Kembar Jenius Si Mantan Playboy

Kembar Jenius Si Mantan Playboy
Bab. 8. Siapa dulu, Milea!


__ADS_3

"Sugan, apa dia versi Walls mini?" celetuk Vanish yang terkesima ketika melihat Hiro. Tentu saja ucapannya barusan membuat Better menoleh dengan cepat. Ia kira hanya dirinya saja yang berpikiran seperti itu. Bagus saja, posisi Rose agak jauh dari pasangan suami istri ini.


"Kami ingin ke dalam, apa kalian masih mau ikut?" tanya Rose pada Vanish dan Better. Tentu saja pertanyaannya itu segera mendapatkan anggukan cepat dari keduanya. Tidak tahu saja, Rose. Jika pasangan suami istri ini sedang dikuasai rasa keingintahuan yang tinggi. Mereka berdua saat juga tengah diliputi hasrat menggebu dari rasa penasaran luar biasa.


Mereka berempat pun masuk ke dalam. Setelah guru dari Hiro mohon pamit dan memberikan card sebagai tanda bukti jika Hiro lolos seleksi hingga tahap ketiga. Hiro akan mengikuti grand final di perusahaan yang mendanai kompetisi anak jenius ini satu pekan kedepan.


"Anak, Mama benar-benar hebat dan luar biasa!" pekik Rose penuh haru dan rasa bangga yang menguar bahkan hampir meledak dari dadanya. Ingin sekali menggendong Hiro saat ini. Tapi, mana mungkin, putranya itu pasti akan menolak dengan tegas. Bisa menuntunnya seperti ini saja sudah sebuah anugerah bagi Rose. Biasanya, di gandeng pun Hiro tidak akan mau. ' Tidak apa sayang. Begini saja mama sudah sangat senang. Menuntun tangan kecilmu, lalu berjalan beriringan. Momen langka, biasanya kau akan berjalan paling depan. Kau bilang ingin menjaga mama dan juga adik dari bahaya. Oh, Hiro, syukurlah. Sifat jelek pria itu tidak menurun padamu. Semoga,' harap Rose dalam batinnya.


"Mama, Kakak ...!" teriak Milea sambil merentangkan tangan dan berlari. Rose lantas berlutut untuk mensejajarkan tinggi keduanya.


"Chika bilang, Adek masuk grand final? Bagaimana bisa?" Heran Rose yang tidak menyangka jika putri kecilnya itu dapat menyingkirkan beberapa pesaingnya yang lebih tua darinya.


"Tentu saja itu benar, siapa dulu, Milea!" celetuk gadis manis yang menggemaskan ini. Ditambah lagi ia berperawakan mungil dengan rambut ikal panjangnya yang di kuncir dua pada samping kanan-kiri.


Tentu saja hal itu semakin membuat Rose gemas terhadap putri mungilnya yang memiliki sifat narsis tingkat tinggi. Tapi, memang semua itu benar. Milea selalu melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Ia berlatih dengan rajin dan konsekuen. Meskipun, Rose tidak pernah memerintahkan agar putrinya seperti itu. Milea memang hobi masak, menggambar dan juga menari. Ah, anak itu sangat lincah dan tidak bisa duduk diam. Bahkan suaranya pun merdu jika Milea sedang menyanyi. Terutama lagu-lagu berbahasa Jepang.


"Rose, kenapa anak-anak mu begitu menggemaskan!" pekik Vanish girang. Ia bahkan mengulurkan tangannya ke depan hendak berjabat tangan pada Milea.


"Um, Aunty siapa?" tanya Milea dengan senyum yang memang melekat di wajahnya mungilnya itu.

__ADS_1


"Oh iya sayang. Perkenalkan, ini Aunty Vanish dan Uncle Better," terang Rose memperkenalkan pasangan yang baru di kenalnya ini pada putrinya.


"Aih, bolehkah, Aunty memelukmu?'" pinta Vanish. Ia sangat gemas setiap melihat anak perempuan yang lucu dan cantik. Meskipun, ia telah memiliki seorang anak perempuan yang ia beri nama Puteri Liona.


"Ma, bolehkah?" tanya Milea, meminta ijin pada sang mama. Sebab, ini juga adakah hasil dari ajaran serta didikan Rose. Bahwa, jangan pernah percaya pada orang asing yang baru kau temui. Meskipun, ia mengaku mengenal mama. Sebab, banyak orang jahat dengan motif dan cara yang berbeda dalam menculik anak-anak. Itulah, nasihat dari Rose yang selalu di jadikan pegangan oleh Milea. Sang kakak juga selalu mengingatkan agar, adiknya itu tidak mau begitu saja di sentuh oleh orang lain.


