Keluarga Yang Anggun

Keluarga Yang Anggun
Episode 8


__ADS_3

Episode ini diawali dengan cerita masa lalu Zaina.


Sebuah ruangan tampak dipenuhi alat2 lukis dan buku-buku.


Gelas berisi wine bertengger di atas meja.


Disamping gelas itu, tergeletak sebuah buku.


Dan dilantai, di dekat buku itu, botol wine terjatuh sehingga isinya tumpah dan cairan merahnya mengarah pada seorang wanita yang tergeletak dengan perut berlumuran darah. Di depan wanita itu, tampak seseorang yang memegang pisau.


Bersamaan dengan itu, Zaina pulang dan terkejut melihat ibunya dibunuh.


Pembunuhnya, seorang wanita! Pembantu rumah tangga mereka.


Zaina menjerit ngeri.


Malam harinya, setelah kejadian itu, seorang pria muncul. Ia terkejut melihat pintu apartemennya terbuka.


Dengan sikap waspada, pria itu masuk dan berteriak memanggil istrinya namun ia tambah terkejut melihat apartemennya sudah kosong.


Pria itu kembali memanggil istrinya tapi yang muncul adalah Irma .


"Siapa kau? Siapa yang mengirimmu?" tanya pria itu.


"Jaksa Andi. Kau tidak tinggal di sini lagi. Kini kau tinggal di Art Villa di XX." jawab Irma.


Irma lantas menunjukkan rekaman video, dimana istri dan anak Jaksa Andi sedang asyik bermain di rumah baru mereka.


"Istrimu sepertinya sangat menyukai rumah ini. Putramu, Andri, menyukai ruangnya yang lebih luas. Apa kau akan pindah ke distrik regional karena kau gagal dipromosikan? Kau tidak ingin menjadi kepala di Kantor Jaksa XX Pusat lalu menjadi Jaksa Agung? Itu mungkin jika kau bekerja sama dengan kami. Kau akan ditugaskan untuk kasus pembunuhan besok pagi.


Irma memberi Jaksa Andi berkas kasus pembunuhan Nyonya zahra, ibunya Zaina .


"Rahasiakan itu dari publik dan beri dakwaan secepat mungkin.


Kita lalu mendengar narasi.


Kantor Jaksa Seoul Pusat sebagai imbalan untuk menutupi kasus pembunuhan. Seorang jaksa mendapatkan sebuah rumah mewah di XX dan masa depan yang cerah. Tidak akan mudah bagi siapa pun untuk menolak godaan itu.


Usai menemui Jaksa Andi, Irma langsung pergi. Ia melajukan mobilnya sambil bicara di telepon dengan seseorang dengan wajah sumringah.


"Sudah selesai. Ya. Selamat malam.


Irma membuka jendelanya dan mengeluarkan tangannya, merasakan hembusan angin malam.


Kembali terdengar narasi.


Bukankah itu misi pertama yang ditangani tim TAP?


Usai membuat kehebohan di depan kantor WP, Zaina turun dari mobil yang dicurinya.


Bagas memarahi Zaina.


"Apa yang kau lakukan! Apa kau gila!. ucap Bagas dengan nada emosi nya


Tapi Zaina tidak peduli dengan omelan Bagas dan menatap Polisi.


"Kau baik-baik saja, kan? Mintalah ratusan juta. Aku kaya. Oh ya, aku juga mabuk. Bisakah kau mengurus percobaan pembunuhan? Aku akan mengemudi pergi. Nyatakan itu tabrak lari. Pengacara ini akan mengurus kasus ini untukmu.. ucap Zaina sambil menunjuk ke arah Bagas

__ADS_1


Zaina kembali naik ke mobil itu dan pergi, membuat semua orang melongo termasuk Bagas .


Zaina , Polisi dan Bagas duduk di kantor polisi.


Zaina mengaku, bahwa ia mabuk, berusaha membunuh orang dan melarikan diri setelahnya.


"Dia menangkapku saat aku mencoba kabur." ucap Zaina sambil menunjuk Bagas.


Zaina lantas menatap Polisi Kim.


" Polisi kim, itu tabrak lari. Aku minum sebotol wine.


"Kadar alkoholmu memang cukup tinggi.  Itu cukup untuk menahan SIM-mu. Aku tidak pernah melihat seseorang bertekad untuk menjadi kriminal." jawab polisi heran.


Zaina kemudian bertanya ke Bagas biaya untuk mendidik seorang anak, termasuk pendidikan keluar negeri.


Bagas bingung menjawabnya.


"Aku punya dua anak, dan itu sangat mahal. Seratus juta tidak cukup untuk mengirim mereka keluar negeri." jawab polisi.


Zaina kembali menatap Polisi Kim dengan wajah serius.


"Polisi kim, tambah lagi nolnya.


"Apa? Satu miliar ?" ucap si polisi kaget. Dua polisi yang lainnya juga memandangi Zaina dengan reaksi yang sama.


