Kembar Jenius Si Mantan Playboy

Kembar Jenius Si Mantan Playboy
Bab. 23. Kerisauan Rose Brania


__ADS_3

"Jangan terlalu menuntut, biar saja semua berjalan seperti air yang mengalir. Jangan berharap sebuah pengakuan, jika kau bahkan tidak berniat baik dalam pembentukan sel genetik mereka. Seharusnya, kau malu. Jika hasil perbuatan jahatmu begitu nampak sempurna," ucap Rose, seraya tertawa getir.


"Aku tidak akan menuntut apapun. Cepat atau lambat, kedua anakku pasti akan mengakui, papa nya yang luar biasa ini. Kau tau kan, Rose. Sejak dulu, tidak ada satupun manusia yang mampu menolak pesonaku," ucap Walls masih dengan kesombongannya. Bahkan, sepertinya naik level, sehingga lebih berkemungkinan besar mampu membuat, Rose mual.


"Tentu saja ada, yaitu ... aku! Sampai kapanpun, penilaian ku masih sama terhadap bule mesum sepertimu. Jadi, silakan saja tunggu pengakuan itu. Meskipun kau mendapatkan nya, tapi kau tidak akan pernah bisa memiliki ... putra dan juga putriku!" ancam Rose begitu berani. Bahkan, ia kuat kala menatap iris biru laut itu. Tak peduli terhadap apapun lagi, hanya mempertahankan hak milik yang membuatnya seketika mampu mengangkat wajah untuk menantang, takdir.


"Kita lihat, sampai dimana batas kesombongan mu ini. Satu hal yang pasti. Kali ini, aku akan terus mengawasi kalian. Karena itu, kau tidak akan pernah lagi bisa kabur dari Walls Diamond," ucap Walls penuh penekanan dengan senyum miringnya. Bahkan, ia mengucapkan kalimat itu sambil berbisik di telinga, Rose.


Tentu saja hal itu mempu membuat, Rose Brania menahan napasnya sepersekian detik. Pria ini, kenapa masih saja berusaha membunuhnya. Jika, lebih lama lagi Walls berada dekat dengannya, maka, Rose tidak yakin jika jantungnya masih berdetak. Bahkan, oksigen saja terasa mencekiknya sekarang.


'Sebaiknya aku segera pulang. Pria ini tetap tidak berubah, masih gila seperti enam tahun yang lalu. Aku harus menjauhnya dari kedua anakku. Lebih baik, menjadi orang biasa saja. Atau, aku akan kembali tinggal di desa yang terpencil. Aku, harus membicarakan ini dengan, Mona. Mungkin, Tian Ronald, kekasihnya, mampu memberi perlindungan terhadap kami. Hah, kenapa hidupku begitu sial! Kenapa aku harus berurusan dengan pemuda tak waras sepertinya!' batin, Rose mulai kalut dan mulai merencanakan sesuatu.


"Hiro, Milea. Kalian boleh datang kerumah ini kapanpun kalian mau. Tinggal hubungi asisten, Will. Maka, dia akan menjemput kalian dengan Bumblebee," ucap Wall's, yang seketika mampu membuat kedua anak kembarnya itu saling pandang. Sejenis apapun, Hiro tetaplah memiliki jiwa anak kecil. Raut wajahnya seketika sumringah kala mendengar nama tokoh robot kesayangannya di sebut. Apalagi, itu adakah salah satu mimpinya.


'Sial! Darimana, pria itu tau salah satu keinginan dan kesukaan dari, Hiro? Apakah ini tandanya benar, pemuda badung itu telah memata-matai kami bertiga?' batin, Rose, mulai merasa terancam. Hatinya pun semakin diliputi ketakutan. Dengan kemampuan serta kekuasaan yang di miliki oleh, Walls. Rose yakin, jika pria itu akan memikat kedua anaknya dengan teknologi serta barang-barang mahal yang belum mampu ia belikan.


'Aku harus bekerja lebih keras lagi. Untuk dapat memujudkan setiap keinginan mereka. Jangan sampai, bule mesum itu merenggut perhatian kedua anakku. Aku tidak akan diam saja. Aku tidak lemah!' batin Rose penuh tekad.


"Terimakasih, atas tawarannya, tuan Diamond. Semua, tergantung mama. Kami akan melakukan apapun sesuai ijin darinya. Jika, Mama tidak berkenan kami menemui anda lagi. Maka, kami berdua harus menerima keputusan mama tersebut," tutur, Hiro yang mana hal itu sontak membuat, Walls hampir terjengkang.

