
"Jika aku benar-benar hebat, kenapa, Kau tidak pernah mau melihatku?”
Walls, melakukan protes ketika tanpa sengaja, Rose memuji dirinya.
Dimana, tadi ia menceritakan secara singkat. Bagaimana awal, ia memiliki banyak musuh terselubung. Juga, kenapa ia menyembunyikan identitasnya.
"Aku melihatmu, sekarang,"
ketus, Rose melirik sebentar pria yang kini berada di sebelahnya. Kemudian ia kembali menatap ke depan. Dimana, hamparan laut biru nampak jelas di atas roof top, penthouse milik, Walls.
“Kenapa, kau tidak pernah menerima segala bentuk perhatian dariku?”
"Aku, tidak suka ada pria yang mendekatiku." Masih bertahan pada nada ketusnya.
“Kenapa, kau tidak bisa menganggap ku lebih dari seorang bule manis yang menyebalkan?"
"Tentu saja bisa. Aku bahkan menganggap mu satu-satunya, pria yang harus aku hindari di dunia ini!" Rose masih menjawab dengan nada sarkas.
“Aku menyukaimu, bahkan sangat. Tapi, kenapa kau tidak menyukaiku juga?”
Walls berusaha untuk tetap lemah lembut. Meskipun, susunan kata yang ia keluarkan dari mulutnya memancing emosi Rose sebenarnya.
"Aku juga menginginkanmu. Lalu kenapa kamu tidak bisa menginginkanku juga?"
__ADS_1
"Karena, kau tidak bisa memaksakan apa yang kau rasakan pada orang lain. Belum tentu, apa kita inginkan sama dengan apa yang orang lain inginkan. Karena itulah, kita tidak boleh memaksakan kehendak kita!"
"Baik, aku mengaku salah. Aku minta maaf, atas perbuatan ku enam tahun yang lalu. Saat itu, hati dan pikiranku tertutup keinginan kotor. Aku merasa terhina dan kalah ketika kau terus menerus menolak ku." Walls menutup matanya, dan menggigit lidahnya. Baru kali ini ia meminta maaf serta mengakui kesalahan pada orang lain.
Ternyata tidak buruk juga, dan tidak terlalu sulit.
Walls semakin memberanikan dirinya.
"Ku mohon, menikahlah dengan ku."
…
Kesunyian berlalu selama beberapa detik, hanya ada tatapan yang sama-sama menuntut jawaban. Jawaban yang keduanya sama-sama tidak tahu. Jawaban yang sebenarnya ada tapi tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Jawaban yang sebenarnya sudah sangat jelas, namun keduanya menolak untuk terima.
"Kau tersenyum? Hah! Kau barusan tersenyum padaku kan? Atau, aku hanya berhalusinasi saat ini." Walls ragu dan kembali memukul kepalanya. Ia bermaksud mengusir bayangan dari senyum Rose yang sangat menawan itu.
"Tidak, mana mungkin aku tersenyum pada pria sepertimu. Pria yang telah memaksa bahkan menjebak untuk sekedar tidur padaku. Pria yang telah memberi waktu enam tahun bagiku yang seakan berada di dalam rollercoaster. Apa aku harus memberi senyuman kepada pria yang seperti itu?" Rose kembali ketus seperti semula. Ia berusaha menolak pesona yang di keluarkan oleh pria di hadapannya ini.
Sejatinya, Walls, memang sangat menawan.
"Maaf, aku sangat jahat padamu. Beri aku kesempatan untuk menebus semua kesalahan itu. Beri aku waktu untuk memperbaiki apa yang telah ku rusak. Aku--"
Rose memaku. Baru kali ini ia melihat ketulusan dari pancaran sinar di kedua mata, seorang Walls Diamond.
__ADS_1
Apakah ia harus menyerah? Kemudian menerima permintaan maaf serta tawaran menikah dari Walls. Dari pria yang membuatnya tak dapat tidur dan menjalani hidup dengan tenang?
Haruskah ia berdamai pada masa lalunya, lalu mengikuti apa kata hatinya saja?
Kedua anaknya membutuhkan perlindungan dan juga sosok seorang, papa.
Teringat kata-kata yang meluncur dari bibir seksi seorang wanita yang begitu mengena di hatinya.
"Menikahlah dengannya. Sesungguhnya, kau telah terpilih untuk membawa anak itu ke jalan yang benar. Semenjak kejadian malam itu, bersamamu. Ia tak lagi bermain dengan wanita manapun hingga saat ini. Semesta mempertemukan kembali kalian berdua." Susi berucap dengan begitu lembut, tapi tegas dan meyakinkan.
Memang, takdir tidak pernah salah.
Rose mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Mencoba memantapkan hatinya. Ia melakukan semua ini demi kedua anaknya. Demi keselamatan mereka dan juga demi ketenangan hidupnya. Soal perasaan, biarlah waktu yang nanti akan memberikan jawaban padanya.
Bukankah, hati dan perasaan itu gampang berubah. Hingga, tak ada jaminan perasaan benci akan selamanya membenci. Perasaan cinta akan selamanya mencinta.
"Apa kita harus membuat kesepakatan?" tawar, Rose asal. Bagaimanapun, sebenarnya ia masih takut.
"Tidak, maksudku jangan! Ini bukan pernikahan kontrak seperti di Drakor maupun di novel online. Aku ingin, kita menikah sungguhan. Buktikan padaku, jika cinta itu memang ada." tolak Walls, hingga ia tak sengaja menggenggam tangan Rose saking kagetnya tadi.
"Oke, tapi ... aku tidak ingin ada sentuhan sebelum perasaan menerima itu datang. Aku tidak ingin ada paksaan dalam hal apapun! Di luar hak dan kewajiban. Aku hanya butuh waktu untuk terbiasa,"
...Bersambung...
__ADS_1