"Hanya itu yang bisa aku berikan kepadamu sekarang. WP Grup tidak akan memberimu lagi. Ambil uangnya, sewa firma hukum, dan lawan mereka, atau mulai dari awal lagi. Jangan pernah mengalah lagi kepada WP Grup.


Zaina lalu menghubungi Irma .


"Kepala Irma, aku mengemudi sambil mabuk, percobaan pembunuhan, dan kabur dari TKP. Kirimkan aku satu miliar won  untuk berdamai. Ah, ada wartawan di luar. Perlukah kuberi tahu mereka  siapa aku? Aku serius mempertimbangkan itu.


"Putramu, besarkan dia dengan baik. ucap Zaina


Zaina berdiri, memakai kacamatanya dan beranjak pergi meninggalkan orang2 yang melongo melihatnya.


Bagas bergegas menyusul Zaina keluar.


"Itukah caramu menunjukkan ketulusanmu?


"Ya. Ini gayaku.


"Aku mengerti, tapi kau bisa membantunya dengan cara lain.


Zaina pun berhenti melangkah dan menatap Bagas datar.


"Bagaimana? Apakah kau pikir aku bisa mengeluarkan  sepeser pun tanpa diketahui Kepala Irma?


"Kenapa aku?


"Karena kau tidak elite. Karena Irma tidak peduli dengan pengacara kelas tiga sepertimu.


Bagas tertawa kesal mendengarnya.


"Kau pengacara, jadi, kau punya otak yang cukup. Kau tampaknya bertekad dan cukup keras kepala, lalu... aku suka setelanmu yang kuno.


"Kapan kau minum?. ucap Bagas

__ADS_1


"Mengemudi sambil mabuk... terserah. Aku tidak ingin melawan Kepala Irma karenamu, jadi, kuharapkan yang terbaik untukmu. Good luck.


Zaina pergi.


"Apa yang dia katakan? Mengemudi sambil mabuk... ucap Bagaa


Ponsel Bagas tiba2 berdering. Telepon dari Irma yang memintanya datang.


Bagas langsung ke kantor Irma . Irma minta izin bicara bebas, seperti senior ke junior..


Bagas mengizinkan.


"Nona Zaina tidak bisa mengendalikan amarahnya dan menghabiskan satu miliar begitu saja. Bagaimana perasaanmu tentang itu?


"Menurutku itu cara yang menarik untuk memecahkan masalah. Kau tidak bisa bilang itu "membuang".


"Kenapa tidak?


"Tuan Kim memiliki dendam terhadap WP Grup dan bisa mengutuknya selamanya. Jika kejadian ini mengubah pikirannya, menurutku itu pengeluaran yang bagus.


" Bagaimana kau bisa yakin uangnya akan mengubah pikirannya? Jika kita melakukan hal seperti itu karena takut dengan orang macam itu, WP Grup tidak akan bertahan.


"Bukankah TAP ada karena kau peduli dengan pendapat orang?


"Tentu saja. Tapi kami memakai taktik, tidak seperti Nona Zaina. TAP bukan pengecualian saat membuat keuntungan terbesar untuk setiap biayanya. Kita tidak bisa memberikan orang seperti Kim mobil mewah. Itu salah.


Irma ke mejanya dan mengambil sebuah dokumen. Lalu ia kembali ke Bagas dan menyuruh Bagas membacanya.


"Bukankah ini terlalu berlebihan, bahkan untuk pemagang? ucap Bagas


Bagas kembali membaca dokumen itu.


"Karena membocorkan informasi keluarga WP, hukumannya sepuluh kali upah tahunan." Itu bisa dipahami. Aku harus siaga 24 jam? Itu melanggar hukum pekerja.


"Kau pengacara Nona Zaina dan sekretaris pendampingnya. Bagaimana jika dia terlibat kecelakaan pada pukul 3 dini hari? Kau akan tidur sampai saatnya untuk bekerja?


"Kalau begitu... mari kita ubah ini dengan mengatakan keadaan khusus menjadi pengecualian.


Bagas meneruskan membaca kontraknya.


"Kau harus memanggilnya 'Nona' dan menggunakan panggilan hormat." Bukankah ini kuno? ucap Bagas


"Urus itu sendiri diantara kalian, tapi gunakan itu di depan umum. Itu aturannya.


"Baiklah, aku bisa menerima itu.


Saat melihat gaji yang ditawarkan, Bagas langsung menahan napas karena terkejut.


"Kau akan membayarku sebanyak ini jika aku menandatangani setelah magang?


Irma mengangguk.


"Aku akan menandatanganinya.


Bagas pun bergegas mengambil pulpennya tapi ia tak bisa menemukan dimana pulpennya. Irma meminjamkan pulpennya. Melihat pulpen Irma , Bagas kaget. Irma menatapnya heran. Bagas tiba2 minta izin ke toilet.


Di toilet, Bagas menenangkan dirinya. Lalu, ia menatap cermin dan mengingat masa lalunya .

__ADS_1


#jangan lupa vote biar autor tambah semangat


__ADS_2