"Tentu saja boleh, sayang. Lihatlah, Aunty Vanish sedang hamil. Mungkin, Dede kecil yang berada didalam perutnya yang ingin memeluk mu," terang Rose mengijinkan. Karena ia tau jika setiap keinginan wanita hamil itu harus selalu dituruti. Setelah mendapat ijin dari sang mama. Milea pun maju, dan tersenyum.


"Baiklah, Milea telah mendapatkan ijin dari mama dan kakak. Jadi, Aunty boleh memelukku," ucap gadis kecil ini dengan cara bicara yang begitu fasih bak orang dewasa. Tapi, tetap tidak menghilangkan sisi imutnya. Justru membuat yang melihat semakin gemas Karenanya.


Setelah mendapatkan izin, Vanish langsung saja membungkukkan sedikit tubuhnya untuk mensejajarkan tinggi dengan Milea. Ia memeluk gadis itu erat dan penuh kasih sayang. Tak lama kemudian, Vanish terdengar terisak kecil. "Loh, Aunty kenapa? Apa dedek bayinya tertekan Milea ya?" tanya Milea takut.


"Siapa, Puteri Liona?" Seketika, Milea ingat pada salah satu karakter tokoh kartun dari es krim mahal kesukaannya.


"Maaf, ya sayang. Puteri Liona adalah anak pertama dari Uncle dan Aunty. Kami sudah hampir satu bulan tidak bertemu. Sebab, ketika kami ingin kembali ke negara asal, Aunty sempat mengalami pendarahan. Jadi, dokter melarang kami pulang dalam waktu dekat ini," jelas Better yang seketika membuat kedua mata Milea menjadi mendung.


"Aunty, sini peluk Milea lagi," tawarnya seraya mendekat kearah Vanish. Tentu saja hal itu di sambut dengan antusias oleh Vanish sendiri. Ia berlutut agar lebih mudah untuk memeluk Milea.


"Kak, Liona pasti wanita yang cantik. Berapa usianya, Aunt?" tanya Milea, mulai banyak tanya jika ada sesuatu yang ingin ia ketahui atau hal yang membuatnya penasaran.

__ADS_1


"Yah, Liona sangat cantik dan juga pintar. Usianya, hampir tujuh tahun. Tapi, ia terpaksa harus--" Vanish tidak mampu meneruskannya ucapannya lantaran napasnya terlanjur sesak.


"Sayang, tolong jangan begini. Ingat ada yang harus kau jaga kesehatannya," bisik Better yang ikut berjongkok di samping isterinya itu.


"Vanish, kamu tidak apa-apa kan? Kuasai emosimu ya. Ingat ada bayi di dalam perutmu," ucap Rose ikut mengingatkan. Ia mengelus bahu bergetar itu pelan dan lembut.


"Maaf, aku telah merusak suasana kalian menjadi seperti ini. Aku hanya, merindukan putriku saja. Dia, juga berhak mengejar impiannya. Jika saja, Liona tidak terlahir dari rahimku ... mungkin dia--"


"Cukup, Moy. Hentikan pikiran seperti itu. Aku sakit mendengarnya, kau tau kan," bisik Better dengan suara parau menahan sesuatu yang juga hampir meledak keluar.


"Emh, Aunty, Uncle. Kita makan es krim yuk! Hiro yang traktir deh! Anggap saja merayakan perkenalan kita," ucap Hiro mencoba mengurai suasana yang seketika membuat keadaan menjadi sedikit lebih melankolis.


Inilah hal yang memang menjadi kelebihan dari Hiro. Bocah Lima tahun itu pandai membaca situasi dan bijak dalam mencari solusi.


"Biar, Uncle saja yang mentraktir," ucap Better mau tak mau tersenyum menyahuti ajakan anak kecil imut ini, yang mana tingginya saja hanya sebatas lututnya. Dimana harga dirinya sebagai pemilik sebuah perusahaan coklat terbesar se- Asia tenggara.


"No, Uncle. Pria sejati tidak bisa membatalkan tawarannya begitu saja. Jangan rusak reputasi ku, ya!" celetuk Hiro yang mana hal itu lantas membuat mereka semua tertawa.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2