Kembar Jenius Si Mantan Playboy

Kembar Jenius Si Mantan Playboy
Bab. 24. Percobaan Penculikan Terhadap Si Kembar


__ADS_3

"Bos, saya mendapat kode SOS dari, putra anda," tunjuk Will pada ponselnya.


"Cepat, Will! Tidak boleh ada satupun, yang menyentuh kulit anak-anak ku, juga wanita sombong itu!" ujar Walls begitu tegas.


Mereka pun, beranjak menuju lokasi dimana Hiro mengirimkan sinyal.


Pada saat ini, situasi benar-benar tengah mengancam ketiga orang yang berada dalam mobil Xenia berwarna silver ini. Mobil yang, Rose beli di pasar jual beli barang second good condition, secara online.


Pintu dan kaca mobil sudah beberapa kali dipukul dengan keras dari luar. Pria berwajah garang itu, begitu nampak menakutkan dengan warna matanya yang bagikan seekor crocodile.


Hiro dan Milea mencoba tenang dengan saling merapatkan diri ke pojok mobil. Berpegangan tangan sambil menahan napas. Hiro, nampak sesekali melihat pada layar gadgetnya. Senyum tipisnya nampak menghias raut wajah ketakutan dari bocah yang masih sangat polos itu. Meskipun memiliki otak yang jenius, bukan berarti mereka tidak memiliki rasa takut. Hanya saja, mereka lebih dapat bisa berpikir jernih dan tenang. Di saat anak yang lain mungkin hanya bisa menangis dan berteriak.


"Sayang ... kalian berdua tidak apa-apa kan?" tanya, Rose dengan nada suara yang bergetar. Ia tak dapat membohongi hatinya. Rasa takut itu menyelimuti dirinya kini. Apalagi, ada kedua anaknya di kursi belakang.


"Kami, baik-baik saja, Ma. Tapi, pria jelek itu masih memukul jendela mobil kita," ucap Milea dengan menahan Isak tangisnya. Terdengar dari cara bicaranya yang tersendat-sendat.


"Sayang, kalian jangan takut. Mama masih mencoba menghubungi pihak yang berwajib" ucap Rose lagi mencoba memberikan ketenangan kepada kedua anak kembarnya itu.


"Percuma, Ma. Satuan mereka telah di koordinir dengan penjahat ini. Hiro, telah mencoba lebih dulu menghubungi mereka sejak tadi. Akan tetapi, laporan ku terus saja di tolak," terang Hiro. Tentu saja penjelasannya itu membuat kepala, Rose berdenyut. Dalam pikirannya, saat ini, siapa lagi yang akan dapat ia mintai tolong. Sementara, pria bermata kuning itu telah memutari mobil ini dengan beberapa kawannya. Rose takut, jika mereka memiliki senjata api.


Drukk!


Drukk!


Drukk!


Kali ini, kaca mobil sebelah kanan juga di pukuli. Mereka telah dikepung pada kedua sisi mobil. Membuat, Hiro dan Milea, beringsut ketengah dan saling berpelukan. " Papa!" Akhirnya, kedua anak kembar ini pun berteriak, di saat salah satu penjahat itu memukul jendela menggunakan batu.


Trakk!


Trakk!


Trakk!


Suara kaca pada jendela mobil yang mulai retak, membuat penghuni di dalam kendaraan itu, gemetar ketakutan. Hiro, lantas membuka kotak perkakas yang berada ada di bawah kursi. Bocah kecil itu sedang berinisiatif untuk menemukan benda yang dapat membantu mereka mempertahankan diri.


"Nah, aku menemukannya! Milea, pegang ini kuat-kuat, ya, Dek. Pukul ke arah wajah mereka nanti." Hiro menyerahkan kunci T pada sang adik juga mengarahkannya agar dapat memegang dengan benar.

__ADS_1


Sementara, benda berat yang terbuat dari besi lainnya ia berikan pada, Rose. Sedangkan, dirinya menggunakan selongsong besi yang digunakan untuk memutar mur pada ban mobil.


Praanggg!


Salah satu kaca pun pecah juga, membuat yang berada di dalam mobil terutama dua bocah kecil ini berteriak kaget sekaligus takut.


"Aaaaa!!"


"Mama!!" teriak Milea dan jga Hiro berbarengan.


