
"Apa yang ingin kau lakukan, Lea ? Kau buat apa itu?" Hiro sempat terheran ketika Milea memberikan daftar belanjaan kepada salah seorang pelayan di penthouse.
"Kemarin, Lea sempat menghubungi kak Elisa. Kak El bilang, mommy Susi jika marah maka Daddy Ar, akan memasakkan makanan kesukaannya, meskipun rasanya akan menjadi sangat aneh. Tapi, mommy Susi akan tertawa dan mereka pun baikan. Karena itu, Lea ingin mengajarkan pada papa bagaimana cara membuat kue kesukaan mama. Bagaimana kak?" Milea memasang wajah imut bin menggemaskan dengan mata bundar berwarna kecoklatan.
"Bukankah, rencana kita semalam bukan ini?" telisik Hiro. Kesal, lantaran Milea merubah rencana tanpa memberi tahu dirinya terlebih dahulu.
Padahal, ia sudah susah-susah menyusun game untuk mereka lakukan ketika piknik nanti. Tentu saja, pada saat piknik itu mereka akan melibatkan semua anggota klan Dragon Storm. Mumpung, Uncle Joy, Better dan juga Arjuna masih berada di negara ini. Sehingga, dirinya harus gerak cepat.
Papa, Walls telah bercerita padanya. Bahwa, musuh yang hendak menculik dia dan sang adik telah di bereskan. Entah apa arti kata yang papa Walls ucapkan. Hiro tak mau berpikir keras untuk hal itu. Ia tau sedikit dunia orang dewasa. Di bereskan di sini, bisa diartikan di habisi atau sekedar di bekukan dalam penjara.
Namun, ia tetap menunjukkan sisi anak kecilnya yang harus sering menampilkan wajah polos dan lugu. Ketimbang, serius dan sok dewasa. Apalagi, Hiro pernah membaca pada sebuah artikel jika masa golden age itu tidak akan terulang kembali. Ia harus memanfaatkan masa kanak-kanaknya saat ini. Tidak mau menjadi sok dewasa lagi. Bukankah, mereka telah memiliki pelindung sejati yang akan menjaga mereka dari apapun.
__ADS_1
Setidaknya, papa Walls telah membuktikan meskipun itu semua atas bantuan seluruh keluarganya yang tergabung dalam Klan. Setidaknya, Hiro bisa tenang sekarang. Keadaan mereka telah terjamin. Ia akan membujuk sang mama agar tak perlu menghabiskan waktunya lagi di depan layar komputernya.
"Seharusnya kau bilang padaku, jika rencana kita berubah." Akhirnya Hiro melemparkan protesnya itu pada sang adik.
"Siapa bilang berubah, Kak? Kita tetap pada rencana semula."
"Hah!"
"Kita tetap piknik bersama. Tapi, Lea mau papa nanti membuat kue dan memberi kejutan untuk mama di sana. Papa pasti akan semakin sayang sama kita. Karena, kedua anak jeniusnya ini telah membantunya menjalin hubungan baik dengan wanita yang sangat membenci papa. Bukankah ini yang di namakan win-win solution. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui." Milea bertutur dengan senyum manis yang menunjukkan deretan gigi susunya yang rapih.
"We are a real mysteri in this world!" ( kamilah misteri yang sesungguhnya di dunia ini. )
__ADS_1
Milea mengatakannya sambil terkekeh ala anak kecil.
"Kau ini masih kecil, Lea. Seharusnya kau lebih simple dan tidak membingungkan. Natural saja. Nanti kita yang rugi karena tidak memiliki masa kecil," ucap Hiro mengingatkan, atau mengutarakan apa yang ia pikirkan barusan.
"Kau benar juga, Kak. Lagipula, dunia orang dewasa itu rumit. Membuang waktu dan tenaga ketika menyelesaikannya. Ku harap, masa kecil kita lebih lama," ucap Milea penuh ironi.
Padahal mereka sendiri yang selama ini telah bersikap bagaikan orang dewasa.
"Deal, ya. Untuk tidak sok dewasa lagi." Hiro mengulurkan telapak tangannya ke depan sang adik. Secara langsung, Milea menyambutnya dengan tawa natural ala anak kecil.
"Apa aku sudah seperti anak kecil, Kak?"
__ADS_1
"Ya, kau memang pandai berakting, Lea.
...Bersambung...