
Benar, apa yang di katakan oleh Kakakmu!" Tiba-tiba terdengar suara bariton diikuti seseorang dengan postur tinggi besar yang masuk ke dalam kamar perawatan.
Keempat orang di dalam, menoleh secara bersamaan. Terlihat empat orang pria gagah dengan pakaian formal mereka. Begitu berkharisma serta keren. Hanya satu pria yang dikenal oleh penghuni kamar. Tentu saja pria itu adalah, Walls.
Namun, ketiga pria keren lainnya tampak jauh lebih dewasa jika dibandingkan dengan, Walls. Rose dan Mona, sontak bangun dari duduk mereka. Tegang dan cemas seketika menyelimuti perasaan keduanya.
"Maaf, jika kehadiran kami telah membuat mu kaget. Perkenalkan, saya, Arjuna, kakak sepupu dari pria yang sangat kau benci di pojok sana. Sementara, kedua pria hebat yang bersama ku adalah, Better dan juga Joy," ucap Arjuna seraya menatap pada sahabat yang ia tunjuk secara bergantian. Setelahnya, ia menghampiri ke arah di mana, Rose dan Mona berdiri.
"Tetaplah, di sini. Karena, tidak baik menjauhkan si kembar, dari papa mereka. Kalian, bisa tinggal bersama. Tentunya dengan sebuah ikatan yang harus kalian sepakati," tambah, Arjuna lagi sedikit ambigu. Bahkan, Mona dan Rose saling pandang satu sama lain. Mereka berdua belum mengerti apa maksud dari pembicaraan ini.
"Kita, akan membicarakannya lagi. Setelah, kedua anakmu keluar dari rumah sakit." Arjuna kemudian berjalan semakin mendekat ke arah hospital bed. Dimana, kedua ponakan jeniusnya tenaga mengamati dirinya begitu serius.
"Halo, jagoan! Bagaimana keadaan kalian saat ini, Hem?" tanya, Arjuna dengan nada serta ekspresi yang ramah serta hangat.
"Kami baik saja, paman!" jawab, Hiro dan Milea serentak.
"Good! Kalau begitu, bersiaplah! Sore ini kalian akan pulang," ucap, Arjuna lagi seraya mengacak pucuk kepala, Hiro. Bocah laki-laki itu pun tersenyum. Ia membalas tatapan hangat yang di tujukan oleh, Arjuna padanya.
Hiro adalah anak kecil yang memiliki attitude baik. Ia lebih mengerti dan faham ketimbang anak kecil seusianya yang lain. Arjuna, sempat terpaku sesaat. Ketika iris mereka bertubrukan dalam sepersekian detik. Sinar mata itu, senyumnya. Mengingatkan dirinya akan sosok, Walls kecil.
Dimana kala itu, seusia, Hiro sang adik perempuan mengalami sakit keras. Sementara, sang kakak mati bunuh diri. Hanya dialah, satu-satunya kerabat dan keluarga dekat yang akhirnya merawat, Walls kecil.
Sementara, sang kakek yang sudah tua juga sakit-sakit. Arjuna, mengingat hal ini. Sehingga, membuatnya berubah pikiran, untuk memisahkan mereka dari Walls.
"Sebenernya, Paman ingin mengajakmu. Kedua, anakku pasti akan senang memiliki kawan baru yang masih terhubung sebagai saudara dekat. Kalian berdua, nampaknya seusia dengan, Elisa," tutur, Arjuna yang kini tengah mengusap kepala, Milea. Dirinya, masih tidak percaya jika bibit dari sepupu nakalnya itu bisa seunggul ini.
'Semoga, bibit unggulnya yang jadi hanya dua ini saja,' batin, Arjuna. Sosok pria maskulin yang berkharisma kuat ini tak bisa membayangkan jika semua bibit yang di tebar oleh Walls di mana saja itu tumbuh semua.
__ADS_1
"Berapa anak, Paman? Siapa namanya?" tanya Milea membuat, Arjuna yang jarang tersenyum dengan orang lain kecuali dengan anak dan istrinya itu. Kini, ia mengulas senyum yang sangat hangat.
"Sebelum, pulang. Paman akan lebih dahulu mempertemukan kalian. Walls! Apa panggilan bagi Satria? Kedua putra-putri mu, akan memanggilnya apa?" Setelah berkata pada Milea dan Hiro, Arjuna beralih untuk bertanya pada Walls.
"Hah! Ma–mana ku tau," jawab, Walls seraya menggaruk tengkuknya. " Mungkin, Kakak," jawabnya asal.
"Oh, Ya. Paman akan mempertemukan, kalian dengan, Kak Satria dan juga Elisa. Sore ini, berkemaslah," pesan Arjuna, yang hanya diangguki oleh kedua ponakannya ini.
