
"Mon, Milea masuk grand final dari kompetisi memasak. Anak itu pasti akan semakin terkenal. Kau tau, dalam sehari saja followernya bertambah sembilan ribu," desah Rose mulai risau. Rose bahkan menyeruput kopi moccacino-nya dengan cepat hingga berbunyi nyaring. Ia dan Mona, sahabatnya saat ini tengah menikmati me-time di sebuah cafe.
"Bagaimanapun kerasnya kau menyembunyikan mereka, suatu saat kedua anak mu pasti harus go publik. Apalagi mereka bukan anak kecil biasa. Mereka adalah anak jenius yang memiliki kepribadian yang menyenangkan. Siapa yang tidak akan jatuh cinta pada keduanya? Si kembar memang memiliki aura bintang. Sama, seperti papa mereka," tutur Mona seraya terkekeh kecil. Dengan tenang ia memasukkan potongan demi potongan cheese cake ke dalam mulutnya. Tanpa menghiraukan tatapan tajam menyorot dari wanita indo-bule di hadapannya ini.
"Sial kau! Jangan bawa-bawa si brengsek gila itu!" teriak Rose marah. Selalu begitu jika Mona menyinggung pasal pria yang menitipkan benih dobel impact pada rahimnya. Saking kesalnya, Rose menusuk-nusukkan garpu pada meat ball panggang yang ia pesan.
Mona hanya tersenyum kecil menanggapi kemarahan dari Rose, sudah biasa juga dirinya di maki-maki acapkali ia menasihati sahabat kentalnya itu. Mona, hanya ingin mereka bersatu menjadi keluarga yang utuh. Apalagi ketika duo kembar itu terus menerus menanyakan siapa ayah mereka. Rose akan kebingungan dan pada akhirnya akan menyerahkan hal itu padanya.
"Sekuat apapun kau memungkirinya, tetap tak dapat mengelak bahwa genetik bocah itu amatlah kuat melekat pada kedua anakmu. Kau lihat saja bahkan wajah Hiro bak pinang di belah dua, seiras tapi tak serupa. Juga perhatikan, Milea. Percaya diri anak itu amatlah tinggi. Dia tidak pernah takut untuk mencoba hal-hal baru dengan orang asing sekalipun. Jangan membohongi hatimu sendiri, Rose. Kesampingkan, kalau perlu kubur rasa dendammu yang bahkan kau sendiri tidak tau ujung pangkalnya. Pikirkanlah masa depan kedua anak jeniusmu itu. Ketika kau memutuskan untuk berdamai dengan masa lalu, di situlah kau akan mulai menemukan kebahagiaan di dalam hidup mu. Bukankah, begitu? Aku bukti nyata, Rose. Kau yang paling tau traumaku," tutur Mona menyentil hingga batas kalbu terdalam Rose.
Wanita anggun yang dewasa itu memasukkan potongan terakhir makanan pencuci mulutnya itu. Sepertinya ia harus memesan strawberry sundae untuk membasahi tenggorokannya. Panjang lebar tadi ia berbicara demi membuka hati dan juga pikiran sahabatnya ini. Mona, telah berhasil mengalahkan traumanya. Begitu pun yang ia inginkan pada Rose.
Mona tau dan sangat paham. Jika sahabatnya ini, tidak sebesar itu rasa bencinya terhadap bocah badung yang selalu di panggil bule mesum. Rose tidak membenci orangnya, hanya saja tidak suka bagaimana cara Walls mengambil hatinya. Mungkin, karena Rose tipikal wanita lurus yang tidak gaul.
Belum pernah memiliki hubungan dekat dengan pria manapun. Justru pertama kali mendapat paksaan hingga kehormatannya terenggut dengan cara kejam. Mad Max yang gila adalah penganut DBSM, memiliki cara bercinta yang menyimpang. Suka jika pasangannya tersiksa.
__ADS_1
Bagaimana, seorang wanita polos tidak ternoda hati dan juga jiwanya. Pertemuan kedua, ia mengenal sang Casanova kecil atau sebut juga playboy tengil yang suka bergonta-ganti wanita hampir sepekan tiga kali . Paksaan demi paksaan yang Walls Diamond tunjukkan padanya. Membuat, Rose semakin menolak laki-laki.