__ADS_1


"Kak, Hiro benar. Milea setuju dengan pendapatnya. Karena, Mama Rose, adalah segalanya untuk kami. Kebahagiaan mama adalah segalanya bagi kami. Itu adakah hal utama yang akan kami prioritaskan. Meskipun, keinginan kami bersama anda juga cukup besar. Tapi, kami tetap harus menomersatukan perasaan, mama," tambah Milea lagi.


Degh!


'Kalian berdua, kenapa begitu mengerti. Kenapa mau berkorban demi mama? Kenapa mampu menahan keinginan demi kebahagiaan mama?' batin, Rose sungguh tersentuh.


Will memberi kode pada bos-nya itu agar mengalah dan mengiyakan saja penuturan dari kedua bocah jenius yang pandai sekali bicara ini. Walls pun menurut, memang hanya asistennya itu yang mampu mengatur dirinya.


"Hemm ... baiklah. Terserah maunya kalian. Tapi satu hal yang pasti. Mulai saat ini, semua media dan juga sepertiga manusia di atas bumi in, akan mulai mengkait-kaitkan kalian dengan ku. Hiro, kau pasti tau kan, apa maksudku?" tanya Walls memancing sisi kritis dari cara berpikir putranya itu.


"Tentu saja, kami berdua hanyalah seorang anak dan tetap menjadi anak-anak. Masalah ini, pasti akan menyasar pada kalian berdua, sebagai orang tua kami. Tentu saja, kami sebagai anak-anak tidak perlu bingung akan hal itu, bukan?" balas Hito, membalik keadaan. Sekarang, Walls yang nampak mati kutu.


Walls melirik pada, asistennya, Will Smurf.


Sang asisten yang sudah faham tanpa diminta. Sebab ia telah merencanakan sesuatu yang tidak diketahui oleh Bos pemalasnya ini.


"Sayang, kenapa kalian bicara seperti itu tadi. Kesannya kan, mama seperti menghalangi kalian untuk dekap dengan papa yang selama ini kalian inginkan?" tanya Rose mencari tau apa maksud dari Hiro, sebab putranya inilah pangkal dari segala ide tadi. Sesekali, Ia menarik napasnya.


"Ma, kami tidak akan memaksa semuanya secara mendadak. Sebelum, Mama berdamai dengan dendam dan mengatasi trauma. Sebelum, Mama mengijinkan dan mengatakan iya. Maka, Hiro dan Milea tidak menemui pria itu lagi. Asalkan, jangan bawa kami kembali ke desa itu. Kecuali, jika Hiro sudah memilki uang banyak, sehingga mampu membuat rumah sakit untuk warga di sana," ucap Hiro begitu dewasa dan bijak.

__ADS_1


"Darimana kau tau, apa yang, Mama alami?" heran Rose. Padahal, ia tengah menutup rapat rahasianya. Apakah, Mona yang menceritakan kepada kedua anak kembarnya ini?" gumam Rose pelan. Ketika, kedua putra dan putrinya itu menonton televisi yang terpasang di sandaran kursi.


"Mama sangat menjaga harga diri. Bahkan, Mama menolak ketika kendaraan kita ini di tukar oleh, asisten Will. Mama lebih bangga menggunakan barang yang kita beli dari hasil kerja keras kita sendiri," ucap Milea, menyimpulkan dari apa yang ia lihat.


"Kau benar, Lea sayang. Kenapa kau bisa sangat memahami perasaan, mama?" tanya Rose lirih sambil menahan tangisnya. Sayang ia sedang menyetir, padahal rasanya ingin sekali dirinya memeluk kedua anak kembarnya itu.


Memang benar, Rose menolak mentah-mentah tawaran dari Will yang hendak menukar kendaraannya yang kumal ini dengan mobil sport. Tentu saja ia menolak jurus awal dari rayuan maut, seorang bule mesum.


Sementara itu, di balik kemudi sebuah mobil mewah. Pria berwajah garang dengan iris matanya yang berwarna kuning, tengah memperhatikan laju mobil di hadapannya. Pria itu terlihat beberapa kali berbicara melalui, ear phone.


"Kalian, pancing mereka melewati jalur yang sedang di perbaiki!" Setelah menjelaskan perintahnya pada anak buah di seberang sana. Pria itu memasang seringai seram di wajahnya. Lalu, ia pun tancap gas.


Beberapa, mobil memepet kendaraan yang di kemudikan oleh, Rose. Seakan menuntunnya melewati jalur yang tidak seharusnya ia lewati.


"Ma, apapun yang terjadi. Kita jangan keluar dari mobil," ucap Hiro berpesan. Bocah kecil itu sama sekali tidak terlihat takut.Justru, ia terlihat berselancar di gadget yang berada dalam genggamannya.


"Sudah kuduga, mereka pasti bukan kriminal biasa. Papa, buktikan kekuasaanmu," gumam Hiro, yang hanya di dengar oleh sang adik, Milea.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2