
Bagaikan setali dua uang. Di dalam kamar sederhana yang bernuansa lembut. Dikarenakan warna wallpaper serta beberapa perabot di dominasi dengan warna pastel. Terlihat sosok wanita cantik bermandikan peluh dalam tidurnya. Ia menggerakkan badannya gelisah. Padahal, hawa di kamar itu cukup sejuk dengan air conditioner mini yang menghantarkan dingin.
Seperti malam-malam sebelumnya, Rose mengalami mimpi buruk. Dimana ingatan demi ingatan akan perlakuan Walls padanya kala di kamar hotel. Pria slengean yang bagaikan Casanova kecil itu beberapa kali menggagahi dirinya dalam satu malam.
Rose, sejak awal memang tidak menyukai cara Walls dalam mendekatinya. Bukan dalam arti ia membenci pemuda itu tanpa alasan. Rose, tidak mudah menyukai pria hanya lantaran ketampanan dan juga kemapanannya. Juga, traumanya atas sikap kasar dan semena-mena yang pernah ia terima dari Mad Max.
Max, si ketua gangster yang gila. Memiliki penyimpangan dalam hubungan seksual. Rose terjebak menjadi dokter pribadi pria psiko itu lantaran ia lelah, tak pernah diterima kala melamar pekerjaan di ruang sakit. Sementara, pada saat itu keluarganya baru saja mendapat musibah sehingga membutuhkan uang yang tidak sedikit.
Sejak saat itu, Rose bukan hanya bekerja tapi telah menjual diri dan juga jiwanya pada Max. Diiming-imingi dengan gaji besar, Rose memasuki mansion tersebut dan seumur hidup tidak kan pernah bisa keluar. Hanya kematian yang mungkin akan menyelamatkan, begitulah pikir Rose kala itu. Di tempat itu pula ia bertemu dengan Mona. Sebab, Mona adakah istri sah Max yang selalu di siksa. Setelah, Max tiada, Rose pun kabur bersama Mona.
Kejahatan seksual yang di berikan Max padanya membuat, Rose antipati terhadap pria manapun juga. Terlebih lagi, Walls begitu terobsesi padanya bukan cinta.
Rose berusaha menghindar dan menolak halus setiap tawaran Walls padanya. Sepertinya malam ini, kejadian demi kejadian itu kembali berputar lewat mimpinya.
[ Hai, cantik. Aku traktir makan yuk! ]
[ Hai, seksi. Kita ketemu lagi, shopping yuk! ]
[ Hai, Amor! Jadi pacarku, ya. ]
[ Kenapa kau tidak memandangku? Apa aku kurang tampan? ]
[ Semakin kau menolak ku, aku akan semakin mengejarmu! ]
[ Ini penolakan mu yang ke-99! Ku pastikan tidak akan ada yang keseratus! ]
__ADS_1
Ucapan demi ucapan dari kalimat demi kalimat yang diucapkan maupun di utarakan oleh, pemuda slengean yang di panggilnya bule mesum. Terus saja berputar dan berputar di dalam kepala, Rose.
Kejadian yang begitu ingin Rose lupakan, akan tetapi bayangan dari ingatan itu terus saja berkelebat muncul bahkan hampir setiap malam. Begitu juga awal mula penyiksaan dari Max padanya. Semua bayangan dari kejadian itu kembali menghantui setiap malam tidurnya.
𝘓𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯! 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪! Rose meronta sekuat tenaga kala Max mulai mencumbu dengan kasar seraya melucuti pakaiannya.
Rose terus berusaha berontak dari kungkungan Max. Meskipun ia kalah body dan tenaga, Rose terlihat tak sedikitpun menyerah. Sekuat tenaga ia berusaha mempertahankan mahkotanya. Meski nyawanya harus melayang pada saat itu juga, dirinya sudah tak perduli lagi.
[ Aku, menginginkanmu saat ini! Kau, tidak akan bisa berkelit ataupun menolak! Kau, telah memutuskan untuk bekerja denganku, di mansion ini, maka itu berarti raga dan juga jiwamu adalah milikku. Mengerti! ] Bentak Max dengan suara berat berat dan kencang.