Semua itu semakin diperparah dengan cara Walls mendapatkan kehormatannya. Merenggut kembali, apa yang membuat Rose selama ini memandang rendah dirinya. Kejadian hari itu, semakin memperkuat asumsi Rose terhadap sifat kebanyakan laki-laki di muka bumi. Rose semakin membenci dirinya, memandang hina dirinya, memandang bodoh otaknya. Hingga pertemuannya dengan keluarga Megan kala itu. Membangkitkan kembali kepercayaan dan harga dirinya.
"Rose, dengarkan aku. Meskipun kau tidak ingin mempertemukan kedua anakmu dengan pria itu. Tapi aku yakin, anakmu yang akan lebih dulu menemukan papa mereka," ucap Mona yang mana hal itu membuat Rose lantas tersentak seketika. Benar juga, kedua anaknya akan menjadi pusat perhatian. Apalagi kemiripan Hiro yang hampir tujuh puluh lima persen.
Rose, memegangi dadanya yang berdebar. Hal yang ia hindari selama bertahun-tahun. Sesuatu yang ia jauhi dari kehidupannya juga kedua anaknya. Mungkin, sebentar lagi waktu akan menguak semua yang ia coba tutupi dari dunia. Hanya, tinggal menunggu masa saja.
Di lain tempat pada waktu yang sama.
"Berikan datanya. Kau tau kan jika salah satu peserta sangat mirip dengan Bos kami. Apa kalian masih sayang nyawa dengan menyembunyikannya data serta identitasnya!" ancam Will pada salah satu staf kompetisi anak jenius yang mana turnamen itu diikuti oleh Hiro. Beruntungnya, bocah laki-laki berusia lima tahun itu masuk hingga ke Top Ten!
"Apa kau bilang! Lagi!" Will yang emosi mencengkeram kerah leher dari salah satu staff tersebut.
"Jadi, kau telah menyebarkan identitas yang katamu kalian rahasiakan ini kepada orang lain! Sementara aku meminta atas nama Bos-ku yang menjadi salah satu promotor acara ini! Kalian menolaknya! Bangzaatt!" Will tak dapat lagi menahan emosinya ia pun merusak beberapa laptop melemparnya ke dinding. Sungguh bar-bar sekali kau, Will Smurf.
__ADS_1
"Bos sabar, bos!"
"Tuan kami, mohon jangan rusak barang lagi!" teriak beberapa staff mencoba memegangi Will yang mengamuk. Ia kesal sekali lantaran terlambat mendapatkan informasi. Lebih kesal lagi karena telah di dahului oleh orang yang lebih cepat gerakannya dibandingkan dia.
"Katakan padaku. Siapa yang telah meminta biodata anak itu!"hardik Will sambil menuding kan telunjuknya ke depan wajah para staff. Asisten yang nyeleneh ini, memang akan menjadi menakutkan bila sudah keluar taring dan juga tanduknya.
"Maaf, Tuan. Beliau mengancam kami untuk tidak membongkar identitasnya. Mengertilah, jangan tekan kami lagi. Kami bingung, pihak di sana sudah menekan kami lebih dulu dan mereka lebih hebat di bandingkan dengan perusahaan,Tuan Diamond," jelas ketua dari staff itu hampir menangis.
Will memijat pangkal hidungnya. Kumpulan pria di hadapannya ini, masih keras kepala dan tak mau membocorkan identitas Hiro padanya. Dengan alasan telah ada pihak pertama yang melakukan hal yang sama. Mereka hanya melakukan tugas untuk mengamankan data. Menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Mungkin.
"Perusahaan yang bisa menekan orang lebih hebat dari Infinity Bold ...? Siapa?" gumam Will hingga seketika kedua matanya membeliak lebar.
"ARSA Company!"
______
__ADS_1
"Hei, Bang! Ada angin apa kalian mengunjungiku ...?" Walls menatap bingung pada rombongan yang tengah tersenyum aneh padanya ini.
...Bersambung ...