
Joy yang membawa pasukan lumayan banyak. Di bantu beberapa klan. Dirinya hanya sebatas pengatur strategi. Karena, bagaimanapun ia tau sejak dulu seluk-beluk mengenai usaha gelap milik Don Domino.
Tenyata, meskipun dirinya sudah mati. Ada salah satu adiknya yang meneruskan usaha legal milik, Don. Yaitu, Andreas Balotelli. Ia tak terima ketika, tawaran kerja samanya dengan, Walls di tolak mentah-mentah.
Dendam dan kesal. Membuatnya beberapa kali melakukan percobaan untuk menghancurkan pertahanan yang Walls ciptakan. Namun, selalu berakhir gagal total.
Penyerbuan mulai dilakukan karena, Walls telah mengirim pesan jika sistemnya telah berhasil mengacaukan beberapa kendali dalam villa mewah tersebut. Juga, Walls telah meretas beberapa sistem milik Andreas, sehingga penyelundupannya pada malam nanti gagal.
Brakk!!
Brugghh!!
Napas pria brewok itu tersengal-sengal. Sorot matanya tajam menukik ke depan. Ia memukul serta melempar meja di hadapannya hingga menabrak batang lainnya dalam ruangannya.
"Shitt!"
"Damn it!"
" ARRGHHH!"
Pria berusia empat puluh lima tahun ini, terus berteriak sambil melempar apapun yang ada di hadapannya. Ia sangat marah dan benar-benar marah. Iris matanya membesar dengan warna di sekitarnya yang memerah.
Andreas, lantas menghampiri salah satu lukisan pada dinding. Menekan salah satu sisinya, hingga terdengar bunyi benda berderak.
Krieekkk!
Brum!
Sebuah lukisan yang lebih besar berputar dan berbalik, lalu menampilkan sesuatu dari sisi belakangnya. Andreas menampilkan seringai bengis di wajahnya yang nampak garang itu.
__ADS_1
Pria keturunan, negara penghasil spaghetti ini, tersenyum sinis. Ia mengulurkan tangannya untuk mengambil salah satu senjata canggih miliknya. Ah, dia begitu merasa di atas awan dengan senjata-senjata koleksinya itu.
Tanpa dia ketahui, bahwa musuh yang telah menghabisi saudara laki-lakinya ini adalah sekelompok petarung hebat. Mereka, memiliki senjata untuk berperang macam militer. Bahkan, kemampuan seorang Joy dan Better setara dengan Assassin.
"Kau, kau dan kau--!" Joy memberi arahan dengan isyarat dari mata dan juga telunjuknya. Pasalnya, para penjaga yang berada di lokasi juga tidaklah sedikit. Namun, dirinya yakin dengan pasukan yang ia bawa dan berada di bawah kendalinya saat ini. Mampu mengalahkan, klan Andreas dalam waktu kurang dari satu jam.
"Kerja bagus, Bocah Badung! Habisi mereka sampai akar. Jangan tersisa sedikitpun. Atau klan ini akan bangkit lagi sepuluh tahun mendatang!" ucap, Joy pada Walls di balik alat komunikasi yang bertengger di telinganya.
"Kesatuan yang berwajib akan menangkap gerombolan mereka nanti malam. Andreas payah yang sok jagoan itu akan merugi hingga ratusan milyar. Sisakan dia, jangan kau habisi begitu saja, Bang Joy ku yang tampan." Walls manjawab, dengan nada ledekan pada akhir kalimatnya.
Dirinya faham benar, jika Joy adalah tipikal petarung yang saiko dan pakar penyiksaan yang out of the box! Ia selalu merasa terhibur ketika melihat rekaman dari bagaimana cara sahabatnya ini menyiksa tawanan.
"AKU SUDAH INSYAF, BADUNG!"
"AKU TIDAK ADA WAKTU UNTUK BERMAIN-MAIN. AKU HARUS PULANG MENENGOK ANAK DAN JUGA ISTRI KU!" Joy, akhirnya berteriak keras, lantaran geram Hingga, telinga Walls berdengung di seberang sana.
"Anjirr, kupingku sakit!" Walls buru-buru melepas alat yang terpasang di telinganya. Namun, setelahnya ia tergelak kencang.
"Anak itu, membuatku ingin mengumpatnya habis-habisan!" Joy sangatlah geram, tapi itu gak mengubah tingkat kewaspadaannya. Setelah dalam hitungan ke sepuluh maka seluruh, tekhnologi dan daya dalam villa itu akan terputus.
Joy, sengaja memancing para musuh agar keluar kandang. Sebab, ia dan kelompoknya telah menyediakan jebakan untuk mereka. Minimal ada sekitar tiga puluh orang yang melindunginya, Andreas Balotelli.
Sementara, pasukan yang Joy bawa, cukup separuhnya saja. "Penjahat tempe penyet macam ini saja, harus memanggilku. Huh!" Joy menggerutu. Pasalnya, ia tahu jika gerombolan mafia kali ini bagaikan sekelompok anjing hutan yang linglung.
Mereka hanya memiliki berapa senjata api standart. Akan tetapi, Joy harus berhati-hati terhadap gas beracun yang di ceritakan olah, Arjuna.
Di penthouse.
"Rose kemarilah. Aku ingin mengajakmu menonton film action. Perang-perangan nih bebentar lagi," ajak, Walls pada istrinya yang masih malu dan takut ketika berdekatan dengannya. Bahkan, untuk memegang tangannya pun, dirinya tidak akan berani.
__ADS_1
Rose yang sedang bergelut di depan laptopnya hanya menoleh sebentar, lalu membenarkan letak kacamatanya yang turun. "Aku tidak suka film, action," sahutnya datar. Sama sekali tak tertarik.
"Hei, aku tau kau suka membuat novel tentang mafia kan. Nah, ini bisa jadi referensi! Ayolah!" Ajak Walls setengah memaksa.
Meskipun harus menarik napas dalam, tak ayal, Rose pun ikut juga terhadap ajakan dari, Walls ini. Siapa tau, dirinya mendapat Ilham setelah menonton.
Baru beberapa menit, kedua mata Rose membola seiring dengan mulutnya yang menganga.
"Ini, Film apa? Amazing!" seru, Rose girang dan antusias. Walls, mendorong kursi agar wanita itu duduk bersebelahan dengannya.
"Keren kan, nih camilannya!" Walls mendorong semangkuk popcorn yang baru saja ia minta dari pelayannya.
"Minumannya mana?"
"Bentar, aku panggil pelayan dulu ya." Walls pun mengambil gagang telepon khusu untuk memanggil pelayan di penthouse miliknya ini.
Rose tersenyum tipis. Tak menyangka jika, si bule mesum dapat bersikap baik padanya. Bahkan, mengajaknya menonton film demi agar ia mendapatkan inspirasi untuk menulis.
Tak tau saja, Rose. Siapa pemeran utama dalam film tersebut.
Di sebelahnya, Walls kembali menggunakan alat komunikasi jarak jauh yang terpasang pada kepala dan juga telinganya.
'Kenapa dia mengenakan alat seperti itu?' tanya Rose dalam hati.
"Perhatikan, filmnya. Jangan terpesona padaku,"
Uhukkk!
Rose seketika merasa tenggorokannya gatal.
__ADS_1
...Bersambung ...