Wajah tampan sekaligus garang itu membuat nyali Rose seketika ciut. Ia bahkan sudah dua kali mendaratkan telapak tangannya dengan tak mulus ke pipi Rose.
Plak! Plak!
Rose memekik sekuat tenaga. Ia melakukan apapun sebisanya. Rose mencakar, menggigit, bahkan ia menendang Max. Namun pria itu justru semakin bergairah dibuatnya. Tak segan, Max menggigit bagian dari tubuh Rose yang membuatnya gemas. Tentu saja hal itu membuat Rose memekik kesakitan, bahkan puncak gunung kembarnya itu berdarah.
Rose, yang sudah lelah meronta dan melawan dari setiap cekalan dan kekasaran Max. Akhirnya, hanya bisa pasrah. Seluruh tubuhnya, perih dan ngilu belum lagi hatinya. Kini, sang dokter muda nan cantik tersebut hanya bisa pasrah.
Rose memejamkan kedua matanya. Ia tak sanggup melihat hal apa lagi yang akan di lakukan Max padanya. Seluruh bagian tubuhnya telah berhasil di jamah serta di beri tanda stempel oleh Max yang gila. Sebuah tanda yang pria berwajah bule itu ciptakan melalui bantuan giginya. Max, tidak akan puas jika korbannya belum berteriak dan mengeluarkan darah dari tubuhnya.
[ Akhh!! ] Rose melenting kan tubuhnya ketika Max, telah berhasil memasukkan kelapa naga ke depan gua terlarang. Bahkan belum masuk seluruhnya akan tetapi pekikan Rose sudah sedemikian kencangnya.
Bukan Max jika ia peduli teriakan serta rintihan dari wanita yang dikuasainya. Karena kini ia telah membuat Rose berteriak untuk yang kedua kalinya. Bahkan wanita itu kini juga telah menangis histeris. Max, membenamkan dulu kepala naga yang sudah masuk gua seluruhnya.
[ Memalukan! Kenapa aku tidak mati saja sekarang! ] batin Rose memaki dirinya sendiri sambil memukul kepala dengan kedua tangannya. Pada saat itu juga...
__ADS_1
Brukk!
"Hah! Hah!" Rose terbangun dengan keadaan tubuh terguling ke atas lantai. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat. Rose tidak peduli terhadap rasa sakit yang mendera bokongnya. Wanita berwajah indo dengan rambut pirang kecoklatan itu, menangis sambil membekap mulutnya.
Ia tidak mau sampai kedua anaknya mendengar suara tangisannya nanti. Mungkin saja, tadi dirinya sudah menjerit-jerit tak karuan pada saat mimpi itu hadir menghantuinya.
Sementara itu di kamar sebelah.
"Kak ...," lirih Milea seraya mendekap raga Hiro.
"Kita harus mencari tau, siapa pria yang sudah membuat mama selalu bermimpi buruk," ucap Hiro pelan.
"Apakah, pria itu papa kita, Kak?" tanya Milea seraya menatap bingung ke arah saudara kembarnya ini.
" Kemungkinan besar, begitu. Tugas kita berdua untuk mencari tau!" ucap Hiro begitu tegas dan dewasa. Meskipun, dengan pembawaan anak kecil yang akan membuat gemas siapapun yang melihatnya.
------
Arjuna, sontak memijat pelipisnya. Disaat, Better mengirim sebuah foto keberadaan sepasang anak kembar dengan seorang wanita indo berambut pirang kecoklatan.
"Kenapa sayang?" tanya Susi yang tengah menguncir rambut putri kedua mereka.
"Better, menemukan keberadaan Rose Brania. Kau ingat kan, wanita yang kabur setelah di perlakukan dengan tidak senonoh oleh Walls," jawab Arjuna. Tentu saja hal tersebut membuat istrinya yang masih nampak sangat muda dan cantik itu menghentikan gerakannya mengepang. Lantas, Susi menoleh cepat ke arah suaminya yang juga masih nampak gagah meskipun di usia hampir setengah abad itu.
"Kau lihatlah, sayang." Arjuna pun menunjukkan foto kiriman dari Better, melalui gadget yang berada di atas pangkuannya saat ini.
__ADS_1
"Walls, dalam ukuran mini?"
...Bersambung ...