
"Dasar anak kurang ajar! Pulang! Maka aku akan langsung menikahkan mu dengan janda!" hardik Arjuna kesal. Punya adik sok sibuk bukan main.
"Bagaimana mau menikah, Bang. Roketku saja tidak mau bangun," keluh Walls dengan bibir yang mengerucut.
'Bos ini, kalau sudah bicara dengan tuan Arjuna. Maka keluarlah sifat kekanakannya. Dia akan merajuk layaknya anak kecil yang mengadu pada ibunya. Apa lantaran sejak kecil, bos tumbuh besar tanpa orang tua. Sehingga, sifatnya menjadi suka seenaknya dan tidak ada penghargaannya terhadap wanita?' batin Will sambil memperhatikan terus gerak-gerik bosnya itu.
Jadi sang asisten itu terus berselancar di tablet yang berada dalam genggaman tangannya. Mencari tahu identitas mengenai Hiro. " Hemm ... kenapa identitas dari orang tuanya di sembunyikan? Mencurigakan?" decak Will, berbicara seorang diri. Bagaimanapun, ia penasaran. Sayang, setiap identitas dari peserta sengaja dirahasiakan.
"Aku harus memintanya secara langsung terhadap pihak penyelenggara," gumamnya lagi.
Sementara itu, Walls masih terus berbicara dengan Abang sepupunya itu.
"Serius, Bang. Wanita itu sepertinya telah memberikan racun yang membuat roketku mati rasa dan tak ada kuasa!" seru Walls geram. Arjuna sama sekali tak percaya dan terus mengatakan bahwa, Walls terkena petuah dari setiap kelakuannya kepada wanita.
"Kenapa, masih saja menyalahkan orang lain!Berpikirlah dan merenung akan kesalahanmu! Wanita terakhir yang kau tiduri secara paksa mungkin telah menyumpahi mu lantaran sakit hati. Kau itu, memang keterlaluan. Dewasalah! Dalam bertindak serta bersikap. Kini, sudah saatnya kau melepas predikat sebagai anak badung!" seru Arjuna dengan nada tegas. Kepala pria yang semakin matang itu mendadak sakit dan berdenyut.
"Sayang, percuma kau bicara dengannya! Sebaiknya jemput saja lalu nikahi dia dengan Markonah! Siapa tau nanti sadar!" Terdengar suara Susi yang berteriak dari kejauhan. Walls langsung menelan ludahnya kasar. Ia sangat tau, jika Abang sepupunya itu sangat menurut terhadap apapun yang sang istri katakan.
"Hahahaha!" Tiba-tiba, Will tergelak seraya memegangi perutnya. Seketika ia menelan kembali tawanya ketika tatapan tajam dari sang bos terlempar padanya.
"Aku harus mendinginkan kepalaku. Kau tau kan, jika kakak ipar itu sadis. Jika dia sudah membuat keputusan seperti itu, bisa habis masa depanku," gerutu Walls yang mana membuat Will menelan bibirnya agar tidak terbahak-bahak lagi.
__ADS_1
Sepulang dari kantor, Walls memilih untuk merendam seluruh tubuhnya kedalam bathup. Mencampur sabun beraroma terapi favoritnya ke dalam air hangat. Walls, menceburkan sebagian tubuh kekar atletisnya itu kedalam air penuh busa. Tanpa sadar, mungkin efek teramat lelah. Walls memejamkan matanya dan tertidur.
Pada saat itulah, ingatannya kembali ke masa enam tahun yang lalu.
"Engh!" pekik Walls kencang. Tatkala bokongnya bertemu secara kasar dengan lantai kamar hotel.
"Rose, sayang ... kenapa kau menendang ku!" protes Walls sambil melindungi roketnya. Karena, ia takut terkena tendangan nyasar dari kemarahan Rose Brania yang membabi buta lantaran marah. Siapa yang tidak mengamuk tatkala sadar jika dirinya baru saja dikerjai oleh pemuda yang sangat dibencinya setengah mati. Sungguh sial, bagi seorang wanita cantik mantan dokter bedah ini. Sebab, ia telah menjadi target obsesi gila seorang playboy tengik macam Walls.
