Kembar Jenius Si Mantan Playboy

Kembar Jenius Si Mantan Playboy
Bab. 33. Kita Menikah


__ADS_3

"Tidak! Tidak! Aku tidak akan memaksamu lagi. Kita, bisa membuat perjanjian tertulis untuk hal itu. Jika aku melanggar, kau boleh memotong tanganku. Atau, memotong lidahku," ucap Walls, apapun akan ia lakukan agar, Rose tidak berubah pikiran.


"Baiklah, kalau begitu siapkan perjanjiannya. Setelah itu kita menikah." Rose berkata dengan satu tarikan napas. Setelahnya, ia membuang wajahnya ke samping demi menutupi rona merah muda di kedua pipinya yang tirus.


Kenapa dia bisa kelepasan.


Mengajak menikah pria yang di benci olehnya selama bertahun-tahun.


Kenapa, tidak menunggu Walls saja yang mengatakannya.


Tanpa, Rose ketahui.


Walls, sedang tersenyum penuh kemenangan pada saat ini. Pria itu melirik dengan arti tersembunyi melalui ekor matanya.


Pria itu berjanji dalam hati, jika Rose lah yang akan memohon padanya untuk membatalkan perjanjian itu.


"Tiga pekan, kita lihat saja, cukup tiga pekan. Maka, kau akan memohon-mohon padaku," gumam, Walls pelan. Sebelah sudut bibirnya terangkat tinggi.


Gumaman dari bibir sensualnya, terbawa angin semilir yang menghempaskan kerisauan mereka jauh hingga ke tengah laut. Keduanya, menatap riak biru yang berkilauan lantaran dihujani cahaya keemasan matahari.


Ya, hari semakin beranjak menuju senja. Di tandai letak matahari yang hampir tenggelam di ufuk barat.


"Sebentar lagi, ikutlah bersama ku menyaksikan senja."Walls menoleh, dengan senyum ia menawarkan keindahan yang akan membuat wanita di sebelahnya ini mengenang kala sore bersamanya.


"Aku masih bisa melihatnya esok, sekarang aku harus turun menemui si kembar." Rose menolak, ia tak ingin melewati momen romantis ini. Tak boleh ada kenangan manis yang akan mengubah suasana hatinya dalam waktu singkat.


"Esok tentu akan lain lagi, sensasinya. Karena, senja di sini itu tiap harinya selalu berbeda. Buktikan saja," Walls berusaha, menahan kepergian wanita itu lewat kata-kata. Meskipun tangannya hampir saja terangkat untuk menarik lengan, Rose agar ia kembali duduk di sebelahnya.

__ADS_1


Manjur!


Kata-kata ternyata berefek.


Rose, kembali meletakkan bokongnya rata dengan kursi.


Walls kembali menarik sudut bibirnya ke atas.


Menang. Lagi-lagi, Rose kalah telak.


Perlahan, apa yang Walls katakan menjadi kenyataan. Kejadian yang mampu membuat iris mata wanita itu melebar.


"Ini ... ."


"Cantik. Begitu cantik!" ucap Walls, tanpa memandang senja. Tapi, pada siluet dari wajah Rose yang begitu menawan. Angin senja menyibak surai indah, Rose ke depan wajah. Memancing keinginan Walls untuk menyelipkannya ke belakang telinga wanita cantik di hadapannya.


Ia memang terlihat menunduk demi menyembunyikan ekspresinya. Namun, dentum dalam dada begitu kuat bertalu-talu. Bagaimana, jika nanti ia akan tinggal bersama pria ini? Apa jantungnya akan berhenti berdetak?


"Maaf!"


_____


"Belum menikah saja kau sudah melanggar perjanjian, Walls. Bagaimana nanti jika kita lebih sering bersama dalam satu rumah?" gumam, Rose. Ia menerawang pada gaun pengantin yang entah kapan sudah terpajang di dalam kamarnya.


Menuju pernikahan, Arjuna menyarankan agar ia dan kedua putranya itu tinggal di penthouse saja. Kediaman, Walls memiliki beberapa kamar yang terbilang mewah dan nyaman. Bak tinggal di hotel, Rose dan kedua anaknya selalu di layani.


Rose yang tengah menerawang sambil mengikuti alur dari potongan gaunnya yang mahal itu. Tiba-tiba, kedua anaknya menghampiri kedalam kamar.

__ADS_1


"Ma!" seru kedua anak kembarnya yang tidak identik. Karena merasa memiliki gender yang berbeda.


"Kalian ... sini," Rose menepuk sisi kasur yang empuk dan membal itu.


"Ada apa? Apa yang ingin kalian katakan pada, Mama?" Rose menatap lekat dan lamat-lamat pada si kembar jeniusnya ini.


"Terimakasih, telah memberi kami kesempatan untuk memiliki, papa." Hiro yang pada akhirnya membuka suara untuk menjawab pertanyaan sang mama.


Rose mengembangkan senyumnya. Sungguh, kebahagiaan kedua putra dan putrinya adalah hal yang utama. Ia bahkan dapat melihat betapa cerah kedua rupa anaknya, di kala keinginan terbesar mereka telah tercapai.


Rose bukannya tidak tau, jika selama satu tahun ini, Hiro terus mencari keberadaan papa mereka. Mungkin, sebab itulah. Hiro, mengikuti kompetisi anak Jenius dan bertekad sekali untuk menang.


Kedua tangannya terulur mengusap surai Hiro dan juga Milea. Kedua anaknya, adalah harta paling berharga miliknya. Tidak boleh ada satupun tangan tak bertanggung jawab yang boleh menyentuhnya.


"Mama, pasti cantik sekali ketika mengenakan gaun ini. Dan, papa akan menyayangi, Mama selamanya. Iya kan, Kak?" Milea menoleh untuk bertanya pada, Hiro meskipun dirinya kini sedang memeluk, Rose.


Hiro mengangguk dan ikut memeluk. Cukup lama dan erat mereka bertiga berpelukan.


Hari yang di tunggu akhirnya tiba.


"Ku pikir kau butuh waktu lama untuk membujuknya," ucap Arjuna yang memang belum akan kembali ke negaranya sebelum sepupunya ini m nikah.


Dengan begitu, mereka ... Rose dan kedua anaknya dapat tinggal bersama Walls di dalam penthouse. Juga, aliansi yang tergabung dari beberapa klan mafia ini baru akan membantu jika yang mereka lindungi masih keluarga dari Klan Dragon Storm.


Gaun yang indah begitu menyatu dengan raga yang tak kalah menawan. Hingga, jakun Walls turun naik menahan rasa yang seketika bergejolak di dalam dadanya.


"Sial! Kenapa aku harus menyetujui perjanjian itu. Sejak kapan juga, Rudal ini aktif kembali?"

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2