
Di episode kali ini, cerita dibuka dgn masa lalu Zean dan Raisya . Zean dan Raisya baru saja menikah saat itu. Raisya untuk pertama kalinya, menginjakkan kaki di kediaman WP.
Mereka tidak terlihat seperti pasangan yang baru saja kembali dari berbulan madu.
Raisya ingin menggandeng Zean masuk ke dalam,, tapi Zean langsung menjauhkan lengannya dari Raisya saat Raisya mau menggandengnya.
Zean lantas masuk duluan ke rumah. Raisya kecewa. Tak lama, Raisya juga masuk ke dalam, diikuti para pelayan.
Malamnya, Raisya yang baru selesai mandi, terkejut melihat Zean tidak mandi. Ia tanya, kenapa Zean tidak mandi?
"Aku sedang ada pekerjaan.
"Apa kau menghindariku? Kau bilang kau lelah dan yang kau lakukan hanyalah tidur selama bulan madu kita.
Raisya lantas mendekati Zean . Lalu ia memegang bahu Zean .
"Zean, bukankah kita sudah menikah?
Zean yang melihat tangan Raisya di bahunya, langsung menyingkirkan tangan Raisya .
"Aku ingin tahu tentang sesuatu. Untuk apa ranjang itu?
"Aku memiliki kebiasaan membaca hingga larut malam. Aku tidak ingin mengganggumu. Aku juga tidak bisa tidur ketika ada orang di sebelahku.
"Apa kau punya wanita lain? Aku bisa mengerti jika itu benar. Tapi seharusnya kau mengakhiri hubungan itu sebelum kita menikah.
Zean tak menjawab dan beranjak pergi meninggalkan Raisya .
Raisya terduduk lemas di kasur.
Sejak malam itu, sang istri mati-matian menunggu suaminya, tetapi. suaminya semakin menjauh menghindarinya. Dari awal, keduanya tidak bisa menjadi pasangan menikah.
__ADS_1
Zean pergi ke studionya. Ada sepatu wanita di depan pintu.
Zean lalu masuk ke dalam. Di studionya, penuh barang2 wanita. Mulai dari make up, baju, perhiasan, sepatu.
Zean tersenyum melihat barang2 itu.
Tak lama kemudian,, Zean masuk ke dalam kamar.
Flasback Off...
Zaina marah ke Bagas .
"Apa kau bahkan tidak merasa bersalah? Apa kau tidak terganggu? Atau kau tidak memberitahuku karena kau tidak merasakan apa pun? Berpikirlah seperti ini. Jika itu aku... aku akan bertindak lain.
"Aku tahu jadi dengarkan aku.
"Kita hampir berhasil! Kau merusak semuanya. Winta akhirnya mulai kehilangan kendali dan menunjukkan kelemahannya. Dia gagal mengimbangi kepura- puraannya dan hampir runtuh. Tapi, sekarang...! Apakah kita benar-benar satu tim?
"Zaina.
Langkah Zaina langsung berhenti.
Bagas menyusul Zaina .
"Kita jujur saja. Bagimu, menjadikan Winta menjadi tersangka dan membalas dendam pada orang yang membunuh ibumu adalah yang paling penting.
"Anggaplah itu benar. Lalu apa yang salah dengan itu? Kau tahu bagaimana kehidupanku setelah ibuku terbunuh. Tapi orang yang membunuh ibuku menjalani kehidupan yang baik. Aku akan membuatnya merasa seperti tercekik. Aku akan membuatnya merasa sangat tidak nyaman dan ketakutan sehingga itu akan terasa tak tertahankan. Apa yang salah dengan itu?
"Winta hanyalah tersangka. Kita bahkan tidak memiliki bukti konkrit bahwa dia adalah pembunuhnya. Yang penting adalah mengumpulkan bukti tidak langsung mengenai kasus ini dan mengajukan petisi untuk persidangan ulang. Dengan begitu, kita tidak hanya akan menyelesaikan kasus ibuku tetapi juga menangkap pelakunya.
"Balas dendam lebih penting bagiku. Tujuanmu adalah untuk mengungkapkan kebenaran di balik kasus palsu dan membebaskan ibumu. Baik. Sepertinya kita memiliki tujuan yang berbeda.
__ADS_1
"Tujuan kita tidak berbeda.
"Tidak, kurasa kita berbeda. Kau tidak peduli dengan hal yang kupikir penting. Kau tidak peduli jika rencanaku hancur.
"Itu tidak benar!
"Mungkin kau tidak memiliki keinginan untuk menangkap pelakunya. Kau hanya perlu membuktikan alibi ibumu dan membebaskan ibumu.
Zaina beranjak pergi
Di depan meja riasnya,, Zaina melamun, memikirkan kebersamaannya dengan Bagas saat berlari di lapangan melepaskan emosi nya karna di tolak oleh rentenir .
Zaina menghela nafas. Wajahnya terlihat sedih.
Irma menemui Arif dan Winta .
"Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?. tanya arif
"Tidak, Pak.ucap irma
"Baru kemarin dia membuat keributan tentang mengambil alih kamar tidur utama. Lalu kenapa dia tiba-tiba ingin pergi?. tanya Winta
"Anda tahu dia spontan dan impulsif. Dari hal yang kuketahui, dia mendengar bahwa keluarga ini dan dia tidak ditakdirkan bersama. Alangkah baiknya jika ibu dan anaknya tinggal bersama.
Arif setuju dan minta Irma memastikan hidup Khairani dan Sean nyaman setelah keluar dari rumahnya.
Winta terlihat senang.
"Jangan khawatir, Pak.
Irma lantas pamit
__ADS_1