itu, jika tidak,,, pasti sudah jadi babi bakar, kan tubuh mereka besar besar semua kayak babi he,,, he,,,he,,,.
"Prokk,,, prokk,, prokk,,," suara tepuk tangan dari belakang mereka. Yang membuat Roy beserta kelima anak buahnya menoleh ke sumber suara.
Nampak Reza beserta dengan anak buahnya mengepung mereka dari segala sisi dengan senjata di tangan mereka. Wajah Reza yang terlihat menakutkan dengan tatapan membunuhnya seakan ingin menguliti musuhnya hidup hidup.
Roy beserta anak buahnya tak bisa berkutik lagi. Mau maju sudah pasti mengantar nyawa mereka, mau mundur pun sudah terlambat, karena mobil mereka telah terbakar.
Reza pun memberikan isyarat agar anak buahnya membekuk semuanya. Namun ia menyuruh agar Roy di lepaskan.
"Lepaskan dia, aku ingin bermain main dengannya sebentar." Dengan seringai tatapan membunuhnya terarah pada Roy. Namun pria itu tidak menunjukkan rasa takut pada Reza.
"Berani sekali kamu mengganggu orang orangku, hanya demi wanita ular yang tidak pernah memandangmu." Cibir Reza merendahkan Roy.
"Tak perlu bertele tele, hukuman apa yang kau jatuhkan, akan kuterima." Roy juga menatap tajam ke arah Reza.
Kini keduanya saling beradu pandang dengan amarah yang ada di dalam hati mereka masing masing. Reza yang marah karena Roy mengusik orangnya. Apa lagi itu putri kesayangan wanita yang sangat dia cintai. Sedangkan Roy marah karena Reza membuatnya gagal dengan kesempatan untuk memiliki wanita yang dicintainya sedari kecil. Karena wanita itu selalu memilih Reza dari pada dia.
__ADS_1
Sedangkan kedua anak buah mereka hanya menyaksikan kedua pimpinan mereka saling memberi tatapan membunuh.
"Kalau hari ini kau tidak membunuhku, aku pastikan kau akan menyesal suatu hari nanti. Karena aku tak akan pernah tinggal diam dengan hubunganmu bersama janda gatel itu, cuih,,," dengan senyum mengejeknya, Roy meludah ke samping kirinya, seakan dia jijik harus menyebut Putri diantara mereka.
Reza yang sedari tadi sudah menahan marahnya agar tidak memukul kakak sepupunya itu pun tak bisa menahan diri lagi. Dengan amarah yang sudah tak bisa dikontrol lagi, ia pun melayangkan pukulannya kearah ulu hati Roy. Yang membuat pria itu pun langsung pingsan karena pukulan Reza tepat mengenai titik kelemahannya.
"Bawa mereka pergi, dan untuk Roy tunggu aku memberi hukuman sendiri padanya!" Perintah Reza yang langsung diangguki oleh anak buah mereka.
"Tuan Reza tolong lepaskan kami, kami hanya termakan oleh hasutan wanita itu." Teriak salah satu anak buah Roy. Namun tidak dihiraukan oleh Reza.
"Matilah kalian, kenapa kalian begitu bodoh menuruti perintah Tuan Roy yang jelas jelas itu salah, apa lagi menyinggung orang orang yang dikasihi Tuan Reza. Berdoa saja agar malaikat pencabut nyawa tak bertandang pada kalian." Salah satu anak buah Reza semakin menakut nakuti anak buah Roy, yang sudah gemetaran dengan wajah yang pucat pasi. Mereka tahu betapa kejamnya seorang Reza jika berani bermain main dengannya. Pasti mereka akan dikuliti hidup hidup sebelum dibunuh. Begitulah yang ada dipikiran anak buah Roy saat ini.
Reza pun membuka pintu mobil, melihat Zahra yang masih menutup mata juga telinganya. Ia pun segera meraih tubuh gadis itu, lalu menggendongnya menuju mobil Reza. Zahra mulanya memberontak dengan menutup matanya. Namun setelah mendengar suara yang dikenalnya, ia pun membuka mata.
Dengan penuh kasih sayang Reza membelai rambut Zahra.
"Tenanglah sayang,,, kamu sudah aman sekarang."
Mereka pun masuk ke dalam mobil Reza, dengan asisten pribadinya yang menjadi sopir mereka. Mobil pun melaju dengan kencang karena suasana jalanan yang memang sudah sepi.
"Bos,,, apa kejadian ini tidak akan membuat orang tua Bos cepat tahu akan hubungan Bos dengan Putri." Meskipun ia seorang asisten, namun ia teman Reza sedari kecil, bahkan diangkat anak oleh orang tua Reza. Jadilah mereka saudara angkat. Dan Vino sangat menyayangi Reza.
__ADS_1
"Cepat atau lambat masalah ini akan diketahui mereka Vin, aku sudah siap dengan semuanya. Meskipun harus tercoret dari daftar ahli waris nantinya,,,mmmhhh,,," desah Reza seakan menanggung beban yang begitu berat. Lalu terdiam sambil memandangi Zahra yang sudah tertidur dalam pangkuannya.
Vino pun terdiam. Ia sudah tidak memperpanjang percakapan mereka karena tahu apa yang telah diputuskan oleh Reza tak bisa di ganggu gugat lagi. Kini ia hanya menunggu saat di mana dia harus mengambil keputusan saat orang tua Reza dan orang tua angkatnya itu kembali setelah urusan bisnis mereka selesai.
Setelah menempuh perjalan kurang lebih satu jam, akhirnya mereka sampai di kediaman Reza. Setelah mobil terparkir sempurna, Reza pun membopong Zahra masuk ke dalam rumah, membawa bocah cilik itu masuk ke dalam kamarnya, di mana Bundanya sekarang tengah tertidur, di temani Nyonya Risda juga Lifia.
Melihat Reza datang membawa Zahra, Nyonya Risda nampak gembira begitu juga dengan Lifia, mereka pun segera keluar, takut membangunkan Zahra. Setelah mengecup kening Zahra juga Putri, Reza pun keluar menemui Pak Hasnan dan yang lain.
"Terima kasih atas bantuannya Pak Hasnan, Nyonya, Zayn, Lifia,,, saya akan mengingat terus kebaikan kalian. Jika ada apa apa, jangan sungkan sungkan meminta bantuan saya."
"Tak perlu sungkan Pak Reza, sudah seharusnya kita saling tolong menolong,,, iya kan sayang,,," Pak Hasnan memandang ketiga orang yang sangat dikasihinya, yang di jawab anggukan oleh ketiganya.
"Bagaimana kalau malam ini menginap saja di rumah saya, sudah sangat larut." Tawar Reza dengan senyum ramahnya.
Namun belum sempat Pak Hasnan menjawab perkataan Reza, pintu ruang utama sudah terbuka lebar. Menampakkan dua orang yang sangat di hormati oleh semuanya.
Dengan raut wajah yang sulit diartikan, mereka pun masuk tanpa harus menunggu di persilahkan masuk oleh empunya rumah.
"Di mana wanita itu?"
Pertanyaan yang membuat semuanya hanya bisa saling menunduk dan terdiam. Karena menatap mata yang telah memerah menahan amarahnya.
__ADS_1
bersambung,,,,,