"Astaga! Ya Tuhan!" Rose ikut berteriak, lalu mencondongkan tubuhnya ke belakang, dan ...


Bukkk!


Buukk!


"Arghh!" sang penjahat yang hendak memasukkan tangannya ke dalam mobil untuk membuka kunci otomatis segera di pukul oleh, Rose menggunakan salah satu kunci Inggris yang lumayan besar dan juga berat. Rose memukulinya terus hingga hari tangan pria itu berdarah-darah.


"Ma! He's bleeding!" pekik Milea, putri kecilnya itu memang takut pada cairan merah berbau anyir itu. Jika melihatnya, maka, Milea akan ...


Huwerrkkk.


"Adek!" Hiro memegangi Milea tanpa peduli jika dirinya terkena muntahan sang adik. "Tenang, ya Dek. Itu hanya saus, saus tomat yang ada dalam spaghetti. Iya, bayangkan saja seperti itu. Tutup matamu," ucap Hiro mencoba memberi sugesti yang baik kepada Milea. Jika tidak, maka adiknya ini akan terus memuntahkan isi perutnya.


"Ya ampun Milea, sayang." Rose berusaha menggapai tubuh putrinya, akan tetapi ...


Praakkkk!


Prankkk!


Pukulan dari jendela depan kemudian sebelah kanan, kembali memecahkan kaca tersebut. Kemudian, Rose kembali memukul tangan pria yang masuk dari celah handak mencari tombol kunci otomatis.


Sayang, Bos mereka melarang menggunakan senjata api. Sebab, Andreas ingin keadaan para korbannya ini utuh tanpa cacat.


"Pergi kalian! Aarrggg!" teriak Rose seraya terus mendaratkan pukulan demi pukulan pada tangan penjahat yang mencoba menerobos ke dalam mobil melalui jendela.


"Mama!" Kali ini, Hiro yang berteriak ketika salah satu tangan penjahat mampu meraih merah baju belakangnya.

__ADS_1


"Papa!"


*


*


*


"Will, biar aku yang mengemudikan mobilnya! Kau ini terlalu lambat!" Walls yang berada di samping asistennya itu hendak merebut gagang kemudi begitu saja, hingga Will kaget dan kendaraan mewah itu sempat oleng sedikit.


"Apa yang anda lakukan, Bos! Kalau kita celaka bagaimana! Jangankan menyelamatkan, si kembar dan juga mamanya. Kalau kita berdua telah lebih dulu ke alam baka!" pekik Will kesal atas tindakan asal dari Bos labilnya ini.


Dimana kala itu, ketika ia bercerita kepada Netta ... Bos-nya itu berjanji akan mengutarakan penyesalannya kepada Rose. Lalu, berusaha membangun hubungan yang baik antara keduanya. Tapi, apa yang terjadi? Walls justru masih mengedepankan sisi arogan dan juga egoisme dalam dirinya.


Tak lama kemudian, pintu mobil telah dapat dibuka paksa oleh para penjahat itu. Mereka menarik Hiro dan Milea keluar dari dalam mobil. Juga, Rose tak luput dari tangkapan.


"Ternyata, kau seorang ibu muda yang sangat cantik. Bos kami, pasti akan menyukai hasil tangkapan ku hari ini," pria itu pun tergelak setelah memandangi wajah Rose.


"Ayo, kita bawa mereka ke markas!" titahnya pada beberapa anak buahnya yang kini tengah menggendong, si kembar di atas bahu mereka. Semacam membawa karung beras bukan anak manusia.


"Lepaskan aku!" Milea menjerit dalam tangisnya sambil terus memukuli punggung penjahat yang berwajah seram itu.


"Tabrak mereka, Will!"


"Kalau saya tabrak, maka anak anda juga akan mati, Bos!" Will memutar bola matanya malas.


"Kalau begitu, berikan pistolmu!"


"Memangnya, pistol milik anda yang mahal itu mana?"


"Ketinggalan," jawab, Walls pelan. Ceroboh sekali memang.


Rose berusaha berontak dengan segala kemampuan yang ia miliki. Namun, setiap jurus yang telah ia pelajari dapat dipatahkan dengan mudah oleh para penjahat bertubuh kekar ini. Seorang penjahat hampir saja, menempelkan bibir kehitaman itu pada ceruk leher, Rose Brania.


"Lepaskan, dia! Bodoh!"


...Bersambung...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2