
Sontak, Rose mendelik seraya melabuhkan pukulannya ke bahu, Walls. Sehingga, pria yang ia juluki bule mesum itu meringis kecil bercampur kekehan.
"Katakan apa yang tengah terjadi. Jangan menganggap ku bodoh, bule mesum!" Rose kini berdiri lantaran kesal. Walls, bukannya menjelaskan tapi malah tertawa.
"Aku memang bodoh, karena berada di sini bersamamu." Rose menghentakkan kaki kemudian handak berlalu.
Akan tetapi, Walls segera menarik pergelangan tangannya agak kencang. Dan ...
Rose jatuh menimpa raga, Walls yang masih dalam posisi duduk itu. Seketika, kedua mata mereka bertubrukan. Iris kecoklatan milik, Rose beradu pandang dengan iris blue ocean milik, Walls. Embusan napas hangat dari Rose menyapu wajah, tampan yang halus mulus tanpa bulu itu.
Napas beraroma ceri, membuat pikiran, Walls seketika bertraveling. Ia lantas membayangkan bagaimana rasanya. Apakah manis dan ... ah, dia memang mesum. Pikirannya selalu saja liar.
Walls, terpaku, memaku dalam diam. Kesadarannya seketika hilang, tenggelam dalam pesona kecantikan wanita di atas pangkuannya ini yang begitu alami.
Satu hal yang membuatnya tersadar dari arus yang akan menghanyutkannya ini adalah. Ketika ia merasakan roketnya berdenyut dan kencang.
"Kau! Apa yang barusan kau lakukan padaku!" Walls, mendorong tubuh, Rose hingga mereka kini berdiri berhadapan. Lupa sudah dengan keadaan sekelompok orang yang baru saja berperang demi keselamatan jiwanya juga keluarga kecilnya ini.
Jika, bukan demi, Walls keluarga satu-satunya, Arjuna yang tersisa. Tentu saja, Joy dan Better lebih baik bermesraan dengan para istri mereka saja. Ketimbang harus mencium bau anyir darah dan juga sangit mesiu yang terbakar.
"Tak ada sahutan dari, Walls. Padahal, komunikasi masih terhubung," jelas Better yang beberapa kali melakukan panggilan, tapi tak kunjung mendapat sahutan dari Walls.
"Anak kamvret itu pasti lagi bermesraan. Secara, kini wanita yang membuat dirinya melakukan tindakan kriminal dan asusila itu berada di rumahnya. Di sisinya," timpal Joy geram. Seraya melucuti pakaiannya yang terkena darah.
Benar saja dugaannya.
Rose memang tengah menatap Walls dengan mesra bahkan sangat mesra. Hingga, nampak jika kedua bibir bola matanya seakan hendak melompat keluar.
"Kutukan apa? Bisa-bisanya kau malah menuduh ku dengan hal yang tidak bisa di pertanggung jawabkan seperti itu. Apa kau sudah gila!" pekik, Rose yang kesal setengah mati.
"Jujur saja, setelah kau pergi dari hotel meninggalkanku. Sejak saat itu, roket ini tidak bisa berfungsi lagi." Walls bercerita sambil menunjuk ke arah senjatanya. Dan, dengan bodohnya, Rose mau saja mengikuti arah yang ditunjuk oleh jemari Walls ini.
Hingga, kedua matanya yang suci melihat sesuatu menyembul di bawah sana. Bahkan, celana yang Walls kenakan seperti sesak. Sesuatu yang terbungkus di sana seakan sudah tidak tertampung lagi.
"Bisa saja itu benar kutukan, tapi yang pasti bukan aku yang melakukannya. Kau pikir aku ini penyihir apa!" Rose memalingkan wajahnya menghindari tatapannya pada benda pusaka yang Walls sebut roket kebanggaannya.
Walls, tak terima dengan pembelaan diri dari, Rose. Ia pun mencekal pergelangan tangan wanita yang telah memberi nya dua orang anak yang jenius itu.
__ADS_1
"Jangan bohong. Kalau bukan kutukan, kau pasti memberi racun padaku lewat suntikan pada saat itu kan? Kau ingat, suntikan yang kau tusuk pada bokongku yang luar biasa ini."
