Kembar Jenius Si Mantan Playboy

Kembar Jenius Si Mantan Playboy
Bab. 29. Nasihat Dari Mona


__ADS_3

"As you wish my lady!" Setelah mengatakan ucapan itu, Walls pun beranjak keluar dari ruangan. Mau tak mau ia menuruti apa yang, Rose inginkan.


Jika ia menekan terus dengan keinginannya, wanita itu pasti akan semakin berontak dan menjauh. Walls, tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Sebelum keluar ia sempat melambaikan tangan dan melempar senyum untuk kedua anak kembarnya itu.


Sehingga dirinya tidak sadar jika, wanita di hadapannya ini nampak sedikit salah tingkah.


Hiro dan Milea pun membalas dengan senyum polos mereka. Lalu, beralih menatap ke arah Mona dengan binar penuh kerinduan.


"Aunty!" pekik Hiro dan Milea bersamaan.


"Sayang ...!" Mona pun langsung menghampiri kedua anak kembar, Rose yang telah ia anggap anaknya sendiri itu. Karena, ialah satu-satunya orang yang membantu, Rose mengurus kedua bayinya.


"Apa yang kalian rasakan saat ini? Mana yang sakit, hah? Katakan pada Aunty sekarang!" cecar, Mona, nampak sekali kekhawatiran itu cari raut wajah dan juga cara bicaranya.

__ADS_1


"Kami baik-baik saja. Tapi ... mama yang sepertinya kurang baik," ungkap, Hiro jujur pada, Mona.


"Hah, kurang baik bagaimana?" Mona bertanya dengan berbisik mengikuti cara bicaranya,. Hiro tadi.


"Terkadang, wajah mama berubah menjadi kemerahan. Lalu ia menggeleng cepat seperti orang yang tengah merasakan pusing kepala. Karena, biasanya mama akan memukul kening atau samping kepalanya," ucap Hiro begitu serius untuk mengadukan apa yang ia lihat kepada Mona.


"Itu benar, Aunt. Sepertinya, mama yang harus di rawat," timpal Milea.


Tentu saja aduan dari kedua anak kembar di hadapannya ini membuat kening Mona seketika berkerut. Wanita dewasa yang anggun ini, kemudian terlihat berpikir dengan serius. Akan apa yang sekiranya telah dirasakan oleh sahabatnya itu.


"Rose, kau baik-baik saja kan? Jikalau ada hal aneh yang kau rasakan pada tubuhmu sebaiknya kau segera lapor pada dokter atau perawat di sini. Mungkin saja, gas beracun itu juga merasuk ke tubuhmu," ujar Mona seraya menatap Rose serius.


"Aku ... baik-baik saja. Hiro dan Milea juga akan pulang besok," jelasnya sambil mengambil keranjang buah yang baru saja di bawa oleh sahabat yang telah Ia anggap seperti kakaknya sendiri ini.

__ADS_1


Rose mengupas, kemudian memotong buah mangga harum manis dan meletakkannya di atas mangkuk. Entah, dimana, Mona membeli buah kesukaan, putrinya ini.


"Syukurlah. Oh ya, apa yang barusan dikatakan oleh pria itu. Kenapa kau begitu tampak emosi dan bingung?" cecar Mona. Seraya menelisik kedalam mata sahabatnya ini. Ia merasakan firasat buruk seketika.


"Keluarga, bule mesum mengajak kami ikut merasa pulang ke negara I. Semua, demi keselamatan ku, terutama, Hiro dan Milea. Ada yang ingin menghancurkan, pria tengil hingga ke akarnya. Namun, mereka akan menggunakan kelemahan darinya. Kau tau, setiap sistem yang ia ciptakan tidak mampu ditembus dengan mudah oleh lawan. Sejak lama mereka mencari kelemahan darinya. Sekarang, Hiro dengan rupa yang macam kloningan bocah badung itu, tiba-tiba muncul ke permukaan. Tentu saja, masa ini layaknya pucuk dicinta mangsa pun tiba. Kedua anakku, adalah sasaran empuk mereka. Katakan, apa yang harus aku lakukan, Mon?" Rose bertanya dengan nada frustrasi.


Akan tetapi entah kenapa, Mona mendengar nada bicara dari, Rose barusan mendadak ingin tertawa. Pasalnya, sahabatnya itu baru saja mengumpat, Walls dengan berbagai macam makian. Bule mesum, pria tengil, dan bocah badung.


Kenapa begitu banyak panggilan sayang untuk pria seperti itu. Mona tak habis mengerti. Sepertinya, penyakit yang di derita sahabatnya itu adalah meriang malarindu. Mana, mungkin mereka bisa hidup berjauhan lagi.


"Tetaplah disini. Beri kesempatan pria itu untuk menunjukkan tanggung jawabnya terhadap mu dan juga kedua anak kalian. Ku rasa, hubungan kalian juga akan tercipta dari saling ketergantungan nanti. Trauma dan kebencianmu padanya, perlahan akan terbias dan pupus untuk selamanya. Yakinlah, semua ini adalah suratan takdir hidup. Kau harus berdamai dengan masa lalu untuk meraih masa depan," tutur Mona, bijak. Memang, hanya kata-kata darinya yang mampu membuat, Rose tenang dan yakin.


"Benar kata, Kakakmu!" Tiba-tiba terdengar suara bariton diikuti seseorang dengan postur tinggi besar yang masuk ke dalam kamar perawatan.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2