"Beraninya kau! Apa yang ada di dalam pikiranmu, bule mesum!" teriak Rose sambil terus memukuli Walls dengan tangan langsingnya. Bahkan ia terlupa, bahwa kini dirinya masih polos tanpa sehelai benangpun yang menempel di badan.
Alhasil.
GREP.
"Kenapa kau marah? Bukankah kita saling menikmati semalam." ucap Walls tanpa tedeng aling-aling.
" Semua karena ulah kurang ajarmu! Lepaskan aku, dasar bule mesum gila!" hardik Rose sangat marah. Ia meronta meskipun Walls memeluk tubuhnya erat.
"Aku sangat tersanjung ketika kau memanggilku bule mesum," goda Walls dengan ketkingan genit dari matanya birunya. Ia pun dengan cepat membalik tubuh Rose Brania yang kini berada diatasnya menjadi di bawah kungkungannya lagi.
"Lepaskan aku brengseekk!" pekik Rose yang tak terima atas sikap dan perlakuan Walls padanya.
__ADS_1
Semua rencana yang di susunnya pupus sudah. Karena telah ceroboh dan kurang waspada ketika menerima tawaran pekerjaan dengan bayaran besar.
"Jangan meneriaki ku begitu dong, Rose sayang. Bagaimanapun, aku telah membuat mu menggeliat keenakan semalam!" goda Walls, tubuh kekarnya semakin menghimpit raga molek Rose Brania yang tanpa busana. Hingga, pemuda bermata sebiru laut itu kembali menelan ludahnya melihat betapa menggodanya setiap sudut bentuk tubuh wanita yang ternyata lebih tua tiga tahun darinya. Namun, wajah Rose yang imut sama sama sekali tidak nampak dewasa.
"Diam kau, dasar gila! Bule mesum!" Rose terus meronta meskipun hasilnya nihil.
"Sepertinya aku harus mengulangnya lagi agar kau ingat." Sebelum, Rose menyetujuinya, Walls sudah kembali mengarahkan roket tempurnya yang telah tegak menantang ke bagian pribadi milik Rose. Area itu memang sengaja Walls buka menggunakan kakinya.
"Jangan macam-macam, padaku lagi! Cukup, lepaskan aku! Akh!" Rose kembali memekik dengan disertai linangan air mata. Wanita cantik berwajah indo ini membulatkan matanya ketika sarangnya kembali diserang roket tempur milik Walls.
"Aku, tidak akan melepaskan mu! Lihat saja, aku akan menghabisi mu!" Walls kembali membungkam bibir, Rose dengan ciuman brutalnya yang kasar dan penuh napsu. Entah kenapa, wanita di bawah kungkungannya ini telah membuat dirinya menjadi pemuda jahat yang tak memiliki empati.
Beberapa saat kemudian amukan Rose pun berubah menjadi sebuah desah dan racau penuh gelora. Keduanya kembali mengulang penyatuan panas mereka. Beberapa saat kemudian, Walls menyemburkan benihnya tanpa sadar, hingga memenuhi rahim hangat Rose Brania. Wanita itu terkulai lemah dalam isak-nya. Sekali lagi, pemuda ini menguasai tubuhnya dan bermain dengan seenaknya.
"Minggir!" Rose, mendorong raga Walls dari atas tubuhnya dengan sisa tenaganya, kemudian ...
Plak!!
"Sshhh!" Walls meringis lantaran sudut bibirnya berdarah. Ia baru mendapat gigitan kencang dari Rose. Sebelah pipinya pun panas, karena wanita itu menamparnya dengan cukup keras.
"Astaga!" Walls yang terkaget lantaran bayangan itu kembali nyata berputar dalam ingatannya. Pria dengan iris blue ocean itu pun keluar dengan cepat akibat gugup. Lalu membilas tubuh penuh bisanya di bawah shower.
__ADS_1
"Ternyata aku, sudah sangat jahat kepadanya. Rose Brania ...," lirih Walls di bawah guyuran air dingin.
...Bersambung ...