"Haih, itu hanya obat bius." Rose memutar matanya malas. Ternyata otak pria jenius ini bisa geser juga. Mana mungkin ia memiliki racun perusak syaraf seperti yang Walls maksudkan.
"Benarkah, lalu apa yang membuat roketku kini tiba-tiba bisa on lagi?" Walls bertanya seraya memasang wajah orang bodoh.
Rose semakin merasakan jika wajahnya saat ini sudah seperti kebas. Apa pasal pria mesum ini terus menerus menanyakan hal itu padanya.
Seketika, pikiran Rose terbuka. Bahwa, kondisi dan situasi Walls saat ini berkemungkinan mengancam dirinya.
"Menjauh dariku! Dan jangan sentuh aku!"
Walls membuatkan kedua matanya lantaran, Rose mendorong tubuhnya keras, hingga ...
Bokong bule tengil ini sukses mencium lantai marmer yang keras lagi dingin itu.
"Kau baru saja melakukan kekerasan pada suamimu?"
"Suami gila!"
Rose, dengan menahan debur dalam dadanya, berlalu cepat keluar dari ruangan yang membuatnya seketika pusing itu.
Um, maksudnya ... menyergap kediaman gembong mafia.
Terlihat anak buahnya kini tengah melakukan pembersihan barang bukti. Beberapa alat berat telah datang, kemudian menggali lubang dengan begitu besar untuk kuburan masal.
Tidak ada aksi pembakaran. Karena justru akan menimbulkan bekas dan kecurigaan dari aparat setempat.
Seluruh kelompok dari anggota kejahatan mafia kelas teri ini, termasuk dengan pemimpin mereka, Andreas Balotelli. Beserta barang bukti yang berada di dalam villa mewah tersebut. Semua dimasukkan ke dalam lubang besar itu kemudian ditimbun dengan tanah.
Setelahnya, mereka menutupi kuburan masal itu dengan bebatuan besar juga tumbuhan lebat. Mereka mendapatkannya dari sisi hutan sebelah barat Villa.
Mereka bekerja dengan sangat cepat dan cekatan.
Tidak sampai senja semua telah selesai dan rapi tak berjejak.
Sekarang kita, serbu penthouse si anak badung itu. Bisa-bisanya bocah itu melupakan kita di sini." Joy mengepalkan tangannya menahan geram.
__ADS_1
"Sudah, nanti kita beri dia pelajaran. Jangan menyimpan kesal begitu, nanti kerutanmu bertambah, bung!"
Dalam keadaan begini, Better masih bisa meledek pria yang seumuran dengannya itu.
"Kalau aku tua, lalu kau apa!" Joy mengalungkan lengannya ke leher belakang Walls, kemudian memberi kawannya itu teknik kuncian.
"Sial kau, pria tua anak banyak!"
Better berusaha membalik keadaan dengan salah satu siku tangannya.
Biarin aja dah mereka berdua begaduh.
Pada gak sadar umur konon.
Sementara itu di kamar kembar jenius.
Hiro dan Milea tengah merebahkan tubuh mereka sambil memandang langit-langit kamar yang telah di desain seakan keadaan ruang angkasa. Beberapa planet serta benda langit lainnya nampak seperti nyata.
"Lea, apa kau sudah menemukan cara bagaimana menyatukan papa dan mama?" tanya Hiro seraya menoleh ke arah adik perempuannya itu.
"Em, apa ya ...?"
Suasana pun hening lagi, kala kedua bocah kecil dengan otak jenius mereka tengah mencari cara. Cara untuk merubah kebencian sang mama kepada papa mereka.
"Ahaa!"
"Kau bisa membangunkan seisi rumah dengan suara mu itu, Lea. Apa tidak bisa pelan sedikit?"
"Hihi ... maaf, Kak. Soalnya ide ku ini awesome banget,"
"Memang apa idenya." Hiro mendengarkan instruksi dari Milea dengan seksama. Terkadang, kakak-adik ini akan tertawa di sela-sela diskusi mereka.
Sebenarnya apa yang tengah dua bocah kecil ini rencanakan?
Memangnya, sepaham apa mereka tentang kebencian dan trauma yang di alami, Rose sang mama?
Apakah, sang papa yang akan menjadi target sebenarnya?
__ADS_1
...Bersambung ...