Tak lama kemudian, Arjuna pun pamit. Begitupun dengan, Joy dan juga Better. Mereka datang hanya ingin melihat bagaimana rupa si kembar jenius, milik anggota termuda dalam Genk mereka ini. Siapa lagi kalau bukan di anak badung.
"Jadi, mereka adalah anggota keluarga si bule mesum itu!" pekik, Mona dengan ekspresi wajah tak percaya atas apa yang ia lihat barusan.
"Nampaknya, begitu. Mereka orang-orang yang hebat sepertinya. Aku, jadi sedikit lebih tenang, Mon," ucap, Rose.
"Syukurlah, kau berada dengan orang-orang yang berkuasa. Setidaknya, masa depan kedua anakmu akan terjamin," lirih, Mona di akhir kalimatnya.
"Lalu, apa arti ucapanya tadi? Tentang ikatan yang di sepakati?" Rose dan Mona pun saling pandang tanpa bisa menemukan arti dari kalimat yang, di utarakan oleh Arjuna itu.
"Sejak kapan, Uncle tiba? Bukankah, perusahaan mu tengah berada di puncak?" cecar, Walls. Ia begitu terkaget ketika melihat sang Abang berada di lobi bersama dengan kedua anggota Genk Patpat Gulipat ini. Dimana, Genk pemersatu bangsa ini terbentuk enam tahun yang lalu.
"Bukan hanya usahaku yang sedang berada di atas puncak. Tapi, Milna juga baru saja melahirkan satu bulan yang lalu. Demi, kau! Aku datang. Dan, jangan memanggilku dengan sebutan itu! Aku tidak lebih tua dari abangmu!" protes, Joy. Mantan asisten, Arjuna.
"Haissh, masalah itu saja kau marah. Memang semakin tua maka orang akan semakin tidak dapat mengontrol emosinya," gumam, Walls yang ternyata masih dapat di dengar oleh, Joy.
"Apa katamu!" Joy, membulatkan kedua matanya, bahkan kedua rahangnya telah beradu. Bahkan, pengaruh jetleg masih bertengger di dalam tubuhnya. Tapi, sahabat termudanya ini seenaknya saja mengatakan jika dirinya tua.
"Kalau tidak ya jangan marah. Kalau marah itu semakin membuktikan bahwa ucapanku benar, Iya kan, Bang?" Walls beralih pada Arjuna hendak mencari pembelaan.
__ADS_1
"Diam kalian berdua! Bersikaplah dewasa!" sentak Arjuna yang sontak membuat keduanya terdiam.
Meskipun, Walls, Better dan juga Joy telah menjadi pengusaha yang sukses di bidangnya masing-masing. Tetap saja, ketiganya tidak dapat membantah setiap kata maupun kalimat yang keluar dari mulut, Arjuna.
"Jadi, kenapa, Abang memanggil, si Bos Susu?" celetuk, Walls.
Joy, pun melempar kembali tatapan kesalnya.
"Diamlah, Walls. Sudah punya anak masih juga tengil. Apa kau tidak malu dengan kejeniusan kedua anakmu. Sepertinya, aku sedikit meragukan hasil dari tes DNA itu," sarkas, Better.
Pria, maskulin yang masih bertahan dengan gaya rambut panjang sebahunya ini. Geram, lantaran Joy dan Walls tidak pernah bisa akur. Padahal, mereka berempat baru berkumpul lagi setelah empat tahun yang lalu.
"Haiss. Aku kan hanya menggoda, Bang Joy saja. Apakah, jiwanya masih sama seperti empat tahun yang lalu. Atau--"
"Joy, yang akan membantumu! Ia bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan kedua anakmu. Musuhmu, bukan orang baru. Itu artinya, mereka juga musuh kita. Apa kau paham, Walls!" Arjuna hanya melirik pada Walls menggunakan ekor matanya. Akan tetapi, walls mampu merasakan aura yang sangat kuat dari abangnya ini.
Ternyata, usia tidaklah mengikis kharisma seorang Arjuna.
"Aku sudah menduganya, Bang. Namun, aku tidak menyangka dan berpikir jika, kita akan mengganggu, Bos Susu ini." Walls masih saja berusaha untuk memancing kekesalan dari Joy.
"Ar, nampaknya, ada yang ingin melemaskan otot tangannya. Kebetulan, telah lama aku tidak memukul orang," geram, Joy Kinder.
Guys, sambil nunggu up novel ini.
Boleh tuh, sambil baca juga novel temannya otor yang gak kalah keren.
__ADS_1
Di tunggu ya😁
...Bersambung...